Membahasakan Cinta untuk persatuan - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 01 September 2016

Membahasakan Cinta untuk persatuan


Di tengah krisis yang semakin menyudutkan keterasingan, kian mengkhawatirkan keprihatinan, melemahkan ketidakberdayaan, bahkan menghanyutkan kesengsaraan pada aliran kedurjanaan yang sangat membingungkan, cinta selalu menciptakan solusi atas beragam permasalahan, serta dengan cahaya yang dipancarkan, ia mampu meretas belenggu kebimbangan. Dengan cinta, siapa pun berhak melakukan apa saja terhadap sesuatu yang dimiliki dengan berdasar pada ketentuan yang tentu ditentukan atas perasaan bahagia dan gembira. Ia datang tanpa permisi dan kompromi, juga pergi dengan tidak memberi penghormatan sebelumnya, datang dan pergi sesukanya, begitu sifat cinta. 

Karena sifatnya itu, maka jangan lantas kita menafsirkan bahwa cinta adalah hal yang buruk, cinta menjadikan manusia mabuk erotik, cinta membuat siapa pun pecandunya merasa hina sehingga lupa dan parahnya membuat luka pada diri. Barangkali penerimaan kita atas keberadaan cinta yang kurang baik, atau bahkan karena pengatasnamaan cinta yang selalu diucapkan demi kepentingan pribadi maupun golongan, sehingga membuat citra cinta menjadi buruk. Padahal cinta tak senaif itu, cinta tak sedurjana itu, cinta tak bisa seenaknya ditumpangi oleh energi-energi negatif.

Cinta tidak pernah berkenan pada kemunafikan. Ia menilai dan melihat sesuatu pada kesucian dan kesejatian nurani. Karenanya, selalu terpancar kebaikan dan gelombang kebenaran, serta akan sedikit demi sedikit melakukan tekanan pada kemunafikan dan pemunafikan sehingga frekuensi kebatilan menjadi sangat kecil dan tak lagi berdampak atau berubah menjadi keserakahan. Kebenaran adalah tujuan dari proses pengelolaan cinta. Setiap manusia, bahkan seluruh makhluk di bumi dan semesta, memiliki bingkai kebenarannya sendiri, dan kebenaran itu ada saat cinta pada nurani terproses dan terkelola. Di mana pun kaki berpijak, manusia akan menemukan peningkatan kualitas kebenaran karena cinta selalu menyertai dan berproses di sepanjang nafas kehidupan.

Menurut Mawlana Jalaluddin Rumi, cinta itu menyatukan dan mempersatukan, cinta mampu menerabas penghalang dan sekat-sekat sektarianisme, meleburkan kebencian, cinta adalah tujuan utama Tuhan demi pengorganisasian alam raya agar antara satu dengan yang lain dapat bekerja dengan baik. Menurutnya, cinta adalah sesuatu yang Tuhan ciptakan lebih dulu ketimbang Adam. Bahkan, sebelum Nur Muhammad ada. Sebab, tidak mungkin jagad ini tercipta tanpa cinta. Semuanya karena cinta.

Cinta kepada Tuhan akan memabukkan, mabuk ukhrawi. Cinta kepada manusia dan segala yang bersifat keduniaan akan memabukkan, mabuk duniawi, mabuk yang membuat lupa diri, sehingga menyebabkan luka dan nestapa. Konsekuensi dari rasa cinta kepada Tuhan dan apalagi sudah didera mabuk ukhrawi, ia akan mengkristal menjadi perasaan cinta kepada setiap benda yang Tuhan ciptakan. Pada akhirnya, setiap manusia akan mencintai cinta dengan kesungguhan hati, tidak hanya sekadar retorika dan tak sesuai janji.

Cinta tak bisa menjadi tunggangan kepentingan, ia tak bisa dipalsukan dengan perilaku sakit para koruptor, apalagi mereka yang awalnya beretorika mencintai rakyat dengan sepenuh hati, ternyata tertangkap-tangan sedang melakukan transaksi untuk menyunat anggaran proyek agar birahi terpuaskan. Setelah tertangkap-tangan, barulah kita menyadari bahwa kemarin sore ada cinta palsu yang mendatangi masjid, perkantoran, kampus, sampai di warung kopi tempat pengemudi becak bersantai sambil membaca surat kabar kelas D. Bahkan, ketika cinta itu menjadi retorika, kita menjadi terpecah, berkubu, hingga berdampak pada kebencian yang merajalela. Padahal, (katanya) cinta yang ditebar, atas dasar rakyat melarat, tapi justru merusak persatuan dan persaudaraan.

Pada hakikatnya, cinta adalah bahasa universal, bahasa pemersatu, bahasa jiwa, bahasa kesunyian untuk mencapai titik pencapaian yang sempurna. Ia tidak mungkin memecah kesatuan, tidak pula bersifat eksklusif dan memusuhi. Sebab cinta merangkul sekalipun banyak yang memukul, ia mencumbu sehingga mampu ciptakan rasa cemburu dan bisa kembali memberikan rasa nyaman dari kecemburuan itu. Cinta tak pernah memberi kesempatan untuk mencari kesalahan dan keburukan, ia selalu melihat sesuatu dari kebaikan dan keindahan. Kembali pada pengelolaan dan penerimaan yang baik, maka cinta akan terpancar menjadi cahaya kebenaran, cinta akan membentuk kerinduan, bahkan cinta akan menjadi ruang pertemuan pada waktu yang masih menjadi rahasia, serta akan memberikan warna keindahan sebagai penangkal dari berbagai keburukan yang akan menghantam, kapan pun dan di mana pun.

Ingat, bahwa cinta adalah bahasa untuk persatuan bukan sekadar retorika yang justru menimbulkan perpecahan dan permusuhan!


Wallahu A'lam...



Bekasi, 1 September 2016




Aru Elgete