Sabtu, 27 Juli 2019

Dialog Toleransi (Part 1): Pesan Cinta yang Saya Rasakan


Suasana dialog di GKP Seroja, Bekasi Utara

Jumat, 26 Juli 2019 saya berkesempatan melakukan sebuah pertemuan kebahagiaan, yakni Dialog Toleransi Generasi Milenial: Pesan Cinta untuk Kita di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Seroja, Bekasi Utara. Kedatangan saya ke sana, tentu saja tidak tiba-tiba. Tetapi melalui tahap perencanaan terlebih dulu. 

Tepatnya, pada 5 Juli 2019 lalu, saya bersama teman-teman Gusdurian Bekasi Raya dipertemukan oleh seorang senior, saya menyebutnya, Mas Ghufron, dengan Jemaat GKP Seroja, Bekasi Utara itu. 

Ketika itu, Pendeta Suluh Sutia beserta tokoh gereja Bapak Pramono Hadi dan rombongannya melingkar bersama Gusdurian Bekasi Raya di alun-alun Kota Bekasi. Sementara yang kami perbincangkan adalah soal kegelisahan atas kejadian akhir-akhir ini yang dirasa sangat mengkhawatirkan. 

Polarisasi terjadi begitu sangat kentara sehingga menimbulkan dikotomi dan membuat kami memiliki keresahan yang sama. Maka, solusi (dan menjadi kesepakatan kami) dari ketersekatan diantara kami adalah mengadakan dialog lintas agama. Hal tersebut dilakukan dengan dilakukan agenda saling-kunjung ke rumah ibadah masing-masing. 

Di alun-alun ketika itu, Pendeta Suluh kemudian mengagendakan sebuah pertemuan, yang ini merupakan kali pertama Gusdurian Bekasi Raya (yang baru lahir belum lama ini) melaksanakan kerja-kerja perdamaian. Tak pikir panjang, seketika itu juga, dia menetapkan tanggal 26 Juli untuk kami berkunjung ke tempatnya. 

Saling-kunjung ini berarti bukanlah sebuah momentum seremonial yang hanya sekali dilakukan, tetapi terus-menerus; berkelanjutan; dan konsisten. Setelah pertemuan pada 26 Juli itu, nantinya akan bergantian; Jemaat GKP Seroja yang akan berkunjung ke masjid, rumah ibadah umat Islam; sebuah agama yang kami anut. 

Lantas, siapa pangsa pasarnya atau pendengarnya? Tentu saja anak-anak muda generasi milenial. Harapannya, agar kami, Gusdurian Bekasi Raya dan GKP Seroja Bekasi Utara, dapat memangkas pemikiran atau tindak radikalisme dan ekstremisme sejak dini. 

Upaya itu dilakukan dengan menanamkan gagasan tentang toleransi kepada anak-anak remaja, jauh-jauh hari sebelum mereka terpapar bibit-bibit terorisme. Atau setidaknya, Gusdurian Bekasi Raya menjelaskan tentang Islam yang begitu sangat kompleks dan penuh dengan banyaknya perbedaan.

Bahwa Islam bukanlah agama yang disajikan ke khalayak umum dengan wajah penuh amarah, teriak-teriak di jalan, dan bahkan merusak tatanan kehidupan masyarakat; baik fisik maupun nonfisik.

Nah, pada kesempatan yang berbahagia itu, di GKP Seroja Bekasi Utara, saya diminta untuk memaparkan dan mengenalkan tentang konsep Islam yang ramah. Terlebih soal Gusdurian, yang oleh kebanyakan dari mereka mengetahuinya bahwa Gusdurian adalah orang-orang pecinta buah Durian. Hahahahahaha.

Saya merasa senang sekali, saat pertama kali tiba di sana, mendapat sambutan yang hangat dari Jemaat GKP Seroja Bekasi Utara. Sebelumnya, Pendeta Suluh mengabarkan bahwa jemaatnya sangat antusias menyambut pertemuan perdana itu. Saya pun demikian. Terlebih saat dengan sangat ramah mereka menyambut kami dengan senyum yang tak henti-hentinya. 

Saya memasuki ruangan, tempat yang dipilih oleh Pendeta Suluh untuk kami berdialog. Tiba di ruangan itu, tepat ketika azan magrib baru saja berhenti kumandangnya, karena memang agenda dialog, sesuai kesepakatan, dimulai pada pukul 18.00 WIB. 

Dan jujur saja, saya sangat terenyuh ketika dengan santunnya, dia meminta maaf dan izin agar diberikan waktu sebentar untuk berdoa sebelum dialog dimulai. Saya memperhatikan mereka berdoa, sekaligus juga mendengar apa yang diucap oleh anak didiknya, yang dididik untuk berani memimpin doa. Dengan lirih dan hampir tak terdengar, saya pun ikut mengamininya karena doa-doa yang terlontar adalah kebaikan yang bersifat universal.

Bukan hanya itu, saya dibuat bangga dan sangat bahagia, saat Pendeta Suluh memberikan izin kepada saya (sebelum saya memintanya) untuk melaksanakan salat magrib terlebih dulu. Dengan hati yang lapang dan perasaan yang tulus, saya dan rombongan Gusdurian Bekasi Raya kemudian diantar oleh Pak Pramono Hadi ke masjid terdekat, yang berjarak hanya sekitar 100 meter.

Inilah sesungguhnya wajah toleransi yang saya rasakan. Beribadah, berdoa, dan menghadap Tuhan tanpa paksaan serta tidak ada sama sekali tindakan intimidatif yang saya (dan kami) dapatkan. Semua berjalan apa adanya, penuh sukacita serta limpahan kebahagiaan. Inilah, bagi saya, pesan cinta itu, yang sangat tersirat, substantif, dan penuh makna.

Bersambung...
Previous Post
Next Post

0 komentar: