Jumat, 22 Mei 2020

JUMATAN: Setahun Penuh Ramadan (Sebuah Renungan)


Ilustrasi. Sumber gambar: liputan6.com

Selamat Jumat. Semoga kita senantiasa dianugerahi kuat dan sehat. Hari ini adalah Jumat kelima, sekaligus yang terakhir di bulan Ramadan. Kita hanya tinggal menunggu keputusan sidang isbat yang digelar Kementerian Agama, apakah lebaran Idulfitri jatuh pada Ahad atau bahkan besok (Sabtu)? Kita patuhi saja pemerintah dan ulama dalam persoalan ini.

So, kini kita berada di pengujung Ramadan. Sudah 29 hari berpuasa; menahan ego, mengendalikan nafsu, dan meninggalkan segala perbuatan yang berpotensi membatalkan pahala puasa. Tapi ingat, puasa Ramadan ini hanya untuk umat Islam yang beriman, agar keimanannya itu meningkat sehingga berbuah pada ketakwaan. 

Ya, hanya orang-orang yang beriman saja yang mampu benar-benar berpuasa. Ibadah puasa ini merupakan ibadah khusus yang bersifat privasi. Tidak ada yang tahu apakah kita berpuasa, selain Allah dan diri kita sendiri. Maka, dari sekian banyak peribadahan di dalam Islam, hanya puasa di bulan Ramadan sajalah yang tidak bisa dimanfaatkan untuk ajang pencitraan. 

Saya teringat hadis Nabi Muhammad yang sangat sering disampaikan oleh para khutoba (penceramah) di masjid dan musala. Hadis itu adalah, "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan hanya berharap kepada ridho Allah semata, maka seluruh dosanya akan dihapus dan diampuni, bahkan dosa yang telah lama diperbuat sekalipun."

Jadi, atas dasar apa kita beribadah puasa selama satu bulan penuh? Apa pula yang kita harapkan dari ibadah puasa yang kita jalani itu? Kalau kita berpuasa lantaran benar-benar penuh-sungguh dengan teguh atas dasar keimanan dan hanya berharap Allah ridho kepada kita, maka tentu saja reward yang telah dijanjikan itu pasti akan kita dapati. Tetapi namanya saja reward, sudah pasti yang akan menerima adalah orang-orang pilihan saja, dan hanya beberapa saja. Tidak banyak. 

Lalu, apakah kita tahu siapa yang berhak mendapat reward berupa ampunan dari Allah itu? Ya wallahua'lam, hanya Allah yang tahu. Sebab puasa di bulan Ramadan ini, merupakan ibadah yang didedikasikan untuk Allah. Maka, hanya Allah sajalah yang tahu siapa yang akan diberi ganjaran kepada orang-orang beriman yang menjalani puasa dengan penuh-teguh berdasar keimanan. 

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: "Setiap amalan manusia adalah untuknya. Kecuali puasa. Sebab puasa hanyalah untuk-Ku dan Aku yang akan (berhak) memberikan ganjaran kepadanya secara langsung." 

Jadi seluruh peribadahan dalam Islam, Allah melalui Rasul-Nya pasti mengeluarkan pernyataan tentang jumlah ganjaran yang akan diberikan. Tetapi sangat berbeda dengan ibadah puasa ini. Berapa jumlah pahala yang akan diberikan oleh Allah kepada kita, tidak sama sekali dibocorkan. Paling-paling kita hanya diberitahu sebagaimana yang telah dijelaskan tadi: diampuni dosa-dosanya. Pengampunan dosa itu pun masih bersyarat; berpuasa dengan kesungguhan dan mengharap Allah ridho kepada kita. Selebihnya, kita tidak akan pernah tahu. 

Maka, dengan demikian, ibadah puasa di bulan Ramadan ini bukanlah ibadah yang sembarangan. Tidak semua orang bisa menjalani dengan baik, sekaligus juga tidak ada yang tahu, seorang pun, bagaimana kualitas ibadah puasanya. Hanya Allah yang berhak menilai dan memberikan ganjaran yang kita tidak akan pernah tahu. Bahkan, Rasulullah sendiri pun tidak tahu pahala ibadah puasa di bulan Ramadan. 

Hal itu diperkuat dengan hadis Nabi: "Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan Ramadan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi Ramadan." 

Pernyataan itu membuktikan bahwa pahala ibadah puasa di bulan Ramadan menjadi rahasia Allah. Kita tidak pernah tahu, termasuk juga Rasulullah. Hanya saja, kita diberi tahu bahwa amalan-amalan wajib di bulan Ramadan yang kita lakukan akan diganjar dengan pahala dua kali lipat. Sementara amalan-amalan sunnah akan diberi pahala sebagaimana pahala wajib. Itu saja. 

Maka, benar kata Rasulullah itu tadi. Jika kita tahu besarnya pahala di bulan Ramadan, kita tentu menginginkan setahun penuh adalah Ramadan. Tetapi sesungguhnya, saya memaknai hadis Rasulullah itu sebagai sebuah ungkapan yang sangat metafor. Sebab tidak mungkin, Ramadan akan diperpanjang hingga setahun penuh. Lagi pula, statement Rasulullah itu didahului oleh diksi: seandainya. 

Maka sesungguhnya, menurut saya, yang ingin disampaikan Rasulullah itu adalah agar kita mampu menghidupi 11 bulan setelah ini, dengan wewangian Ramadan. Tidak lantas menjadi liar, seperti kuda yang sudah lama dikurung dan kemudian dilepas tanpa kendali. Mungkin saja, kita seperti itu. Tetapi hal tersebut adalah ciri dari ketidakberhasilan dalam menjalani hari-hari selama Ramadan. Sekali lagi, yang berhak menilai adalah Allah. Tetapi kita hanya bisa mengetahui kisi-kisi, ciri-ciri, dan tanda-tandanya saja yang tidak tentu benar.

Lalu bagaimana cara agar kita mampu menjadikan setahun penuh adalah Ramadan? Bisakah demikian? Tentu saja bisa. Kita serap nilai-nilai Ramadan yang baik untuk menjadi warna dalam 11 bulan setelah ini. Saya teringat pesan para guru saya, bahwa Ramadan adalah ajang untuk latihan sebelum kita dilepas untuk berkompetisi di gelanggang yang lebih luas. Kalau kita bisa mempertahankan nilai-nilai Ramadan, maka sudah barang tentu kita-lah yang akan mendapat gelar takwa itu. 

Jadi, Surat Al-Baqarah ayat 183 soal gelar takwa itu, menurut saya, tidak serta merta diberikan oleh Allah dengan 'murah' dan apalagi cuma-cuma alias gratis. Hadiah takwa itu akan diberikan kepada kita sebagai sebuah proses panjang perjalanan pasca-Ramadan. Kalau berhasil dalam perjalanan setelah Ramadan, maka insyaallah, Allah akan menggelari kita sebagai orang yang bertakwa. 

Hati saya tersentuh menonton sebuah tayangan film pendek yang dibuat oleh islamidotco yang diunggah oleh akun instagram jaringangusdurian. Film pendek itu, dibuka dengan dialog seorang anak dengan sang ibu, yang sangat mengharukan. Dialog itu juga mengajarkan kepada kita untuk bisa menjadikan Ramadan hidup selama setahun penuh. 

"Bu, Ramadan itu apa sih, Bu?"
"Ramadan itu kalau kita menahan lapar dan haus. Juga kita tidak boleh marah kalau ada orang yang jahat dengan kita."
"Berarti kita Ramadan terus ya, Bu?"

Dialog singkat itu, bagi saya, sangat menyentuh sekali. Ditambah dengan latar suasana yang menggambarkan bahwa anak dan ibu itu adalah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tetapi juga sekaligus menjadi pelajaran kepada kita untuk bisa menanamkan nilai-nilai Ramadan, di luar Ramadan nanti. 

Salah satu nilai yang harus kita pertahankan itu adalah soal 'tidak boleh marah kalau ada orang yang jahat dengan kita'. Ini merupakan pelajaran yang telah kita dapati selama Ramadan kemarin. Yakni soal menahan ego, mengendalikan hawa nafsu, dan tidak mudah mengumbar amarah; lebih-lebih kebencian, apalagi merasa paling suci (sehingga berlaku semaunya) hanya karena memiliki nasab mulia.  

Ramadan adalah soal nilai. Tidak marah sekalipun dijahati oleh orang merupakan bagian dari ajaran agung yang terdapat di dalam Al-Quran. Mari, untuk bisa menjadikan Ramadan menjadi wangi selama 11 bulan ke depan, kita tadabburi Asy-Syuro (surat ke-42 dalam Al-Quran) ayat 40. Saya pernah menulisnya, beberapa tahun lalu. Sila dibaca: klik di sini.

Wallahua'lam...
Previous Post
Next Post

0 komentar: