Sebuah Catatan: Kongkow Bareng Gusdurian Bekasi Raya - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 28 Oktober 2018

Sebuah Catatan: Kongkow Bareng Gusdurian Bekasi Raya





Sabtu (27/10) malam, saya berkesempatan melingkar dan kongkow bareng teman-teman Gusdurian Bekasi Raya, di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi, Tambun Selatan.

Pertemuan itu baru pertama kali dilakukan karena Gusdurian Bekasi Raya baru terbentuk beberapa waktu yang lalu. Hadir pula Gusdurian Bogor, Gus Michael Sebastian Prihartono, dan Gusdurian Desa Parwoto, Mas Triono.

Masing-masing dari setiap orang yang hadir diperkenankan berbicara, selain untuk memperkenalkan diri, juga memberikan pandangan soal Gusdurian atau sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur telah banyak mengajarkan kepada bangsa Indonesia tentang kesetaraan, persamaan, dan mampu merangkul berbagai perbedaan. 

Karenanya, Jaringan Gusdurian dibentuk untuk melestarikan berbagai ajaran yang telah ditularkan Gus Dur semasa hidup.

Ada banyak hal yang dapat diteladani dari sosok Presiden ke-4 RI itu. Salah satunya soal perdamaian yang kian terkikis di tengah isu perpecahan dewasa ini. Kalau Gus Dur dikorek hatinya, maka tak sedikit pun ditemukan ada kebencian.

Memperjuangkan  pemikiran Gus Dur adalah sebuah keniscayaan dan membutuhkan kerelaan hati. Hal tersebut demi menyatukan berbagai keragaman yang ada di Bumi Pertiwi. Gus Dur telah melakukannya. Maka di Jaringan Gusdurian, pemikiran Gus Dur itu dilestarikan.

Gus Dur adalah sosok yang tak pernah melihat latar belakang seseorang. Ia memandang seseorang justru dari kemanusiaannya. Semua orang di mata hukum, bagi Gus Dur, sama kedudukannya; bahkan di hadapan Allah sekalipun.

Berbagai pemikirannya, baik yang tertuang dalam tulisan maupun diungkapkan melalui lisan, sangat progresif. Beberapa kali pernyataan yang dikeluarkan terkesan aneh, tapi akan dibuktikan kebenarannya di waktu mendatang. Pemikiran Gus Dur, melampaui zamannya.


Di banyak kesempatan, bahkan hampir di setiap tindak-tanduknya, Gus Dur senantiasa mengajarkan soal perilaku. Ia melakukan atas segala sesuatu yang telah diucapkan. Karenanya, Gus Dur sangat peduli terhadap masyarakat yang termarginalkan; hal itu karena Gus Dur senantiasa meneladani laku kehidupan.

Gus Dur adalah sosok yang unik. Bahkan, bisa dikatakan, ia merupakan seorang yang sangat Indonesia. Indonesia beragam yang kemudian menjadi satu: itulah Gus Dur. Di kepala Gus Dur ada banyak pemikiran yang bisa jadi satu.

Dari ideologi kanan hingga kiri, ia telah tuntas memahaminya. Liberalisme dan Sosialisme diambil segala hal yang baik, dan kemudian menjadi satu kesatuan di dalam ideologi negara Indonesia: Pancasila. Ia seorang pembaca dan penulis, maka berbagai pernyataan yang dikemukakan sangat matang diutarakan.

Di balik kelucuan-kelucuan yang kerap ditampilkan, Gus Dur merupakan sosok yang keras jika sedang membicarakan NKRI. Karena itulah, Jaringan Gusdurian harus keras pula terhadap kelompok yang ingin mengganti dasar negara.

Gus Dur adalah orang yang mampu menghargai perbedaan, termasuk perbedaan pendapat. Tapi jika yang dibicarakan mengenai ideologi negara, ia takkan memberi ampun. Ruh Pancasila, itulah Gus Dur.

Bagi Gus Dur, setiap orang memiliki kebebasan dan dilindungi oleh negara. Di Indonesia tidak ada pengekangan. Siapa pun berhak hidup bebas. Namun, kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Hal yang membatasi kebebasan adalah ilmu.

Kini, keempat putri Gus Dur mengkristalisasikan ajaran yang telah didapat. Soal politik kebangsaan, ada Mbak Alissa Wahid yang menangani melalui Jaringan Gusdurian. Sedangkan sosok Gus Dur yang terlibat ke dalam politik praktis, dilanjutkan perjuangannya oleh Mbak Yenny Wahid melalui Barisan Kader (Barikade) Gus Dur.

Mbak Anita Wahid, fokus kepada gerakan advokasi masyarakat. Ia mendirikan organisasi perkumpulan pada 2016 lalu, yakni Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Terakhir, ada Mbak Inayah Wahid yang menularkan sisi humor Gus Dur. Ia aktif di teater, seni pertunjukkan rakyat, bahkan di sinetron televisi. Stand up comedy pun, Mbak Inayah jago.

Demikian catatan saya, selama kongkow bareng Jaringan Gusdurian Bekasi Raya. Selamat melanjutkan nilai, ajaran, dan berbagai pemikiran Gus Dur ke dalam kehidupan masyarakat: di Bekasi. 

Gusdurian jangan hanya wacana, jangan hanya menjadi ruang diskusi saja, tetapi juga harus mampu turun ke masyarakat, menjadi pemecah kebuntuan dari berbagai permasalahan kehidupan yang kian mengkhawatirkan.

Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar