Senin, 10 Februari 2020

Orang Islam Akan Toleran Jika Dekat dengan Al-Quran, Benarkah?


Sumber gambar: detik.com


Bernard Lewis, seorang ahli (peneliti) Islam di Amerika Serikat, memiliki tesis menarik tentang Islam. Pertama, menurutnya, orang Islam akan semakin dekat ke zaman keemasaannya maka akan semakin toleran, dan semakin jauh dari zaman keemasaannya maka akan semakin tidak toleran.

Kedua, orang Islam akan semakin toleran jika semakin dekat dengan pusatnya (Ka'bah, Mekkah, Arab Saudi), dan semakin jauh dari pusatnya maka akan semakin tidak toleran. Disebutkan, orang Islam di Mesir dan Suriah jauh lebih toleran daripada orang Islam di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Tapi sepertinya, tesis Bernard Lewis yang demikian itu, saat ini sudah tidak berlaku sama sekali. Sebab, pada kenyataannya Islam di Timur Tengah belakangan dekade ini, sedang menunjukkan ketidaktolerannya yang luar biasa, terutama dengan adanya fenomena ISIS. Mereka bukan hanya tidak toleran terhadap nonmuslim, tetapi juga kepada muslim lain yang berbeda pemahaman.

Bahkan, mereka tak segan-segan untuk membunuh, membakar, atau memenggal orang-orang yang tidak mau diajak bergabung. Entah mereka ini siapa. Benar-benar orang Islam yang memiliki pemahaman ekstrem-jihadis atau mereka adalah suruhannya Amerika untuk menghancurkan Islam dari dalam. Entahlah.

Kembali kepada Bernard Lewis, jadi bagaimana mengukur toleransi orang Islam?

Ada satu lagi tesis yang menyatakan bahwa semakin orang Islam dekat dengan Al-Quran, maka orang tersebut akan semakin toleran. Namun, ketika orang Islam semakin jauh dari Al-Quran, maka akan semakin tidak toleran. Lalu bagaimana fakta yang terjadi di lapangan dan kehidupan nyata?

Justru orang Islam yang tidak toleran itu mendasarkan pendapat dan pemahamannya pada Al-Quran. Mereka mendalili orang-orang untuk merusak peradaban dengan ayat-ayat di dalam kitab suci. Mereka menafsirkan ayat per ayat secara leterlek, tekstual sekali. Jika Al-Quran terdapat anjuran untuk berperang dan membunuh, mereka lantas memahaminya itu murni sebagai anjuran yang harus dilaksanakan sesegera mungkin.

Al-Quran, ternyata, telah memunculkan konflik penafsiran yang berujung pada kemungkinan toleransi dan intoleransi. Lalu pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menghadirkan pandangan Islam sejati yang mendukung toleransi? Adakah jalan keluar untuk memecahkan masalah konflik interpretasi itu?

Presiden Amerika ke-3 Thomas Jefferson dalam buku yang berjudul Thomas Jefferson's Qur'an menjelaskan bahwa pandangan-pandangan Thomas yang telah memberi pengaruh terhadap konstitusi Amerika Serikat tentang toleransi dan kebebasan beragama, rupanya sedikit-banyak karena dipengaruhi oleh pandangan Al-Quran mengenai toleransi dan kebebasan beragama.

Kalau di Indonesia, bagaimana? Kabarnya Presiden Joko Widodo mau membuat terowongan penghubungan Istiqlal-Katedral, ya? Buat apa? Itu sih namanya Toleransi Omong-Kosong yang hanya nampak di permukaan yang seolah baik-baik saja. Sementara di Karimun, Kepulauan Riau, ada sekelompok umat Islam yang menolak pembangunan Gereja Katolik tapi tidak menjadi sorotan orang-orang Istana.

Bukankah benih-benih intoleransi itu justru akan melahirkan paham radikalisme, dan radikalisme akan kemudian berpangkal pada yang lebih ekstrem: terorisme. Jadi, secara tidak langsung, Presiden Jokowi sedang mendiamkan benih intoleransi itu tertanam kuat di Bumi Pertiwi, hingga kemudian tumbuh besar menjadi monster yang menakutkan. 

Semoga saja tidak demikian. 
Previous Post
Next Post

0 komentar: