Senin, 24 Februari 2020

BANJIR: Doa untuk Gubernur Anies Baswedan


Sumber gambar: sindonews.com

Jakarta banjir lagi. Bahkan, kini banjir datang di setiap pekan. Gubernur Anies Baswedan kembali menjadi sasaran utama dari ocehan warganet di linimasa media sosial. Oleh sebab, Anies Baswedan terpilih sebagai gubernur karena isu agama, maka dalam hal menyikapi banjir Jakarta ini, mari kita menggunakan pendekatan ketuhanan.

Abang kandung saya, Ale Nisfu, menulis sebuah untaian doa yang ciamik untuk Gubernur kebanggaannya (abang saya adalah warga Jakarta, sementara saya kini sudah berkewarganegaraan Bekasi). Doa itu ditulis dan diungkapkannya, seyakin saya, merupakan sebuah letupan suara kalbu yang murni dan tulus dilahirkan dari perasaan cinta yang sangat mendalam.

*****

Begini doanya:

Alhamdulillah ya Allah, melalui washilah (perantara) Bapak Anies Baswedan yang Engkau angkat menjadi Gubernur DKI, kini sebagian besar masyarakat DKI bisa menjadi manusia yang nrimo ing pandum (lapang dada) dan selalu berhusnudzon (berprasangka baik) terhadap setiap takdir yang Engkau gariskan.

Salah satu indikator bahwa sebagian besar masyarakat DKI menjadi jembar hatinya adalah bahwa mereka tidak mengeluh terkait musibah banjir yang Engkau takdirkan. Mereka juga sudah tidak lagi menyalahkan pemerintah, baik tingkat nasional maupun daerah, terkait musibah banjir di tahun 2020 ini. Karena mereka semua sudah berprasangka baik kepada pemerintah, bahwa pemerintah sudah maksimal dalam bekerja. Sudah melakukan segala cara agar masyarakat DKI bahagia. Tapi memang, kalau Engkau sudah berkehendak, Jakarta banjir, maka tidak ada yang mampu mengelaknya. 

Ya Allah, aku mohon jadikanlah Bapak Anies Baswedan ini sebagai Presiden Indonesia di tahun 2024 nanti, agar sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki 'dada yang lebar' seperti sebagian besar masyarakat DKI. Kalau boleh minta lebih, ya Allah, saya memohon kepada-Mu, jadikanlah Bapak Anies Baswedan ini sebagai Sekjen PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), agar semua umat manusia memiliki hati seperti sebagian besar masyarakat DKI Jakarta. 

Kalau memang permohonan saya agar Bapak Anies Baswedan menjadi Presiden RI atau jadi Sekjen PBB tidak Engkau kabulkan, ya Allah, minimal jadikanlah Bapak Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta selamanya. (Bahkan) kalau bisa dunia akhirat. Aamiin. 

Semoga mereka yang masih mengeluh dan menyalahkan pemerintah terkait musibah banjir ini, mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Aamiin, aamiin, aamiin ya robbal alamin.

*****

Demikianlah untaian doa yang dipanjatkan abang saya itu di laman facebooknya. Semoga segala yang diinginkan, diharapkan, dan diungkapkan dalam kalimat doa itu dapat dikabulkan oleh Allah; Tuhan Penguasa Banjir.

Lalu, apa doamu untuk Pak Gubernur Anies Baswedan, gaes? Yuk, berdoa!

Jumat, 21 Februari 2020

JUMATAN: Khutbah Kebencian di Masjid Pondok Pesantren


Ilustrasi. Sumber gambar: alif.id

Sejak April 2013, saya sudah tinggal dan menetap di Bekasi. Kehidupan baru, saya mulai dengan berbagai dinamika yang ada, termasuk budayanya yang berbeda sama sekali dengan budaya Cirebon, yang saya tinggali sejak 2009. Atau pun, Bekasi ini berbeda juga budayanya dengan Jakarta, yang saya tinggali sejak lahir hingga 2009. 

Persis di belakang rumah saya, ada pesantren yang sangat megah. Saya tentu merasa bahagia karena tempat tinggal saat ini, tidak jauh-jauh dari lingkungan pesantren yang lebih religius dan surgawi. Tapi, belakangan saya tahu, sekalipun pesantren yang persis berada di belakang rumah saya itu beramaliyah Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama, tetapi fikrah, ghirah, dan harakahnya tidak sama sekali mengikuti ulama NU. Pesantren itu lebih cenderung berafiliasi dengan FPI, PKS, dan sejenisnya. 

Hal tersebut saya ketahui saat beberapa kali Jumatan di sana, tentu pada awal-awal saya tinggal di Bekasi. Setiap kali Jumatan, hati saya merasa dongkol, kesal, dan sakit hati lantaran khutbah para khutobanya yang seenaknya saja. Barangkali mereka tak mengindahkan penduduk di sekitar, karena mungkin saja ada nonmuslim yang mendengarkan isi khutbah yang menjengkelkan itu. Sungguh, sebuah potret kesewenang-wenangan kelompok mayoritas di tengah lingkungan yang sangat heterogen. 

Selama setahun, periode 2013-2014, saya Jumatan setiap pekan di sana. Sebab, saya tidak tahu harus ke mana lagi. Maklum, saya ini orang baru yang tak paham medan atau lingkungan di sini. Maka, berkali-kali pula, saya jengkel setiap mendengar khutbah dari seorang kiai, yang ketika itu, saya curigai sebagai pengasuh pesantren. Kini, benar kecurigaan saya itu, bahwa yang gemar menyampaikan khutbah kebencian itu adalah kiai pengasuh pesantren itu yang oleh sebagian besar orang dihormati, lantaran keilmuannya.

Jadi, begini ceritanya.

Ketika itu, sedang santer isu pendirian Gereja Katolik Santa Clara di Bekasi Utara. Nah, di setiap khutbah Jumat, terseliplah ujaran kebencian menolak pendirian gereja itu. Bahkan, Walikota Bekasi H Rahmat Effendi menjadi bulan-bulanan yang masuk ke dalam pembicaraan khutbah yang penuh dengan kedengkian. Pasalnya, kita ketahui bersama bahwa Walikota Bekasi berani pasang badan atas Santa Clara itu. 

"Lebih baik ditembak kepala saya, daripada harus mencabut izin membangun gereja itu," kira-kira seperti itu kalimat yang dilontarkan kiai pengasuh pesantren dalam khutbah Jumat, meniru ungkapan Walikota Bekasi. Kalimat ini semacam trigger untuk masuk ke pembahasan yang lebih dalam. 

Saya merasa heran, khutbah Jumat yang seharusnya penuh khidmat dan tenang, tapi ini justru menjadi ajang untuk menyerang, melempar kebencian, dan mengajak orang lain untuk bermusuhan. Khutbah seperti ini, jujur saja, baru saya temui di Bekasi, sepanjang saya hidup hingga tahun 2014. Saya betul-betul kaget bukan kepalang. 

Menurut kiai itu, Walikota Bekasi sudah bisa dihukumi halal darahnya untuk dibunuh karena ungkapannya menyakiti hati umat Islam, padahal Rahmat Effendi itu merupakan orang yang juga beragama Islam. Itulah yang disebut sebagai pengkhianat. Secara hukum Islam, kata sang kiai, yang namanya orang berkhianat itu harus dibunuh. Sebab kalau tidak, dia akan menjadi bom waktu untuk keberlangsungan hidup dan kehidupan beragama bagi umat Islam. Singkatnya, ke depan, dia akan banyak merugikan kelompok Islam. 

Lebih jauh, sepanjang tahun 2013-2014, saya seringkali menjadi saksi betapa kiai dan para asatidz di sana, yang menjadi khotib Jumat secara bergantian, mengajak umat Islam yang ada di dalam masjid itu untuk turun ke jalan, melakukan aksi penolakan terhadap pendirian bangunan gereja pada bakda Jumatan. Mereka akan menggeruduk kantor Walikota Bekasi. Tapi toh, nyatanya, yang turun ke jalan hanya didominasi oleh santri yang masih di bawah umur.

"Hati-hati, kristenisasi akan menjalar di Bekasi yang julukannya adalah kota santri ini. Jangan sampai akidah anak-cucu kita luntur dan akhirnya murtad karena misionaris-misionaris dari gereja itu. Inilah yang harus kita waspadai sebagai muslim," kata kiai itu menggebu-gebu dalam khutbah Jumat, bahkan hampir di setiap Jumatan pada sekitar tahun 2013-2014, begitulah khutbahnya. 

Ketika itu, saya masih belum bereaksi. Hanya menggumam dan menggibahi isi khutbah itu bersama bapak dan abang saya, setiap kali pulang Jumatan. Ini sungguh meresahkan banyak orang. Belakangan, saya juga mendengar banyak keluhan mengenai khutbah Jumat yang seenaknya itu.

Namun, keluhan itu berangkat bukan dari tema pendirian gereja saja, tetapi juga kerap menyinggung hal-hal sensitif. Seperti dengan mudahnya menghukumi seorang muslim menjadi kafir bagi yang mengucapkan selamat natal, masuk ke dalam rumah ibadah agama lain, merayakan tahun baru masehi, merayakan valentine, dan lain sebagainya. 

Gaya khutbahnya pun seperti ceramah biasa. Tangannya berkali-kali menunjuk ke depan, mengajak audiens untuk bercanda, dan khutbahnya lama sekali. Sampai berkali-kali saya tidur pulas dalam keadaan duduk, kemudian bangun, kemudian tidur lagi, kemudian bangun lagi, khutbah belum juga selesai. Ini benar-benar khutbah Jumat yang sangat menjengkelkan dalam hidup saya. 

Sebenarnya, masih ada pengalaman saya mengikuti khutbah Jumat di masjid pesantren ini. Yakni, saat sang kiai itu membahas Basuki Tjahaja Purnama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta, lantaran Joko Widodo mengikuti kontes Pemilihan Presiden 2014. Lebih-lebih saat BTP tersangkut masalah 'penodaan agama'. Pesantren inilah yang paling getol menggibahi BTP setiap Jumatan. Bahkan, di salah satu sudut pesantren ada sebuah banner berukuran 3x1 meter, bertuliskan: Bunuh si Penista Agama.


Tapi saya rasa, untuk kisah BTP yang menjadi tema khusus khutbah Jumat di pesantren dekat rumah saya itu, tidak perlulah saya ungkap lebih lengkapnya dalam tulisan ini. Saya hanya berharap, semoga anda semua, yang membaca tulisan ini, pada Jumat kali ini, tidak salah masuk masjid, sehingga terpaksa harus mendengarkan khutbah dari khotib yang kepala batu, yang isi khutbahnya hanya mencaci, menjelek-jelekkan, dan mengajak untuk membenci sekaligus bermusuhan dengan yang lain. Hati-hati, ya. 

Terakhir, saya ingin menyampaikan, kalau khutbahnya masih begitu-begitu saja, tidak ada kebaruan dalam penyampaiannya, maka itu justru akan merusak Islam. Pertama, umat Islam akan berbondong-bondong meninggalkan Jumatan dan lebih memilih untuk menggantinya dengan salat zuhur di rumah. Kedua, umat non-Islam akan menganggap bahwa salat Jumat adalah ibadah yang penuh dengan nuansa kebencian. 

Dan akhirnya, saya memutuskan untuk pindah ke masjid yang posisinya agak jauh dari rumah, tapi sebenarnya masjid inilah yang masih berada dalam satu lingkungan dengan rumah saya. Kalau masjid di pesantren itu tadi, sebenarnya sudah beda kampung, hanya saja jaraknya yang sangat dekat. Bagaimana kisahnya? 

Bersambung...

Selasa, 18 Februari 2020

Meneladani Nabi Ibrahim untuk Bekal Pemuda Masa Kini


Ilustrasi. Sumber: islami.co

Sahabat saya, Rizki Prayogo, menulis dalam websitenya yang diberi judul: "Teladan Nabi Ibrahim untuk Pemuda Masa Kini". Sebagai pemuda, saya menaruh salut dan bangga terhadap jejak langkahnya selama ini.

Yogo, begitu saya menyapanya, adalah seorang mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Sering saya mengajukan kelakar kepadanya bahwa Yogo ini merupakan mufassir (ahli tafsir) di kemudian hari, yang ilmu dan kecerdasannya sangat mumpuni.

Kepeduliannya terhadap kehidupan pemuda di era sekarang, patut diacungi jempol. Berkali-kali, dia punya gagasan penting untuk kemudian diejawantahkan demi mengubah mindset para pemuda. Bahwa pemuda jangan hanya banyak rebahan, tetapi juga harus berjuang hingga sungguh. 

Keahlian dalam menafsir kitab suci, ditumpahkannya menjadi sebuah tulisan dengan sangat ciamik dalam websitenya: Catatan Prayogo. Menurutnya, hampir setiap individu pasti meyakini tentang keberadaan dan eksistensi pemuda di tengah peradaban umat manusia. Hal tersebut seperti dapat kita lihat melalui berbagai pernyataan dari banyak tokoh besar di dunia mengenai pemuda. 

Imam Syafi'i pernah mengatakan, "Barangsiapa yang tidak belajar pada waktu mudanya, maka bertakbirlah empat kali atas kematiannya." Selain itu, Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno pernah mengungkapkan dalam retorikanya yang berapi-api, "Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia." Bahkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad menyampaikan bahwa segala hal yang dilakukan pada masa muda akan menjadi pertanggungjawaban di akhirat."

Bagi Yogo, hal tersebut diatas menjadi alasan kuat bahwa optimalisasi peran pemuda menjadi sangat penting. Karenanya, diperlukan berbagai komponen untuk membangkitkan peran pemuda, salah satunya melalui mentalitas. Maka, dalam hal ini, Yogo akan mengulas tentang bagaimana potret pemuda jempolan dalam kajian Al-Quran.

Definisi Mental

Mental menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah sesuatu yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia yang bukan bersifat tenaga atau tenaga. Pada perkembangan psikologi, belum ditemukan secara definitif pengertian mutlak terkait mental. Namun secara umum, mentalitas berkaitan dengan akal pikiran (rasio), jiwa, hati, etika, moral, dan tingkah laku. Kesatuan itulah yang akan membentuk mental dan citra diri setiap manusia.

Yogo yang merupakan santri alumni Pondok Pesantren Attaqwa Bekasi, mengutip pernyataan KH Noer Ali bahwa dalam diri manusia terdapat tiga dimensi. Ketiga itu adalah ruh, fisik, dan mental. Mental adalah hasil dari perpaduan ruh dan fisik. Sehingga, terbentuklah mental yang membawa pada qalbun salim, yang bisa kita lihat dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 88. Jadi, jika ruh banyak diberikan asupan ruhaniyah dan fisik diajak untuk mempraktikkan ajaran-ajaran kebaikan, maka akan muncul mental hamba yang taat, bermartabat, dan manfaat.

Tak hanya itu, Yogo juga mengutip pendapat Imam Ghazali dalam kitab Al-'Ajaaib Al-Qalb (keajaiban hati). Menurut Imam Ghazali, di dalam diri manusia terdapat berbagai unsur yang halus atau disebut sebagai lathaif. Diantara dari unsur itu adalah ruh, akal, nafsu, dan hati.

Pertama, ruh adalah bagian yang Allah tiupkan kepada manusia sehingga menjadi hidup dan memiliki nyawa. Kedua, ruh merupakan fasilitas yang Allah berikan untuk digunakan sebagai alat pencerna berbagai macam informasi yang diterima. Ketiga, nafsu dimaknai sebagai tempat berkumpulnya kekuatan amarah dan syahwat. Sedangkan nafsu dibagi menjadi tiga, yakni muthmainnah, lawwamah, dan amarah bi al-suu'. Keempat, hati berarti lathaif yang bersifat rabbaniyah (ketuhanan).

Pengertian-pengertian itu, disimpulkan Yogo, bahwa mentalitas yang baik akan terbentuk saat manusia senantiasa berupaya untuk menyelaraskan hablumminallah dan hablumminannas. Yakni menjaga hubungan vertikal dengan beribadah seraya memanifestasikan hasil ibadahnya dalam bentuk kontribusi terhadap sesama atau hubungan horizontal dengan makhluk-Nya.

Pemuda dalam Sorotan Masa Kini

Rizki Prayogo

Menurut Yogo, saat ini Indonesia disebut memiliki angka yang menguntungkan karena punya banyak penduduk yang berusia produktif. Karenanya, Indonesia digadang-gadang bakal mencapai masa keemasan pada 2045, jika dapat mengolah berbagai potensi yang ada dengan maksimal.

Namun demikian, kita tak boleh larut dalam iming-iming yang ada. Kenapa? Sebab, jika pemuda yang sedang dalam masa produktif ini gagal dibina secara optimal, maka yang terjadi adalah sebaliknya: Indonesia tidak akan menggapai masa keemasan pada 2045.

Diantara hal yang memprihatinkan adalah maraknya publikasi kebodohan yang dilakukan oleh pemuda negeri ini. Dengan hanya bermodal mencari popularitas, maka jadilah apa saja yang akan dilakukan pemuda untuk menggapai polularitas itu. Bahkan tak jarang, para pemuda kita membagikan video challange yang mengajak untuk berbuat usil dan menyakiti perasaan. Maka, untuk meminimalisasi hal yang demikian itu, Yogo mengajak kita untuk sejenak menelaah berbagai kisah hikmah dan ayat-ayat suci untuk merekonstruksi mental pemuda bangsa.

Kisah dan Teladan Pemuda dalam Al-Quran

Di Al-Quran terdapat salah satu kisah yang patut kita telaah kembali. Kisah ini cukup memberikan pesan yang dapat memberikan semangat dalam masa muda kita. Yakni kisah Nabi Ibrahim yang tertuang dalam Surat Al-Anbiya ayat 54 hingga 69. Potret kisah ini menarik untuk dipelajari.

Ketika itu, Nabi Ibrahim tidak semata-mata menyampaikan dakwah Tauhid pada kaumnya dengan dalil, tetapi juga dengan rasionalitas. Saat kaum Nabi Ibrahim diingatkan mengenai kesesatan lantaran kerap menyembah berhala-berhala, mereka menolak apa yang disampaikan Ibrahim dan berkata: "Kami menyembah apa yang bapak kami sembah."

Untuk itu, Nabi Ibrahim kemudian merancang aksinya dengan berpura-pura memiliki penyakit yang menular agar orang-orang menjauhinya. Ketika tempat berhala sepi karena masyarakat menjauhi Nabi Ibrahim lantaran khawatir tertular penyakitnya, dia akhirnya mendatangi tempat tersebut dan menemukan s""lesajian untuk berhala-berhala yang menjadi sesembahan itu.

"Untuk apa makanan ini disajikan? Siapa yang akan memakannya?"

Demikian pertanyaan Nabi Ibrahim yang dilontarkan kepada kaumnya yang sesat itu. Namun, satu pun tak ada yang menjawab. Maka, Nabi Ibrahim menghancurkan seluruh patung yang ada dan menyisakan patung paling besar diantara patung-patung yang lain.

Saat orang-orang mengetahui hancurnya berhala yang dituhankan, mereka mencari siapa pelaku dibalik kerusakan itu. Ketika salah seorang dari mereka menyebut seorang pemuda bernama Ibrahim, maka mereka lantas memanggilnya.

Lalu mengajukan tanya: "Apakah kamu yang melakukan ini terhadap Tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?"

"Tidak, tanyakan saja pada patung yang paling besar itu, jika dia dapat berbicara," sahut Nabi Ibrahim.

Mereka termenung sejenak. Lalu memutuskan untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan cara dibakar hidup-hidup. Namun, Nabi Ibrahim, kala itu, kembali mengingatkan kaumnya dengan sebuah pernyataan, "Untuk apa kau menyembah (yang kau anggap) Tuhan, tapi tidak membawa kebaikan?"

Akhirnya, Nabi Ibrahim dibawa menuju tempat eksekusi dan kemudian turunlah rahmat (kasih-sayang) Allah yang menjadikan api itu menjadi sejuk. Lalu, apa yang bisa kita petik sebagai hikmah untuk kemudian menjadi daya lecut dan penyemangat bagi hidup dan kehidupan para pemuda kekinian?

Dari kisah yang demikian diceritakan dalam Al-Quran itu, Yogo menyebut bahwa sosok Nabi Ibrahim merupakan seorang yang berani bergerak maju dan memiki keyakinan yang tangguh. Maka, ada beberapa hal yang dapat kita petik sebagai hikmah, pelajaran, dan pembelajaran bagi kita yang merupakan pemuda di era modern seperti sekarang ini. 

Pertama, Nabi Ibrahim memiliki nalar yang kritis. Dia mampu berpikir secara rasional dengan berani menyebut bahwa berhala yang menjadi sesembahan kaumnya itu sama sekali tidak mendatangkan kebermanfaatan.

Kedua, Nabi Ibrahim adalah sosok yang cerdas. Dia menaruh kapak pada berhala yang paling besar. Tujuannya, agar orang-orang yang menyembah patung itu mampu berpikir, bahwa berhala itu tidak dapat berbicara dan memukul. Dengan demikian, kenapa harus disembah dan dijadikan sebagai tuhan?

Ketiga, Nabi Ibrahim memiliki mental yang pemberani dan tangguh. Ketangguhan itu merupakan buah dari keyakinan yang sungguh di dalam hatinya, sekaligus memiliki daya gerak yang dilakukan oleh fisik, sehingga melahirkan keberanian untuk melakukan sebuah kebaikan.

Simpulan

Dari berbagai pemaparan diatas itu, akhirnya Yogo menyimpulkan bahwa sebagai pemuda yang menjadi tumpuan masa depan bangsa dan agama, maka haruslah menyibukkan diri dalam kesehariannya dengan mencari ilmu seraya melakukan ibadah secara tekun agar dapat mengisi kekosongan hati dan pikiran.

Sebab, daya dobrak pemuda tidak akan muncul tanpa bekal dan kapasitas diri yang mumpuni. Perkembangan zaman boleh dijadikan fasilitas untuk kemudahan dalam berbagai akses, tapi itu bukanlah menjadi tujuan kehidupan. Bagi Yogo, pemuda yang besar tidak dilahirkan dengan situasi yang biasa-biasa saja.

Hal ini tercermin dari sepak terjang Nabi Muhammad Saw, yang berjuang tanpa ayah dan ibu di masa muda. Dalam kesehariannya, Nabi hanya menjadi penggembala domba bersama Abu Thalib hingga kemudian tumbuh sebagai sosok pemuda yang dijuluki Al-Amin (dapat dipercaya).

Begitu pun yang patut kita teladani dari Nabi Ibrahim yang mampu mengisi masa muda dengan pengembaraan pemikiran yang mengantarkannya memiliki keyakinan dan keteguhan. Maka, setidaknya sebagai pengampu masa depan agama dan bangsa, pemuda harus punya mentalitas yang berkeyakinan teguh, beramal saleh, dan tentu saja berkontribusi di masyarakat. Sehingga, dengan demikian, pemuda mampu menjadi pemegang komponen etik dan etos sebagai bekal utama menghadapi tantangan.

Wallahua'lam...

Senin, 17 Februari 2020

Belajar Melayani Kemanusiaan dari Ayah Enha


Ayah Enha
Tulisan ini bukan bentuk testimoni, tetapi isyhad. Sebuah persaksian atas perjalanan saya selama ini yang kerap bersinggungan dengan sosok yang dalam hidupnya penuh dengan ketulusan dan totalitas pelayanan yang sungguh. Dia adalah KH Ahmad Nurul Huda atau yang akrab saya memanggilnya: Ayah Enha. 

Kediamannya berada di pelosok Bekasi. Tepatnya di Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Di sanalah terdapat sebuah istana yang cukup megah. Berdiri di atas luas tanah, yang kini sekira 7000 meter persegi.

Istana itu diperuntukkan bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Maka, disebutlah Istana Yatim Nurul Mukhlisin atau Pesantren Motivasi Indonesia. Istana ini diasuh oleh KH Nurul Huda, seorang Ketua Divisi Usaha dan Pengembangan Ekonomi Umat Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU).

Kenapa dinamai Istana Yatim? Berdasarkan wawancara saya dengan Abdul Rasyid, salah seorang guru sekaligus santri ndalem di sana, Istana Yatim ini merupakan kado cinta dari Ayah Enha kepada sang istri terkasih: Bunda Hj Nunung Umi Kalsum. 

Kisahnya dituturkan bahwa pada malam pertama pernikahan, Ayah Enha mengajukan tanya kepada Bunda Nunung mengenai sebuah keinginan yang mesti dipenuhi oleh Ayah Enha sebagai seorang suami. Lalu, Bunda Nunung menjawab bahwa dia ingin sekali memiliki rumah yang di dalamnya terdapat anak-anak yatim yang menjadi kesayangan Rasulullah Muhammad Saw. 

"Bunda mah nggak minta rumah bagus," demikian tutur Rasyid, menirukan ucapan Bunda Nunung dengan perasaan yang sungguh haru.

Di awal-awal pernikahannya, Ayah Enha tinggal bersama ayahnya, Almaghfurlah Buya KH Muhali bin H Abdul Muthalib, di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur, yang kini jasadnya dimakamkan di Masjid Nurul Anwar, di Komplek Pesantren Motivasi Indonesia, di samping rumahnya.

Bertahun-tahun, Ayah Enha ditahan oleh sang ayah untuk tidak pindah rumah. Berbagai upaya dilakukan oleh Buya Muhali agar Ayah Enha tak pindah rumah. Salah satunya adalah Buya memberikan syarat, yakni kalau ingin pindah rumah maka terlebih dulu harus mencari dan memiliki pengganti untuk mengurusi sekolah serta majelis taklim di Kampung Sumur. Sebuah syarat yang susah-susah gampang. 

Namun lambat-laun, Ayah Enha berhasil meyakinkan Buya Muhali untuk kemudian bisa pindah rumah dan mengembangkan dakwahnya. Bahkan, mewujudkan keinginan sang istri: membangun Istana Yatim. Pertama kali pindah rumah, Ayah Enha berdomisili di Jatiasih yang menjadi embrio Istana Yatim. Di sana, dibuatlah majelis taklim. Saban Jumat, anak-anak yatim disantuni: diberi makan dan uang.

Bagi Rasyid, barangkali, demikianlah Ayah Enha tabarukan dengan anak yatim. Sebab ketika itu, Ayah Enha bersama Bunda Nunung pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya. Namun itulah ujiannya. Ujian yang menjadikan keduanya lebih kuat istiqamahnya. Yakni, istiqamah menyantuni anak-anak yatim.

Hidup dua sejoli pecinta anak yatim itu semakin terpuruk dan mendapat ujian yang lebih berat, saat Ayah Enha memutuskan untuk mengundurkan diri dari status Pegawai Negeri Sipil (PNS, sekarang ASN) di Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai penghulu.

"Itulah titik tersulit Ayah Enha," timpal Shobur, yang juga seorang guru di Pesantren Motivasi Indonesia, selain Rasyid. Di saat-saat tersulit itu, Buya Muhali kemudian memberikan sebidang tanah kepada Kiai Enha untuk dikembangkan menjadi 'ruang dakwah' baru.

Dalam suatu kesempatan bertemu dengan para santrinya, Ayah Enha pernah berujar, "Ayah tidak diwariskan harta-benda oleh Buya dan Umi, tapi hanya diwariskan sebidang tanah seluas 3000 meter untuk dibangun menjadi sebuah pesantren."

Tanah itu adalah lokasi Istana Yatim, Pesantren Motivasi Indonesia saat ini, yang kini luasnya menjadi 7000 meter persegi. Pembangunan dimulai sejak 2011. Saat itu, cikal-bakal, pada masa awal-awal, Istana Yatim masih dalam bentuk saung bambu. Sementara peletakan batu pertama adalah untuk mendirikan masjid dan asrama, dilaksanakan pada 17 Februari 2012. Inilah awal berdirinya Pesantren Motivasi Indonesia: Istana Yatim, yang tercatat sejarah. Kini, tepat di hari ini, usianya sudah delapan tahun. 

Pesantren ini, besar kemungkinan, tidak akan pernah terwujud, kalau tanpa Bunda Nunung. Atau tidak mungkin pernah ada Istana Yatim, jika Bunda Nunung tidak mengungkap keinginannya. Atau tidak akan pernah ada perayaan ulang tahun kedelapan yang sangat megah, pada 16 Februari 2020, kalau Ayah Enha tidak mengajukan pertanyaan ke Bunda Nunung saat malam pertama pernikahan mereka. Sebuah takdir baik yang mesti disyukuri, setelah melewati berbagai proses yang panjang dan berliku.

Di awal-awal berdirinya, santri Pesantren Motivasi Indonesia hanya terdapat sekitar 20 anak yang menjadi santri pada generasi pertama. Mereka adalah anak yatim yang diboyong Ayah Enha dari Jatiasih untuk mondok di pesantren yang terletak di Kampung Cinyosog. Hingga kini, sebagian besar santri adalah yatim.

Walau membawa embel-embel yatim, Ayah Enha tidak akan pernah menerima atau bahkan menentang keras santunan-santunan yang kerapkali dilakukan, seperti misalnya di bulan Muharram atau pada saat Ramadan. Sebab yang demikian itu adalah bentuk eksploitasi anak yatim. Pantas saja ditolak mentah-mentah acapkali ada pihak yang ingin melakukan 'pencitraan' bersama anak yatim.

"Perbuatan itu, bagi Ayah, bukan bertujuan untuk menghibur atau mendidik, tapi justru seperti eksploitasi terhadap anak yatim," kata Rasyid menjelaskan amanat Ayah Enha. 

Namun demikian, kata Rasyid, Istana Yatim tidak pernah menolak atau akan menerima berbagai pihak yang ingin menyantuni dalam bentuk pemberdayaan. Seperti misalnya dalam bentuk penguatan atau pengadaan infrastruktur dan alat-alat yang menunjang pendidikan bagi santri.

Ulang Tahun Pesantren Motivasi Indonesia



Semalam, saya hadir dalam perayaan ulang tahun kedelapan Pesantren Motivasi Indonesia. Saya duduk di barisan paling belakang, memandang para tamu yang hadir, sekaligus menyaksikan berbagai peristiwa yang membuat saya berkali-kali haru dan sempat beberapa kali menitikkan air mata. 

Di atas panggung yang kini sudah sangat megah itu, ada sebuah kalimat terpampang dengan gagah: Love All Serve All. Sebuah jargon dari Hard Rock Cafe yang sarat makna, kemudian diadopsi menjadi motto Pesantren Motivasi Indonesia yang sangat membanggakan. Memang demikianlah value dari berbagai ajaran yang telah dipahamkan Ayah Enha kepada para santri-santrinya. 

Maka tak heran, adegan santri yang melayani para tamu yang hadir, sangat mengesankan hati. Berkali-kali Ayah Enha mengatakan, bahkan hampir di setiap pertemuan, bahwa puncak dari keberagamaan dan kehambaan diri kita kepada Allah adalah pelayanan kepada seluruh makhluk-Nya di semesta. Ini yang menjadi kunci kesuksesan Ayah Enha, yang patut diteladani oleh siapa pun juga. 

Love All Serve All, bukan sembarang jargon atau motto yang tertera di atas panggung sebagai penghias. Namun, motto itu benar-benar diterapkan dalam laku kehidupan Ayah Enha dan ditularkan kepada seluruh santrinya. Tak heran juga, Intelektual Nahdlatul Ulama Gus Ulil Abshar Abdalla, dalam Haul Gus Dur ke-10, pada 25 Januari 2020 lalu, menyebut Ayah Enha sebagai kelahiran kembali dari Gus Dur.

Ayah Enha berkenan menerima siapa pun yang datang ke Pesantren Motivasi Indonesia, tanpa pandang bulu dan melihat latar belakang sama sekali. Dia adalah sosok pencinta dan pelayan sejati. Ketulusannya itu nampak, dan membuat saya menitikkan air mata berkali-kali, saat Ayah Enha mempersilakan sahabat-sahabatnya untuk naik ke atas panggung menyampaikan semacam 'testimoni' untuk dirinya dan Pesantren Motivasi Indonesia. 

Meminjam istilah Pemimpin Rohani Masyarakat Maiyah Kiai Muhammad (Emha) Ainun Najib atau Cak Nun, Ayah Enha ini adalah sosok Manusia Ruang. Dia tak segan-segan mengorbitkan orang lain, sedangkan dirinya sendiri rela tak terlihat, walau cahayanya demikian berkilauan. Ayah Enha menjadi ruang bagi siapa saja untuk berkembang, bergerak, dan berkreasi sesuai dengan keahlian atau passionnya. 

Berbahagialah bagi siapa saja yang pernah bersentuhan langsung dengan Ayah Enha. Seorang yang mampu membuat 'bridge of idea' untuk jangka panjang. Dalam dunia persepakbolaan, Ayah Enha ini adalah seorang pemain tengah (playmaker/midfielder) yang kerap melakukan umpan panjang ke penyerang. Dia berperan sebagai jembatan agar tujuan dan cita-cita segera tercapai. Ya, selain sebagai konseptor ulung, Ayah Enha juga kerap berlaku sebagai eksekutor mumpuni.

Dia selalu membuka ruang, membangun jembatan, dan menjadi penyedia ide yang luar biasa. Namun, kesuksesan Ayah Enha selama ini, bukan hanya sekadar usaha jerih-payahnya sendiri beserta sahabat-sahabatnya yang tulus menemani hingga mencapai titik puncak seperti sekarang. Melainkan berkat doa yang terus-menerus dihadiahkan dari seorang tercintanya, yakni Umi Hajjah Hamidah Ali, istri dari Almaghfurlah Buya Muhali. 

"Tidak ada doa yang tidak mustajab yang diucapkan Umi kepada saya," kata Ayah Enha sembari menahan tangis haru, dalam perayaan Hari Ulang Tahun Pesantren Motivasi Indonesia, semalam. 

Sebab bagaimana pun juga, Ayah Enha tetaplah seorang anak. Segala yang dilakukan dan keberhasilannya tentu saja tak terlepas dari peran doa sang ibu. Kata Raja Dangdut Indonesia, H Rhoma Irama, doa ibu dikabulkan Tuhan dan kutukannya jadi kenyataan, ridha ilahi karena ridhanya, murka ilahi karena murkanya.

Dari semua yang telah saya paparkan di atas sebagai persaksian atas sosok yang menjunjung nilai kemanusiaan ini, yang paling berkesan bagi saya adalah saat Ayah Enha mengatakan bahwa kita semua harus menjadi orang kaya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, kalau kita mau terus berusaha untuk menggapai kesuksesan. Kalau sudah menjadi kaya, pelayanan terhadap kemanusiaan akan sangat dengan mudah dilakukan, dan puncak keberagamaan serta kehambaan kita kepada Allah akan segera terwujud. 

Tips Menjadi Kaya Menurut Ayah Enha

Beberapa waktu lalu, Ayah Enha menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci Mekkah. Di grup Ngopi Santri, tetiba saja, dia mengirim sebuah tulisan agak panjang yang menyentuh hati. Tulisan pernyataan itu dimulai dari sebuah pertanyaan retorik: "Masih berasa susah?"

"Tiba-tiba saja, sebelum kutinggalkan bayang terakhirku di pelataran Kakbah menggema ayat suci yang luar biasa, semoga ini menjadi jawaban bagi siapa saja yang hidupnya masih berasa susah," tulisnya.

Dia kemudian mengutip firman Tuhan dalam Al-Quran. Surat Muhammad ayat 20: 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ 

Artinya:

"Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka."

Kata Ayah Enha, ada tiga poin utama yang Allah sampaikan di ayat ini. Pertama, keimanan kepada Allah. Kedua, melayani kemanusiaan dan alam dengan karya terbaik (amal shaleh). Ketiga, mengimani ajaran Nabi Muhammad.

Iman kepada Allah berarti meyakini bukan hanya keberadaan-Nya sebagai satu-satunya Tuhan, tetapi juga menyadari bahwa pengawasan-Nya itu melekat, menembus sekat apa pun yang kita anggap menjadi dinding. Sungguh, tak ada sejengkal bumi di mana kita bisa sembunyi dari pengawasan Allah. Implemantasi keimanan itu kemudian harus dinyatakan pada kerja nyata pelayanan.

Dalam bahasa Arab ada kata khidmah yang berarti pelayanan. Tetapi juga ada kata ibadah yang secara generik berarti sama. Khidmah artinya melayani kemanusiaan dan alam. Sedangkan ibadah berarti melayani Tuhan. Bagaimana melayani Tuhan? Tentu saja dengan pelayanan kemanusiaan.

Maka pelayanan atas alam dan kemanusiaan adalah kerja ibadah. Itulah kenapa para pelayan ini disebut juga sebagai abid (penyembah). Jika ibadah adalah menyembah, maka abid bermakna sebagai penyembah dan al-ma'bud berarti yang disembah. Namun, Tuhan sama sekali tidak membutuhkan sesembahan kita jika tidak diimbangi dengan pelayanan kepada kemanusiaan.

Maka, agar sempurna penyembahan kita kepada Allah dan bernilai ibadah pelayanan kita, maka kerjakanlah amal shalih itu, yakni layanilah dengan penuh ketulusan, jangan lukai hati mereka dan jangan berbuat kezaliman.

Bagaimana agar amal sosial kita itu benar? Siapa yang harus kita teladani?

Tidak lain dan tidak bukan, teladan kita adalah Sang Nabi yang dengan risalahnya telah membawa umat ini menuju puncak peradaban terbaik. Risalah Sang Nabi secara runut dapat kita pelajari melalui kisah hidupnya, maka sirah nabawiyah (jalan kenabian) merupakan kunci masuk yang paling tepat untuk dapat meneladani Sang Nabi.

Bagaimana perangai Sang Nabi? Sayyidatuna Aisyah menjawab: "Akhlak beliau adalah Al-Quran".

Jadi, memulai kajian sirah nabawi itu harus diawali dengan interaksi kita yang intens dengan Al-Quran. Nabi adalah Al-Quran berjalan. Maka, selaras sekali apa yang dikatakan Al-Quran dengan apa yang Nabi jalani dalam kehidupannya.

Salah satu gambaran perangai Nabi Muhammad adalah kasih sayang tanpa syarat kepada kemanusiaan. Jangankan kepada kaum muslimin, bahkan kepada para musuh sekalipun beliau dikenal sebagai pribadi berbudi luhur, tak jarang kekerasan musuh berujung kepada pengakuan akan kemuliaan akhlak Sang Nabi. Jika keimanan, amal sosial, dan spirit akhlak Nabi Muhammad diwujudkan dalam karya kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dua hal. Pertama, terampuninya semua dosa. Kedua, diperbaikinya kehidupan kita.

Menurut Ayah Enha, hidup yang masih terasa susah itu biasanya karena dua hal. Pertama, gelisah karena kebanyakan dosa. Kedua, resah karena ketiadaan harta. Atas kedua jenis kesusahan ini, Allah akan selesaikan dengan cara-Nya. Allah gulirkan ketenangan batin lewat pengampunan atas dosa dan kesalahan kita, dan Allah akan berikan penghidupan yang baik atas kesulitan dalam kehidupan apapun pemicunya: termasuk ketiadaan harta.

"Praktikkan saja dengan bersahaja. Mulailah membaca kembali firman Allah pada surat Muhammad ayat 2 di atas tadi. Pahami dan renungkan. Berikhtiarlah tanpa lelah menjemput janji Tuhan yang tak mungkin dusta," demikian nasihat Ayah Enha.

Dengan rasa bangga dan penuh kerendahan hati, saya mengucapkan: Selamat Ulang Tahun ke-8 untuk Pesantren Motivasi Indonesia. Tetaplah berkarya untuk melayani kemanusiaan tanpa lelah dan henti. Terima kasih Ayah Enha, karena telah meneladankan banyak hal yang semoga saja bisa saya teruskan menjadi laku kehidupan yang lebih baik lagi.

Wallahua'lam...

Jumat, 14 Februari 2020

JUMATAN: Meninggalkan Khutbah yang Provokatif


Ilustrasi. Sumber: NU Online

Kisah ini dialami oleh Mas Abdul Gaffar Karim. Seorang dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Saya tahu kisah ini dari facebook Ienas Tsuroiya, putri KH Ahmad Mustofa Bisri, yang membagikan ulang kenangan dua tahun lalu (2018). Kenangan itu adalah kisah menarik mengenai khutbah Jumat yang provokatif ini.

Dalam tulisan di dinding facebooknya, Mas Gaffar mengisahkan peristiwa yang telah dialaminya beberapa tahun silam. Lebih tepatnya saat Basuki Tjahaja Purnama (BTP) masih menjabat sebagai anggota DPR RI, Joko Widodo masih Wali Kota Solo, Anies Baswedan masih Rektor Universitas Paramadina, dan suasana politik Indonesia belum segaduh sekarang.

Saat itu Jumat, ia sedang berada dalam workshop terbatas tentang perumusan nilai-nilai dasar pemikiran Gus Dur di sebuah hotel di kawasan perbelanjaan elektronik di Jakarta. Sekira pukul 11.30, para pemikir itu diberi waktu break untuk Jumatan.

"Tak jauh dari hotel lokasi workshop itu terdapat sebuah masjid yang cukup besar. Para peserta workshop pun pergi ke masjid itu. Saya turut dalam mobil Gus Ulil Abshar Abdalla ke masjid itu," tulis Mas Gaffar, pria kelahiran Sumenep, Madura ini.

Ketika tiba di masjid, ia melihat barisan shaf sudah cukup penuh, sehingga dirinya dan Gus Ulil hanya kebagian duduk di teras. Khutbah sudah dimulai, sehingga ia mempercepat gerakan salatnya (tahiyyatul masjid). 

Dari luar masjid, ia mendengarkan khutbah dan kemudian merasakan betapa suara khatib itu agak keras. Mulanya, yang keras hanya nada bicara, tapi lama kelamaan yang keras adalah isi khutbahnya.

"Khatib berbicara tentang ancaman kristenisasi di beberapa kawasan di Jakarta, yang dilakukan dengan banyak cara. Kata dia (khatib), orang-orang Kristen terutama yang Cina, banyak sekali membiayai upaya pemurtadan orang-orang Islam," tulisnya. 

Mas Gaffar mulai tidak nyaman. Rupanya, ia tidak menyukai khutbah berbau SARA. Terlebih, jika khutbah yang seperti itu dilakukan di sebuah masjid yang berada di tengah-tengah kawasan nonmuslim, seperti di area perdagangan elektronik itu.

Terhadap khutbah-khutbah yang demikian itu, ia tidak pernah ragu untuk bersikap. Dengan tegas dan yakin, Mas Gaffar harus meninggalkannya. Ia tidak ingin hatinya terkotori oleh kebencian, apalagi yang dicemari melalui mimbar suci di masjid.

Ia lantas berdiri, balik kiri, dan melangkah melintas shaf-shaf jamaah di teras. Gus Ulil yang duduk satu atau dua shaf di belakangnya, memandang seraya memberi isyarat bertanya, "Mau ke mana?"

Ia menjawab dengan menunjuk ke arah luar masjid dan menggerakkan bibir, "Balik ke hotel."

Gus Ulil kemudian mengangguk dan tetap duduk di shafnya.

Saat bertemu di ruang makan siang di hotel, Gus Ulil bertanya kepada Mas Gaffar, "Sampeyan ke mana tadi, kok pergi duluan?"

"Balik hotel, Gus. Nggak suka saya dengan khutbahnya yang menebar kebencian SARA tadi."

"Terus nggak jumatan?"

"Saya kan musafir, zuhur saja boleh."

Gus Ulil pun tertawa ngakak dan kemudian bertanya lagi, "Tapi sampeyan tahu nggak, siapa tadi yang khutbah itu?"

"Nggak tahu, kan tadi mimbarnya nggak kelihatan dari teras."

"Itu tadi khatibnya Rizieq Shihab. Saya kenal suaranya."

"Walahhh, pantesan isinya keras begitu, seperti sengaja menantang sekitar."

"Lha iya, makanya saya tidak pergi tadi. Saya mau dengerin, kalau sampai khutbahnya nyenggol-nyenggol Gus Dur, saya akan interupsi."

"Wah mantap. Nyali saya belum sampai segitu, Gus. Nyali saya baru sampai meninggalkan khutbah ora mutu (yang tidak berkualitas)."


*****

Sumber: klik di sini

Selasa, 11 Februari 2020

Hari Valentine Islami


Sumber gambar: kisahikmah.com

Ini adalah tulisan dari Pemimpin Rohani Masyarakat Maiyah, Kiai Muhammad Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun atau Mbah Nun, yang ditulis pada sekitar enam tahun lalu. Dalam tulisan di bawah ini, Mbah Nun sengaja membahas soal hari kasih sayang, sekaligus menyindir sebagian umat Islam yang senang sekali dengan label-label atau simbol-simbol Islam.

Termasuk juga dengan wacana Hari Valentine Islami. Bagaimana? Mungkin saja, umat Islam yang "berisik" itu bakal ikut merayakan karena ada embel-embel "Islami"-nya. Kalaupun tidak ikut merayakan Hari Valentine Islami, setidaknya mereka tidak turut dalam kebisingan penghakiman. 

Islam, menurut Mbah Nun, bukanlah kostum drama, sinetron, dan tayangan-tayangan televisi saat Ramadan. Islam merupakan substansi nilai sekaligus metodologi. Ia (Islam) bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari agama lain, dari ilmu-ilmu sosial modern, dan bahkan khazanah tradisional suatu bangsa. Namun secara entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

"(Bahkan) Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang beragam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’ah, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah," tulis Mbah Nun pada 10 Februari 2014. 

Dalam tulisannya itu, Mbah Nun menyebut bahwa semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangannya masing-masing untuk mendekati kesejatian Islam. Sehingga, secara otomatis, hal itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok tertentu.

"Kalau ada teman melakukan perjuangan 'islamisasi', 'dakwah Islam', 'syiar Islam', bahkan perintisan pembentukan 'Negara Islam Indonesia', maka yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah (konsep) Islamnya mereka sendiri," tulis Mbah Nun. 

Islamnya si A, B, dan C, bagi Mbah Nun, tidak bisa diklaim sebagai Islam yang sama persis dengan Islam menurut Allah. Begitulah memang, hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga ketika Islam bertamu ke rumah kita, tidak lantas bermaksud untuk memaksa kita agar mau menerimanya.

Berkali-kali Mbah Nun, dalam setiap pertemuan dalam Majelis Maiyah, terutama yang sering saya ikuti, yakni Kenduri Cinta, beliau sering mengutip dan menafsirkan ayat: "La ikraha fiddin".

Ayat itu dimaknai oleh Mbah Nun bahwa tidak ada paksaan dalam agama, termasuk juga tidak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam, bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

"Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam," tulis Mbah Nun yang pada 2015 diabadikan di Website Caknun.com.

Menurutnya, Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk melakukan kamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi, dan keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: "Yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari surga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril."

Sedemikian rupa-lah Islam, sehingga (dapat) diselenggarakan dan dilakukan dengan berbagai formula dunia modern, industri liberal, modeshow, pembuatan film, diskusi pebgajian, dan yang terpenting adalah dikasih 'kostum Islam'.

Namun, Mbah Nun melanjutkan, tentu saja tidak perlu diteruskan hingga ke tingkat penyelenggaraan tayangan 'Gosip Islami', 'Lokalisasi Pelacuran Islami', 'Peragaan Busana Renang Muslimah', atau bahkan pertandingan bola voli wanita muslimah berkostum mukena putih-putih.

"Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai Hari Valentine Islami," sindir Mbah Nun dalam tulisannya.

Namun rupanya, Mbah Nun cukup serius dengan dan dalam mengungkapkan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubiiina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Ramadan, tepatnya tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal.

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: "hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa."

Artinya: "Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing."

Mendengar pidato itu, pasukan Islam merasa kaget juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. 

Itu pun belum cukup.

Rasulullah memerintahkan agar seluruh rampasan perang, seperti berbagai harta benda dan ribuan onta untuk dibagikan kepada para tawanan, sedangkan pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Mereka mengeluh dan sebagian pasukan Islam mengajukan protes kepada Rasulullah.

Mereka dikumpulkan dan Nabi bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?"

Mereka menjawab: "Sekian tahun, sekian tahun."

"Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

"Tentu saja sangat mencintai."

Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?”

Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan, bahkan dengan bumi dan langit.

Maka tentu saja, seumpama kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, sepertinya kita akan menjawab dengan ungkapan yang berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh juga diberi onta dan emas barang segram dua gram."

Hahahahahaha...

Senin, 10 Februari 2020

Orang Islam Akan Toleran Jika Dekat dengan Al-Quran, Benarkah?


Sumber gambar: detik.com


Bernard Lewis, seorang ahli (peneliti) Islam di Amerika Serikat, memiliki tesis menarik tentang Islam. Pertama, menurutnya, orang Islam akan semakin dekat ke zaman keemasaannya maka akan semakin toleran, dan semakin jauh dari zaman keemasaannya maka akan semakin tidak toleran.

Kedua, orang Islam akan semakin toleran jika semakin dekat dengan pusatnya (Ka'bah, Mekkah, Arab Saudi), dan semakin jauh dari pusatnya maka akan semakin tidak toleran. Disebutkan, orang Islam di Mesir dan Suriah jauh lebih toleran daripada orang Islam di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Tapi sepertinya, tesis Bernard Lewis yang demikian itu, saat ini sudah tidak berlaku sama sekali. Sebab, pada kenyataannya Islam di Timur Tengah belakangan dekade ini, sedang menunjukkan ketidaktolerannya yang luar biasa, terutama dengan adanya fenomena ISIS. Mereka bukan hanya tidak toleran terhadap nonmuslim, tetapi juga kepada muslim lain yang berbeda pemahaman.

Bahkan, mereka tak segan-segan untuk membunuh, membakar, atau memenggal orang-orang yang tidak mau diajak bergabung. Entah mereka ini siapa. Benar-benar orang Islam yang memiliki pemahaman ekstrem-jihadis atau mereka adalah suruhannya Amerika untuk menghancurkan Islam dari dalam. Entahlah.

Kembali kepada Bernard Lewis, jadi bagaimana mengukur toleransi orang Islam?

Ada satu lagi tesis yang menyatakan bahwa semakin orang Islam dekat dengan Al-Quran, maka orang tersebut akan semakin toleran. Namun, ketika orang Islam semakin jauh dari Al-Quran, maka akan semakin tidak toleran. Lalu bagaimana fakta yang terjadi di lapangan dan kehidupan nyata?

Justru orang Islam yang tidak toleran itu mendasarkan pendapat dan pemahamannya pada Al-Quran. Mereka mendalili orang-orang untuk merusak peradaban dengan ayat-ayat di dalam kitab suci. Mereka menafsirkan ayat per ayat secara leterlek, tekstual sekali. Jika Al-Quran terdapat anjuran untuk berperang dan membunuh, mereka lantas memahaminya itu murni sebagai anjuran yang harus dilaksanakan sesegera mungkin.

Al-Quran, ternyata, telah memunculkan konflik penafsiran yang berujung pada kemungkinan toleransi dan intoleransi. Lalu pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menghadirkan pandangan Islam sejati yang mendukung toleransi? Adakah jalan keluar untuk memecahkan masalah konflik interpretasi itu?

Presiden Amerika ke-3 Thomas Jefferson dalam buku yang berjudul Thomas Jefferson's Qur'an menjelaskan bahwa pandangan-pandangan Thomas yang telah memberi pengaruh terhadap konstitusi Amerika Serikat tentang toleransi dan kebebasan beragama, rupanya sedikit-banyak karena dipengaruhi oleh pandangan Al-Quran mengenai toleransi dan kebebasan beragama.

Kalau di Indonesia, bagaimana? Kabarnya Presiden Joko Widodo mau membuat terowongan penghubungan Istiqlal-Katedral, ya? Buat apa? Itu sih namanya Toleransi Omong-Kosong yang hanya nampak di permukaan yang seolah baik-baik saja. Sementara di Karimun, Kepulauan Riau, ada sekelompok umat Islam yang menolak pembangunan Gereja Katolik tapi tidak menjadi sorotan orang-orang Istana.

Bukankah benih-benih intoleransi itu justru akan melahirkan paham radikalisme, dan radikalisme akan kemudian berpangkal pada yang lebih ekstrem: terorisme. Jadi, secara tidak langsung, Presiden Jokowi sedang mendiamkan benih intoleransi itu tertanam kuat di Bumi Pertiwi, hingga kemudian tumbuh besar menjadi monster yang menakutkan. 

Semoga saja tidak demikian. 

Minggu, 09 Februari 2020

Sifat Orang Durhaka Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib


Sumber gambar: mehrnews.com

Dalam Kitab Tuhaf Al-'Uqul 'an Ali Al-Rasul, Abu Muhammad Al-Hassan bin 'Ali bin Al-Husain bin Syu'bah Al-Harrani, menulis bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang beberapa sifat orang yang durhaka. 
Diantaranya adalah berikut ini:

 يقول في الدنيا قول الزاهدين، ويعمل فيها عمل الراغبين

Berbicara tentang dunia laksana orang zuhud, tapi berperilaku seperti pencinta dunia.

 يحب الصالحين ولايعمل بأعمالهم

Mencintai orang-orang saleh, tapi tidak melakukan amal mereka.

 يكره الموت لكثرة سيئاته ولا يدعها في حياته

Takut mati karena banyak dosanya, tapi tidak meninggalkan dosa dalam hidupnya.

 إن سقم ندم على التفريط في العمل وإن صح أمن مغترا

Saat sakit dia menyesali kelalaiannya dalam beramal, tapi setelah sembuh dia kembali merasa aman lagi tertipu.

يؤخر العمل تعجبه نفسه ما عوفي ويقنط إذا أبتلي

Menunda-nunda amal selama sehat dan suka merasa takjub dengan dirinya, tapi saat mendapat cobaan dia putus asa.

يبتغي الزيادة ولا يشكر

Minta ditambah kenikmatan, tapi tidak bersyukur.

إن عرضت له شهوة واقعها بإتكال على التوبة وهو لايدري كيف يكون ذلك

Saat syahwat menghampirinya, dia melakukannya dengan harapan nanti bisa taubat, padahal dia tidak tahu apa yang akan terjadi (setelah itu).

 يستكثر من معصية غيره ما يستقل أكثر منه من نفسه 

Menganggap banyak dosa orang lain, tapi menganggap sedikit dosanya yang (padahal) lebih banyak.

 النوم مع الأغنياء أحب إليه من الركوع مع الضعفاء

Lebih menyukai tidur dengan orang kaya daripada ruku' dengan orang-orang lemah (miskin).

 يخشى الخلق في غير ربه ولا يخشى ربه في خلقه

Takut kepada makhluk bukan karena Allah dan tidak takut kepada Allah dalam urusan makhluk-Nya.


*****

Dari sepuluh uraian diatas, dan sebagai ajang untuk muhasabah (introspeksi diri), jujur saja, adakah kesamaan dengan perilaku kita selama ini? Wallahua'lam...

Sabtu, 08 Februari 2020

Fenomena Hijrah yang Diliputi Kesombongan


Sumber gambar: lirboyo.net

Fenomena hijrah, belakangan ini tengah marak. Menjadi gaya hidup baru bagi mayoritas muslim di perkotaan. Siapa yang tak hijrah, dianggap keberagamaannya kurang kaffah. Bahkan, banyak kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh orang-orang 'hijrah' itu, tapi dengan maksud merendahkan yang lain. 

Beberapa diantaranya adalah:
"Semoga anda dapat hidayah."
"Semoga Allah membuka pintu hatinya."
"Sesungguhnya hati yang keras memang tidak mudah menerima nasihat."
"Semoga Allah mengampunimu."
"Bertobatlah, kembali ke jalan yang benar."

Bagaimana? Familiar dengan kalimat-kalimat di atas, kan? Memang sih, saat saya dulu masih jadi 'bocah ndalil' atau baru-baru keluar dari pesantren, saya juga gemar melontarkan kalimat itu sebagai senjata pamungkas. Kalimat itu saya ucapkan dengan begitu percaya diri kepada orang-orang yang tidak sepaham. Terlebih, kalau merasa sudah punya sajian pelengkap berupa ayat-ayat dan hadits nabi yang tak seberapa.

Tapi kemudian saya sadar bahwa di balik kalimat-kalimat itu, sebenarnya ada jebakan kesombongan yang sangat halus. Sebab, saya tidak mungkin berkata begitu kalau saya tidak merasa lebih baik dari yang lain (ujub).

Kalimat-kalimat para pengasong hijrah yang saya sebutkan diatas itu, sesungguhnya adalah sebuah cara yang tidak elegan, karena secara diam-diam mengungkapkan bahwa: "Saya yang lebih baik dan paling beriman."

"Tapi bro, itu kan cuma mendoakan saja," demikian kalimat sanggahan dari mereka yang tidak terima dikritik. 

Begini, gaes. Di dalam agama, ada begitu banyak perintah yang menyuruh manusia berdoa secara diam-diam: tidak seorang pun perlu tahu kecuali kita dan Tuhan.

"Memangnya untuk apa (mendoakan secara diam-diam)? (Kalimat-kalimat tadi) itu kan amar ma'ruf nahi munkar."

Hehehe amar ma'ruf nahi mungkar tidak perlu begitu caranya.

Kalau kita memberi sebongkah berlian dengan cara melemparkannya tepat di kepala orang, bagaimana respon orang tersebut? Pasti yang akan dia ingat bukan berliannya tapi rasa sakitnya. Iya, kan?

Imam Syafi'i pernah berkata bahwa orang yang menasehatimu diam-diam, maka dia benar-benar menasihatimu. Sementara orang yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya sedang menghinamu.

Ulama tersohor yang dihormati jutaan penduduk dunia, Habib Umar bin Hafidz, dalam sebuah ceramahnya yang saya ingat, pernah mengatakan:

"Ketika kita melihat seorang wanita berpakaian dengan cara yang tidak dapat diterima secara Islami, kita bisa menasihatinya dengan akhlak dan cara yang baik, jangan sedikit pun berpikir bahwa dia lebih rendah dari kita secara rohani. Jika kita berpikir demikian, berarti kita lebih rendah dari dirinya. Percayalah, itu (tidak memandang rendah) adalah ajaran agama anda. Dia mungkin memiliki hubungan dengan Pencipta-Nya yang mungkin kita tidak tahu. Dia mungkin memiliki hati yang lebih baik dari kita. Benar, dia mungkin memiliki satu kelemahan yang terlihat dari luar, tapi kita mungkin memiliki 50 kelemahan yang tersembunyi dari dalam. Jangan berperilaku seperti Tuhan ketika melihat dosa-dosa orang lain, tapi berperilakulah seperti seorang hamba."

Dari situ, saya dan kita semua pasti akan tahu apakah doa dan ceramah kita merupakan ketulusan murni, atau hanya berupa kesombongan diri yang berbalut religi.
.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berpesan:

"Janganlah engkau tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya. Sebab barangkali dosanya telah diampuni."

"Siapa yang memandang dirinya buruk, maka dia adalah orang yang baik. Siapa yang memandang dirinya baik, dia adalah orang yang buruk."

"Keburukan yang menyebabkan engkau menyesal itu lebih baik dibandingkan kebaikan yang membuatmu bangga."

"Zuhud yang terbaik ialah zuhud yang disembunyikan."

Bayangkan yang lebih konyol.

Saat kita bersusah payah menyampaikan pemikiran dengan direnungkan dalam-dalam, disusun rapi, didukung penjelasan rasional, dan ditopang data-data pula, dengan entengnya itu semua cuma ditimpali pakai amunisi andalan para pengasong hijrah itu: "Semoga engkau diberi hidayah." 

Gubrak!!!

Gaes, kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Sindiran Keras untuk Gusdurian Bekasi Raya


Gusdurian Futsalan di GOR Mekarsari, Tambun Selatan.

Jumat (7/2) sore, Gusdurian Bekasi Raya berkumpul di Kantor PCNU Kabupaten Bekasi, Desa Tridaya Sakti, Tambun Selatan, dalam rangka membicarakan berbagai hal. Salah satunya adalah soal laporan pertanggungjawaban sekaligus evaluasi dari gelaran Haul ke-10 Gus Dur, yang diselenggarakan di Pesantren Motivasi Indonesia pada akhir bulan lalu. 

Sebagai bagian dari panitia acara Haul Gus Dur kemarin, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena dalam pelayanan pada penyelenggaraannya, masih terdapat banyak kekurangan. Maklum, kami bukan Event Organizer (EO) profesional. 

Setelah itu, sebagai sebuah komunitas, kami tentu saja membincang soal upaya membentuk dinamika perjalanan kolektif ke depan. Ada Malam Mingguan Bareng Gus Dur yang diisi dengan silaturahmi ke beberapa rumah ibadah lintas agama untuk mendiskusikan soal laku-lampah Gus Dur. Semoga saja, tidak panas-panas tahi ayam

Saya berharap, semua agenda ke depan, bisa berjalan dengan antusiasme warga Gusdurian Bekasi Raya, terutama mesti dijalankan dengan penuh kesungguhan oleh para penggerak. Sebagai sebuah komunitas, Gusdurian memang berbeda dengan organisasi. Namun, saya rasa, pola pembentukan karakternya, tidak jauh berbeda. 

Para penggerak adalah motor dari komunitas. Karenanya, harus diisi dengan banyak amunisi. Maksud saya, diisi dengan asupan gizi intelektual yang cukup. Saya seringkali menyindir dengan nada bernuansa satire:

"Jangan sampai Gusdurian Bekasi Raya jadi seperti EO, yang cuma bisa ngadain acara, tapi sebenarnya kosong. Kita beda dengan kebanyakan organisasi yang cenderung giat mengadakan acara yang bersifat seremonial dan monumental, tapi hanya sekadar untuk ajang atau panggung eksistensi. Kita nggak begitu, gaes."

Maka, penting untuk dijalankan metode pengisian 'bensin' bagi pemikiran. Sebab bagaimana mungkin bisa memahami Gus Dur yang menyamudera itu, kalau membacanya saja enggan?

Berkali-kali saya sampaikan kepada teman-teman Gusdurian Bekasi Raya, bahwa menjadi Gusdurian bukan untuk gaya-gayaan karena membawa nama atau 'embel-embel' Gus Dur. Menjadi Gusdurian berarti mau meneladani (walaupun sulit sekali) perilaku Gus Dur semasa hidupnya. Sedangkan agar mampu meneladani Gus Dur, maka saya rasa, kita perlu membacanya secara rutin dan berkala. 

Itu soal perjalanan aktivisme Gusdurian Bekasi Raya ke depan. Kemudian yang tidak kalah penting adalah semangat membangun jaringan dan relasi. Sependek pemikiran saya, Gusdurian adalah komunitas jejaring yang juga harus membangun relasi kepada lintas komunitas.

Tujuannya apa? Pertama, menjahit tenun kekeluargaan bagi para pecinta dan pengagum Gus Dur yang ada banyak sekali di seantero Bekasi ini. Kedua, menambah wawasan dan memperluas jangkauan pemikiran. Ketiga, barangkali ada 'orang dalem' biar ke depan cepat dapat pekerjaan. Keempat, mungkin saja dapat pacar dan berjodoh. Siapa tahu begitu. Iya, kan?

Selain daripada itu, rupanya penting juga membangun kedekatan emosional dengan pendekatan hobi. Salah satunya adalah futsal yang digandrungi oleh sebagian besar warga Gusdurian Bekasi Raya ini yang ternyata adalah anak-anak muda berusia sekira 15-30 tahun. Saya rasa, main futsal bareng adalah cara mempererat ikatan emosional. 

Tapi bagaimana dengan yang cewek? Wallahua'lam deh, ya.

Nah malam tadi, masih di hari yang sama, saya senang sekali karena Gusdurian Bekasi Raya mengadakan main futsal bareng di GOR Mekarsari, Tambun Selatan, tidak jauh dari Kantor PCNU Kabupaten Bekasi.

Apa gerangan yang membuat saya bahagia? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena futsalan semalam itu diikuti oleh lintas organisasi, ada PMII dan IPNU, bahkan para ketuanya pun ikut futsalan. Harun Al-Rasyid dan Rifqi Thariq. Kedua orang itu, rupanya jago ngegocek juga. Tapi nama terakhir yang saya sebut itu, kurang jago ngegocek cewek, gaes. Malah kegocek terus sama cewek. Hahahahahaha.

Dus, futsalan itu penting juga selain Malam Mingguan Bareng Gus Dur, yang oleh sebagian besar orang (barangkali) dianggap akan sangat menjenuhkan. Sebab, mari kita akui saja, tidak semua orang doyan diskusi dengan durasi berjam-jam. Diskusi dan futsalan, itu hal yang berbeda. Yang satu menjenuhkan dan yang satu lagi sangat mengasyikkan. 

Tapi keduanya itu, bisa untuk dijadikan sebagai penyeimbang dari upaya memperkuat gerak para penggerak, dimulai dari intensitas pertemuan untuk mempererat ikatan kekeluargaan yang lebih rekat. Diskusi berfungsi untuk mengisi otak dengan asupan gizi intelektual, sementara futsalan untuk mengisi waktu kosong agar tidak ingat mantan. Hahahahahaha.

Minggu sore, 9 Februari 2020, Gusdurian Bekasi Raya diajak 'sparing' futsal oleh anak-anak muda dari Gereja Kristen Pasundan (GKP) Cimuning. Jadilah itu agenda nanti diberi nama 'Futsal Lintas Agama'. Ikut main atau tidak, saya tetap berharap agar jangan sampai kalau kalah nanti, taruhannya pindah agama. Karena pasti kami yang kalah. Hahahahaha.

Terakhir, saya sih saran, supaya diskusi dan main futsal bareng lintas-komunitas atau organisasi, dijalankan sebagai upaya untuk menjalin silaturahmi dan membangun jaringan. Tapi, jangan lupa juga perbanyak diskusi.

Semoga, Gusdurian Bekasi Raya bisa menjadi sebuah komunitas yang tidak diisi oleh para penggeraknya yang cuma hobi pansos (panjat sosial) dengan kaos bergambar Gus Dur, tapi sembilan nilai utama Gus Dur dan kode etik Gusdurian saja tidak hafal. So, mari diskusi sembari ngopi tipis-tipis. 

Bye!

Minggu, 02 Februari 2020

Menjadi Moderat Menurut Ihya Ulumiddin



Sekalipun manusia tidak bisa benar-benar, seratus persen, menjadi seperti malaikat, tapi setidaknya manusia bisa bisa mendekati malaikat. Lalu, situasi yang seperti apa dan bagaimana manusia bisa mendekati malaikat? 

Sebelum melanjutkan baca artikel ini, silakan baca terlebih dulu tulisan sebelumnya, karena tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, yakni: Pola Makan yang Dianjurkan Imam Ghazali

Menurut Imam Ghazali, paling dekatnya kondisi atau keadaan manusia terhadap malaikat adalah ketika jauh dari lingkaran syahwat. Namun, menjauh dari lingkaran api (syahwat) itu adalah perilaku yang serba salah. 

Apabila kita menjauh dari sisi kanan, sangat menjauh dari sisi kanan, maka secara otomatis kita justru akan lebih dekat dengan sisi sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya, saat kita menjauh dari sisi kiri, kita justru akan dekat dengan sisi sebelah kanan.

Dilematis, memang. Sebab, ketika kita ingin jauh dari sisi kiri, justru kita malah mendekat dengan sisi kanan. Sementara saat kita ingin menjauh dari sisi kanan, nanti malah dekat dengan sisi kiri. 

Jadi, menurut Imam Ghazali, jauh (dari lingkaran syahwat) yang ideal adalah ketika kita berada di titik tengah. Sisi tengah itulah yang akan menjauhkan kita dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakang. Menjadi amanlah kita dari api yang menyala-nyala di setiap sudut lingkaran syahwat itu.

Hal yang demikian itulah, disebut oleh Imam Ghazali sebagai wasath (moderat). Sebagaimana yang jamak kita ketahui, bahwa umat Kanjeng Nabi Muhammad ini adalah umatan wasathan

Namun demikian, moderat itu bukan hanya digunakan untuk menjauh dari radikalisme, liberalisme, dan ideologi-ideologi lainnya, tetapi moderat itu juga berlaku dalam hal makanan, berpakaian, menggunakan sumber daya alam, membangun rumah, dan dalam hal kepemilikan. 

Jadi, yang dimaksud wasathan (moderat) oleh Imam Ghazali itu adalah titik tengah dalam segala hal. Itulah ciri-ciri umat Nabi Muhammad, yakni umat yang mencoba selalu berada di titik tengah, menjauhi segala sisi yang ekstrem. 

Demikian, terjemahan dari wasathan menurut Kitab Ihya Ulumiddin. Wasathan bisa diterjemahkan bukan hanya dalam aspek-aspek politik dan kebangsaan, tetapi juga aspek kebutuhan dan kehidupan personal manusia: seperti makan.

Khoirul umuri awsathuha. Sebaik-baik perkara adalah segala sesuatu yang ada di tengah.

Ketika manusia tidak merasakan lapar yang ekstrem ataupun kenyang yang ekstrem, maka secara otomatis, dia akan mudah beribadah dan berpikir. Namun, begitu kita makan berlebihan, efeknya akan jadi malas berpikir, karena hawanya ngantuk. Begitu pula sebaliknya, kalau lapar yang berlebihan kita juga tidak bisa berkonsentrasi dan berpikir.


Noted: Tulisan diatas disarikan dari Ngaji Kitab Ihya Ulumiddin #172 halaman 982 yang diampu oleh Gus Ulil Abshar Abdalla.