Dialog Toleransi (4-Habis): Hizbut Tahrir, Gusdurian, dan Gus Dur - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 30 Juli 2019

Dialog Toleransi (4-Habis): Hizbut Tahrir, Gusdurian, dan Gus Dur


Bersama Pendeta Suluh Sutia (tengah) dan Koordinator Gusdurian Bekasi Raya

Orang-orang Islam yang suka membawa-bawa bendera hitam atau putih bertuliskan arab itu adalah Hizbut Tahrir. Mereka yang punya agenda mendirikan khilafah Islamiyah. Sebuah kepemimpinan dunia bersifat politis, yang dikepalai oleh seorang khalifah.

Lalu siapa pemimpin dan bagaimana konsep kekhilafahan yang mereka maksud? Sampai sekarang belum jelas. Dan bersyukur, organisasi tersebut di negeri ini sudah dicabut izinnya lantaran tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara, keberadaan organisasi beserta seluruh perangkat dan simbolnya pun sudah dilarang.

Mereka itu sangat cerdas sekali menggunakan playing victim, atas nama Islam, mereka kemudian merasa tertindas dan terzalimi padahal sesungguhnya merekalah yang berbuat demikian kepada yang lain. Sungguh, keberadaan mereka itu tidak benar-benar mewakili kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

Nah terkait bendera yang sering mereka bawa ke mana-mana, hitam dan putih warnanya, itu bukanlah bendera umat Islam, apalagi benderanya Nabi Muhammad Saw. Bendera itu merupakan salah satu kelengkapan organisasi yang dimiliki oleh mereka. 

Huruf arab di zaman Nabi Muhammad, pasti berbeda dengan huruf arab yang ada di bendera Hizbut Tahrir itu. Huruf arab di zaman Nabi jelas tidak ada syakal (tanda baca): fathah, kasrah, dlammah, bahkan titik.

Lebih jauh, kalau bendera yang mereka bawa-bawa itu dikibarkan di Arab Saudi; negara Islam-Monarki, si pembawa bendera pasti akan ditangkap, karena bendera itu adalah benderanya kelompok teroris. 

"Tulisan itu adalah laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan kecuali Allah) muhammad rasulullah (Nabi Muhammad utusan Allah). Sebuah kalimat doktrin yang paling fundamental dalam Islam. Maka, sebagian besar ulama menghukumi makruh, bahkan ada yang haram, jika tulisan dua kalimat syahadat itu ditempatkan di benda-benda," kata saya menjelaskan kepada Jemaat GKP Seroja Bekasi Utara.

Saya melanjutkan, "Kalau sampai itu tulisan dituliskan di topi dan kemudian topi itu kena kotoran burung, kita akan terkena dosa. Kalau tulisan itu dituliskan di kaos atau baju, kemudian kita masuk ke dalam toilet, makruh hukumnya, bahkan bisa jadi kita terkena dosa, dan lain sebagainya."

Lantas di mana seharusnya dua kalimat syahadat itu ditempatkan? Jawabannya tentu saja di hati, bukan di simbol-simbol yang justru dapat mengurangi kadar kesakralan dua kalimat syahadat. Kemudian kalimat mulia itu diwujudkan dengan senantiasa beriman kepada Allah dan meneladani sifat Nabi Muhammad yang penuh cinta-kasih kepada sesama manusia.

Untuk itu, saya menjelaskan pula bahwa di dalam tradisi Nahdlatul Ulama terdapat tradisi tahlilan yang isinya adalah membesar-besarkan Allah tanpa ada rasa kebencian, dengki, dan amarah. Tetapi justru, tahlilan itu adalah wujud kecintaan kepada Allah yang terkristalisasi untuk mencintai dan menjaga hubungan kepada sesama makhluk Allah.

Terakhir, saya memberikan penjelasan tentang Jaringan Gusdurian, terutama Gusdurian Bekasi Raya ini. Saya katakan, Gusdurian adalah sebuah komunitas para pecinta Gus Dur yang mengedepankan rasa toleransi dan kasih sayang, serta menyebarkan nilai atau ajaran Islam ramah; bukan marah.

Di Bekasi, Gusdurian berdiri dan terbentuk baru beberapa bulan ke belakang, belum ada setahun. Berbagai hal tentu saja sudah dilakukan, seperti diskusi, kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan lainnya. Satu hal yang mesti dicatat: Gusdurian adalah komunitas nonpolitis, nonpartisan.

Dalam tulisan ini saya ingin menjelaskan, bahwa Jaringan Gusdurian yang didirikan oleh Mbak Alissa Wahid, secara gerak dan kepentingan, tentu berbeda dengan Barikade (barisan kader) Gus Dur yang dibentuk oleh Mbak Yenny Wahid. Maka, kalau pecinta Gus Dur ingin terjun ke dunia politik praktis, bernaungnya bukan di Gusdurian tetapi di Barikade Gus Dur. Paham, ya?

Baca juga: Dialog Toleransi (Part 3): Sosok Nabi Muhammad dan Persaudaraan Kemanusiaan

Sembilan Nilai Utama Gus Dur

Memperkenalkan Gusdurian, terasa kurang jika tidak memberikan penjelasan tentang nilai atau keteladanan yang telah diwariskan Gus Dur. Oleh Komunitas Jaringan Gusdurian, nilai-nilai ini kemudian dijadikan sebuah landasan untuk bergerak, bertindak, dan berperilaku agar sesuai dengan garis perjuangan Gus Dur semasa hidupnya. Hal tersebut adalah yang disebut sebagai Sembilan Nilai Utama Gus Dur.

Pertama, ketauhidan. 

Kebertuhanan Gus Dur tidak bisa diragukan lagi. Dia terlahir dari keluarga kiai, lingkungan pesantren, dan mencari ilmu ke negara-negara Islam: Mesir dan Irak. Maka tentu saja sudah tidak bisa kita sangsikan lagi keberislaman, ketauhidan, atau kebertuhanan seorang Gus Dur.

Bahkan, Gus Dur itu selalu menolong orang lain yang membutuhkan uluran tangannya. Sebab, bagi Gus Dur, keimanan kepada Allah harus diwujudkan dengan membahagiakan sesama manusia atau bahkan seluruh makhluk di muka bumi.

Kedua, kemanusiaan.

Gus Dur adalah seorang yang mampu melihat manusia dari sudut pandang kemanusiaannya, bukan dari latar belakang, status sosial, dan kemelekatan yang ada pada manusia. 

Baginya, memuliakan manusia dengan menghargai kemanusiaannya, sama saja dengan memuliakan Allah dengan segala kebesaran-Nya. Sebaliknya, merendahkan dan menistakan eksistensi manusia sama dengan merendahkan dan menistakan penciptanya: Allah.

Ketiga, keadilan.

Adil itu berarti proporsional atau menempatkan sesuatu sesuai dengan kadar dan kebutuhannya. Maka seperti itulah Gus Dur yang selalu memandang martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat.

Gus Dur adalah sosok yang paling terdepan dalam membela kelompok yang diperlakukan secara tidak adil. Sebut saja misalnya Ahmadiyah yang tak henti-hentinya Gus Dur bela, sekalipun secara ajaran dan doktrin keagamaan berbeda dengannya. 

Kemudian kita lihat soal bagaimana Gus Dur menetapkan Konghucu sebagai agama resmi negara. Padahal pada zaman orde baru, hingga menjelang reformasi, saudara-saudara kita yang beragama Konghucu itu sangat sulit mengekspresikan keberagamaannya di Indonesia. 

Gus Dur pernah mengatakan, "Peace without justice is an illusion."

Keempat, kesetaraan.

Kesetaraan bersumber dari pandangan, yang juga menjadi perspektif Gus Dur, bahwa setiap manusia memiliki martabat dan derajat yang sama di hadapan Allah. Maka, setiap warga negara Indonesia punya hak dan kewajiban yang harus diterima dan wajib dilakukan. 

Tak heran jika dalam pandangan soal kesetaraan ini, Gus Dur seringkali memberikan pembelaan kepada kelompok-kelompok minoritas dan terpinggirkan yang lemah atau dilemahkan oleh tirani kekuasaan. 

Selain itu, Gus Dur juga meneladankan bahwa siapa saja orangnya dengan latar belakang apa pun adalah sama posisinya di hadapan hukum. Tak pandang anak pejabat, polisi, tentara, bahkan presiden; kalau salah, harus dihukum sesuai hukum yang berlaku di negeri ini.

Kelima, pembebasan.

Setiap manusia harus hidup merdeka, bebas, dan tanpa penindasan. Pandangan ini bermula dari kesadaran tentang mewujudkan dan menegakkan nilai keadilan dan kesetaraan.

Dalam kapasitasnya sebagai ulama, cendekiawan, aktivis, dan bahkan presiden, Gus Dur senantiasa memfasilitasi siapa saja untuk mendorong tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka. Sehingga dengan demikian, jiwa-jiwa merdeka itu dapat membebaskan dirinya sendiri dan orang lain dari belenggu ketertindasan.

Keenam, kesederhaan. 

Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Sekalipun anak kiai, bahkan keturunan para wali dan nasabnya bersambung hingga ke Nabi Muhammad, dia tidak pernah berlebih-lebihan dalam ucapan, tindakan, atau pun pakaian. 

Ke mana-mana, Gus Dur selalu mengenakan pakaian khasnya; sarung, baju batik, dan peci hitam. Dalam berbagai kesempatan, ada kalimat unik sebagai tanda sebuah kesederhanaan berpikir penuh makna yang sering dilontarkan Gus Dur. Yakni, "Gitu aja kok repot!"

Menurut Gus Dur, sikap sederhana merupakan bentuk perlawanan atas sikap yang berlebihan, materialistis, dan koruptif. 

Ketujuh, persaudaraan.

Saudara itu berasal dari dua kata, yaitu "sa" dan "udara" atau satu udara. Pada mulanya, kata "saudara" dimaknai sebagai manusia yang sama-sama lahir dari rahim ibu yang sama. 

Namun, kata "saudara" mengalami perluasan makna bahwa sa-udara berarti kita sama-sama menghirup udara yang sama. Dengan demikian, seluruh manusia, yang menghirup udara di atas muka bumi ini adalah saudara, yang harus menjunjung tinggi nilai persaudaraan itu sendiri.

Nah, persaudaraan ini bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat pembebasan. Maka, persaudaraan merupakan sebuah dasar untuk memajukan sebuah peradaban bangsa. 

Gus Dur, sepanjang hidupnya, selalu memberikan teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

Kedelapan, keksatriaan.

Keksatriaan ini diwujudkan oleh Gus Dur, saat dirinya dimakzulkan dan dilengserkan dari kursi kepresidenan oleh Amien Rais. Dengan sangat antusias dan penuh keyakinan, ratusan ribu pembela Gus Dur siap mati untuk mempertahankan Gus Dur sebagai presiden. 

Tetapi apa yang dilakukan Gus Dur? Dia justru dengan legawa turun tahta dan melarang simpatisannya untuk datang ke Jakarta agar tidak terjadi huru-hara dan kekacauan. Gus Dur tidak ingin hanya karena persoalan kekuasaan lantas mengorbankan nyawa dan meneteskan darah sesama anak bangsa yang saling bersaudara.

Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur senantiasa mengedepankan kesabaran dan keikhlasan untuk menjalani proses seberat apa pun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya. 

Kesembilan, kearifan lokal.

Inilah yang dimiliki oleh kita, bangsa Indonesia, sebagai sebuah bangsa yang besar dan berperadaban. Ada banyak sekali kearifan lokal yang baik dan harus dilestarikan sebagai sebuah kekayaan. Bhinneka Tunggal Ika dan  gotong-royong merupakan contoh konkret dari kearifan lokal yang kita miliki. 

Gus Dur, menggerakkan kearifan lokal sehingga menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan kesetaraan dan kemanusiaan. Namun demikian, Gus Dur tidak pernah menghilangkan sikap terbuka, progresif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam NU kita mengenal dengan kaidah, "Rawatlah tradisi lama yang baik dan padukan dengan tradisi baru yang lebih baik."

Usai menyampaikan pembicaraan yang cukup panjang dan lebar, saya menyudahi serta menutup pembahasan dengan memberikan kenang-kenangan untuk GKP Seroja, yakni sebuah buku berjudul 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya Menteri Ketenagakerjaan sekaligus politisi Partai Kebangkitan Bangsa, M Hanif Dhakiri. 

Semoga bermanfaat! Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar