Kamis, 28 Mei 2020

Puasa dari Rasa Hormat Selama 11 Bulan (Idulfitri Bagian 5)


Ilustrasi. Sumber gambar: maxmanroe.com

Kita akan menemukan banyak hal jika mampu menerabas kesepian itu. Di dalamnya terdapat sebuah pembelajaran mengenai kedamaian dan ketenteraman, asalkan kesepian itu dimanfaatkan sebagai sebuah ruang besar untuk menjadi tempat bersemayam para kontemplator. Bagaimanakah kehidupan kita pasca ditinggal Ramadan?

Ini sudah hari kelima lebaran. Makanan, seperti kue kering atau opor ayam pasti sudah habis. Minimal, hampir habis. Tetapi sesungguhnya, bukan itu esensi Idulfitri. Bukan soal makanan yang sifatnya jasadiah. Bukan juga soal senang-senang, hura-hura, pamer kekayaan. Idulfitri adalah soal bagaimana kita mampu 'berpuasa' kembali setelah selama sebulan penuh dilatih berpuasa. 

Menurut Emha Ainun Najib, puasa yang sesungguhnya bukanlah pada Ramadan. Melainkan pasca-Ramadan. Di dalam hari-hari di luar Ramadan, kita sebenarnya sedang dimintai pertanggungjawaban soal peribadahan kita selama sebulan penuh. Kalau ibadah kita selama Ramadan baik, dilakukan dengan penuh ketulusan dan hanya semata mengharap ridho Allah, maka ibadah kita setelah Ramadan pun akan menjadi baik. 

Namun, ini yang banyak orang lupa. Bahkan melalaikan atau mengabaikannya. Menganggap bahwa setelah Ramadan pergi, maka semua aktivitas peribadahan selesai. Mentang-mentang Ramadan menawarkan keberlipatgandaan pahala jika kita beribadah, membuat sebagian orang malah kembali malas beribadah setelah Ramadan. Hal inilah yang menjadi penyakit kronis manusia modern, termasuk juga saya.

Kalau diibaratkan sebagai sebuah peperangan, maka sebenarnya Ramadan kemarin itu adalah perang kecil. Sementara kita, saat ini, sedang menuju perang yang besar. Beribadah di bulan Ramadan, tentu saja sangat mudah dan ringan karena sebagian besar orang melakukan hal yang sama. Meskipun ada sebagian orang yang lain, yang tidak berpuasa, yang secara refleks-manusiawi ia pasti akan menghormati orang yang sedang berpuasa; tidak makan-minum atau memancing amarah di hadapan orang berpuasa.
Tapi tentu saja akan berbeda keadaannya dengan kondisi setelah Ramadan. Kalau kita mempertahankan pola ibadah kita selama Ramadan, apakah kita juga akan meminta orang lain untuk menghormati kita? Apakah kita harus mengabari banyak orang bahwa kita masih melaksanakan ibadah sebagaimana pada bulan Ramadan? Ini yang sulit. 

Tidak akan mudah, ketika kita berpuasa di tengah keadaan atau kondisi sebagian besar orang yang tidak puasa. Beribadah di tengah orang-orang yang tidak beribadah. Berkebaikan di tengah keadaan masyarakat yang sudah mulai meninggalkan nilai-nilai kebajikan Ramadan. Apakah kita akan menuntut orang lain agar mau memperhatikan atau menghormati kita? Kalau di bulan Ramadan, wajar-wajar saja kita meminta oranglain menghormati (walaupun itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya), tetapi bagaimana jika tidak di bulan Ramadan? Saya rasa, kita harus kembali berpuasa. 

Kita harus berpuasa yang lebih besar. Yakni puasa dari rasa haus akan hormat yang diberikan oleh orang lain. Kita harus puasa dari dahaga penghormatan dan beralih untuk kemudian memberi hormat kepada orang lain yang tidak sepaham-sefrekuensi dengan kita. Menurunkan ego, mengendalikan nafsu syahwatiyah, dan menahan amarah yang sudah kita dapati pelajaran itu semasa berada 'pesantren' bernama Ramadan. Lalu, kini kita hanya tinggal mengaplikasikannya. 

Bagi saya, pengaplikasian merupakan bahasa lain dari pertanggungjawaban. Maka, sudah seharusnya pula kita mempertanggungjawabkan segala kebaikan yang telah dilakukan selama Ramadan kemarin. Jangan hanya karena Ramadan sudah pergi, lantas itu menandakan bahwa kebaikan pun disudahi. Justru masa-masa setelah Ramadan-lah yang apabila kita tekun beribadah sebagaimana pada Ramadan kemarin; baik ibadah secara ritual maupun sosial, maka akan sangat baik di sisi Allah. Saya yakin. 

Kasarnya, Allah akan sangat memperhitungkan ibadah orang-orang yang berhasil ditingkatkan (atau minimal dijaga konsistensinya) dari Ramadan ke bulan-bulan setelah Ramadan. Kenapa diperhitungkan oleh Allah? Karena inilah yang disebut takwa. Orang-orang yang takwa itu, akan selalu merasa diawasi Allah, sehingga untuk berbuat secuil keburukan saja, ia tidak berani. Maka, tentu saja, bagi setiap orang yang mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan kadar kualitas peribadahannya, ia akan mendapat 'apresiasi' dari Allah. 

Tetapi, yang harus digarisbawahi adalah, bahwa orang-orang yang mendapat gelar takwa sudah pasti tidak akan terpengaruh dengan hinaan atau pujian dari orang lain. Ia akan kebal oleh perkara keduniaan. Justru ia akan kian tebal atas keimananannya kepada Allah, sehingga beranggapan tidak akan ada seorang pun yang mampu memberikan apresiasi atau penghormatan yang lebih dari apresiasi atau penghormatan Allah. 

Singkatnya, hanya orang-orang takwa-lah yang mampu berpuasa kembali setelah sebulan penuh kemarin berpuasa. Kini, orang-orang takwa itu pasti akan melanjutkan puasanya. Mereka juga akan meningkatkan kadar kualitas puasanya. Yakni dari puasa jasadi ke puasa rohani. Dari puasa yang (pada saat Ramadan) penuh dengan eksistensi, menuju puasa yang lebih penuh esensi. Puasa yang mengharuskan kita memberi hormat kepada yang lain dan menahan diri dari rasa ingin dihormati. 

Ya, Ramadan sudah pergi. Tetapi nilai-nilai yang sudah kita dapati selama sebulan penuh kemarin itu akan sangat terkenang dan bahkan berguna, apabila kita mampu memanfaatkan kesepian atas perayaan Idulfitri ini dengan melakukan kontemplasi yang mendalam. Kita, meskipun tidak (atau belum pantas) bergelar takwa, tapi setidaknya kita mampu menyerap nilai Ramadan itu untuk kemudian dipertanggungjawabkan setelah ini. 

Setidaknya, kita punya persiapan dan kesiapan untuk beralih dari perang kecil kepada peperangan yang lebih besar. Yakni sebuah dimensi baru yang lebih menantang dan akan mendapat derajat yang kian tinggi di sisi Allah jika kita mampu meningkatkan kadar kualitas ibadah; baik ritual maupun sosial. Baik jasadi maupun rohani. Baik ibadah manusiawi maupun ibadah yang langsung berhadap-hadapan dengan sang ilahi. 

Jadi, mari kita bersiap diri untuk perang. Ya, perang yang lebih akbar. Perang melawan diri sendiri. Perang kepada ego, kepada nafsu syahwatiyah, dan perang terhadap amarah yang menggebu-gebu. Kalau kita berhasil melewati perang yang lebih besar dari perang kecil selama Ramadan kemarin (yang itu pun bisa dimaknai sebagai latihan menuju perang besar), maka jelas kita adalah orang-orang yang beruntung. Sebab, Allah langsung-lah yang akan memberikan apresiasi dan penghormatan itu. 

Tapi dengan catatan, kita harus berpuasa dari rasa ingin dihormati. Bisakah? Semoga saja, walaupun pasti sangat susah. [Bersambung]

Wallahua'lam...
Previous Post
Next Post

0 komentar: