Kamis, 11 Januari 2018

Sudahkah Menertawai Agama Sendiri?


Sumber gambar: jantungmelayu.com


Suatu ketika, Presiden Keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sedang berada dalam forum diskusi lintas agama. Peserta diskusi adalah umat Hindu, Kristen, dan Islam beserta pemuka agama. Gus Dur, mewakili Islam. Tema besar diskusi adalah, "Mencari Titik Temu; Agama mana yang paling dekat dengan Tuhan?"

Pertama, pemuka agama Hindu angkat bicara. Memberi pernyataan panjang lebar. Seperti memberi nasihat, atau juga semacam ceramah di rumah ibadah. Di akhir, ia mengungkapkan, "Agama kami-lah yang paling dekat dengan Tuhan. Sebab, kami memanggil-Nya dengan sebutan Om. Adakah hubungan yang lebih dekat dari paman dan keponakannya?"

Peserta pertama usai. Tepuk tangan meriah menyertai pemuka agama Hindu itu kembali ke tempat duduk. Kini giliran pendeta menyampaikan pernyataannya mengenai agama yang paling dekat dengan Tuhan.

"Kalau Hindu memanggil Tuhan dengan sebutan Om, kami menyebut Tuhan dengan panggilan akrab, yakni Bapak kami di Sorga," ungkap sang pendeta dengan rasa bangga. Mendapat tepuk tangan yang lebih riuh dari peserta sebelumnya. Ia kembali ke tempat duduk

Kini, giliran Gus Dur mewakili agama Islam untuk menyampaikan pendapatnya mengenai agama yang terdekat dengan Tuhan. Gus Dur, maju. Berdiri di atas mimbar. Namun, aneh. Ia terdiam. Pandangannya menyapu hadirin yang berkerumun di hadapannya.

"Kiai, kenapa diam? Silakan bicara. Bagaimana? Benarkah Islam agama yang dekat dengan Tuhan, lebih dekat daripada agama Hindu dan Kristen?" kata pembawa acara kepada Gus Dur, dan penonton pun terheran. Terlihat, ada penonton yang berbisik-bisik, seperti membicarakan hal buruk untuk Gus Dur.

Setelah menunggu hampir 5 menit, Gus Dur akhirnya angkat bicara.

"Saya bingung. Bagaimana saya bisa menyatakan kalau Islam adalah agama yang paling dekat dengan Tuhan? Lha wong, kalau memanggil-manggil nama Tuhan saja dengan menggunakan TOA dan pengeras suara," kata Gus Dur. Spontan, para hadirin tertawa terbahak-bahak; sembari bertepuk tangan dan berdiri. 

____________________________

Sepulang dari Palestina, Gus Dur bercerita di depan keempat putri dan istrinya. Ia menceritakan bahwa ada sebuah sungai yang sarat sejarah. Gus Dur mengarungi sungai itu dengan menumpang sampan dengan tarif senilai jutaan rupiah sekali naik. Kemudian, sembari menikmati suasana itu, Gus Dur diceritakan sebuah mukjizat Yesus Kristus yang pernah menyeberangi sungai itu dengan berjalan di atas air.

Saat mendengar cerita itu, Gus Dur membatin, "Yesus pasti tidak mampu untuk membayar tarif perahu yang sangat mahal ini, makanya dia lebih memilih jalan kaki," spontan, keempat putri dan Ibu Shinta Nuriyah Wahid tertawa hingga terlihat bagian dalam mulutnya.

____________________________

Seperti itu secuplik banyolan Gus Dur yang menyentil isu agama. Menurut hemat saya, kepercayaan Gus Dur terhadap Islam dan keimanannya sudah sangat kuat, sehingga dirinya mampu menertawai agamanya sendiri, sebelum orang lain dinilai menista agamanya. Karena ia telah berhasil menertawai agamanya sendiri, maka tidak baginya tidak ada istilah penistaan agama hanya karena meledek dan dimaksudkan untuk bercanda.

Menghina agama, menurut Gus Dur, adalah ketika cara beragama kita sangat jauh dari kemanusiaan dan kepekaan terhadap lingkungan. Menistakan agama adalah ketika mencari keuntungan dari balik mimbar atau di atas altar pengimaman. Menghina dan menista agama, bahkan menghina Tuhan; yang paling luhur, menurut Sujiwotejo adalah saat khawatir besok atau lusa tidak bisa makan.

Lalu, seperti apa definisi penistaan agama yang mewajibkan seseorang untuk meminta maaf dan mesti berurusan dengan kepolisian, sementara tidak ada niatan jahat untuk menjatuhkan marwah agama? Lagi pula, menurut saya, memangnya ada manusia yang bisa menjatuhkan agama kalau bukan Tuhan itu sendiri?

Sementara itu, seorang komika ternama beragama Kristen beretnis Tionghoa, pernah melakukan stand up comedy dengan menertawai agama dan keyakinannya sendiri.

Ia merasa heran, karena selama ini yang diurus dan diperhatikan oleh Kementerian Agama (Kemenag) hanya agama Islam saja. Dirinya merasa iri karena Kristen sangat jarang diberi perhatian langsung oleh Menteri Agama.

"Gue kasih contoh nih, ya. Setiap mau puasa, mau lebaran, lebaran haji, itu pasti diadakan sidang isbat. Melihat hilal. Memastikan bahwa hilal sudah naik," katanya.

Kemudian, ia membandingkan dengan agamanya yang tidak diperhatikan oleh Kemenag. Contohnya seperti peringatan Kenaikan Yesus Kristus.

"Harusnya, sebelum hari peringatan Kenaikan Yesus Kristus, Kementerian Agama adakan juga sidang isbat. Pastikan bahwa Yesus sudah naik. Kalau ternyata Yesus tidak naik, ya suruh belajar yang rajin lagi."

_______________________

Demikian, kelucuan yang menurut saya mampu mendewasakan sikap keberagamaan kita. Saya menduga, saat ini kita sudah jauh dari nilai-nilai humanistik yang terdapat dalam setiap agama. Kita menjadi cepat marah, meledak, tetapi pada saat yang sama kita meledek pribadi agama lain atau orang lain.

Kehidupan saat ini seperti paradoks, menertawai yang lain tidak dianggap sebagai penistaan. Sementara, ketika kita ditertawai barulah dianggap sebagai bagian dari penghinaan. Padahal, Gus Dur sudah mengajarkan kita untuk segera menertawai diri sendiri sebelum ditertawai orang lain. Agar ketika orang lain menertawai diri kita, maka kita sudah tidak lagi merasa sakit hati atau tersinggung.

"Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa? Makanya, Islam!"






Wallahu A'lam



Bekasi, 11 Januari 2018


Aru Elgete
(Penganut Islam Santai)
Previous Post
Next Post

0 komentar: