Dialog Toleransi (Part 2): Salam dan Ta'aruf - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 28 Juli 2019

Dialog Toleransi (Part 2): Salam dan Ta'aruf


Suasana dialog di GKP Seroja Bekasi Utara
Usai salat magrib berjamaah di masjid yang berada di dalam SMP Negeri 5 Kota Bekasi, saya kembali ke tempat dialog itu. Setibanya kembali di ruangan, terlihat ada cukup banyak Jemaat GKP Seroja itu yang menunggu saya.

Rupanya, benar saja apa yang dikatakan oleh Pendeta Suluh tempo hari, jemaatnya antusias untuk menghadiri dialog lintas iman ini. Saya bahagia sekali, dan lagi-lagi, senyum mereka yang berseri-seri serta tatapan bahagia yang diberikan tak putus-putus saat pertemuan perdana itu.

Akhirnya, Pendeta Suluh memulai acara. Menyampaikan trigger terlebih dulu bahwa siapa atau untuk apa saya bersama Gusdurian Bekasi Raya diundang dan datang ke sana. Saat saya sedang salat tadi, ternyata Pendeta Suluh pun sudah banyak berbicara soal pertemuan kebahagiaan ini kepada anak didiknya.

Baca juga: Dialog Toleransi (Part 1): Pesan Cinta yang Saya Rasakan

Setelah kemudian dipersilakan, saya berbicara dan memulainya dengan salam. Betapa kaget bercampur haru, bangga, dan bahagia saat mengucap assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh; mereka semua membalasnya dengan sangat lantang dan benar; wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Saya lantas menjelaskan bahwa salam yang berbahasa arab itu sebenarnya sama dengan ucapan salam sejahtera, selamat pagi-siang-sore-malam, karena artinya adalah semoga keselamatan, rahmat, dan berkat Allah diberikan kepada kalian semua.


"Bahkan dari sononya (bahasa ibrani), itu hampir-hampir mirip dengan bahasa arab: Shalom Aleichem," sahut Pak Pram, saya mengamini.

Dengan demikian, kalimat assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh merupakan ucapan sosial yang tidak ada kaitannya dengan pengrusakan akidah seseorang. Bukankah selama ini kita seringkali terjebak pada diksi-diksi yang ditakuti oleh kita sendiri karena banyaknya prasangka-prasangka yang tidak baik? Maka, berdialog-lah agar hati menjadi lapang. 

Setelah membahas ucapan salam itu, saya beralih untuk memperkenalkan Islam: agama yang saya anut karena bapak dan ibu saya adalah muslim. 

Islam, saya katakan, secara terminologi saja sudah bermakna keselamatan dan kedamaian. Maka, menjadi aneh ketika wajah Islam tampil dengan sangat menakutkan; menghancurkan tatanan masyarakat, baik fisik maupun nonfisik.

Setelah itu, saya juga menjelaskan tentang Al-Quran. Bahwa Al-Quran merupakan kitab suci teragung dalam Islam, menjadi landasan paling utama. Nah, ayat-ayat di dalamnya itu bisa digunakan oleh siapa saja, kelompok mana saja, dan untuk kepentingan apa pun. 

"Bahkan ISIS juga menggunakan ayat Al-Quran untuk melegalkan perbuatannya yang dirasa mendapat restu dari Allah. Begitu pula HTI dan FPI, serta siapa saja, umat Islam, bisa memakai ayat Al-Quran. Gus Dur dan kami yang menawarkan konsep Islam ramah pun, menggunakan firman Allah," kata saya menjelaskan.

Karena itu, saya membacakan surat Al-Hujurat ayat 13. Bahwa Allah berfirman: wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian bersuku-suku berbangsa-bangsa, agar kalian bisa saling kenal-mengenal.

Saya katakan, ayat tersebut diungkapkan untuk seluruh umat, bukan hanya Islam saja. Bahkan, di dalam Al-Quran, Allah tidak pernah secara khusus memanggil umat Islam: Yaa-ayyuhal muslimuun. Tidak ada. Kebanyakan, Yaa-ayyuhannas (wahai manusia) atau panggilan yang lebih intim, Yaa-ayyuhal mukminun atau Yaa-ayyuhalladzina aamanuu (wahai orang yang beriman). 

Nah di dalam ayat tadi, ada kata-kata lita'arafu. Dengan spontan saya tanya kepada anak didiknya Pendeta Suluh, pernahkah mendengar istilah ta'aruf? Mereka menjawab dengan singkat dan tegas: "Pernah!"

Ta'aruf itu artinya sebuah upaya untuk saling mengenal satu sama lain. Tetapi bukan berkenalan yang sifatnya hanya sisi luar saja, melainkan lebih jauh dari itu. Termasuk melakukan diskusi atau dialog dengan tanpa baper. Gus Dur, semasa hidupnya, sering berbuat demikian. 

Saya kemudian bercerita tentang Gus Dur yang pernah mewakili agama Islam dalam sebuah dialog lintas iman dengan tema, "Agama apa yang paling dekat dengan Tuhan?"

Orang pertama, perwakilan dari Kristen, seorang pendeta, menjelaskan tentang agamanya yang sangat dekat dengan Tuhan. "Tidak ada agama yang lebih dekat dengan Tuhan, kecuali agama kami: Kristen. Karena kami senantiasa memanggil-Nya dengan sebutan, Bapak."

Dilanjut dengan orang kedua, perwakilan dari Hindu yang juga seorang pemuka agama, menjelaskan bahwa agama Hindu merupakan agama yang dekat dengan Tuhan. "Kami juga dekat, karena kami selalu memanggil Tuhan dengan sebutan, Om."

Kini giliran Gus Dur yang menjelaskan bagaimana kedekatan Islam dengan Tuhan. Tapi justru Gus Dur diam dan kemudian tertawa dengan sangat kencang sekali, hadirin pun dibuatnya bingung. Dia lantas ditanya, "Sampeyan harus menjelaskan, Gus, bagaimana hubungan Islam dengan Tuhan?"

Dengan santai Gus Dur akhirnya menjawab, "Bagaimana umat Islam bisa dekat dengan Tuhan, lha wong kalau memanggil saja harus dengan menggunakan toa (alat pengeras suara)."

Sontak, Jemaat GKP Seroja dan Gusdurian Bekasi Raya tertawa terbahak-bahak. Bukan kami menertawakan Islam, tetapi itulah bentuk kebahagiaan terhadap sikap Gus Dur yang mampu terbuka dan memiliki sikap yang lapang. Dia mampu berdialog dan melucu dengan bahasan yang sangat sensitif, tetapi justru itulah yang mampu merekatkan satu sama lain; sebuah pengejawantahan dari lita'arafu tadi.

Setelah itu, saya meminta izin untuk bercerita tentang Gus Dur sekali lagi, sebelum masuk ke dalam pembahasan inti. Pendeta Suluh dan yang lainnya memberikan izin untuk itu. 

Gus Dur bercerita bahwa suatu ketika, ada seorang kiai kampung yang sedang dilanda kesedihan dan kekalutan hati. Dia punya anak tiga dan salah satu diantaranya masuk agama Kristen. Ini tentu sebuah aib yang memalukan bagi kiai itu. Tiap malam dia berkeluh-kesah kepada Tuhan. 

Dia juga curhat kepada Gus Dur, menceritakan apa-apa yang telah dia lakukan agar anaknya mau kembali memeluk Islam lagi, termasuk keluh-kesah yang dia utarakan kepada Tuhan agar memberikan 'hidayah' untuk anaknya itu.

Gus Dur menjawab, "Kamu anak tiga dan hanya satu masuk Kristen saja sudah uring-uringan seperti itu. Coba lihat Tuhan, cuma punya anak satu-satunya (Yesus), masuk Kristen pula."

Kami, lagi-lagi tertawa bareng. Kehangatan dan keakraban diantara kami kian terasa. Saya merasa, ta'aruf yang saya lakukan sudah sedikit berhasil walau masih di awal-awal pertemuan. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar