Senin, 11 Mei 2020

Ferdian Paleka dan Kemunafikan Kita


Ferdian Paleka. Sumber: detik.com

Sejujurnya sudah sejak lama saya tidak mengonsumsi berita-berita buruk, berita-berita konflik, dan berita-berita yang membuat gaduh. Oleh sebab di negeri kita ini, hampir seluruh berita adalah berita buruk, maka saya selalu saja ketinggalan berita atau kabar terbaru. Termasuk soal kasus Ferdian Paleka. 

Saya tahu kasus Ferdian yang ngeprank transpuan dengan memberikan sembako berupa sampah dan batu itu dari teman-teman, bukan dari keinginan saya untuk mencari tahu jauh soal itu. Saya memang sekadar tahu saja, tapi tidak ingin tahu lebih dalam. Tapi lama-kelamaan, beberapa hari yang lalu, teman saya memberi kabar, menceritakan kronologi kejadiannya, dan sekaligus meminta pendapat saya; agak memaksa. 

Saya jadi risih, jujur saja. Sesuatu yang semula tidak ingin saya pahami terlalu dalam, tapi dipaksa untuk mengetahui segalanya tentang kasus itu. Baiklah, akhirnya terlebih dulu saya cari tahu dulu siapa Ferdian Paleka. Ternyata, dia Youtuber. Bahkan, saya baru tahu juga, kalau hampir seluruh kontennya di Youtube penuh dengan adegan yang seronok. Saya ingat-ingat: kayaknya saya pernah nonton konten Ferdian yang dia menggunakan jasa PSK di sebuah hotel. Kayaknya.

Oke, kembali ke persoalan Ferdian yang ngeprank transpuan. Kenapa saya harus memberikan komentar? Terutama sekali karena saya sudah hampir tidak tahan melihat kegaduhan media sosial yang ketika itu ramai-ramai membully Ferdian Paleka. Pertanyaan saya adalah, apakah perbuatan bullying/prank yang telah dilakukan Ferdian harus dibalas dengan perbuatan bullying juga? Saya rasa tidak demikian.

Kalau kita membully Ferdian karena perbuatan dia yang seperti itu, apa kabar kita yang terkadang juga merasa jijik dengan transpuan? Sebagian besar dari kita menganggap transpuan tidak lebih tinggi martabatnya dari kita. Bahkan menganggap mereka, transpuan di pinggir jalan itu, sudah pasti masuk neraka. Lalu apa bedanya kita dengan Ferdian? Sering juga kan kita menamai mereka dengan sebutan banci? Sementara diksi 'banci' digunakan untuk merendahkan. 

Kepada teman sebaya kita yang laki-laki, yang teman kita itu tidak bisa seperti kita yang hobi main jauh dan pulang malam, kita juga kerap menghinanya sebagai banci? Iya, kan? Juga kita kerap menamai teman kita sebagai banci, jika teman kita itu adalah laki-laki yang bergaya agak lemah-lembut.  Iya, kan?

Maka, di dalam tulisan ini, saya akan membongkar seluruh kemunafikan kita selama ini. Kita memang munafik. Mengumpat dan mengutuk perbuatan Ferdian Paleka, tapi sesungguhnya terkadang kita juga menikmati konten Ferdian yang lain, atau juga kita adalah bagian dari pelaku bullying kepada transpuan. 

Yang membedakan, hanya saja Ferdian bernasib apes. Hal itu lantaran dia adalah juga seorang yang terkenal. Melakukan perbuatan sekecil apa pun, walaupun benar, pasti ada saja yang tidak suka. Apalagi melakukan sesuatu yang besar, yang oleh pandangan kemunafikan secara umum, itu adalah salah. Ya, maka Ferdian patut dihukumi salah. Meledek, menghina, dan menjebak adalah perbuatan yang tidak patut dilakukan sekalipun kita juga merupakan pelaku penghinaan, pelaku penjebakan, dan pelaku peledekan. 

Kita munafik.

Teman-teman saya yang terkasih, mari kita berpikir objektif. Jangan hanya melulu terpaku pada kesalahan orang lain yang itu diciptakan karena pandangam secara umum. Mari kita berkaca, apakah kita juga sama, telah banyak melakukan kesalahan sebagaimana yang Ferdian lakukan? 

Sesungguhnya, Ferdian adalah jalan untuk kita semua mampu memuliakan derajat transpuan. Tidak membully-nya dengan kata-kata kasar, tidak mengutukinya dengan perkataan yang menyakitkan, serta tidak menghukumi para transpuan itu telah salah mengambil pilihan hidup sehingga mereka sudah pasti masuk neraka. 

Ferdian adalah pembuka tabir bagi kita agar tidak mudah untuk berbuat semena-mena terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Kini, saatnya turun untuk membantu sesama, mereka yang disingkirkan oleh masyarakat karena keadaan; kitalah yang harusnya membantu agar mereka mampu meningkat harkat dan martabatnya. Kalau toh, kita tidak mampu untuk turun langsung ke lapangan memberikan bantuan, mari kita bantu doa agar keadaan segera pulih dan kemanusiaan kita senantiasa diberikan kesehatan.

Satu lagi, kalau kemarin kita tidak suka atau bahkan membenci perilaku Ferdian Paleka yang menjebak, membully, dan meledek transpuan, maka sudah seharusnya kita tidak ikut-ikutan membully dan meledek Ferdian saat berada di bui; sebagaimana video yang beredar dengan suara orang yang mengatakan, "Sebentar lagi kamu bebas, tapi bohong yhaaahahahahaha." Mungkinkah itu oknum polisi yang melakukannya? Lalu siapa pula yang memukuli Ferdian hingga wajahnya bengap sebagaimana foto yang tersebar di media sosial? Oknum polisi yang punya jargon mengayomi itukah? Entahlah. 

Jadi mari agar kita tidak menjadi munafik. Juga, saya mengajak, supaya kita semua mampu berpikir objektif, adil sejak dalam pikiran, serta tidak merasa paling benar sendiri. Mulai saat ini, mari kita janji kepada diri sendiri untuk tidak meledek dan membully para transpuan. Bisakah? Sekali lagi, mari kita tidak menjadi munafik. Mari kita angkat derajat, harkat, dan martabat transpuan. 

Bukankah kemuliaan itu hanya Allah yang dapat menilai? Sementara kemuliaan itu diukur dari nilai ketakwaannya. Lalu, siapa yang bisa mengukur ketakwaan seseorang? Barangkali saja, setiap malam, para transpuan itu berdoa kepada Allah, memohon kebaikan untuk dirinya dan kemaslahatan orang banyak. Kita tidak pernah tahu nilai ketakwaan orang lain, kecuali Allah yang berhak menilai. 

Ramadan ini adalah momentum untuk memperbaiki diri. Tetapi perbaikan itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa. Jawabannya, ada di 11 bulan kemudian. Yuk, saatnya kita berlomba dalam kebaikan. Kalau kita tidak mampu berbuat baik, setidaknya jangan berbuat buruk kepada orang lain. Bagaimana? Kalau sepakat dengan pemikiran saya ini, sila bagikan tulisan ini sebanyak-banyaknya. Terima kasih.

Wallahua'lam...
Previous Post
Next Post

0 komentar: