Sebuah Refleksi Diri di Pengujung 2019 - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 31 Desember 2019

Sebuah Refleksi Diri di Pengujung 2019


Sumber: jmf.com

Tahun segera berganti. Orang-orang saling sibuk mempersiapkan diri. Bersiap merayakan pergantian tahun dengan berbagai cara, juga bersiap-siaga menghadapi hari-hari baru di tahun berikutnya. Terlepas dari berisiknya sebagian kaum beragama mengenai hukum merayakan malam pergantian tahun, saya ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan diri. 

Tahun 2019 adalah jalan panjang yang sangat melelahkan. Kita sempat bersitegang, saling sikut lawan, menghakimi yang lain, menolak berbeda, dan mengancam atau mengiming-imingi. Semua dilakukan dengan kucuran keringat yang tak sedikit, dengan fisik yang sangat melelahkan, dan bahkan dengan emosi yang meletup-letup. Persaudaraan yang semula rekat menjadi retak karena lidah-lidah yang saling berdalih untuk membela dan membelot. 

Tahun 2019 adalah labirin penghakiman tiada henti. Kita diadu-domba oleh pihak-pihak yang menginginkan keterpecahan berlangsung di Bumi Pertiwi dan celakanya kita menikmati itu. Kita menikmati permusuhan yang dibumbui oleh nada-nada kebencian. Kita menikmati perselisihan yang sengaja diselisihkan oleh sebagian oknum yang menghendaki perselisihan. Kita saling bersitegang, tak saling tegur, dan bahkan memutus silaturahmi hanya karena berbeda. 

Tahun 2019 merupakan koridor gelap yang sudah seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi hidup dan kehidupan kita sebagai manusia. Kita dibuat seolah saling tak kenal, padahal semula adalah saudara yang sangat memiliki ikatan yang kuat. Kita menjadi tercerai lantaran wawasan kita yang masih seujung kuku. Kita menjadi musuh yang saling mencederai. Budaya ketimuran yang ramah, toleran, dan penuh penghormatan kepada orang lain menjadi hancur-lebur karena ketidakmengertian kita tentang sesuatu bernama politik.

Tahun 2019 adalah masa lalu yang harus ditutup rapat-rapat, yang boleh saja dibuka kalau di depan nanti ada peristiwa serupa yang sengaja ingin dibuat oleh kelompok yang menghendaki perpecahan. Masa lalu harus dijadikan spionase diri untuk mengubah diri, memperindah laku, dan memperluas cakrawala pemikiran agar tidak terjerembab pada lubang yang sama. Masa lalu menjadi pembelajaran penting supaya kita tak lagi masuk ke dalam kubang-kabung yang membawa luka-duka pada persahabatan yang telah terjalin.

Sepanjang tahun 2019, kita dihadap-hadapkan dengan pertengkaran yang seolah-olah kehidupan di dunia adalah segalanya. Kita dipertontonkan dengan kejadian-kejadian yang diperankan oleh kita sendiri yang selalu bicara tentang kehidupan kekal di akhirat, tetapi pada kenyataannya kita takut kehilangan segala sesuatu yang bersifat kebendaan. Kita diperlihatkan secara gamblang, wajah-wajah penuh kebencian yang menempati ruang-ruang media massa. Kita merasa terancam, jika berada dalam lingkaran yang berbeda.

Kawanku, pergantian tahun ini mari kita jadikan sebagai momentum penginsyafan diri. Mari tanyakan kepada diri, sudah melakukan hal baik apa sepanjang tahun? Segala yang baik, mari kita lanjutkan dengan penambahan nilai-nilai kebaikan itu. Namun semua yang kurang baik, hendaknya juga ditambal dengan perbuatan kebaikan di masa mendatang. Kita mengenal ungkapan pepatah, 'Tak ada gading yang tak retak'. Bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. 

Sudahkah memaafkan dan berdamai dengan sendiri, sehingga mampu memberi maaf atau bahkan meminta maaf kepada orang-orang yang selama ini--mungkin saja--tersakiti oleh perbuatan-perbuatan kita? Sudahkah kita mendoakan orang-orang terdekat kita agar terhindar dari segala macam kebahayaan yang sewaktu-waktu menghampiri? Sudahkah kita menjadi pelita bagi kegelapan hidup dan kehidupan? Sudahkah kita menjadi cahaya bagi keputus-asaan yang sempat hinggap di dalam diri?

Sudahkah kita bersyukur dengan tanpa melihat orang lain yang hidup lebih payah dari kita sebagai objek kebersyukuran diri? Sudahkah kita memberikan apresiasi atas kinerja diri yang selama ini telah dilakukan? Sudahkah kita mengungkapkan kebahagiaan terhadap pemberian orang lain, walau secara nominal tidak seberapa, tapi memiliki nilai yang sangat berharga? Sudahkah dan seberapa banyak kita bersedekah, walau hanya sesungging senyum dari bibir yang melebar ke kiri dan kanan?

Sudahkah kita tak merasa lebih besar dari yang lebih akbar, yang menciptakan hidup dan kehidupan kita di dunia? Sudahkah kita membela kehidupan demi kemanusiaan? Sudahkah kita membela kemanusiaan sebagai wujud penghambaan kepada yang berkuasa atas manusia? Sudahkah kita berkontribusi dalam mewujudkan peradaban yang rukun, sekalipun hanya dalam lingkaran paling kecil? Sudahkah kita melakukan upaya pencegahan dan bahkan penanggulangan atas segala hal yang mencederai nilai kemanusiaan?

Sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, lalu berniat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari kini? Sudahkah? Kalau belum, segera dipersiapkan. Kalau sudah, segera ditingkatkan. Mari sama-sama kita songsong tahun 2020 dengan kegemilangan, dengan terang-benderang, dan dengan kemeriahan suka-cita yang membahagiakan kehidupan semesta. 

Sudahkah dipersiapkan?

1 komentar: