Rabu, 28 Desember 2016

JANGAN KRITIK PETUNJUK KAMI!




Di tepi sungai yang menjadi sumber perairan semata wayang, terdapat deretan rumah yang manusianya tak saling kenal satu sama lain. Sibuk. Orang-orang di sana lebih mengedepankan ego dan kepentingan masing-masing.

Prinsipnya, tak boleh saling ganggu. Karena memang kesempatan untuk menganggu pun lenyap dilahap waktu. Mereka tak membutuhkan siapa-siapa. Jangankan agama, Tuhan pun mereka tak butuh.

Dan suatu ketika, mereka sendiri yang lebur termakan gelap. Sedikit pun pelita tiada. Hanya sisa satu lilin harapan yang, jika mati, musnah sudah peradaban.

Lalu, kehidupan sudah tiada. Sepi. Tak ada lagi hiruk-pikuk kesibukan duniawi yang mereka cipta. Ingar-bingar kebahagiaan tanpa sesiapa tak lagi menjadi teman, yang semula dianggap, abadi.

Tak butuh waktu lama; Tuhan menurunkan kuasa. Kehidupan berganti. Di tepian sungai itu, kini hidup beragam makhluk. Dari manusia hingga sesuatu yang sengaja tak Tuhan tampakkan.

Semua menjadi indah rupa. Saling bicara dan tegur sapa. Berbagi canda, menimbun nestapa. Kala sedih bersama, saat suka semuanya bergembira. Tenteram, nyaman, dan aman; barangkali itu yang dirasa.

Tuhan tak tinggal diam. Dia beri petunjuk kepada masing-masing makhluk, agar hidupnya tak sama dengan kehidupan yang sebelumnya. Tiap-tiap yang bernafas, menyebut nama-Nya berulang-ulang; pagi hingga malam, dan sampai pagi lagi.

Namun dalam mencapai titik pertemuan dengan Tuhan, dilakukannya dengan cara yang berbeda. Sesuai dengan petunjuk yang didapat. Rupanya, Tuhan memang sengaja memberikan petunjuk yang beragam.

Mereka, satu sama lain, menjadi heran melihat keragaman itu. Karena merasa benar, mereka saling mendebat. Berdasarkan petunjuk yang didapat, yang juga berbeda, tetapi memiliki kesamaan makna; menuju titik satu; Tuhan.

Klaim kebenaran dan tudingan kesalahan mencuat sepanjang masa. Sementara Tuhan berasyik-masyuk menyaksikan perseteruan itu. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan menyunggingkan senyum di bibir pinggir sebelah kiri atas, layaknya seorang dewasa yang melihat perkelahian anak-anak usia 5 tahun.

Petunjuk yang Tuhan beri sebagai penunjang moral dan keluhuran budi itu, kini menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan musuh. Siapa pun yang berbeda adalah musuh dan harus segera dimusnahkan.

Mereka lupa, bahwa hidupnya berawal dari ketiadaan. Kemudian menjadi ada dan mereka sendiri yang justru berniat meniadakannya kembali. Seperti tak menyadari bahwa perbuatan itu justru mencederai perasaan Tuhan.

Di salah satu pohon rindang, mereka pasang spanduk berukuran jumbo bertuliskan, "JANGAN KRITIK PETUNJUK KAMI! KARENA PETUNJUK INI DATANGNYA LANGSUNG DARI LANGIT!"

Mereka menggunakan strategi bertahan, yang seolah-olah teraniaya. Sementara menganiaya adalah makanan sehari-hari. Segala argumentasi yang tak ada di petunjuk itu, dianggap salah. Padahal di petunjuk yang lainnya, terdapat argumentasi yang bersifat menguatkan.

Pada akhirnya, petunjuk itu melembaga. Mengorganisasi. Mereka berkelompok. Saling baca petunjuk, mengingatkan, kalau sudah tepat, serang! Petunjuk yang Tuhan beri menjadi alat untuk melumpuhkan yang lain.

Mereka, berangkat dari kelompok yang memiliki kesamaan latar belakang; berteriak saat diserang. Menjadi riuh, gaduh, dan ricuh. Seakan di tiap sudut mata angin, harus mendengar keluh-kesahnya itu.

Tetapi menjadi sunyi, saat salah satu dari mereka ada yang melakukan kesalahan. Menyerang dan melukai musuh; yang mendapat petunjuk berbeda dari Tuhan. Bahkan, mereka kembali merancang strategi untuk dapat berteriak; mencari pembenaran kolektif, agar kembali mendapat kemenangan.

Akhirnya mereka bersepakat, menjunjung tinggi nilai kebenaran yang berdasarkan petunjuk pemberian Tuhan itu adalah harga mati. Dari situ, menjadi bebaslah untuk memberi kritik dan bahkan celaan bagi petunjuk yang lain. 

Mengkritik petunjuk lain dengan berdasar petunjuk sendiri ialah hal wajar. Tetapi saat petunjuknya dikritik dengan berdasarkan pada petunjuk yang lain, itu adalah sebuah kesalahan.

Kesepakatan yang lain adalah, saat merasa diserang, teriak sekencang-kencangnya. Tetapi kalau ada salah satu dari mereka yang menyerang, harus dibela. Kalau tidak bisa membela, lebih baik diam.

Kelak hingga Tuhan kembali memusnahkan kehidupan, spanduk besar itu tetap eksis di pohon rindang pinggir sungai, "JANGAN KRITIK PETUNJUK KAMI! KARENA PETUNJUK INI DATANGNYA LANGSUNG DARI LANGIT!"

Jangan lupa pula, saat melakukan kesalahan dan tersiar kabar yang menyudutkan, katakan bahwa itu adalah pengalihan isu semata. Jangan cemas, Tuhan selalu bersama.

Hingga suatu ketika, ada seorang yang melangitkan doa, berharap agar kehidupannya menjadi sibuk; tak butuh siapa dan apa; juga Tuhan dan petunjuk-Nya.

Ia menginginkan kehidupan yang dijalani, persis seperti kehidupan sebelumnya. Sibuk. Tak punya kesempatan untuk menganggu satu sama lain. Hanya itu.



Sekian...



Bekasi Utara, 28 Desember 2016



Aru Elgete

Selasa, 27 Desember 2016

HABIB RIZIEQ (TIDAK) MENISTA AGAMA?


Sumber: megapolitan.kompas.com

Perayaan Maulid Nabi Muhammad dalam Islam, dan Hari Raya Natal Yesus Kristus bagi umat Kristiani, sangat berdekatan. Hal ini, bisa berpotensi menjadi alasan penguat Kebhinnekaan, dan pula sebaliknya.


Sabtu (24/12) malam, di Jl Arabika 8 No 3 Perumnas Pondok Kopi Jakarta Timur, Habib Rizieq bersama Front Pembela Islam (mungkin juga bersama GNPF-MUI), mengelar acara tabligh akbar dalam rangka memperingati Maulid Kanjeng Nabi Saw.

Dalam ceramahnya itu, dia menyinggung berbagai isu yang sensitif. Pertama, kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang hingga kini belum menemui titik final.

Kedua, fatwa MUI yang mengharamkan ucapan Selamat Natal kepada Umat Kristiani. Ketiga, (masih) fatwa MUI yang melarang pemilik toko atau perusahaan memaksa pekerjanya untuk memakai atribut natal.

Keempat, soal kontroversi kelahiran Yesus Kristus atau Isa Al-Masih (keduanya hanya berbeda bahasa, kalau saya keliru tolong diluruskan).

Ceramahnya itu menjadi viral di media sosial setelah salah seorang jamaahnya mengunggah video berdurasi kurang-lebih 21 detik di akun Instagramnya.

Menjadi lebih seru saat Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI) melaporkan Habib Rizieq ke pihak yang berwajib untuk diproses hukum.

Dari beragam isu yang berkembang, pelaporan tersebut dianggap sebagai ajang balas dendam atas kasus sebelumnya (yang dilakukan Cagub DKI Jakarta nomor urut 2).

Namun, Ketua Umum PP-PMKRI, Angelo Wake Kako menyatakan, dirinya sama sekali tidak berafiliasi dengan partai atau kegiatan politik mana pun. Hal itu, murni karena merasa tersinggung atas ucapan Habib Rizieq dalam ceramahnya.

Banyak yang beranggapan bahwa Habib Rizieq tidak sedang menista agama Kristen. Mengingat dia adalah orang yang keilmuannya tidak bisa diragukan lagi. Seorang yang diyakini berada di garis keturunan Nabi Muhammad Saw.

Tanggapan Saya



Demi merawat Kebhinnekaan dan menjaga keutuhan NKRI, saya perlu menanggapi hal ini. Saya tidak akan tinggal diam seperti bersembunyi di balik tembok besar, yang sesaat lagi akan rubuh menimpa keharmonisan kita semua.

Perlu diingat, tanggapan saya ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan Habib Rizieq apalagi agama Islam. Saya tidak lebih pintar atau lebih alim darinya. 

Tulisan ini adalah bagian dari keresahan yang harus ditumpahkan. Sebagai awam yang jauh dari keilmuan, sekali lagi, saya tidak bermaksud mencaci atau menghina Habib kebanggaan Umat Islam itu.

Pertama, mengenai tataruang dan tatabudaya. Kedua hal itu yang terlebih dahulu ingin saya bahas. Karena kita takkan pernah lepas dari keadaan ruang dan kebudayaan yang melingkupi kehidupan.

Saya sedikit ingin bercerita.

Saat saya sedang menjadi santri di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Darul Maghfiroh, Cilincing, Semper Barat, Jakarta Utara, pernah suatu ketika remaja masjid setempat mengadakan Tabligh Akbar.

Seperti biasa, mikrofon yang digunakan corongnya diarahkan ke luar sehingga satu perumahan pasti mendengar suara penceramah. Warga di sana pun beragam, tidak semuanya beragama Islam.

Ketika sedang membicarakan sesuatu yang dianggap sensitif dan khawatir menyinggung perasaan warga yang tidak beragama Islam, penceramah pun bersikap cerdas. Dia berbicara tanpa menggunakan pengeras suara.

Dengan begitu, yang dapat mendengar ceramahnya hanya orang-orang yang berada di sekitar Masjid Darul Maghfiroh saja. Sementara warga di luar, yang bukan beragama Islam tidak bisa mendengar isi ceramah itu.

Kandungan ceramahnya ketika itu, persis seperti yang diutarakan Habib Rizieq beberapa hari yang lalu. Mengenai larangan mengucapkan selamat dan merayakan natal bagi seorang Muslim, serta Lam Yalid Wa Lam Yulad dan Yesus Kristus yang dianggap sebagai Anak Tuhan.

Dari perspektif atau sudut pandang Islam, pendapat Habib Rizieq dan penceramah itu (saya lupa namanya) soal larangan dan Anak Tuhan itu tidak bisa disalahkan. Karena pasti memiliki referensi yang dijadikan landasan untuk menyampaikan pendapatnya.

Tetapi, dalam penyampaiannya perlulah menyesuaikan diri dengan tataruang dan tatabudaya yang ada.

Budaya kita masih mengedepankan ketokohan. Ketika seorang yang ditokohkan menyatakan A sebagai kebenaran, otomatis B dan C tidak benar. 

Maka, sebagai komunikator yang baik, menurut saya, perlu membaca situasi dan kondisi (tataruang) agar pesan dapat tersampaikan tanpa gangguan apa pun.

Saya melihat, Habib Rizieq kurang menempatkan diri pada ruang yang pas, sehingga menimbulkan efek yang juga kurang pas.

Maksud saya, kalau saja dia berceramah di Masjid dengan tanpa pengeras suara dan tidak direkam dalam bentuk audio-visual, jalan ceritanya tentu akan berbeda.

Kedua, kita sedikit kembali ke permasalahan Ahok yang dilaporkan atas kasus penistaan agama.

Jujur, saya pun kecewa dan tersinggung. Dia adalah tokoh yang saya dambakan agar dapat memberikan signifikansi perubahan bagi Ibukota.

Dengan tanpa melihat tataruang dan tatabudaya, dia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. Sehingga menimbulkan reaksi yang luar biasa dari Umat Islam.

Saya tidak sedang membandingkan atau bahkan menyandingkan Ahok dan Habib Rizieq. Karena keduanya memang tak saling banding dan juga tak saling sanding. Tapi, menurut saya, kedua tokoh itu memiliki titik gravitasi yang sama.

Ahok dan Habib Rizieq saat menyatakan satu kalimat, seluruh pendengar atau komunikannya tertawa terbahak-bahak. 

Hal itu menyiratkan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang telah disepakati bersama.

Atau, kebenaran merupakan apa-apa yang keluar dari mulut komunikator yang notabene adalah seorang yang ditokohkan.

Saat Ahok menyatakan, "Jangan mau dibohongi pakai surat Al-Maidah," sontak semuanya tertawa.

Begitu pun saat Habib Rizieq mengatakan, "Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?" seluruh jamaah, seketika itu bergembira.

Padahal, kalimat yang mengundang tawa itu justru melahirkan ketersinggungan yang membutuhkan pertanggungjawaban.

Ketiga, saya bukan pembela Ahok dan Habib Rizieq. Dan bukan pula penggemar keduanya. Kalau terpaksa harus membela, saya membela sekadarnya. Jika terpaksa harus menggemari mereka berdua, saya tidak melakukannya secara berlebihan.

Sejak kecil, saya diajarkan ibu agar tidak berlebihan dalam membenci dan mencintai seseorang. Dengan begitu, kata ibu, terdapat sedikit ruang untuk mengkritik dan memberi apresiasi.

Saya menyesalkan statement Ahok dan Habib Rizieq itu. Sekalipun keduanya menganggap bahwa kalimat yang diucapkan itu adalah sebuah kebenaran, menjadi sangat disayangkan ketika diungkapkan di ruang publik dan di dalam ruang kebudayaan yang saya jelaskan di atas.

Bagi siapa pun yang saat ini sedang menjadi seorang yang ditokohkan, saya harap, agar mampu menempatkan diri dalam berkomunikasi. Selain itu juga bisa memposisikan diri di ruang dan kebudayaan yang pas, agar pesan tersampaikan dengan baik, serta melahirkan efek yang tidak buruk.

Jadi, benarkah Habib Rizieq (tidak) menista agama? Kita lihat proses hukum.

Sebagai penutup, saya akan meninggalkan kutipan dari Gus Dur dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Salah dua orang tokoh yang paling saya rindukan.

Gus Dur pernah berkata: "Kalau tidak ingin dibatasi, maka jangan membatasi. Kita sendirilah yang harus tahu batasannya masing-masing."

"Al-Muslimu man salima al-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi," dawuh Kanjeng Nabi.

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
(Maha benar Allah atas segala firman-Nya)

Satu lagi, ada kutipan yang saya dapat dari Instagram @NUGarisLucu, "Lebih baik mencari persamaan daripada sulit merawat perbedaan."




Wallahu A'lam




Bekasi Utara, 27 Desember 2016



Aru Elgete

Senin, 19 Desember 2016

ENDONESA: Negeri Peracau



Aku pernah bermimpi
tentang sebuah negeri
yang Toto Tentrem Kerto Raharjo
Gemah Ripah Loh Jinawi,
di setiap sisi
kanan dan kiri
semuanya bersatu
tak saling iri
membenci dan dengki

Di setiap kotanya
orang-orang tak pernah membeli durjana
sebab bangsanya sudah saling percaya
tanpa menaruh sepeser curiga
umpatan dan hinaan
kata mereka, untuk apa?

Kiranya itu warisan berharga dari leluhur
dari para tetua yang sudah menjadi ruh
bersanding dengan kuasa
berpeluk dengan perkasa
juga bermesra dengan cinta



Namun lucunya,
kini datang segerombol manusia
alih-alih membela bangsa
malah seperti membawa petaka

Mereka datang dari luar
punya alibi membantu negara
untuk kepentingan siapa?
aneh



Mimpi itu membuyar
saat kelucuan-kelucuan mulai tampak
Hahahahahaha
ENDONESA
di tubuhmu ada permata
terbalut intan dan berlian
tapi,
sejak globalisasi ditambah reformasi
pemikiran impor mulai menjarah dan menjajah
kau tergerogoti oleh bangsa sendiri

Hahahahahaha
ENDONESA
maafkanku, kini
aku hanya bisa mendoa
agar tubuhmu tetap terjaga
tetap suci
tetap tak terkotori
oleh segala macam barang impor

Jangan sampai kita mengaduh
sebab sembako melulu impor
tapi justru pemikiran dan organisasi tak lahir dari rahim ibu sendiri

Jadi, siapa asing dan aseng itu?
asing...
aseng...
Asong?

Hahahahaha
Dasar ENDONESA
ada-ada saja
memang ada saja
yang kerjanya pura-pura galau
supaya bisa mengigau
dan bikin kacau-balau
akhirnya,
kita semua yang risau
Hahahahahaha




Hey kamu, ENDONESA
kapan tamasya?
Kalau sudah, yuk kita lawan asing dan aseng itu.





Bekasi Utara, 19 Desember 2016



Aru Elgete