Pilkada Ibukota; Intelektualisasi vs indoktrinasi - Aru Elgete

Breaking

Senin, 10 Oktober 2016

Pilkada Ibukota; Intelektualisasi vs indoktrinasi


Sumber: id.finspi.com

Sejak pernyataan kontroversial gubernur petahana di Kepulauan Seribu itu, kini banyak orang pintar berseliweran. Pengamat dadakan pun hadir mengemuka. Tak mau kalah, ahli tafsir dadakan turut hadir mewarnai.

Ada dua ahli tafsir untuk saat ini; Pertama, menafsir pernyataan Ahok itu, tentu tafsir sekenanya saja, bahkan tafsir kebencian pun dilakukan, juga tafsir fanatisme tak kalah mengejutkan.

Kedua, ahli tafsir 'dadakan' mengenai Al-Maidah ayat 51. Semuanya berkata dan menafsirkan ayat tersebut, tanpa rujukan terpercaya, apalagi merujuk pada kitab kuning ala pesantren.

Pada akhirnya, Sosial Media hanya berisi sampah-sampah yang berkerumun, yang menyisakan kebencian dan merenggangkan persatuan, karena masing-masing orang merasa berhak atas kebenaran versinya.

Ada yang menyesalkan pernyataan Ahok, karena dirinya bukanlah orang yang memiliki kapasitas untuk menyampaikan terkait Al-Maidah ayat 51. Penyesalan itu berdampak pada kebencian yang akhirnya menjudge bahwa Ahok anti-Islam.

Ahok pun menjadi bulan-bulanan umat Islam, dan dirinya dilaporkan dengan tuduhan penistaan agama. Banyak yang tidak suka, bahkan membencinya. Tapi banyak pula yang membela, bahkan mengagungkannya.

Tak sedikit yang mengatakan bahwa maksud Ahok bukanlah menghina Kitab Suci, tetapi melakukan satire/sarkasm kepada mereka yang gemar melakukan politisasi agama. Banyak ahli yang ikut bicara soal ini, semua berkerumun, riuh, menjadi gaduh.

Al-Maidah ayat 51 membohongi umat atau umat dibohongi dengan menggunakan Al-Maidah ayat 51? Mari dengan seksama kita perhatikan. Jangan langsung membenci, jangan juga menjadi buta dalam membela. Karena keduanya, berada pada takaran yang berlebihan.

Menurut saya, penafsiran terhadap suatu ayat sangat dinamis, tidak mutlak. Sebab yang mutlak dan tidak boleh diganti itu adalah redaksi ayatnya. Sementara penafsiran terhadap suatu ayat, bisa berbeda satu sama lain. Jadi, berhati-hatilah menggunakan ayat jika hanya membaca terjemahan. Sementara Alquran terjemahan bisa anda dapatkan di toko buku atau Gramedia terdekat.

Ahok memang tidak seharusnya melakukan atau menyatakan sesuatu yang kontroversi itu di depan publik. Ia seperti melawan SARA dengan SARA. Membalas kejahatan dengan kejahatan adalah kejahatan yang lebih tinggi. Sementara membalas kejahatan dengan kebaikan adalah perbuatan yang dilakukan oleh semua Nabi dan Rasul, termasuk Isa atau Yesus.

Begitu pula ketika umat Islam terpancing atas itu, yang kemudian melakukan ujaran kebencian yang lebih dahsyat lagi kepada Ahok dan setiap orang yang mendukungnya.  Hal tersebut merupakan perbuatan yang tentu bertentangan dengan perilaku Nabi Muhammad saw.

Karena itu, Pilkada Ibukota kali ini berlangsung sangat seru. Kita disuguhkan pertarungan sengit antara mereka yang berlindung di bawah ketiak indoktrinasi, dengan orang-orang yang membebaskan diri dan akalnya dari kebodohan dan pembodohan. Merekalah orang-orang yang melakukan proses intelektualisasi.

Indoktrinasi adalah sebuah proses pemberian pengetahuan dengan tanpa kritik dan cenderung melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. Biasanya, indoktrinasi memutlakkan sesuatu sehingga tak satu pun yang berani meluncurkan kritik atau komentar.

Sementara intelektualisasi merupakan proses kemerdekaan diri serta pembebasan akal untuk berpikir sehat, sehingga menemukan kebenaran secara objektif. Mereka yang melakukan proses intelektualisasi, tidak pernah menutup diri atas kemungkinan adanya kebenaran yang ada pada orang lain.

Dengan kata lain, mereka selalu melihat sesuatu dari berbagai arah dan sudut pandang. Tidak memutlakkan kebenaran yang berada di lingkarannya, sehingga menganggap yang berbeda pasti keliru dan salah. Sebab hanya Tuhan pemegang kebenaran yang mutlak itu.

Kita pasti ingat cerita tentang beberapa orang buta dan seekor gajah. Mereka berkumpul, memegang dan meraba bagian tubuh gajah yang terdekat, kemudian mengemukakan hasil tangkap otaknya.

Masing-masing orang (buta) itu diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya mengenai gajah. Tentu berbeda. Mereka saling berdebat dan menganggap mutlak kebenarannya. Sampai akhirnya, salah satu dari mereka bersikap bijak dan menanggapi hal ini dengan santai.

Ia pun berkata, "Sudahlah jangan berdebat terus. Coba kita pikir, bagaimana kalau masing-masing pendapat kita ini punya kecenderungan atas kebenaran? Kemudian kita satukan setiap kebenaran itu. Barangkali kebenaran atas gajah adalah hasil penyatuan dari perbedaan pendapat kita ini, Ya?"

Namun, perilaku orang buta yang bijak itu sangat sulit ditemukan pada orang atau kelompok yang berada di bawah indoktrinasi. Hati mereka benar-benar tertutup dari kecenderungan pendapat orang atau kelompok lain atas kebenaran.

Sementara orang-orang yang melakukan proses intelektualisasi, yang dengan pengembaraannya terhadap sesuatu atas beberapa kebenaran yang kemungkinan benar, mereka selalu menganggap rendah orang atau kelompok yang terjebak dalam lingkaran indoktrinasi.

Dan mereka yang terbawa arus indoktrinasi akan selalu merasa terhina dan tersudutkan. Mereka akan mengumpat, mencaci, dan menganggap orang atau kelompok yang berbeda sudah melakukan perlawanan terhadap kebenaran.

Semuanya menjadi ruwet. Berubah seperti benang kusut, sulit menemukan ujung dan pangkal. Pertarungan indoktrinasi melawan intelektualisasi merupakan gambaran betapa bobroknya bangsa kita.

Masih belum mengerti bagaimana mencari kebenaran yang hakiki, yang empirik, yang benar-benar benar. Sebab kebenaran, apalagi kebenaran Tuhan, tidak hanya dapat ditemukan pada redaksi ayat (parahnya hanya membaca terjemahan).

Kita harus mengembara, menjelajah Kauniyah, membaca kondisi, dan melakukan penghayatan atas kehidupan untuk menemukan kesejatian dari kebenaran Tuhan. Karena kebenaran tidak datang dari umpatan, ujaran kebencian, dan ungkapan saling merendahkan.

Baik yang berada pada jerat indoktrinasi, maupun yang membebaskan diri pada proses intelektualisasi, haruslah saling merendahkan hati, jangan saling menghina dan merendahkan satu sama lain.

Kepada indoktrinasi, saya berpesan, kalau tidak berkenan atas kebenaran yang ada pada diri orang lain, janganlah mengemukakan kebenaran yang tanpa dasar dan referensi yang memadai.

Untuk intelektualisasi, saya berpesan agar terus melanjutkan pencarian kebenaran secara objektif, namun dengan tidak disertai rasa sombong dan angkuh atas pengetahuannya. Tetap rangkul siapa pun. Berteman dengan siapa saja. Karena kebenaran tercecer di mana saja.

Pertanyaan saya, sampai berapa lama kita saksikan pertarungan ini? Pertarungan atas kebenaran. Antara orang-orang yang melakukan proses intelektualisasi melawan indoktrinasi. Kita saksikan saja! Karena dengan kedua proses itu, Pilkada Ibukota akan berlangsung sangat meriah.




Wallahu A'lam




Bekasi, 10 Oktober 2016



Aru Elgete