Pelipur lara, penawar duka... - Aru Elgete

Breaking

Sabtu, 16 Juli 2016

Pelipur lara, penawar duka...

Helmy Fz, Ammar Elt-Batawie, Aru Elgete.

Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tidak ada virus yang tidak bisa dihancurkan, tidak ada masalah yang tanpa solusi, tinggal bagaimana kita menyikapi dan berusaha untuk melawan segala keburukan dengan daya serta upaya untuk melahirkan sebuah kebaikan. Karenanya, Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan hukum kausalitas. Pun halnya, Dia menganugerahi seorang sahabat bagi sahabat lainnya sebagai perantara kebaikan dan kebahagiaan.

Sudah banyak yang kita lalui, tentu dengan beragam pelik dan liku kehidupan. Kita punya banyak perbedaan, ada banyak ketidaksesuaian, bahkan terlalu banyak hal yang justru berpotensi menimbulkan permusuhan. Namun, berkat kasih sayang yang Tuhan titipkan, kita mampu menemukan persamaan hingga lenyaplah seluruh perbedaan dan ketidaksesuaian dalam diri. Maka, kita merupakan pelipur lara dan penawar luka bagi jiwa yang sedang tidak bahagia; dari kita, oleh kita, dan untuk kita.

Tidung, salah satu pulau di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta menjadi saksi bisu dari perjalanan persahabatan kita, ia juga menjadi wadah kebersamaan untuk tetap mempertahankan ikatan persaudaraan diantara kita. Tidung mengerti bahwa ketika itu, ada diantara kita yang sedang tidak berdaya atas keadaan yang terjadi saat ini, maka ia memberikan dirinya untik dijadikan sebagai wadah penghancuran ketidakberdayaan sehingga dapat mempersatukan kita dalam erat kebahagiaan. Di sana kita mampu melupakan sejenak kepenatan yang menggandrungi hati dan pikiran.

Di Tidung, kita sama sekali tidak memikirkan apa pun, kecuali hal-hal yang membuat diri bahagia. Bahkan bukan hanya di Tidung, acapkali kita bersama di mana pun dan kapan pun, tidak pernah ada yang menjadi pengganggu dari kebersamaan kita, terkecuali soal kepayahan hidup pribadi yang pasti akan menimbulkan solusi. Sebab kebahagiaan yang tak terdefinisi diantara kita adalah bukan soal kemewahan atau pun kebahagiaan yang bersifat hedonistik, tetapi lebih kepada bagaimana menciptakan adiktif yang membuat candu, yang membuat hati dan ruh tidak pernah menginginkan perpisahan.

Di dalam lingkaran persahabatan itu, kita tidak sedang terdoktrin untuk menjadi diri orang lain. Tetapi kita sedang memahami diri agar senantiasa menjadi pribadi yang berdaulat, tidak menjadi seorang yang selalu bergantung pada kehendak dan keinginan orang lain. Kita memang saling mempengaruhi, tapi tidak sedang mengubah secara keseluruhan agar aku menjadi dirimu, karena "aku adalah diri yang berdaulat dan engkau juga berdaulat atas dirimu sendiri", melainkan saling mempengaruhi dalam kebaikan dan kebahagiaan.

Terimakasih sudah menjadi bagian dari diri yang hampa, dari kesendirian yang tak berkesudah, dari kelemahan yang sedang membutuhkan kekuatan untuk tetap berjalan pada kenyataan hidup yang dinamis, yang kadang menyakitkan dan kadang membahagiakan. Semoga perjalanan pengalaman persahabatan ini akan terus beriring dengan waktu yang tanpa henti.





Bekasi, 15 Juli 2016/10 Syawal 1437


Aru Elgete