Minggu, 10 Mei 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (7): Jangan Ragukan Janji Allah Meski Doa Belum Terkabul

 

Foto bersama santri laki-laki usai ngaji Al-Hikam

Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-7 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 10 Mei 2026.


*****


لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَانُهُ لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ


“Jangan sampai keterlambatan terkabulnya doa membuatmu ragu pada janji Allah, karena akan membuat cahaya batinmu menjadi padam."

Dalam beberapa hikmah terakhir, pembahasan Al-Hikam banyak berkaitan dengan doa. Salah satu persoalan besar yang dihadapi orang-orang beriman adalah soal dikabulkannya doa.

Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.”

Ayat ini melahirkan pertanyaan yang sejak dulu hingga sekarang selalu hadir di hati banyak orang beriman. Kita diperintahkan berdoa, lalu kita pun berdoa. Namun sering kali muncul pengalaman batin: mengapa doa terasa tidak kunjung terkabul?

Seseorang bisa saja berkata dalam hatinya:

“Saya sudah berdoa setiap hari, salat setiap hari, meminta kepada Allah terus-menerus. Tetapi mengapa belum juga terwujud?”

Lalu timbul pertanyaan yang lebih dalam lagi:

“Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan doa? Kalau begitu, mengapa belum terkabul?”

Pertanyaan semacam ini hampir pasti pernah dialami oleh semua orang beriman, meskipun sering kali hanya dipendam dalam hati.


Bukan Utang

Pada hikmah sebelumnya, Ibn ‘Athaillah sudah mengingatkan:

 لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ

“Jangan sampai keterlambatan pemberian Allah, meskipun engkau sudah sungguh-sungguh berdoa, membuatmu berputus asa.”

Menurut penjelasan Ibn ‘Ajibah Al-Husaini, doa pertama-tama harus dipahami sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Kita berdoa karena kita adalah hamba. Fungsi utama doa bersifat تَعَبُّدِيَّة (ta‘abbudiyah), yakni sebagai bentuk penghambaan dan penyembahan kepada Allah.

Seorang hamba meminta kepada Tuannya adalah sesuatu yang wajar. Anak meminta kepada orang tuanya adalah sesuatu yang normal. Maka manusia meminta kepada Allah juga merupakan sesuatu yang sewajarnya.

Karena itu, hakikat utama doa bukanlah “menagih” Allah agar segera memenuhi permintaan kita. Doa bukan seperti menagih proposal yang belum cair.

Tentu kita berharap doa dikabulkan. Namun mindset utama dalam berdoa seharusnya adalah:

“Ya Allah, aku ini hamba-Mu, dan Engkau adalah Tuhanku. Karena itulah aku meminta kepada-Mu.”

Ketika seseorang berdoa dengan kesadaran kehambaan seperti ini, justru doa menjadi lebih jernih dan penuh adab. Tidak ada nada memaksa atau menekan Allah.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Jangan biarkan keraguan tumbuh

Hikmah ketujuh ini melanjutkan pembahasan tersebut. Ibn ‘Athaillah mengingatkan bahwa ketika janji Allah tampak belum terwujud, jangan sampai hal itu melahirkan keraguan kepada Allah.

 لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ

“Jangan sampai hal itu membuatmu ragu terhadap janji Allah.”

Pokok persoalannya adalah تَشْكِيك (tasykik), yakni keraguan.

Keraguan dalam perjalanan iman adalah sesuatu yang bisa dialami siapa saja. Bahkan orang beriman pun, jika jujur terhadap dirinya sendiri, mungkin pernah mengalami pertanyaan-pertanyaan batin:

“Mengapa Allah belum memenuhi janji-Nya?”

Apalagi di zaman modern seperti sekarang, sumber keraguan terhadap agama sangat banyak. Informasi yang menggoyahkan keyakinan datang dari berbagai arah.

Karena itu, keraguan tidak boleh dibiarkan tumbuh begitu saja. Jika dibiarkan, ia perlahan akan menggerogoti iman.

Awalnya mungkin hanya satu persen. Tetapi lama-kelamaan bisa menjadi dua persen, lima persen, sepuluh persen, hingga akhirnya menguasai hati sepenuhnya.

Mengatasi keraguan

Dalam tradisi Islam, keraguan diatasi melalui dua pendekatan sekaligus.

Pertama, melalui argumentasi rasional. Inilah wilayah ilmu kalam dan ilmu tauhid. Keraguan dijawab dengan dalil-dalil rasional.

Islam tidak mengajarkan iman tanpa dasar. Berbeda dengan sebagian pengertian Barat tentang faith yang sering dipahami sebagai “percaya tanpa bukti”, iman dalam Islam justru menuntut adanya dalil.

Seseorang tidak boleh sekadar percaya tanpa alasan. Harus ada dasar rasional mengapa ia percaya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama sering memberikan contoh sederhana, "Kalau ada bekas kaki unta di padang pasir, pasti sebelumnya ada unta yang lewat. Kalau ada kotoran sapi, pasti ada sapinya."

Begitu pula alam semesta ini. Kalau alam ada, pasti ada yang menciptakannya.

Dalil sederhana semacam ini bisa dipahami bahkan oleh orang awam.

Kedua, melalui pendekatan hati. Di sinilah wilayah tasawuf.

Setelah iman diperkuat oleh akal, ia perlu diperdalam melalui pengalaman batin. Ketika seseorang beribadah, berdoa, dan mendekat kepada Allah, lahirlah pengalaman spiritual yang membuat keyakinan menjadi lebih kokoh.

Karena itu, keraguan tidak hanya menyerang akal, tetapi juga hati. Maka pengobatannya pun harus menyentuh keduanya.

Ibn ‘Athaillah memperingatkan bahwa keraguan bisa merusak mata batin manusia.

لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ

“Jangan sampai hal itu melukai mata batinmu dan memadamkan cahaya rahasia hatimu.”

Dalam pandangan para sufi, manusia memiliki lapisan-lapisan batin.

Ada قَلْب (qalb/hati), lalu di dalam hati terdapat بَصِيرَة (bashirah), yaitu mata batin. Di pusat terdalam terdapat سَرِيرَة (sarirah), inti rahasia batin manusia.


Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil


Jika keraguan terus dibiarkan, maka cahaya dalam mata batin itu perlahan akan redup, bahkan bisa padam sama sekali.

Ketika cahaya batin padam, manusia kehilangan orientasi hidup. Secara lahiriah mungkin tetap hidup, kaya, dan makmur, tetapi secara batin mengalami kekosongan.

Di sinilih salah satu problem besar manusia modern.

Kemajuan material ternyata tidak otomatis menghadirkan ketenangan jiwa. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi batinnya gelisah, stres, dan kehilangan arah.

Keraguan yang dibiarkan tumbuh terus-menerus akhirnya melahirkan kegelisahan yang mendalam.


Modernitas dan krisis batin

Salah satu penyakit manusia modern adalah membiarkan keraguan berkembang tanpa penanganan serius.

Akibatnya muncul berbagai gangguan psikosomatik: stres, kecemasan, sulit tidur, hingga pelampiasan berlebihan dalam konsumsi dan gaya hidup.

Seseorang mungkin memiliki kekayaan dan kekuasaan besar, tetapi karena kehilangan cahaya batin, semua itu justru dipakai untuk hal-hal yang merusak.

Karena itulah Ibn ‘Athaillah mengingatkan agar keraguan segera diatasi sejak awal.

Jika ada pertanyaan dalam hati, carilah jawaban. Diskusikan, belajar, membaca, dan berkonsultasilah kepada orang yang memiliki kedalaman ilmu dan hikmah.

Sebab fondasi hidup manusia adalah keyakinan kepada Allah. Ketika fondasi itu goyah, seluruh bangunan hidup ikut terancam runtuh.

Pesan utama hikmah ketujuh ini sangat mendalam yakni jangan biarkan keterlambatan terkabulnya doa membuat kita meragukan Allah.

Karena keraguan yang dibiarkan tumbuh perlahan akan menggerogoti iman dan memadamkan cahaya mata batin.

Doa pertama-tama adalah penegasan bahwa kita adalah hamba. Dan seorang hamba tetap mengetuk pintu Tuhannya, sekalipun jawaban itu belum datang sesuai waktu yang ia harapkan.



Bekasi, 10 Mei 2026

Jumat, 01 Mei 2026

9 Tahun Belajar dan Berkhidmah di NU Online, Kini Saatnya Saya Pamit Undur Diri

 



“Barangsiapa yang telah mencicip manisnya pertemuan maka harus siap mencecap pahitnya perpisahan.”

Saya tidak pernah benar-benar siap untuk bagian kedua dari kalimat itu.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat atau sekadar hitungan kalender, tetapi kumpulan kenangan, proses jatuh-bangun, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan perjalanan panjang menemukan jati diri. NU Online bagi saya adalah ruang hidup yang ikut membentuk siapa saya hari ini, bukan hanya tempat berkhidmah dan berkarya.

Semua ini bermula pada Januari 2017. Saat itu, saya masih seorang mahasiswa semester lima di jurusan Ilmu Komunikasi, dengan konsentrasi jurnalistik, di Universitas Islam "45" Bekasi (sekarang Univeristas Muhammadiyah Indonesia). Saya sedang berada di fase penuh tanya: ingin menjadi apa, dan bagaimana cara mencapainya?

Jawaban pertama saya temukan ketika mengikuti Kelas Menulis di NU Online.

Di sana, saya bertemu dengan Abdullah Alawi—mentor, senior, sekaligus guru yang membuka jalan pertama saya di dunia jurnalistik. Gaya mengajarnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mengajarkan teknik menulis, sekaligus menanamkan keberanian untuk memulai.

Artikel pertama saya berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim menjadi tonggak penting. Tulisan itu diedit dan diterbitkan langsung oleh Abdullah Alawi pada 16 Januari 2017. Saat melihat nama saya tertera sebagai penulis, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, saya merasa: "mungkin saya memang bisa berjalan di jalan ini".

Dari sana, perjalanan saya dimulai. Saya menjadi kontributor daerah untuk Bekasi, meliput berbagai kegiatan PCNU Kota Bekasi. Di fase ini, saya belajar arti konsistensi. Menulis dan liputan di sela-sela kuliah sekaligus belajar memahami bahwa setiap berita adalah tanggung jawab. Tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah saya ditempa.

Tahun 2020 menjadi babak baru. Saya dihubungi oleh Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (sekarang Redaktur Eksekutif) untuk bergabung sebagai Reporter In-house. Dari sinilah dunia saya melebar. Saya tidak lagi hanya menulis berita lokal, tetapi mulai masuk ke isu-isu nasional, bertemu tokoh-tokoh penting, dan memahami kompleksitas realitas yang lebih luas.

Saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal melaporkan peristiwa, tetapi juga membaca situasi, menggali makna, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.

Lalu datang tahun 2023—fase yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia media.

Pemimpin Redaksi, Ivan Aulia Ahsan, memberi saya kepercayaan menjadi Redaktur desk Polhukam, per 1 Oktober 2023. Sebuah amanah yang tidak ringan. Saya harus mengelola isu, menentukan arah pemberitaan, menugaskan reporter, hingga mengedit naskah dengan ketelitian tinggi.

Di sini, saya belajar bahwa di balik sebuah berita yang terbit, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada pertimbangan ideologi, akurasi data, kekuatan logika bahasa, dan ketajaman sudut pandang.

Saya tidak berjalan sendiri. Saya ditemani oleh tim reporter luar biasa: Haekal Attar, Fathur Rohman, Suci Amaliyah, Mufidah Adzkia, dan Rikhul Jannah. Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga teman seperjuangan. Kami berbagi tekanan, tawa, lelah, dan semangat yang sama setiap harinya.

Jika hari ini saya berdiri di titik ini, salah satu alasannya adalah mereka.

Lalu saya mencapai salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidup saya: mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada 24-27 April 2024.

Bagi saya, UKW bukan sekadar ujian, tetapi refleksi dari seluruh proses yang telah saya jalani sejak 2017. Ketika dinyatakan lulus dan menyandang predikat “berkompeten”, saya merasa seperti menutup satu bab penting dengan penuh rasa syukur.

Bukan karena akhirnya saya “diakui”, tetapi karena saya tahu betul betapa panjang jalan yang telah saya tempuh untuk sampai ke titik itu.

Mengikuti UKW membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang tepat dan mampu melangkah lebih jauh.

Dan kini, 2026.

Saya berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara bertahan di zona nyaman atau melangkah ke ruang baru yang belum pasti. Setelah berpikir panjang, saya memilih yang kedua.

Saya sudah menyatakan undur diri secara lisan dan tatap muka kepada Pemred NU Online Ivan Aulia Ahsan serta Direktur Utama NU Online H Hamzah Sahal. Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan media, saya juga sudah menyatakan undur diri melalui Surat Pengunduran Diri yang saya layangkan ke PT Visi Berkah Bangsa, perusahaan yang menaungi NU Online.

Saya mengakhirkan khidmah saya di NU Online pada 30 April 2026. Lalu per 1 Mei 2026, saya sudah resmi tidak lagi menjadi bagian dari perkhidmahan sebagai kru Redaksi NU Online.

Saya meyakinkan kepada semua orang, terutama para reporter di desk Polhukam NU Online, bahwa saya tidak pergi. Saya hanya sedang melanjutkan perjalanan.

Saya masih Aru yang sama—yang ceria, yang terbuka untuk diskusi, yang bisa ditemui dan dihubungi kapan saja. Tidak ada yang berubah dari diri saya, kecuali keberanian untuk mencoba hal baru.

NU Online akan selalu menjadi rumah kedua saya. Tempat saya belajar menulis dari nol. Tempat saya ditempa menjadi wartawan. Tempat saya mengenal arti tanggung jawab, profesionalitas, dan dedikasi.

Namun, setiap rumah pada akhirnya akan melahirkan seorang perantau. Saya percaya, merantau bukan berarti menjauh tapi justru cara untuk kembali dengan versi diri yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap memberi makna.

Mungkin hari ini adalah perpisahan. Tapi saya percaya, ini bukan akhir dari cerita kita. Suatu hari nanti, ketika jalan yang kita tempuh membawa kita ke puncak masing-masing, kita akan bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita.

Dan kalau saat itu tiba, kita akan tersenyum bangga dan berkata: "perpisahan ini ternyata tidak sia-sia."

Terima kasih untuk semua kawan-kawan di NU Online yang telah membantu, membimbing, dan melangkah bersama saya selama sembilan tahun, sejak 2017 hingga 2026. Maafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik secara lisan atau tulisan maupun berupa konten digital di media sosial saya.

Saya, Aru Elgete, pamit undur diri dan sampai jumpa!


Bekasi, 1 Mei 2026.