Masihkah Buku Menjadi Jendela Dunia? - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 26 Maret 2017

Masihkah Buku Menjadi Jendela Dunia?


Ilustrasi. Sumber: andikafm.com


"Masihkah buku menjadi jendela dunia?" kira-kira itu pertanyaan yang akhir-akhir ini terlintas dalam benak. Sejak dulu, orangtua seringkali memberi wejangan kepadaku agar giat membaca buku. Ibuku bilang, "Dari buku kamu akan melihat dunia."

Digitalisasi peradaban nampaknya berkata lain. Perlahan, buku ditinggalkan. Beralih ke digital. Bahkan, buku digital pun tidak lagi diindahkan. Keberadaan media sosial menambah runyam segalanya. Pemuda-pemudi lebih sibuk berselancar di media sosial ketimbang membaca buku.

Gramedia, toko, dan penerbit buku berlomba mendiskonkan buku. Bahkan, gratis. Taman Baca sepi pengunjung. Di titik strategis Car Free Day (CFD) setiap minggu, komunitas pecinta buku menjamur. Namun, hasilnya tetap tak memuaskan. Sepi. 

Hal yang menarik dari hadirnya media sosial, barangkali, menjadi wadah eksistensi yang sama sekali tak bernilai. Buku-buku yang terbeli hanya dipotret, tanpa dibaca. Hanya berharap mendapat like dan komentar yang baik. Pencitraan. Semua dilakukan agar mendapat pengakuan diri. Seperti yang dikatakan Abraham Maslow jauh-jauh hari. Bahwa kebutuhan manusia paling utama adalah pengakuan diri dan eksistensi.

Kembali ke buku. Perkembangan intelektualitas seseorang terbangun karena bacaannya. Dengan membaca, ia dapat memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Selain itu, buku dapat membantu manusia dalam berpikir, bertutur, dan berperilaku. Ia akan menjadikan seseorang rapi, runut dalam berbicara, serta dapat memperhalus rasa.

Orang-orang terdahulu acapkali berdebat melalui buku. Imam Ghazali misalnya. Ia menulis buku yang memaparkan kesalahan-kesalahan pada filsafat Ibnu Rusyd. Tetapi Imam Ghazali juga menulis bahwa kritik itu ia layangkan setelah membaca dan mengkaji.

Kemudian, ada juga buku yang berjudul "Sidogiri Menolak Pemikiran KH Sa'id Aqil Siradj." Bermacam referensi dimaktubkan. Berdasar. Tulisannya pun rapi, runut, dan cenderung objektif. Aku pernah pula membaca buku "menolak madzhab wahabi" yang lagi-lagi terpaparkan fakta dan data. Tidak sembarang.

Mendebat atau mengekspresikan ketidaksukaan terhadap sesuatu dengan cara menulis menjadi sangat indah. Logika sederhananya, seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Buku menjadi jendela dunia. Membuka tabir kejumudan. Menyingkap sekat kebodohan dan ketertinggalan.

Kini, budaya semacam itu hampir tak terlihat. Orang-orang sibuk berkomentar dan melakukan ekspresi ketidaksukaan dengan seenaknya di media sosial. Tanpa dasar, data, dan fakta. Isu terakhir yang berkembang adalah kontroversi KH Ahmad Ishomuddin yang menjadi saksi ahli atas perkara penistaan agama. 

Semua orang berbondong melakukan cercaan terhadapnya. Pencerca itu pun belum tentu tahu secara keseluruhan, siapa KH Ishomuddin itu. Bagaimana kehidupan dan pengalamannya sampai ia mendapat gelar sosial dari masyarakat; Kiai Haji. Aku teringat pesan Tuhan dalam kitab suci, "Tidakkah kamu berpikir?"

Maka itu, seorang penulis kenamaan, Zen RS dalam cuitannya berkata, "Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar." Lalu, aku berpikir bahwa dampak negatif dari media sosial adalah menurunkan minat baca. Kemudian secara tidak langsung, media sosial pun mengajak penggunanya untuk giat dalam berkomentar. Gilak!

Akhir 2016, Mega Bekasi Hypermall bekerjasama dengan penerbit Kompas Gramedia mengadakan Mega Big Sale. Menjual buku dengan harga murah. Mulai Rp5000 hingga Rp10000. Semua orang bergegas menghampiri. Memborong buku sebanyak yang disuka. Pikirku, harus seperti itukah agar buku dibaca? Bagaimana perasaan buku? Dibandrol dengan harga murah, supaya cepat habis dan terbeli. 

Berbagai kalangan, dari anak muda hingga orangtua tak mau ketinggalan. Mereka menyerbu. Setelahnya, entahlah. Hanya menjadi eksistensi belaka atau buku yang dibeli dengan harga murah itu benar-benar dimanfaatkan untuk mendobrak dinding ketidaktahuan. Semuanya tergantung pada individu. 

Jadi, masihkah buku menjadi jendela dunia setelah ada istilah baru, "dunia dalam genggaman?" Orang-orang gaduh. Menyombongkan kebodohan dan kejumudan dalam berpikir. Lagi-lagi tanpa dasar. Berkomentar sesukanya. Jempol menjadi harimau, tidak lagi mulut.

Aku bisa menilai seseorang dari komentar di media sosial dan ucapannya dalam keseharian. Orang yang giat membaca buku, ia akan sangat berhati-hati. Menuliskan dan berkata-kata dengan tidak menggebu. Rapi, runut, dan tertata. Kasarnya, aku bisa melihat laku orang lain dan kemudian mengetahui buku macam apa yang dibaca. Kira-kira seperti itu.

Hingga detik ini, aku masih mencintai buku. Bukan yang sudah terdigitalisasi. Aku membaca buku agar mampu meruntuhkan kesombongan yang menuntunku pada jurang kedurjanaan. Aku membacanya demi menghaluskan rasa dan mempertajam pemikiran. Semakin banyak bahan bacaan, kian merunduklah ia. Tak lagi mengumbar omong-kosong layaknya pembual politik akhir-akhir ini. 

Sebab bagiku, buku adalah sahabat setiaku. Tak pernah membenci saat diperlakukan tidak wajar. Tetapi selalu menerima kapan pun saat ia dijadikan sahabat, bahkan ia sangat legowo ketika huruf demi huruf yang tertera di tubuhnya hanya dijadikan pengantar tidur oleh pembacanya.

Dunia tidak perlu digenggam. Buka bukumu sekarang juga, niscaya dunia akan terlihat jelas. Berapa jam dalam sehari waktumu dihabiskan untuk membaca? Semoga terjawab dengan laku, tidak hanya retorika belaka. Apalagi dalih yang menempel sesaat pada lidah. Yuk, baca buku.



Wallahu A'lam



Sekretariat Teater Korek, 26 Maret 2017



Aru Elgete

Tidak ada komentar:

Posting Komentar