Sabtu, 30 Mei 2020

Sebuah Catatan: Jumatan Perdana di Masjid Agung Al-Barkah (Idulfitri Bagian 7-Habis)


Jumatan di Al-Barkah. Sumber foto: republika.id

Benar dugaan saya. Khutbah Jumat di masa pandemi akan lebih singkat, padat, dan substansif. Langsung ke inti persoalan. Sehingga, khutbah yang demikian itu akan sangat mengena di dalam hati dan pikiran umat. Hal inilah yang saya paparkan dalam tulisan sebelumnya. 

Salah satu aturan main dari dibukanya rumah ibadah (masjid), oleh Walikota Bekasi, adalah khutbah yang harus disampaikan secara singkat dengan durasi maksimal 15 menit. Tidak boleh lebih. Oleh karena itu, saya yakin sekali, para khatib atau pengkhotbah dituntut harus lebih kreatif dalam menyampaikan materi yang singkat sekaligus bergizi. 

Sebab selama ini, jujur saja, khutbah Jumat hampir tidak pernah didengar benar-benar saksama oleh jamaah karena isinya yang sangat membosankan. Kalau saja tidak ada hukuman murtad (keluar dari Islam) karena meninggalkan salat Jumat selama tiga kali berturut-turut, atau kalau saja tidak ada iming-iming soal keutamaan salat Jumat dan keutamaan hari Jumat, saya yakin tidak akan ada yang tertarik untuk salat Jumat yang di dalamnya ada khutbah yang (sebagian besar) sangat membosankan itu. Terutama khutbah-khutbah Jumat di tengah masyarakat muslim perkotaan. 

Tetapi pandemi yang saat ini tengah kita hadapi, memberi pelajaran penting soal tata cara ibadah berjamaah yang lebih substansif. Dari ibadah yang substansif itu, kita kemudian akan mendapatkan sebuah ketenangan dan ketenteraman dalam beragama. Terlebih jika, (seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelum ini), para khatib benar-benar menyampaikan materi khutbah dengan tema-tema yang sesuai konteks kekinian.

Misalnya mengenai muhasabah an-nafs atau introspeksi diri, menjaga solidaritas warga bangsa, gotong-royong saling membantu sesama, dan soal persatuan dalam menyikapi atau menghadapi pandemi yang tidak bisa diprediksi kapan berakhir. Tema-tema yang menyejukkan dan menenteramkan ini penting sekali untuk disampaikan dalam momentum ibadah jamaah, seperti salat Jumat, agar umat mampu tenang dan optimis untuk terus berkehidupan di tengah upaya menghadapi pandemi. 

Kemarin, saya salat Jumat di Masjid Agung Al-Barkah Alun-Alun Kota Bekasi. Dugaan saya, yang saya paparkan dalam tulisan sebelumnya, benar terjadi. Khatib salat Jumat menyampaikan materi yang lebih ke dalam (introspeksi diri) agar umat tidak stres menghadapi pandemi yang tak berkesudahan ini. Khutbah tersebut disampaikan dalam durasi 13 menit. Tujuh menit untuk khutbah pertama dan khutbah kedua berdurasi selama enam menit. 

Isi khutbahnya, singkat dan padat. Mungkin karena masjid itu adalah masjid di pusat kota, sehingga khatib dan materi khutbah harus benar-benar berkualitas. Tidak boleh sembarangan. Apalagi yang bacaan makhraj dan tajwidnya saja tidak beres, seperti beberapa orang yang merasa diri sebagai 'ustadz' di lingkungan tempat saya tinggal. 

Bukan saja khutbah dan khatib yang berkualitas, tetapi juga diterapkan aturan main atau protokol kesehatan yang sangat ketat. Seperti misalnya, saat saya tiba di gerbang, ada petugas (tentara, polisi, dan pengurus DKM Al-Barkah) di sana. Saya dicek suhu menggunakan alat yang mirip seperti tembakan. Suhu tubuh saya, 35 derajat celcius. Masih cukup aman.

Saya kemudian dipersilakan masuk dengan melewati bilik yang ketika berada di dalam, akan menyemprotkan cairan disinfektan. Saya pikir, ikhtiar tersebut harus diapresiasi betul-betul. Sebab, mengatur ratusan bahkan ribuan jamaah yang kemarin hadir untuk Jumatan itu, bukanlah perkara yang remeh-temeh. 

Kemudian setelah memarkir motor, saya mengambil air wudhu. Usai itu, saya mengenakan masker lagi, karena memang wajib untuk memakai masker. Lalu saya memilih untuk salat di lantai atas. Shaf-shaf masjid sangat rapi dan tertata. Dua shaf di sebelah kanan dan kiri saya, diberi tanda silang sebagai simbol menjaga jarak yang sekira 1,2 meter. 

Saya memilih salat Jumat di Masjid Agung Al-Barkah karena saya yakin khatib dan materi khutbah sudah pasti sangat berkualitas. Saya memang sudah beberapa kali salat di sana. Tetapi kali ini, saya seperti 'harus' salat Jumat di sana karena ingin merasakan sensasi yang beda: Jumatan perdana di masa pandemi di pusat kota. Itulah yang membuat saya akhirnya memilih Jumatan di Masjid Agung Al-Barkah yang berlokasi tepat di jantung Kota Bekasi.

Ternyata memang benar, bahwa materi khutbah dan sekaligus khatibnya memiliki kualitas yang sangat baik. Saya perhatikan jamaah-jamaah lain, di sekitar, kiri-kanan, tidak ada sama sekali yang tidur karena bosan mendengar khutbah. Terang saja, tidak tidur. Sebab, materi khutbah yang dibawakan itu sangat relevan dengan konteks kekinian.

Baca juga: JUMATAN: Masjid Kembali Dibuka (Idulfitri Bagian 6)

Apa materi khutbah itu? Yakni tentang ajakan untuk introspeksi diri, berkontemplasi, dan merenung. Oleh karena itu, khatib mengajak jamaah agar tetap teguh dalam bersabar menghadapi segala cobaan, termasuk pandemi yang sedang menimpa bumi pertiwi ini. Saat mendengar khutbah itu, hati saya bergetar. Merinding. Sekaligus berharap agar pandemi segera berlalu dan kita semua tetap diberi kesabaran yang teguh, penuh-sungguh. 

Khatib Jumat ini mengutip pernyataan Imam Ghazali soal tiga macam kesabaran dalam kitab Mukasyafatul Qulub. Pertama, sabar dalam ketaatan. Kedua, sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah. Ketiga, sabar dalam menerima musibah. Materi ini benar-benar relevan dan tepat sekali ketika disampaikan di saat kondisi kita yang sekarang sedang dituntut harus sabar.

Berikut ini penjelasan mengenai tiga macam sabar yang saya jabarkan dengan mengombinasikan antara materi khutbah Jumat di Masjid Agung Al-Barkah itu dengan elaborasi atas pemikiran dan pengetahuan, serta pengalaman saya sendiri. 

Sabar dalam ketaatan

Seberat apa pun aktivitas atau pekerjaan kita, ibadah kepada Allah harus tetap dilaksanakan. Ini sudah menjadi ketetapan bagi kita sebagai seorang hamba, yang memang harus memperhambakan diri di hadapan yang menciptakan hamba. Menyadari diri sebagai hamba yang kecil, yang tidak berdaya, yang tidak punya daya dan kuasa apa pun, merupakan hal yang penting. Kenapa? Agar kita tidak menjadi orang yang sombong dan (lebih parahnya) mempertuhankan diri sendiri atas orang lain. Ini yang bahaya. 

Maka, saat sudah sadar bahwa diri kita adalah hamba yang kecil; bahkan jika mengukur diri di dalam semesta yang diciptakan oleh Allah ini, kita akan merasa sangat kecil. Sebesar debu pun tifak ada. Oleh karena itu, kesadaran ini penting dibangun sebagai motivasi untuk terus giat dalam beribadah. Sekalipun memang harus kita sadari juga bahwa iman seseorang itu sangat fluktuatif, tidak bisa sekonsisten malaikat, tetapi juga tidak bisa sebengis iblis. Inilah cobaan kita, sehingga dituntut untuk bersabar dalam beribadah. 

Sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah

Selain itu, kita juga dituntut untuk bersabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah yang telah ditetapkan. Sebagai manusia, kita dibekali dua sifat. Yakni sifat taat seperti malaikat dan sifat bengis seperti iblis. Artinya, kita tidak bisa selalu taat seperti malaikat dan tidak akan selalu bengis seperti iblis. Kedua sifat itu bercampur-baur dalam jiwa kita. Sehingga kita bisa berkecenderungan berbuat baik (positif), tetapi bisa juga memiliki kecenderungan untuk berbuat buruk (negatif).

Kesabaran kita diuji dalam mengelola dan mengendalikan dua sifat yang saling bertentangan itu agar outputnya menjadi kebaikan. Tidak kemudian kita menghilangkan salah satu dari keduanya. Kita hanya diperkenankan oleh Allah untuk mengendalikan. Inilah yang pernah saya tulis di dalam tulisan serial Idulfitri sebelum ini. Yakni soal bagaimana kita mampu mengendalikan hawa nafsu, menurunkan kadar ego, dan meredam amarah. 

Kalau itu sudah dapat kita lakukan, insyaallah kita akan berkemampuan menahan diri dari berbuat keburukan atau bermaksiat terhadap Allah. Kemudian yakinlah bahwa Allah akan memberikan ganjaran atas perilaku kita dalam bersabar untuk menjauhi larangan-Nya. Ganjaran yang diberikan, akan bermacam bentuk dan rupa. Bisa saja ganjaran itu berupa materi kebendaan, berupa kesehatan jasmani, berupa peningkatan daya spiritual, atau mungkin saja berupa ujian atau godaan yang lebih dahsyat agar bisa 'naik level' keimanan.

Sabar dalam menerima musibah atau ujian dari Allah

Terakhir, kita mesti bersabar dalam menghadapi ujian atau musibah dari Allah. Yakin dan percayalah terhadap janji-Nya di dalam kitab suci, bahwa segala ujian yang diberikan tidak akan pernah melampaui batas kemampuan kita dalam menghadapi ujian itu. Namanya saja ujian, berarti harus dihadapi. Kalau berhasil, kita akan segera dinaikkan level atau kadar keimanannya. 

Masing-masing dari kita, setiap manusia, memiliki kadar keimanan yang berbeda. Karenanya, ujian yang akan diterima pun sudah pasti tidak sama. Maka, jangan pernah iri dengan orang lain yang seperti tidak mendapat ujian berat dari Allah. Sebab, hanya Allah-lah yang benar-benar tahu kadar keimanan hamba-Nya. Sementara kita tidak akan pernah tahu dan tidak pernah bisa menilai kadar keimanan sesama kita. 

Saat ini, dunia sedang diuji. Seperti sedang di-restart. Kita dihadapkan pada pandemi global, yang merupakan ujian bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Ujian pandemi ini tidak melihat latar belakang, status sosial, pendidikan, dan apa pun itu yang menjadi atribut kemelekatan seorang manusia di dunia. Kita semua sedang ujian, tanpa terkecuali.

Wallahua'lam...
Previous Post
Next Post

0 komentar: