Aku melihatmu dari senja Tidung yang sederhana - Aru Elgete

Breaking

Jumat, 15 Juli 2016

Aku melihatmu dari senja Tidung yang sederhana



 Photo by Helmy fz


Ramadhan usai, Fitri sudah kembali ditinggalkan, hanya ada harap agar hidup tidak hanya penuh dengan harapan. Semua berdoa supaya diberi kuat untuk menjalani hari baru, hari dimana kesucian dinobatkan pada manusia yang konsisten dengan keadaan, untuk mencapai derajat kemuliaan. Bagi mereka yang kembali berpulang di keterpurukan kemarin, niscaya kehancuran yang menjadi teman bermain.

Keterpurukan dan kehancuran adalah dua hal yang semoga terhindar dari diri. Keterpurukan disebabkan karena tak mampu bertindak untuk melangkah, sementara kehancuran merupakan akibat dari ketidakmampuan diri untuk berjalan pada keadaan yang (terkadang) tidak sesuai dengan keinginan hati, keduanya tersekat dan tersendat di persimpangan jalan menuju diri yang mulia.

Kesediaan untuk membuka diri dari segala hal yang tak mampu terejawantah, kiranya harus mewarnai keadaan agar kehidupan tak melulu terlihat buram, apalagi muram. Sebab hanya dengan itu, manusia dapat berhindar dari keterpurukan dan (terlebih) kehancuran. Dan aku memilih untuk membuka diri pada setiap pergantian keadaan, pada setiap ketenangan yang didapat dari redupnya cahaya, dari senja ataupun fajar.

Sore ini, aku bercerita dan bermesra dengan senja. Sungguh, hanya ia yang mampu memberi tenang, memberi kasih sayang, dan memberi kedamaian pada setiap masa yang telah menjadi kenang. Ia mampu memberi terang pada siapa saja yang tak menemui cahaya dalam diri, di ketenangan kasih sayang dan kedamaian yang terkenang. Aku mengenalnya sudah sejak lama, mengetahui bahwa dirinya mampu memberi ketenangan agar diri senantiasa bersedia untuk terbuka; yakni sejak pertama kita saling melihat tatap, berjumpa sua, bersuara dengar, dan berkasih rasa.

Sejak itu, senja kuanggap sebagai kekasih, juga sebagai tempat pencerahan bagi diri yang selalu saja gagal menemukan secercah cahaya untuk menggapai kemuliaan di kemudian hari. Perkenalanku pada senja di hadapan ombak lautan yang bergulung-gulung itu menjadi awal kebahagiaan meski kita sudah lama tak saling menatap lihat. Namun kasih rasa masih tetap ada di setiap senja, sebab fungsi keberadaan senja adalah untuk memperjelas kehadiranmu.

Pada senja terdapat kerinduan mendalam yang tak mampu terdefinisi, namun ia mampu melepas dahaga atas segala rindu yang menggebu-gebu, sebab disetiap ia berada di dekatku, selalu ada wajahmu yang membayang dan aku menikmati keberadaan bayang wajah tak nyata itu. Kita kembali dipertemukan saban senja menyapa, sebab ia adalah awal dari keberadaan kita. Aku selalu menikmatimu, menikmati kehadiranmu, menikmati segala kesempurnaan hidup, karena sungguh hidupku pasti menjadi tanpa arti jika kita sama sekali tidak pernah bertemu.

Senja yang kau perkenalkan kepadaku itu juga memberikan makna pengorbanan serta kegigihan untuk tetap bertahan atas waktu yang terus bergulir. Ia mengajarkan kesetiaan dan memberi pelajaran berharga tentang makna kerinduan yang hakiki, yang tak mudah hilang tergerus waktu. Selain itu, ia juga memberi ruang kecil yang berfungsi sebagai tempat untuk memroses diri agar bersatu, agar terus belajar hingga senja tak lagi menampakkan diri.

Saat ini, secara perlahan kemuliaanku mulai terasa, kehancuran dan keterpurukan tak berani mendekat. Itu adalah sebab kerinduan yang mendalam, serta upaya menyatukan diri denganmu, oleh senja yang menjadi perantara kita. Semoga kegigihan dan pengorbanan terhadap waktu yang bergulir seiring proses penyatuan diri tidak menjadi percuma, hingga suatu saat nanti, kita bisa menjadi satu kesatuan yang disatukan oleh dan karena senja; untuk kita.

Dan, aku melihatmu dari senja Tidung yang sederhana. Aku menikmatimu dari setiap hisapan rokok yang terselip di kedua jari; persis seperti engkau yang selalu terselip dalam doa, dalam puji-pujian, serta dalam setiap dzikir dan fikirku, bahkan selalu ada di setiap desah nafas hidupku. Kasih, aku merindumu, mencintaimu, mengasihimu, sekalipun dirimu tak membutuhkan itu. Aku menanti penyatuan diri agar kita tak saling hilang, terpencar, dan jauh dari harapan kemuliaan.


Note: Untuk kekasih yang tak butuh diberi kasih 


Pulau Tidung, 13 Juli 2016/8 Syawal 1437