Menyepi dari Korona - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 25 Maret 2020

Menyepi dari Korona


Ilustrasi. Sumber gambar: grid.id

Hari ini, di tengah hiruk-pikuk keramaian manusia membincang korona, umat Hindu merayakan dan memperingati Hari Raya Nyepi. Tahun ini, tradisi Nyepi itu tidak hanya dirasakan oleh umat Hindu, tetapi juga oleh seluruh umat manusia. Kita berbondong-bondong untuk berhindar dari keburukan, mencari ruang sepi, agar kehidupan tetap dapat berjalan. 

Sebagai pribadi, dan orang lain menyebut saya sebagai pelaku kebinekaan, saya mengucapkan: Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi 1942 tahun Saka yang bertepatan dengan 25 Maret 2020. Saya titip doa untuk kebaikan bangsa Indonesia dan juga dunia, agar kembali normal seperti sediakala, agar kehidupan dapat berjalan sebagaimana biasa. 

Selama setahun ini, mari kita sadari dan renungi, telah banyak dosa yang menyelimuti seluruh lapisan bumi. Sudah ada milyaran kesalahan, kemaksiatan, dan kebobrokan kita yang membuat bumi menjadi tidak baik-baik saja. Hari ini, sejak pagi tadi pukul 06.00 hingga besok pukul 06.00, umat Hindu berdoa seraya mengistirahatkan lelah yang sudah lama berlaku-lampah, menjelajah isi bumi dengan segudang masalah. 

Dari umat Hindu, kita belajar, tentang sebuah keberpasrahan dan kerelaan untuk menyelami diri, merenungi, serta memandang diri sendiri. Inilah yang disebut muhasabah an-nafs atau introspeksi diri. Aktivitas selama 364 hari, telah banyak yang dilewati, lebih-lebih malapetaka yang disebabkan dari kecerobohan dan kelalaian diri. Berapa banyak hal itu terjadi?

Selama 24 jam, sehari penuh, pemeluk Hindu di Indonesia melaksanakan sebuah peribadatan sekaligus permenungan suci. Itulah yang disebut: Tapa Brata Nyepi, yakni amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungaan. Demikian keterangan yang saya dapat dari berbagai literatur. 

Dalam penyepian diri itu, umat Hindu harus meniadakan api dari hidupnya, selama satu hari penuh. Tidak ada api untuk memasak atau bahkan sekadar menyalakan lilin serta tidak sama sekali menghidupkan listrik. Kalau ada ibu-ibu yang ternyata punya anak kecil atau orang yang sedang sakit, maka harus mendapat izin terlebih dulu dari pihak yang memegang otoritas untuk bisa menyalakan lilin sebagai penerang. 

Dari amati geni, kita dapat belajar, betapa kita selama ini sangat bergantung pada api dan cahaya. Dapatkah sekali saja, mengisi hari untuk tidak bertemu cahaya dan api? Di dalam gelap, di dalam kesendirian, akan dengan mudah kita berdialog dengan diri sendiri. Menghancurkan segala macam pembenaran yang mengagungkan diri sendiri. Sehingga ke depan, di kemudian hari, kita dapat lebih mudah mengendalikan ego, mengontrol hawa nafsu, dan menjadi lebih tenang dalam menyikapi segala hal. 

Selain itu, umat Hindu juga menjalankan amati karya atau tidak melakukan kegiatan atau aktivitas apa pun. Hal tersebut bertujuan agar umat Hindu benar-benar bisa fokus untuk melakukan semedi. Di sinilah, kita dapat belajar dari umat Hindu, bahwa untuk bisa berkunjung ke diri sendiri, kita mesti memberhentikan terlebih dulu segala macam kesibukan dunia. 

Jika sudah tidak ada aktivitas lain yang menganggu permenungan, kita akan sangat dengan mudah mendalami diri, mengenali diri, dan menginsyafi diri. Sehingga dengan demikian, jika kita sudah dapat menemukan diri sendiri di dalam kedalaman, kita tentu saja akan bertemu dengan Tuhan. Kata Nabi Isa, siapa yang telah mengenali diri sendiri, maka ia akan mengenali siapa Tuhannya. 

Dari permenungan itu, kita akan mengetahui seberapa jauh kita mengenali diri dan Tuhan. Bahkan lebih dalam lagi, kita akan mengetahui siapa atau apa yang selama ini kita sembah? Jangan-jangan, yang selama ini menjadi sesembahan kita adalah hawa nafsu, ego, eksistensi, dan narsisme. Sehingga kita menjadi mudah marah jika ada sesuatu hal yang tidak berkesesuaian dengan keinginan kita. Bukankah demikian? 

Lalu, umat Hindu juga menjalankan amati lelanguan. Yakni tidak bersenang-senang. Ini menjadi penting sekali. Sebab, sebagaimana para bijak bestari berungkap bahwa Tuhan akan dapat dicumbui dengan keprihatinan dan kesengsaraan. Sementara kemewahan dan kemegahan, akan sangat berpeluang besar menjauhkan diri kita dari kemahakuasaan Tuhan. 

Di dalam kesenang-senangan itu, ada sejumlah kelalaian yang siap menelanjangi kita dari kesucian. Oleh sebab itu, meninggalkan perilaku senang-senang menjadi salah satu upaya agar permenungan dapat berjalan khidmat. Sehingga, jika amati lelanguan ini dapat dijalani dengan khusyuk, kita akan melewati berbagai malapetaka yang siap mencelakai diri karena kesenangan duniawi. 

Terakhir, umat Hindu tentu saja akan menjalani amati lelungaan, yakni tidak bepergian. Secara adat, kalau ketahuan ada umat Hindu yang nekat bepergian saat sedang menjalankan ritual Tapa Brata, terutama di Bali, maka akan langsung ditangkap oleh polisi agama yang disebut: pecalang. Namun, tetap ada keringanan bagi mereka yang akan melahirkan atau mereka yang sedang sakit sehingga harus pergi berobat ke dokter. 

Di saat kondisi seperti sekarang, situasi yang memprihatinkan lantaran Covid-19 yang membuat siapa pun khawatir, kita dapat belajar dan memetik keteladanan umat Hindu. Betapa mereka sangat serius, khusyuk, dan khidmat dalam menyelami samudera diri yang tanpa batas dan tepi ini. Di luar ada banyak virus bertebaran, tetapi rupanya di dalam diri juga terdapat milyaran kotoran yang harus disucikan melalui pertapaan atau permenungan yang mendalam. 

Kita dianjurkan untuk berdiam diri di rumah. Tujuannya agar meminimalisir penyebaran virus jahat itu. Memang, korona dapat dengan mudah disembuhkan, tetapi penularannya juga sangat cepat sehingga membuat tenaga medis menjadi kewalahan. Maka, untuk bisa mengatasi persoalan ini, jawabannya adalah menyepi. 

Menyepi dalam rangka menghindari korona ini, penting sekali kita manfaatkan sebagai momentum pengenalan diri yang lebih dalam. Mari kita merenung, sudah berapa banyak dosa yang disebabkan oleh kesombongan diri yang menyebabkan ketersinggungan di hati orang lain? Sudah berapa banyak eksistensi yang ditayangkan sehingga menganggap orang lain tidak ada apa-apanya ketimbang diri sendiri --padahal tidak ada yang benar-benar eksis kecuali yang Mahaeksis, Dialah Tuhan Yang Mahatinggi--? 

Sudah berapa kali kita merasa paling baik dari orang lain karena telah menaati anjuran pemerintah dan ulama agar berdiam diri di rumah, sementara di saat yang sama kita menghardik dan mencaci orang-orang yang masih berasyik-masyuk berkegiatan di luar di rumah? 

Sekali lagi, mari kita menyepi. Merenungi. Memandang diri sendiri. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari umat Hindu, dari peringatan Nyepi tahun ini, dari perayaan Tahun Baru Saka 1942 yang bertepatan dengan tahun masehi 2020, di tengah virus korona yang kian mengkhawatirkan.

Sudah sepikah kita dari ramai-ramai kesombongan, keangkuhan, dan kejemawaan? Mari menyepi sejenak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar