DKI Jakarta membutuhkan siapa? - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 27 September 2016

DKI Jakarta membutuhkan siapa?



Politik memang asik. Membuat siapapun betah berada di dalamnya. Segalanya dinamis, sewaktu-waktu bisa berubah. Itu disebabkan bukan karena perasaan labil macam anak remaja, tetapi memang politik penuh dengan kejutan. Terkadang, kita dibuat kesal oleh pemerintah, tetapi tak jarang pula, dengan tulus kita beri mereka apresiasi. Pun tokoh senior di perpolitikan tanah air. Sekalipun sudah sepuh, rambut sudah memutih, pendengaran sudah mulai berkurang, penglihatan menjadi buyar, bahkan gigi satu-persatu tanggal, mereka tetap asik memainkan ritme politik menjadi renyah dan berbobot.

"Jujur, saya sangat berterimakasih kepada Bapak Prabowo, Ibu Megawati Soekarnoputri, dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, kalian hebat!"

Mereka-lah yang akan melahirkan pemimpin berkualitas di Ibukota. Dari mulai politisi, pakar pendidikan, birokrat, pengusaha, sampai tentara pun menjadi warna di pesta demokrasi nanti. Menariknya adalah ketika dendam para senior berbuah menjadi keasikan baru bagi peradaban di beranda Indonesia itu. Kesemuanya memiliki kemampuan dan kelebihannya masing-masing, juga kekurangan tersendiri. Paling tidak, mereka (ketika terpilih menjadi pemimpin) dapat membereskan segala persoalan dengan memulainya dari hal-hal yang sesuai passion-nya.

Namun, dari beragam wacana yang menjadi topik terhangat saat ini, hanya ada tiga poin penting yang menurut saya menarik. Pertama, mengenai pribadi Anies Baswedan yang lentur, bahkan seperti bunglon, namun laksana ikan di lautan; tidak menjadi asin hanya karena air laut asin. Kedua, soal dendam yang mesti terbalaskan, tentu dengan sebuah prestasi yang membanggakan. Ketiga, tersingkirnya pak Yusril Ihza Mahendra dari peredaran. Setidaknya ketiga itu adalah rangkuman dari beragam wacana dan perbincangan yang mengemuka di media massa.

Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, yang masih memiliki darah keturunan Yaman; kalau ia menjadi tokoh agama, kita memanggilnya dengan sebutan Habaib atau Habib, ini menarik untuk dibahas. Anies bukan orang sembarangan. Kiprahnya di dunia pendidikan tak lagi diragukan. Ia seorang konseptor. Gagasannya dianggap mampu menembus dimensi lain. Anies yang gaya bicaranya empuk dan renyah, mampu mencairkan kebekuan suasana. Sesungging senyum selalu dipancarkan ketika ia berbicara. Ia berkharisma, memiliki innerbeauty yang memancar. Begitu kata pendukungnya.

Sewaktu kuliah di UGM, Anies Baswedan adalah adik kelas dari dosen Jurnalistik saya di kampus, Iwan Samariansyah. Pak Iwan -begitu sapaan akrabnya- menjadi saksi perjalanan calon orang nomor satu di DKI itu. Beliau pernah mengospek Anies dan melihat bahwa pakar pendidikan itu adalah orang yang aktif, cerdas, cekatan, dan berpikir kritis. Setahun kemudian, Anies dipercaya menjadi ketua pelaksana ospek se-universitas. Pada semester 5, ia terpilih menjadi ketua BEM di fakultasnya.

"Di semester 5, dia aktif di kegiatan sosial. Dia pernah menulis karya ilmiah tentang petani tembakau di Jogja yang diduga melibatkan Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra), sehingga tembakau dihargai dengan sangat murah yang mengakibatkan petani kewalahan," tutur Iwan Samariansyah.

Sesaat setelah bernostalgia dengan masalalunya, Pak Iwan berharap agar Anies berani mengambil keputusan untuk maju sebagai Calon Gubernur DKI 2017-2022. Menurutnya, kemajuan sebuah kota akan dimulai dari pendidikan yang sehat dan baik. Maka, Anies adalah pilihan tepat. Tapi tentu, kemajuan itu tidak mutlak harus berawal dari pendidikan, itu hanya opsi saja. Begitu kata Dosen matakuliah Dasar-dasar Jurnalistik dan Penulisan Berita & Opini itu.

Menurut sebagian besar teman saya, Anies Baswedan adalah seorang tokoh yang mencintai pluralitas, ia menginginkan adanya pendewasaan keagamaan dan cara beragama orang Indonesia. Dirinya mengaminkan Kebhinnekaan, tidak rasis, penuh dengan kelembutan dan kedamaian, mendukung ide Pluralisme dan paham pembebasan atas agama (laa ikraha fiddiin). Dalam beragama, ia moderat, menjadi ummatan wasath dan laa syarqiyyah wa laa ghorbiyyah (tidak mendukung ekstrim kanan dan kiri). Hemat saya, ia bersahabat dengan Ustadz Sohibul Iman karena pernah mendiami 'rumah' Nurcholis Madjid, seorang cendekia milik bangsa. Keduanya (Anies-Sohibul) pernah memiliki keterkaitan dengan Universitas Paramadina.

Harapan saya, Anies mampu meredam pendukungnya. Ia bisa melumpuhkan ego pada diri fanboynya agar tidak semena-mena dalam rangka mengkampanyekan dirinya. Artinya, pendukung Anies, yang juga pendukung Prabowo pada awalnya, tidak lagi membawa atau menyinggung persoalan SARA. Satu lagi, Anies adalah penyeberang yang baik. Ia melakukan perjalanan dengan tanpa terluka. Saya yakin, itu karena kepribadiannya yang luwes, ramah, santun, dan penuh welas asih. Ia menyeberang dari kubu presiden ke kubu mantan calon presiden. Tak apa.

Adalah Prabowo Subianto yang masih punya dendam atas kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014. Megawati Soekarnoputri yang menjadi kendali atas prestasi Jokowi hingga saat ini menjadi objek pembalasan dendam bagi seorang Prabowo; pemelihara kuda yang baik. Namun yang sangat saya suka adalah caranya membalas dendam tidak dengan kejahatan atau keburukan, tetapi ditunjukkan dengan permainan politik yang ciamik. Ia menggandeng pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno untuk mengalahkan pasangan yang didukung penuh oleh Ibu Mega; Ahok-Djarot.

PDI-P yang barangkali kehabisan stock, akhirnya mempercayai Ahok sebagai calon gubernur usungannya. Kalau PDI-P memiliki kandidat lain yang kapasitas dan elektabilitasnya melebihi Ahok, mungkin itulah yang akan dicalonkan. Tapi kenyataanya? Ahok-Djarot sebagai petahana, menantang seluruh penantangnya, dengan prestasi yang gemilang, dengan pengalaman yang matang, dan tentu dengan semangat juang untuk perubahan ke depan yang lebih mapan.

Mungkin saya tidak perlu bercerita panjang-lebar soal permasalahan pelik yang dihadapi oleh Ibu Mega dan Pak SBY. Pokok permasalahannya adalah, kedua tokoh senior itu selalu bersaing dan bermusuhan, tidak pernah mengalah, serta selalu ingin terlihat menang, keduanya tak mau dipandang rakyat sebagai pecundang. Maka, mereka memperlihatkan kelihaiannya bermain politik. Pak SBY kemudian mencalonkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono bersama dengan birokrat cantik, Sylviana Murni. Kedua pasang calon yang didukung oleh SBY tentu memiliki kelebihan, yakni memecah suara agar masyarakat Jakarta tidak terpecah menjadi dua kubu. Alhamdulillah. . .

Kita tinggal menunggu hasilnya nanti. Pemimpin yang terpilih itu adalah (tentu berinisial A) seorang yang sedang dibutuhkan oleh DKI Jakarta dan masyarakatnya. Jadi, tolong jangan umbar kebencian, jangan sakiti hati pemilih lain. Seperti filosofi Jawa yang  berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; kaya tanpa didasari kebendaan. Artinya, biasa saja. Jangan takut kalah. Kalau kalah ya terima. Harus siap menang. Kalau menang ya jangan sombong. Gitu saja kok repot.

Terus, Abang Yusril bagaimana?

Yusril Ihza Mahendra yang menjabat sebagai ketua umum partai miliknya itu adalah gambaran konkret dari tim kesebelasan di Indonesia. Biasanya, orang kita itu panas di awal, dan akhirnya kalah di akhir. Ini menarik. Tapi saya tidak mau ghibah. Cukup sekian dan terimakasih.




Wallahul muwafiq




Bekasi, 27 September 2016



Aru Elgete