Memangnya Kenapa Kalau Saya Tidak Suka FPI? - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 17 Januari 2017

Memangnya Kenapa Kalau Saya Tidak Suka FPI?


Ilustrasi. Sumber: megapolitan.kompas.com

Saya tidak pernah menghafal sejarah atau asal-usul berdirinya. Yang jelas, terlepas dari peran media atau tidak, saya tidak suka dengan organisasi keagamaan yang satu itu. Premanisme dan gaya 'Islam Marah' senantiasa ditunjukkan demi kepentingannya.

Parahnya, aparat penegak hukum seperti lemah syahwat saat berhadapan dengan mereka. Loyo. Entah karena aparatnya yang dibayar, atau memang murni ketakutan. Takut dipentung atau diteriaki kalimat takbir tepat di telinga, misalnya. 

Ketidaksukaan saya kepada kelompok yang mengaku pembela agama itu dimulai ketika kejadian di Monas, beberapa tahun lalu. Kemudian aksi siram air yang dilakukan Munarman di sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi swasta tanah air.

Kalau saya tidak suka, memangnya kenapa? Salah, ya? Auto-murtad atau anti-Islam, dong? Liberal, ya? Hmmm, antek kafir dan Yahudi, barangkali? Ah, saya tidak peduli. Yang jelas, saya tidak suka. Titik.

Urusan murtad dan anti-Islam, biar urusan Allah. Sebab hanya Dia ahkamil-hakimiin. Saya juga tidak masalah disebut Liberal, karena Islam memang Liberal. Pembebas dan membebaskan. "Islam!" Menurut saya, adalah kalimat perintah untuk membebaskan suatu objek. 

Namun, ketidaksukaan itu tidak sampai ke titik benci. Tidak seperti mereka yang gemar menebar kebencian, bahkan dari mimbar keagamaan. Usai salat Subuh berjamaah di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru, misalnya. Lucu, ibadah kok dijadikan sebagai ajang untuk membenci.

Padahal di Al-Quran sudah jelas, wajadilhum billati hiya ahsan. Jadi, kalau tidak suka terhadap suatu hal, tidak perlu langsung marah-marah. Debat saja, tapi yang santun. Itu perintah Allah. Namun, jika perintah itu tidak dijalankan ya tidak masalah. Toh, tidak mengimani salah satu perintah qouliyah-Nya, tidak lantas menggugurkan keislaman apalagi menjadi hilang keberimanan kepada Allah.

Katanya (sih) Idealisme mereka adalah amar ma'ruf nahi munkar. Sayangnya yang dikedepankan justru berbeda. Karena yang dicontohkan Rasulullah itu amar ma'ruf bil ma'ruf, nahi munkar bil ma'ruf. Sebaliknya, mereka justru amar ma'ruf bil munkar, nahi munkar bil munkar. 

Nah, contoh-contoh di atas jangan lantas membakar sumbu otak yang pendek itu, ya. Sekalipun begitu, saya tetap mengapresiasi gerak kemanusiaan yang dilakukan organisasi peliharaan negara itu. Misal, mereka pasti 'turun gunung' saat musibah melanda saudara setanah air atau saudara sesama muslim. 

Hal tersebut yang ingin saya sampaikan kepada mereka. Bahwa dalam membenci dan mencintai, jangan sampai berlebihan. Akibatnya, selera humor menurun karena otak semakin dilemahkan untuk berpikir rasional. Merugilah bagi manusia yang segala sesuatunya dilakukan dengan cara berlebihan. Innallaha laa yuhibbul musrifiin.

Ada banyak hal yang tidak saya suka dari mereka. Misal, Ahok dilaporkan atas tuduhan penistaan agama. Sementara ketika Rizieq diduga menista agama, negara dianggap anti-Islam dan anti-Ulama. Jihad adalah jalan satu-satunya. Demonstrasi besar-besaran dijalankan. Revolusi dan aksi massa yang lainnya.

Sikap Rizieq yang tidak dewasa itu, wajar saja jadi bahan bercandaan sebagian orang. Strategi bertahan selalu diterapkan. Islam (versi mereka) selalu berada di bawah tekanan. Siapa pun yang tidak sepaham, dianggap musuh Islam (musuh mereka, red). Islam selalu tak berdaya, selalu kalah dengan konspirasi-konspirasi di luar sana.

Saya jadi heran. Islam ingin berkuasa, ingin berjaya, dan berdiri sebagai jalan kebenaran satu-satunya di muka bumi, tetapi caranya justru dengan baper yang berlebihan. Disenggol sedikit saja marah, digoyang sebentar langsung keluar ancaman yang menakutkan. Sangat mengerikan. Islam kok begitu banget? Mau kayak Suriah dan Timur Tengah? Saya sih ogah.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan. Tapi mungkin lain waktu. Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan pembaca soal kaidah emas yang berbunyi, "janganlah engkau berbuat sesuatu kepada orang lain, yang engkau sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu!" Atau, dalam kalimat positifnya berbunyi, "cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri."

Selamat bersidang saya ucapkan untuk Pak Ahok. Selamat menjadi lelaki sejati. Mengakui kesalahan, meminta maaf, tidak angkuh, dan jemawa. Tetap menjadi profesional. Jangan seperti mereka yang hanya mengandalkan kekuatan massa. Sekali lagi saya tanya, memangnya kenapa kalau saya tidak suka FPI?

Mohon beri saya jawaban terkait pertanyaan yang saya ajukan itu. Terimakasih.



Wallahu A'lam


Bekasi Utara, 17 Januari 2017


Aru Elgete

Tidak ada komentar:

Posting Komentar