FaceApp dan Hal-Hal yang Menyebalkan - Aru Elgete

Breaking

Jumat, 19 Juli 2019

FaceApp dan Hal-Hal yang Menyebalkan


Sumber gambar: abcnews.go.com

Akhir-akhir ini kita lihat di media sosial, isinya penuh dengan wajah-wajah tua. Di instagram, facebook, twitter, dan bahkan sampai masuk ke grup-grup whatsapp, saya seperti dipaksa untuk melihat wajah yang menua. 

Tapi wajah-wajah itu tentu saja tidak sungguhan. Hanya untuk hiburan di media sosial. Maka, ada sebuah aplikasi di smartphone android bernama FaceApp. Dia bisa mengubah wajah kita menjadi berpuluh-puluh tahun lebih tua. 

Namanya saja media sosial. Sebuah wadah yang salah satu fungsinya adalah untuk mencari hiburan. Wajar saja, kehadiran FaceApp ini digemari banyak orang untuk menertawai dirinya sendiri jika kelak nanti benar-benar sudah tua. Minimal, kalau hidupnya tidak sampai tua, ada kenang-kenangan yang bisa dilihat keluarga, teman, saudara, dan kerabat bahwa seperti itulah wajah tua kita. 

Tapi jujur saja, wajah-wajah itu nyebelin. Bahkan, setelah saya perhatikan, ada beberapa hal yang menurut saya kehidupan orang Indonesia di media sosial itu nyebelin banget.

Pertama, mental ikut-ikutan. 

Mohon maaf nih, bro dan sis sekalian yang dirahmati alam semesta beserta isinya, saya tidak bermaksud menghina. Tapi memang seperti itulah mental bangsa kita. Perenungan saya selama ini ternyata ada benarnya juga. Bangsa ini tidak maju-maju karena mentalnya masih mental ikut-ikutan. Terus kalau saya bilang begitu, kalian marah? Hah? Tua!

Kehidupan orang Indonesia, diakui atau tidak, terlebih di media sosial, memang seperti itu. Mudah terbawa arus. Maka tak heran, membuat sesuatu menjadi viral di linimasa dunia maya sangat mudah. Ya begitu itu caranya. 

Maka sesungguhnya, saya mau bilang, bahwa mental ikut-ikutan seperti itu adalah tanda kalau bangsa Indonesia selalu menjadi terbelakang. Namanya saja ikut-ikutan, pasti posisinya bukan di depan. Iya, kan? Nah, kalian yang ikut-ikutan bikin muka yang jadi tua itu berarti manusia yang ... (isi sendiri)

Kedua, selera humor yang rendah.

Ini juga nyebelin. Kapan kita mau jadi bangsa yang kaya, kalau hiburan yang bisa membuat kita bangga dan tertawa adalah yang model receh begitu? Apakah baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur itu adalah sebutan untuk negeri yang kebahagiaannya dapat diukur hanya dari hiburan yang receh-receh? 

Sependek yang saya tahu, bangsa yang berperadaban itu adalah kalau kelucuan-kelucuan atau hiburan-hiburan yang ditampilkan bisa memicu otak kita berpikir. Kita punya Gus Dur, Sujiwotejo, Cak Nun, dan lain-lain. Tapi sedih, ketika generasi penerus negeri ini dapat melampiaskan kebahagiaan hanya karena FaceApp. Rendah bin receh sekali, ashli. Pakai shod

Asal kalian tahu, selama selera humor kita rendah, selama itu pula bangsa Indonesia akan terus mengalami degradasi pemikiran. Mau? Bahkan, lebih parahnya, kita akan mengalami dekadensi intelektual. Lho iya, dong. Karena bercandaan yang tidak perlu mikir dan humor yang mengharuskan kita mikir, tentu saja sangat mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa. 

Sampai di sini, paham? Baiklah, paham atau tidak paham, saya akan tetap lanjutkan.

Ketiga, sangat terbuka. 

Orang Indonesia memang sangat ramah-ramah kepribadiannya. Kalau dalam ilmu psikologi, sebagian besar dari kita memiliki karakter sanguinis. Bagi kalian yang tidak tahu sanguinis itu apa, silakan cari sendiri atau tanya ke mahasiswa psikologi semester 14. Insyaallah sudah lupa. Yang jelas, sanguinis dengan sinusitis sangat jauh berbeda. 

Nah, keterbukaan orang Indonesia itu sangat terlihat di media sosial. Kita bisa menambahkan dan ditambahkan, atau mengikuti dan diikuti seseorang, siapa pun orangnya, baik yang dikenal maupun yang benar-benar tidak dikenal. Kemudian dengan bangganya, kita mencantumkan seluruh identitas dan kemelekatan kita ke media sosial. Mulai dari jabatan di organisasi, hingga tanggal dan tempat lahir. Biar diucapin, ya? Lumayan, sih~

Maka dari ini dan itu, kita mesti hati-hati. Sifat yang sangat terbuka memang beda-beda tipis dengan narsis bin eksis. Karenanya, saya bisa mencirikan tipe orang narsis di media sosial. Bahwa semakin dia populer, kaya, punya pengaruh, banyak aktivitas, maka akan semakin banyak kenarsisan atau keterbukaan yang ditampilkan di media sosial. Begitu sebaliknya.

Oleh sebab itu, percayalah, tidak pun tidak apa-apa, bahwa sifat sebagian orang Indonesia yang sangat terbuka alias narsis bin eksis itu adalah hal yang menurut saya nyebelin banget. Nyepam juga sih. Apalagi di era FaceApp ini. Dari atas sampai ke ujung paling bawah, isinya cuma wajah orang-orang tua. Gumoh banget, ih. Tau gumoh? Cari tahu sendiri!

Oke, sampai di sini, paham? Baiklah, paham atau tidak paham, saya akan tetap lanjutkan.

Keempat, baperan.

Apalo?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar