Kamis, 28 Februari 2019

Karomah Mbah Hasyim di Munas NU 2019


Muhammad Ammar di Munas-Konbes NU 2019

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Jakarta Pusat, Muhammad Ammar, punya kisah menarik dalam perjalanannya menuju Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, untuk menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2019.

"Awalnya sama sekali gak kepikiran bakal hadir di Munas NU. Kemudian malam Rabu, saya diajak teman untuk berangkat Rabu pagi," katanya, di sebuah warung kopi komplek Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, pada Rabu (27/2) malam.

Ia berangkat menggunakan kereta api dari Jakarta dan tiba di stasiun Banjar pada sore hari. Karena satu dan lain hal, Ammar memilih untuk berjalan kaki dari stasiun ke lokasi Munas-Konbes NU.

"Saya jalan kaki dan tahu kalau Pesantren Citangkolo itu jaraknya memang jauh, tapi ya berharap juga ada tumpangan gratis," kata Ammar seraya menahan tawa.

Sekira hampir seratus meter berjalan, ia kemudian bertawasul, mengirimkan surat Al-Fatihah untuk para pendiri NU, khususnya Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

"Dua kali saya juga sempat memberhentikan truk untuk menumpang sampai ke lokasi acara. Pertama tidak mau, dan mobil kedua ternyata ada sapi," jelasnya, disusul tawa pecah terbahak-bahak.

Namun, ia melanjutkan berkisah, tak lama setelah membaca surat Al-Fatihah untuk para pendiri NU, ada seorang polisi yang berjaga di simpang jalan dan menegur.

Ammar lantas memberanikan diri untuk bertanya, memastikan arah yang sedang dituju.

"Mau kemana, mas?"

"Ke Munas NU, pak. Masih jauh ya?"

"Wah jauh banget. Tadi ada teman saya yang barusan saja berangkat ke sana. Kalau tahu begini, bareng saja sama teman saya itu."

Usai berdialog, Ammar bersama teman-temannya diajak menunggu terlebih dulu di pos. Menanti berbagai kemungkinan terbaik, yakni ada tumpangan gratis ke lokasi Munas NU.

Tak lama kemudian, ada mobil yang diberhentikan polisi dan ditanya tujuan hendak ke mana. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata pengendara mobil itu memang ada keperluan ke acara Munas NU. Di dalamnya hanya ada dua orang.

"Alhamdulillah dengan sangat ramah, yang punya mobil itu tidak keberatan untuk ditumpangi, dan akhirnya ada barengan juga ke sana. Barangkali ini karomah dari Mbah Hasyim," katanya, meyakinkan.

Merasa sedang menumpang, Ammar tidak enak hati saat sang supir bertegur sapa dengan salah seorang temannya untuk segera berhenti.

Namun supir itu menolak karena harus mengantarkan Ammar dan teman-temannya hingga tiba di lokasi tujuan.

"Ya sudah, Mas, kami turun di sini saja. Gak masalah cuma jalan sebentar aja kok," kata Ammar mengulang ucapannya yang semula ditujukan kepada pemilik kendaraan itu.

Ia pun turun di pinggir jalan yang tak jauh dari SMK Al-Azhar seraya berkali-kali menghaturkan terima kasih, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Ammar sangat bersyukur. Bahkan mensyukuri bahwa ada ulama yang sama sekali belum pernah bertatap muka tapi memancarkan energi positif bernama karomah untuknya.

"Sebagai warga NU, saya percaya karomah beliau (Mbah Hasyim) itu masih sangat terasa," pungkasnya dengan raut wajah serius dan kemudian menyeruput kopi yang ada di hadapan.
Previous Post
Next Post