Kiai Enha Bertutur (2): Islam, Dari Rahim Menuju Rahmat - Aru Elgete

Breaking

Senin, 02 Desember 2019

Kiai Enha Bertutur (2): Islam, Dari Rahim Menuju Rahmat


Foto: Kang Opi Lengket Suraden

Kumandang azan magrib, sesaat lagi akan menggema. Kiai Enha tampak masuk ke dalam rumah, bersiap untuk mengimami salat magrib di Masjid Nurul Anwar, yang berada persis di samping rumahnya, di komplek Pesantren Motivasi Indonesia, Burangkeng, Setu, Bekasi. 

Usai salat magrib, berdzikir dan berdoa serta salat bakdiyah magrib, Kiai Enha lantas berbalik badan menghadap ke jamaah yang mayoritas adalah santri. Proses pengislaman, pembacaan ikrar dua kalimat syahadat untuk Handreas, seorang nonmuslim dari Cikarang Barat, akan segera dilakukan. 

Namun sebelum itu, Kiai Enha tampak bahagia sekali. Sehingga terlebih dulu memaparkan berbagai pandangannya tentang konsep Islam yang penuh dengan kasih sayang. Di awal bicaranya, dia mengungkapkan makna silaturahmi –atau dalam bahasa arab disebut silaturrahim

"Karena Islam turun di Arab, maka banyak istilah yang menggunakan bahasa Arab. Banyak bahasa Arab yang diindonesiakan, sekaligus membuktikan bahwa di Indonesia ini memberikan dampak yang luar biasa sampai ke urusan bahasa," kata Kiai Enha, di awal penjelasannya mengenai silaturahmi.

Bahasa arab itu, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya adalah silaturrahim (yang menjadi silaturahmi, dalam bahasa Indonesia) yang sering diucapkan dalam keseharian. Silaturrahim berasal dari dua kata. Silah, artinya keterhubungan atau koneksi dan arrahim yang berarti kasih sayang.

"Jadi, silaturrahim adalah hubungan yang didasari dengan rasa kasih sayang. Sehingga setiap saat, sebenarnya kita ini sedang membangun hubungan kasih sayang," jelas Kiai Enha yang jebolan Pondok Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur ini.

Menurutnya, membangun hubungan yang didasari dengan rasa kasih sayang menjadi sesuatu hal yang sangat penting. Sebab, Islam hadir sebagai rahmat, yang juga berarti adalah kasih sayang. Sehingga hubungan yang dibangun di atas dasar kasih sayang adalah hubungan yang diperkenalkan Islam.

"Kita itu sebelum lahir, berada di dalam ruang yang bernama kantung rahim dan ketika berpulang nanti, dapat predikat bahwa kita ini berpulang ke rahmatullah: kasih sayang juga. Jadi, hidup kita ini berasal dari rahim menuju rahmat. Bisa dibayangkan, muslim itu kalau dia mengkhianati keislamannya, maka berarti dia sudah merusak pola yang sudah dibuat oleh Tuhan," kata Kiai Enha. 

Dikatakan, manusia adalah alumni kantung rahim. Maka kalau hidupnya tidak membawa kerahmatan, kedamaian, dan kasih-sayang, itu berarti telah mengkhianati Tuhan. Pertanyaannya kemudian, kenapa Islam berarti kedamaian? 

Jawabannya tak lain lantaran hidup seorang muslim, sejak lahir hingga meninggal, membawa misi. Yakni misi kerahmatan atau kasih-sayang yang telah ada, sejak berada di dalam kantung rahim hingga nanti pulang ke rahmatullah

Kalau ada seorang muslim yang dalam hidupnya, kerap mengkhianati misi kerahmatan, hidupnya akan dipenuhi oleh ketegangan dan penuh dengan kemarahan. Sehingga yang dibawa adalah rasa berbeda dengan orang lain, dan orang yang berbeda itu, harus dihabisi. 

"Jadi kita tidak boleh mengkhianati misi yang telah dititipkan Allah itu," pesan Kiai Enha.

Larangan Menghakimi Jenazah

Tak hanya itu, Kiai Enha juga menitipkan pesan bahwa orang-orang yang sudah berpulang ke rahmatullah sekalipun, jangan dikhianati. Artinya, kalau ada seseorang yang selama hidupnya bergelimang kemaksiatan, maka jangan dihakimi bahwa orang tersebut (saat meninggal dunia) tidak berpulang ke rahmatullah. Atau dalam kalimat lain, kematiannya itu tidak mendapat rahmat Allah.

Kalau ada bandar narkoba yang meninggal dunia, misalnya, harus dipersaksikan juga bahwa dia adalah orang baik. Jangan sampai dihakimi, karena kematiannya itu membawa dirinya untuk tidak lagi berurusan dengan narkoba. Itu berarti, kematian telah menghentikannya dari kejahatan dan kemaksiatan.

Secara sangat terperinci, Kiai Enha menjelaskan, "Itulah mengapa istilah berpulang ke rahmatullah adalah doa. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, termasuk menghakimi jenazah yang sudah meninggal dunia. Selain itu, kematiannya juga pasti membawa dampak baik kepada lingkungan masyarakat karena telah berkurang satu kemaksiatan. Isyhad (persaksian) itu bukan dalam arti kita menyaksikan kejahatannya, tapi didoakan agar dia menjadi orang baik, dan kebaikannya memberi dampak untuk masyarakat setelah dia tidak ada."

Walaupun kemudian, setelah kematian itu, si bandar narkoba punya tanggungan personal di akhirat kepada Allah karena dosa-dosanya selama di dunia, biarlah menjadi urusan pribadinya kepada Allah, bukan menjadi urusan manusia yang masih hidup. Urusan bagi orang-orang yang masih diberikan hidup adalah mendoakan.

Demikianlah Islam, yang membungkus kehidupan dari rahim menuju rahmat. Maka, Islam itu adalah rahmatan lil alamin yang bermakna bahwa keberadaan Islam harus mampu merahmati semua alam. Kerahmatan di dalam Islam bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi untuk seluruh penghuni semesta.

Ajaran Inti Agama-agama

Itulah yang kemudian menjadi bagian penting di dalam ajaran Islam. Bahwa kerahmatan ini adalah dasar dari pelaksanaan misi yang dibuat oleh Tuhan bernama kasih-sayang. Allah meletakkan kerahmatan itu sejak awal. Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui serangkaian peristiwa yang terhubung dari waktu ke waktu. Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Nabi Ibrahim pernah mengatakan, “Ana awwalul muslimin.” Aku adalah orang muslim yang pertama. Padahal secara formal, Islam belum ada di zaman Nabi Ibrahim. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa ajaran-ajaran Islam, tidak ada yang berbeda dari agama-agama yang dibawa para nabi sebelumnya. Syariatnya berbeda, tapi poin inti dari ajaran agama tidak ada yang berbeda sama sekali.

Poin inti itu adalah ketundukan kepada Allah. Kalimat sami’na wa atho’na, yang terdapat di dalam Al-Quran, harus betul-betul diimplementasikan. Namun ironinya, saat ini ada banyak muslim yang mengucapkan kalimat itu, tetapi hanya sebatas ucapan di bibir saja. Sehingga menjadi sami’na wa ashoyna.

Sami’na wa atho’na berarti mengenali kerahmatan yang telah Allah turunkan, sehingga ketika salat atau beribadah, seseorang menjadi sangat mudah, tidak berat dan tanpa beban apa pun. Pondasinya adalah dua kalimat syahadat. Sebuah kalimat kebersaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Maka sesungguhnya kalimat tauhid, menurut Kiai Enha, menjadi motor penggerak untuk seluruh keislaman yang ada. Kalimat tauhid menjadi penting, karena merupakan kalimat yang menggerakkan berbagai laku kehambaan diri kepada Allah, dan sekaligus implementasinya kepada sesama. 

"Kalimat tauhid ada, tapi benderanya tidak ada. Karena kalimat ini tidak pernah dibenderakan oleh Rasulullah. Zaman nabi itu memang ada panji-panji, tapi biasanya untuk berperang dan pembebasan kota baru, tapi tidak tertulis seperti yang saat ini sedang marak," kata Kiai Enha.


Setelah panjang-lebar menjelaskan tentang Islam yang membawa misi kerahmatan, kedamaian, dan kasih sayang, prosesi pengislaman untuk Handreas pun dilangsungkan. Karena Kiai Enha seperti ingin menitipkan ruh keislaman yang penuh kasih-sayang itu, maka Handreas diberi tambahan nama baru.

Nama itu adalah Abdurrahman, artinya hamba yang diliputi rasa kasih sayang. Selain itu, Kiai Enha juga sebenarnya terinspirasi oleh tokoh atau ulama NU, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang sepanjang hidupnya selalu menebarkan dan mengampanyekan Islam yang ramah dan rahmatan lil 'alamin.

Abdurrahman Handreas, begitu nama barunya. Semoga kasih-sayang selalu meliputi dirinya: kasih-sayang dari Allah, juga kasih sayang dari sesama manusia, serta kasih sayang dirinya untuk Allah dan hamba-Nya. Demikianlah Islam, yang selalu mengajarkan tentang kedamaian dan kasih-sayang.

Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar