Susah Sinyal: Waktu Bersama Keluarga, Tak Bernilai Harga - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 07 Januari 2018

Susah Sinyal: Waktu Bersama Keluarga, Tak Bernilai Harga


Sumber gambar: bintang.com


Ernest Prakasa, seorang komika ternama tanah air kembali menghibur masyarakat dengan sentuhan layar kaca. Bukan dengan stand up comedy, tetapi dengan sebuah karya yang ia buat dengan sangat kreatif. Film Susah Sinyal, baru-baru ini sukses menyedot perhatian banyak orang. Sebagai sutradara yang juga piawai dalam berkomedi, ia kemas film terbarunya itu dengan balutan humor yang mengocok perut.

Namun, ada sesuatu yang tidak kalah penting dari gaya humor yang ditayangkan. Yakni, mengenai persoalan rumah tangga. Fokus utama dari film tersebut adalah tentang cerita ibu dan anak yang jarang sekali punya waktu luang untuk bersama. Persoalan rumah tangga, menurut saya, menjadi hal yang krusial untuk menjadi pembelajaran bagi kehidupan yang super sibuk di perkotaan.

Cerita dalam film difokuskan pada perjalanan Ellen (diperankan oleh Adinia Wirasti) seorang ibu yang berprofesi sebagai pengacara. Ia bercerai dengan suami saat Kiara (diperankan oleh Aurora Ribero) berusia 2 tahun. Pasca bercerai, Ellen melanjutkan kuliah di bidang hukum dan memilih bekerja untuk menjadi seorang pengacara. Hal tersebut ia lakukan demi menghidupi keluarga kecilnya. 

Kiara, sejak kecil diasuh oleh ibu kandung Ellen. Ia tumbuh menjadi seorang anak remaja yang sibuk bermedia sosial. Di usianya yang masih belia, ia mampu mencari uang sendiri dengan melakukan endorse berbagai macam produk di Instagram. Sebenarnya, ia punya cita-cita menjadi penyanyi; atau katakanlah, artis papan atas di negeri ini. Neneknya mendukung. Karena dinilai, Kiara punya bakat yang mesti dikembangkan. 

Namun, hal lain berkata tidak. Ibunya sendiri, sama sekali tidak mendukung karena khawatir Kiara akan terjerumus di dunia hiburan yang penuh gemerlap sukacita. Suatu ketika, Ellen dan neneknya Kiara mendebat hal itu. Jelas, nenek Kiara mendukung penuh karena bertahun-tahun ia hidup bersama. Sementara Ellen, sangat sibuk, sehingga tak pernah punya waktu untuk sekadar memperhatikan pertumbuhan sang anak.

"Kamu jangan selalu mengambil asumsi terburuk dalam segala hal," kata nenek Kiara kepada Ellen, saat mendebatkan persoalan Kiara yang akan mengikuti The Next Voice Indonesia, sebuah kontes nyanyi yang akan ditayangkan di stasiun televisi nasional.

Saban hari, Kiara dibuat kesal oleh ibunya sendiri lantaran kesibukan yang luar biasa. Namun, di hati kecilnya, ada cinta yang tertanam dalam. Kuat mengakar. Diam-diam, ia menciptakan sebuah lagu berjudul Untuk Mama. Lagu tersebut sebagai akan dibawakan pada saat audisi. 

Singkat cerita, Ellen dihubungi guru Kiara untuk datang ke sekolah. Hal itu karena perbuatan anaknya yang dinilai kurang baik. Yaitu, selalu menggunakan smartphone saat pelajaran berlangsung. Saking kesalnya, guru Kiara membanting smartphone yang selama ini menjadi perantara datangnya rezeki. Kiara pun kesal, dianggap tak beretika. Ellen, sebagai wali murid; pengganti nenek Kiara yang sudah meninggal, ia datang menghadap guru.

"Kamu sebagai ibu, sisihkan waktu untuk jalan-jalan bersama Kiara. Keluar kota, misalnya. Quality time, begitu. Sepertinya Kiara, kurang kasih sayang dari orangtuanya," seperti itu pengelaborasian saya atau ucapan guru Kiara di sekolah kepada Ellen; ibu Kiara.

Mulanya, Kiara tidak bersedia diajak piknik. Namun, setelah mendapat pencerahan dari sahabat karib yang sekaligus bertugas sebagai manajernya, ia akhirnya mengamini keinginan ibunya. Ia memilih untuk berlibur ke Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kebahagiaan tercipta di raut keduanya. 

Setibanya di lokasi, Kiara sangat kecewa karena di sana sangat susah sinyal. Padahal lusa adalah batas maksimal ia harus mengunggah video untuk mengiklankan produk wafer ke Instagram. Kalau tidak dilakukan, ia akan kehilangan beberapa rupiah yang tentu sangat berharga bagi anak seusianya.

Kekecewaannya berlipat ganda, saat mengetahui bahwa di lokasi tempat ia berlibur, belum terfasilitasi oleh aliran listrik. Listrik, ada. Tetapi harus menggunakan genset, dan itu hanya diberi waktu selama 12 jam. Dari jam 6 sore, hingga jam 6 pagi. 

Saat Ellen berolahraga, berlari-lari kecil di sekitar penginapan, ia berhenti di salah satu titik. Di bawah pohon rindang. Ia mendapati smartphonenya berdering; tanda ada pesan yang masuk bertubi-tubi. Secara spontan, ia berbalik arah, bergegas membangunkan Kiara untuk segera keluar.

Kiara tersenyum bahagia. Sinyal masuk. Tanpa pikir panjang, ia segera membuat video dengan latar belakang padang savana. Kemudian diunggah di akun Instagram miliknya. Selamatlah ia dari kerugian yang melanda. Setelah itu, ia memberi kabar sahabat sekaligus manajernya di Jakarta, bahwa video sudah terunggah. Lalu, manajernya itu mengingatkan, dua minggu lagi Kiara mesti ikut audisi dengan membawakan lagu berjudul Untuk Mama.

Sementara Ellen, menelepon Iwan. Sahabatnya yang meng-handle tugas dirinya untuk mendampingi klien; seorang artis ternama, yang tengah berkasus; perceraian. Iwan memberi kabar baik. Semua sudah beres. Tinggal menunggu sidang. Esok, Ellen kembali terbang ke Jakarta. 

Di Pulau Sumba itu, Kiara jatuh cinta kepada pemuda bernama Abe. Saat Abe akan belanja ke pasar, secara spontan Kiara ingin ikut menemani. Setelah izin ke ibunya, Kiara dibolehkan untuk ke pasar bersama Abe. Tapi dengan catatan, kembali ke penginapan sebelum gelap. Sementara Ellen, bersama orang-orang yang juga sedang berlibur dan pengelola hotel, berlibur ke salah satu destinasi wisata air terjun terdekat.

Menjelang sore, Ellen beserta rombongan kembali ke penginapan. Namun, ia gelisah. Senja sudah lewat, malam telah datang, tetapi putri semata wayangnya belum juga tiba di kamar. Hatinya gundah. Khawatir. Seperti biasa, ia selalu mengambil asumsi terburuk dari setiap kejadian yang dialami. Karena itu, ketakutan sering menyergap dirinya.

"Hallo, Mama. Lihat nih, aku beli bahan ini untuk dijadikan baju saat audisi nanti," kata Kiara saat tiba di kamar, pukul 19.30 WIT.

"Abis darimana kamu? Tadi janjinya apa?" kata Ellen menyergah ucapan Kiara.

"Janji apa? Aku gak janji."

"Tadi, Mama ngizinin kamu pergi, asalkan pulang sebelum gelap."

"Loh, tapi aku kan gak bilang, janji. Mama sendiri itu yang buat janji. Ya sudah, maafkan aku."

"Gak perlu minta maaf kalau gak tulus," kalimat penutup Ellen, tanda kecewa. Ia teriak sejadi-jadinya, menutup wajahnya dengan bantal. Menangis.



Itulah secuplik cerita dari film Susah Sinyal. Dari cerita di atas, saya dapat simpulkan bahwa waktu bersama keluarga sangatlah tidak bernilai harga. Sebab, walau bagaimana pun juga, keluarga merupakan bagian terpenting dalam hidup. Sesibuk apa pun kita dalam menjalani aktivitas, mesti bisa menyisihkan waktu luang untuk keluarga. Hal tersebut dilakukan demi terciptanya harmoni dan ketenangan dalam rumah.

Dalam kebudayaan kita, tentu kita sering mendengar kalimat, "lima perkara sebelum lima perkara." Kelima perkara itu mesti dimanfaatkan agar tak ada kata sesal di kemudian hari. Yakni, muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum fakir, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. Sebelum semuanya terlambat, perbaikilah yang harus diperbaiki. Terutama mengenai kualitas waktu bersama keluarga.

Sebab waktu bersama keluarga, benar-benar tak bisa dinilai oleh apa pun. Ia hadir bukan tidak berharga. Tetapi tidak bisa dinilai oleh harga sebesar nominal apa pun. Sama sekali tak bernilai harga.

Kehidupan di perkotaan memang dituntut untuk bertaruh dengan segala hal yang kita miliki. Kalau tidak kita akan tersingkir, dikalahkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan lebih dari kita. Namun, hal yang mesti digarisbawahi dari film yang saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga itu adalah tentang memanfaatkan waktu sesempit apa pun untuk bercengkerama bersama keluarga. Ingat, sebelum terlambat!




Tabik,
Aru Elgete
(Aktivis sok super sibuk)




Bekasi, 7 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar