Rabu, 25 Desember 2019

Surat Cinta untuk Gus Dur


Sumber gambar: viva.co.id

Gus Durku, bagaimana kabarmu? Tak terasa sudah satu dekade kita tak jumpa. Orang-orang di sini berkali-kali meneriakkan kata rindu, menuliskan kalimat sepi, tetapi juga seraya melangitkan doa. Doa-doa itu, bukan hanya sekadar permintaan agar kau senantiasa damai bersama Dzat yang Mahaagung. Tetapi doa-doa itu dilangitkan, agar spirit dan ruh perjuanganmu senantiasa membumi.

Gus Durku, sedang apa kau di sana? Kuharap, dan kita semua di sini berharap, engkau bahagia, tertawa cekikikan dan melucu di hadapan para malaikat seperti yang sering kau lakukan, dulu, kepada kami. Ya, humormu itu selalu segar untuk dibawakan di sepanjang zaman, mungkin saja para jin dan malaikat di sana juga terhibur karena humor-humormu itu. Jangan lupa juga, sering-sering sampaikanlah kepada mereka itu kalimat andalanmu yang sakti: "Gitu saja kok repot".

Gus Durku, kini kami yang ada di bumi selalu dibuat repot. Sejak kepulanganmu ke negeri akhirat sepuluh tahun lalu, kalimat "Gitu saja kok repot" itu, justru repot sekali dilakukan. Tapi kami tahu maksudmu, dan kami akan selalu belajar memahami itu.

Kalimat saktimu itu adalah pemaknaan dari doa: Allahumma yassiru wa laa tuassiru, Ya Allah mudahkan dan jangan disulitkan. Selain itu juga bermakna sama seperti kalimat simplex veri sigillum atau simplicity is the sign of truth, bahwa kesederhanaan itu sangat dekat dengan kebenaran. Laku-lampahmu selama hidup menjadi gambaran betapa kebenaran itu sebenarnya simpel, mudah, sederhana, tetapi justru kami yang kerapkali mempersulit.

Gus Durku, anak-anak dan keluargamu di bumi selalu rindu kepadamu. Namun, saat rindu itu datang, yang dilakukan oleh anak-anak dan keluargamu bukan justru merenung yang menjadikannya justru tidak produktif, tetapi terus-menerus melakukan kerja-kerja kemanusiaan yang dulu telah kau teladankan. 

Maksudku, anak-anakmu itu bukan Alissa, Yenny, Anita, dan Inaya. Ya, mereka anak-anak biologismu. Tetapi anak-anakmu yang kumaksud itu adalah anak-anak bangsa yang dalam semangat hidupnya tersisip nilai-nilai yang telah kau tanamkan sejak dulu. Anak-anak itu yang kini tergabung dalam sebuah jaringan komunitas bernama GUSDURian. Sebuah komunitas yang lahir demi untuk melestarikan nilai-nilai utama perjuanganmu, mereka meramunya ke dalam 9 nilai utama. 

Juga yang kumaksud keluargamu adalah mereka yang menjadi fokus utama dari penyebaran nilai-nilai yang telah kau teladankan itu. Keluargamu adalah umat Islam yang senantiasa menyebar salam, kedamaian, dan keselamatan. Keluargamu adalah seluruh warga negara Indonesia yang tidak main-main dengan Pancasila dan konstitusi negara. Keluargamu adalah seluruh umat manusia di muka bumi. Ya, kami semua adalah keluargamu yang selalu rindu dan menjadikan doa sebagai pertemuan spiritual kita. 

Gus Durku, apakah kau juga rindu dengan kami di sini?
Previous Post
Next Post

0 komentar: