Kamis, 27 Februari 2020

Bisakah Tuhan Disembah Tanpa Ritual Keagamaan?


Ilustrasi. Sumber gambar: geotimes.co.id
Suatu ketika, ada pertanyaan retorik yang sangat klasik, yang kemudian ditujukan kepada saya. Apakah kita bisa bertuhan tanpa agama? Sebab, agama selama ini menjadi biang konflik dan perseteruan tanpa henti. Bisakah Tuhan disembah tanpa melalui ritual-ritual keagamaan tertentu?

Jawab saya, sebagai muslim liberal, tentu saja bisa. Toh, Tuhan tak beragama. Kuasa-Nya melampaui keruwetan birokrasi agama-agama. Bahkan, kemahabesaran Tuhan tak bisa disekat oleh apa pun. Dia bebas meruang melampaui segala, tak dapat terdefinisi oleh akal manusia yang sempit. 

Kata sebagian kawan saya yang lain: ada dua definisi Tuhan. Pertama, Tuhan yang diciptakan oleh akal pikiran kita sendiri atau benda-benda keduniaan yang dipertuhankan. Tetapi ada yang kedua, yakni Tuhan yang menciptakan kehidupan kita di dunia, Dia yang tak terbatas oleh ruang dan waktu, yang wujud dan bentuk-Nya tak bisa dijangkau akal walau sebersit. 

Lalu, bagaimana jika bertuhan tanpa agama?

Sungguh, Tuhan tak pernah membutuhkan apa pun dari kita yang dicipta-Nya. Segala bentuk ritual peribadatan kita selama ini, sebenarnya hanya bagian terkecil dari penghambaan seorang manusia terhadap yang menciptakan. Sebagian pemuka agama yang lain mengatakan, ritual ibadah hendaknya dimaksudkan sebagai bentuk kebersyukuran karena Dia Yang Mahahidup telah Menghidupkan kita dengan cuma-cuma, dengan gratis, dengan tanpa bayaran sedikit pun atas udara yang terhirup setiap saat. 

Dalam Al-Quran disebut: wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun. Artinya, Tuhan berfirman bahwa manusia dan jin yang telah Dia ciptakan, dimaksudkan tak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Beribadahnya seperti apa? Kita masih bisa diskusikan hal ini dengan akal sehat. 

Sesungguhnya, bagi saya, ibadah ritual yang terdapat dalam agama-agama itu merupakan sebuan konsep sistemik yang dibakukan oleh para pemuka agama di masa awal-awal. Tujuannya, agar penganut agama di kemudian hari, dapat dengan mudah mengakrabi Tuhan. Tentu saja, di dalam ibadah-ibadah ritual itu juga dipakemkan berbagai gerakan, nyanyian atau bacaan-bacaan yang menjadi domain para pemuka agama, agar mudah dipahami bagi penganut agama. 

Saya berasumsi, beribadah kepada Tuhan bisa dilakukan dengan banyak cara --sekalipun saya tidak memungkiri bahwa ritual agama-agama yang mainstream dilakukan oleh kebanyakan umat beragama itu adalah juga bagian dari tata cara ibadah kepada Tuhan. Namun, ritual-ritual itu tidak lantas menjadikan kita benar-benar menghamba pada Tuhan Yang Mahatinggi itu. Sebab, ritual keagamaan hanya bagian terkecil saja. 

Agama merupakan 'jalan' atau washilah (perantara) seorang hamba dengan Tuhan. Di dalam agama, ada nilai-nilai yang tak bisa tertolak: disebutlah dogma. Tetapi, mari kita menembus dinding dogma itu, yang sebenarnya adalah menjadi racun bagi kehidupan keberagamaan kita selama ini. Anda, sebagai pembaca, boleh setuju tetapi juga boleh tidak setuju dengan pendapat saya ini. 

Kalau kita masih tersekat oleh dinding besar yang bernama dogma itu, bagi saya, peluang kita untuk mengakrabi Tuhan justru semakin sempit dan tidak leluasa. Kita hanya fokus pada ritual-ritual, larangan-larangan, kewajiban-kewajiban, pahala-dosa, dan surga-neraka, yang itu semua sebenarnya adalah konsep yang dibuat secara sistematik oleh para pemuka agama di masa awal-awal. 

Sehingga dengan demikian, kalau kita tersekat oleh dinding besar yang seperti itu, ibadah kita kepada Tuhan akan sangat beresiko. Kita, dalam ritual keagamaan itu yang sebenarnya ingin berjumpa dengan Tuhan, justru malah terkadang tidak akan bisa bertemu dengan-Nya. Dalam sekat dogma itu, pertemuan kita dengan Tuhan akan terhalang oleh iming-iming pahala dan surga, ketakutan terhadap neraka dan dosa, serta terhalang oleh hal-hal keduniaan lainnya. 

Seorang sufi perempuan, Rabiatul Adawiyah, membagi mental seorang penghamba ke dalam tiga hal.

Pertama, mental pebisnis. Orang-orang pebisnis adalah mereka yang orientasinya hanya berupa keuntungan belaka. Dia tidak mau bergerak dan melakukan sesuatu kalau tanpa reward yang didapat. Sehingga, dalam proses pertemuannya kepada Tuhan, dia justru terhalang oleh tembok besar yang menjadi pikiran utamanya itu: yakni keuntungan, berupa pahala dan surga. 

Kedua, mental budak. Orang-orang yang bermental budak ini adalah mereka yang baru akan melakukan sesuatu jika ada punishment atau hukuman yang jelas. Mereka tidak akan bergerak atau melakukan segala hal, jika tidak ada sesuatu yang dapat merugikan dirinya. Sehingga, orang-orang yang bermental budak ini, akan sulit menemukan Tuhan. Dalam proses pertemuannya dengan Tuhan, dia akan terhalang oleh sekat atau dinding besar yang menakutkan, yakni dosa dan neraka.

Jadi, orang-orang yang bermental pebisnis yang pertama disebutkan itu, hanya akan menemui Tuhan karena ada maunya saja. Tentu yang dimauinya itu adalah agar mendapat pahala dan ketika mati masuk surga. Sementara orang-orang yang memiliki mental budak, sebagaimana yang disebut belakangan itu, akan menemui Tuhan lantaran dirinya takut mendapat dosa dan siksa api neraka yang sangat pedih. 

Demikianlah konsep agama agar manusia mau melakukan ritual keagamaan. 

Namun yang ketiga adalah mental cinta. Ini kunci agar kita mau benar-benar bertuhan. Orang-orang yang bermental cinta, tidak akan berharap apa pun dalam melakukan sesuatu, kecuali agar cintanya kepada 'sang kekasih' menjadi kian tebal. Dalam proses pertemuannya dengan Tuhan, dia tidak akan bisa terhalang oleh apa pun. Dia fokus terhadap apa yang dituju, tidak teriming-imingi kenikmatan atau keuntungan juga tidak khawatir dengan berbagai ketakutan-ketakutan yang dibuat-buat. 

Inilah yang saya sebut sebagai bertuhan dengan totalitas yang sungguh, dengan kesungguhan yang total. Kita menjadi seorang penghamba yang dapat beribadah dengan cara apa pun, yang tidak hanya sebatas pada ritual keagamaan semata, yang menjadikan diri kita justru terhalang dalam proses perjalanan menuju Tuhan.

Bertuhan dengan Kaffah

Ibadah atau penghambaan kita kepada Tuhan, bisa juga dilakukan dengan banyak cara. Misalnya dengan cara menolong orang-orang yang termarjinalkan, membantu kaum tertindas, meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana. Singkatnya, menjadi pelayan bagi sesama manusia dan alam semesta. Sebab, perilaku atau perbuatan yang demikian itu juga merupakan bentuk ibadah. Oleh Gus Mus, disebut sebagai ibadah sosial. Sebuah bentuk penghambaan kepada Tuhan yang tidak dapat disekat atau dihalangi oleh apa pun. 

Di dalam Al-Quran, pada surat Al-Baqarah ayat 208, Tuhan berfirman: udkhulu fissilmi kaffah. Secara leterlek atau tekstual, yang terdapat dalam terjemahan terbitan kementerian agama, ayat itu dimaknai: "Masuklah kalian ke dalam agama Islam secara total!" Tetapi, kita bisa juga memaknainya dalam makna lain yang lebih holistik. Kata silmi di dalam ayat itu, bisa juga bermakna keselamatan atau kedamaian. Jadi ayat itu bermakna: "Masuklah ke dalam jalan keselamatan dengan penuh sungguh."

Ioanes Rakhmat, seorang pemikir liberal menyebut bahwa ayat itu dimaknai berarti sebuah seruan untuk hidup damai menyeluruh dengan Tuhan Yang Maha Esa. Inilah sebuah konsep teologis, yang dalam bahasa arab disebut dengan hablumminallah, sebuah keterhubungan langsung dengan Tuhan. Namun, proses keterhubungan dengan Tuhan itu tidak akan bisa berjalan begitu saja, jika tidak ada keterhubungan dengan sesama manusia (hablumminannas) dan keterhubungan dengan alam (hablumminal-alam).

Maka untuk bertuhan dengan penuh sungguh, diperlukan juga sebuah bentuk ibadah atau penghambaan diri kita kepada-Nya dalam bentuk kehidupan yang terhubung dengan sesama manusia, juga hubungan dengan semesta. Bisa dipastikan, siapa saja yang merusak ekosistem alam dan menghancurkan peradaban manusia, maka kebertuhanannya pasti takkan berarti. Perusak-perusak itulah yang sebenarnya, menurut saya, tidak sama sekali bertuhan. 

Kemudian, dalam Alkitab, Yesus juga meminta hal yang sama. Dia bersabda: "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, kekuatanmu, jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamu manusia seperti (mengasihi) dirimu sendiri".

Menolak Ekstremitas dalam Beragama

Maka, mulai detik ini, janganlah kita membangkitkan gairah ketuhanan kita dalam wujud --yang oleh Ioanes Rakhmat dikatakan sebagai-- pemuja kematian di mana pun dan kapan pun. Yang dimaksud pemuja kematian itu adalah cara beragama yang sempit, yang salah satunya semacam teroris ISIS itu, yang menyatakan bahwa mereka adalah wujud dari cara beragama yang kaffah. 

Tentu yang demikian itu adalah pemikiran yang dangkal. Konsep beragama yang kaffah, yang lalu diidentikkan dengan cara beragama yang ekstrem adalah perwujudan dari kesalahpahaman dalam memaknai teks suci. Hal inilah yang kemudian menjadikan citra agama, terutama Islam, menjadi tercoreng. Sehingga timbul pertanyaan, "Bisakah bertuhan tanpa agama?" dari teman saya. Seyakin saya, pertanyaan itu terlontar karena gaya beragama ekstrem, yang kini semakin populer dipraktikkan oleh kalangan muda, justru disebut-sebut sebagai bagian dari totalitas yang sungguh dalam proses menuju Tuhan.

Bagi saya, hal itu salah kaprah. 

Fenomena beragama yang ekstrem itu, yang mendaku diri sebagai cara beragama yang kaffah, mencuat belakangan melalui media sosial, melalui ceramah-ceramah ustadz gadungan melalui saluran atau corong yang dibuatnya sendiri secara sistematis-masif yang kemudian membanjiri linimasa media sosial dan menyasar kepada kaum urban dan kalangan muda kekinian. 

Beberapa kali, bahkan berkali-kali, dalam tempo yang sangat tak terjangkau, mereka mengampanyekan cara beragama yang ekstrem itu, yang oleh mereka dinamai sebagai kaffah atau beragama yang total itu. Bagi mereka, ibadah ritual harus diutamakan baru kemudian ibadah sosial yang dinomorduakan.

Lalu, kata mereka, tanggung jawab kepada Tuhan --berdasar pada ritual-ritual yang justru menjadi penyekat (seperti yang saya jelaskan di atas)-- merupakan yang paling benar. Sementara bersimpati pada kehidupan sosial, masih kata mereka, tidak boleh mengalahkan ketaatan atau aturan yang telah Tuhan tetapkan.

Padahal, saya yakin, cara mereka ibadah itu masih lantaran takut dosa dan siksa neraka atau karena tergiur dengan iming-iming surga dan pahala; bukan karena murni cinta yang tulus penuh sungguh terhadap tujuan akhir, yakni Tuhan itu sendiri. Mereka menciptakan ketakutan di dalam pikiran agar berkenan menyembah Tuhan. Mereka membangun angan-angan kenikmatan di alam pikiran, baru kemudian menyembah Tuhan. 

Jika cara beragama kita demikian adanya, tentu saja kita akan berubah menjadi pribadi yang antisosial. Sebab, dalam kehidupan, kita hanya disibukkan dengan berbagai peningkatan ibadah yang sifatnya hanya ritualistik saja. Bukankah orang-orang yang mengaku sebagai bagian dari penganut agama yang paling total dan benar itu sudah dapat dipastikan tidak akan berbaur-bergaul dengan 'yang lain'? Saya rasa jawabannya, iya. Mereka akan menganggap kelompok lain yang tidak sejalan sebagai sesat, kafir, dan melenceng dari kaidah agama yang mainstream. Mereka eksklusif dan tertutup.

Maka jika ingin bertuhan tanpa agama, jawaban saya, tentu saja bisa. Silakan saja menjadi seorang penghamba melalui jalan lain, misalnya menjadi penghamba Tuhan dengan tidak merusak lingkungan dan menciptakan peradaban kehidupan yang baik. Sebab, kristalisasi dari wujud cinta terhadap Tuhan adalah dengan mencintai segala yang diciptakan-Nya di bumi dan semesta ini. 

Disamping itu, saya juga menyarankan, agar alangkah lebih baiknya, tetap beragama dan mengikuti berbagai ritual keagamaan yang telah ditetapkan. Namun dalam melakukan ritual, hendaknya jangan hanya terpaku pada iming-iming (reward) dan hukuman (punishment) belaka. Kita juga harus tunduk-patuh dan fokus pada tujuan dari penghambaan kita: Allah, Tuhan Yang Mahasegala.

Terakhir, saya sampaikan bahwa ketika dalam beragama didapati kegelisahan hati, maka segeralah diubah cara anda beragama. Barangkali, anda salah guru. Tetapi jika masih saja gelisah setelah mendapat guru yang lebih baik, silakan tinggalkan agama dan bertuhanlah dengan tetap beribadah pada kemanusiaan dan semesta.


Sekian.

Rabu, 26 Februari 2020

Menyoal Klaim Kebenaran dalam Agama-Agama


Sumber gambar: detik.com
Akhir-akhir ini, aktivitas yang saya jalankan berkutat pada pertemuan atau interaksi lintas agama. Beberapa kali, saya juga mengikuti ibadah atau mengunjungi rumah ibadah agama lain sebagai upaya mempererat jalinan silaturahmi dan perdamaian antaragama. Bagi saya, dialog dan pertemuan menjadi kunci untuk membangun peradaban yang baik atas keberagaman kita. 

Di tengah aktivitas saya yang seperti itu, saya iseng-iseng membuka website islamlib.com, sebuah 'rumah online' untuk para pemikir liberal, yang ketika itu, beberapa tahun ke belakang, aktif dalam lingkaran diskusi yang diberi nama: Jaringan Islam Liberal. Di website itu, segala pemikiran yang mencerahkan ditumpahkan ke dalam bentuk tulisan, yang beberapa tulisan dalam website itu, masih relevan hingga saat ini.

Dalam keisengan itu, saya menemukan sebuah tulisan yang ciamik dari seorang pemikir kebanggaan. Dialah Ulil Abshar Abdalla, seorang pemikir Islam liberal yang kini memasuki ruang sunyi sufisme. Tulisan Mas Ulil yang terbit pada 8 November 2015 itu diberi judul 'Tentang "Truth Claim" dalam Agama-Agama'. 

Judul tersebut menarik, sehingga mendorong saya untuk mengetahui isi tulisannya. Sebuah pemikiran yang jujur dan tulus, yang mengungkapkan bahwa di setiap agama memang terdapat klaim kebenaran atau perasaan paling benar dari agama-agama yang lain. Mari kita akui saja, bahwa di setiap agama, setiap umat agama tertentu, pasti menganggap agamanya-lah yang paling superior; sementara agama yang lain, secara teologis, kita anggap keliru. 

Lalu, apakah yang demikian itu salah? Atau justru menghambat penciptaan sebuah peradaban yang damai? Apakah rasa paling benar itu justru akan menjadi benalu dari berbagai aktivitas lintas agama? Saya rasa, hal ini masih bisa kita diskusikan. 

Menurut Mas Ulil dalam tulisan itu, kita nyaris tidak bisa menghindari truth claim atau klaim atas kebenaran. Setiap pernyataan iman dari pemeluk agama manapun, pasti mengandung klaim bahwa apa yang diimaninya adalah hal yang benar. Bahkan, bukan saja benar, tetapi puncak atau menjadi satu-satunya kebenaran. Demikianlah seorang muslim misalnya, tentu mengimani bahwa agama yang dipeluknya itu adalah satu-satunya kebenaran yang sejati.

Al-Quran menegaskan bahwa agama yang paling benar menurut Tuhan adalah Islam (Surat Ali Imran ayat 19). Ayat ini dipahami oleh sebagian umat Islam sebagai penegasan atas klaim kebenaran itu, bahwa satu-satunya agama yang benar di mata Tuhan adalah Islam. Di ayat lain, terdapat juga pengertian yang serupa. Dikatakan, dalam surat Ali Imran ayat 85, bahwa siapa pun yang mencari din atau agama selain Islam, Tuhan tidak akan menerimanya. 

"Meskipun, jika kita telaah secara lebih cermat, belum tentu kedua ayat itu menunjukkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di mata Tuhan," demikian Mas Ulil menegaskan dalam tulisannya. 

Menurutnya, ayat tersebut bisa ditafsirkan dengan cara lain. Misalnya: kata 'Islam' dalam kedua ayat itu bisa saja maknanya bukan Islam dalam pengertian nama agama tertentu. Islam di ayat itu bisa juga dipahami dalam pengertian yang lebih universal, yakni ketundukan atau kepasrahan. 

Dengan demikian, ayat itu akan bermakna bukan menjadi klaim atas kebenaran, melainkan sebatas pernyataan bahwa din atau jalan penyembahan terhadap Tuhan yang benar adalah jalan yang di dalamnya ada sikap tunduk atau pasrah. Kemudian, agama yang sebenar-benarnya agama adalah yang mengandung ajaran ketundukan dan kepasrahan kepada Tuhan.

"Jika dimaknai dengan cara demikian, maka ayat di atas bukan menunjuk kepada satu agama saja. Ayat itu bisa mencakup agama mana saja yang mengajarkan sikap ketundukan," kata Mas Ulil.

Namun, terlepas dari kemungkinan tafsir yang berbeda atas dua ayat di atas, Mas Ulil tetap menegaskan, bahwa klaim kebenaran yang dimiliki oleh pemeluk agama tertentu merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sebab, yang demikian itu, klaim atas kebenaran, bukan saja berlaku pada pemeluk Islam saja, tetapi juga agama-agama yang lain. 

Bagi sebagian besar intelektual muslim pluralis, pengertian dalam surat Ali Imran ayat 19 di atas itu bukanlah pernyataan tentang kebenaran yang secara eksklusif hanya ada dalam Islam, melainkan deklarasi tentang esensi agama: yakni ketundukan. Esensi tersebut bisa tersebar ke dalam semua agama, bukan hanya dalam Islam saja.

*****




Apakah klaim kebenaran yang tertutup, dengan sendirinya akan menimbulkan masalah dalam hubungan antar-agama? Tidak selalu demikian.

Sebab dalam berbagai aktivitas lintas agama yang saya jalani selama ini, ada banyak teman-teman, baik yang muslim atau yang beragama Kristen, yang siap berdialog, sekalipun di dalam hati mereka, saya yakin pasti terdapat sebuah keyakinan atas klaim kebenaran dalam agamanya. 

Begitu pula saya. Maka, beberapa waktu yang lalu, saya menulis sebuah caption pada sebuah foto di dalam gereja --yang saya unggah di dalam facebook: "Tuhan bersama orang-orang yang lentur dalam beragama dan teguh dalam keimanan".

Keimanan yang teguh atas doktrin keagamaan, menurut saya, sama sekali tidak menjadi penghalang untuk bisa melakukan komunikasi lintas agama atau berdialog dengan pemeluk agama lain. Namun, ini yang kerap terjadi, permasalahan yang timbul justru bukan lantaran kita berdialog dengan agama lain, melainkan dengan sesama golongan agama sendiri (saya: Islam) yang berbeda mazhab.

Bagi Mas Ulil, toleransi internal terhadap sesama muslim yang berbeda mazhab, rupanya jauh lebih sulit ketimbang membangun toleransi eksternal terhadap agama yang lain. Hal ini nyata sekali dalam kasus Sunni-Syiah atau kasus terhadap Ahmadiyah, dalam dekade ini. 

Mas Ulil mengungkapkan, "Sebagian kalangan Sunni lebih gampang berbicara dengan kalangan Kristen ketimbang dengan Syiah (dan Ahmadiyah). Sekte yang terakhir ini dipandang sebagai ancaman yang jauh lebih berbahaya ketimbang agama di luar Islam."

Sebenarnya, keadaan yang ideal adalah ketika seorang pemeluk agama bisa memiliki wawasan yang terbuka tentang klaim atas kebenaran itu tadi. Namun, jika kondisi ideal itu tidak juga tercapai, kita tidak serta-merta berhadapan dengan kiamat. Sebab pada umumnya, pemeluk agama pasti bisa menoleransi keberadaan pemeluk agama lain, meski mereka memiliki klaim atas kebenaran yang tertutup dan eksklusif.

Saat ini, derajat kemajemukan dalam masyarakat kian meninggi. Maka, alangkah lebih baiknya, pandangan tentang klaim atas kebenaran itu harus segera kita tinggalkan. Sehingga, masyarakat Indonesia bisa segera berada pada perkembangan yang sugnifikan, yakni dimana kontak antara pemeluk agama yang berbeda-beda makin sering terjadi, dan makin intensif. 

Dewasa ini, kita nyaris sulit membayangkan, jika ada seseorang yang sepanjang hidupnya hanya berada dalam lingkaran orang-orang atau masyarakat yang seagama saja. Pada momen tertentu dalam hidupnya, setiap orang di dunia ini pasti pernah bersinggungan atau berjumpa dan berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda agama.

Kontak atau interaksi antaragama, menurut Mas Ulil, akan membuat pemahaman seseorang tentang orang lain yang berbeda keyakinan makin baik dan realistis. Prasangka-prasangka buruk tentang agama lain yang berasal dari warisan generasi masa lalu atau dari rumor yang tak jelas sumbernya, pelan-pelan bisa memudar.

Namun, kita tentu saja berada pada persoalan yang salah besar jika mengandaikan bahwa intensitas pertemuan atau interaksi antaragama sebagaimana yang tadi diungkapkan, akan seutuhnya memudarkan seluruh prasangka buruk mengenai agama atau keyakinan orang lain.

Sebagaimana kita tahu, kecanggihan komunikasi modern bukan saja membuka kemungkinan saling pengertian yang baik, tetapi juga membawa petaka yang benar-benar 'sialan', yaitu mudahnya virus kebencian antar kelompok ditularkan ke publik. Sarana komunikasi yang baik memang belum tentu menjamin kian baiknya kualitas komunikasi. 

"Dalam kasus-kasus tertentu, teknologi komunikasi yang canggih bisa juga memfasilitasi mis-komunikasi dalam skala dan magnitude yang sangat besar. Ini adalah paradoks dari masyarakat komunikasi modern," jelas Mas Ulil. 

Tetapi, Mas Ulil menaruh optimisme, bahwa akal sehat masyarakat bisa menjadi hakim yang baik. Kebencian memang bisa ditularkan dan dipropagandakan, tetapi jangan sesekali kita memiliki anggapan bahwa propaganda itu akan ditelan mentah-mentah oleh semua orang. Sebab, manusia bukanlah otomaton yang hanya menelan-tanpa-kunyah segala hal yang dilihat, dibaca, dan didengar.

Dengan optimisme terhadap akal sehat, maka pada akhirnya wawasan tentang klaim atas kebenaran agama, akan memudar dengan sendirinya, cepat atau lambat. Oleh karena kita lihat realitas Indonesia saat ini yang sangat majemuk dan heterogen, rasanya tidak berlebihan jika beranggapan bahwa pada akhirnya masyarakat akan bersikap rasional dalam menyikapi paham-paham atau keyakinan yang berlainan.

Setidaknya, publik akan pelan-pelan paham bahwa klaim atas kebenaran yang esklusif kian tak bisa dipertahankan dalam masyarakat yang begitu majemuk. Mereka, dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan berjumpa dengan orang-orang yang baik dari agama-agama lain. Perjumpaan tersebut akan membuat mereka memiliki pandangan yang lebih realistis tentang 'yang lain'.

Semua orang, dengan keyakinan yang beragam, pada akhirnya akan memiliki kesamaan dalam satu hal: manusia. Mereka semua adalah manusia, dengan kelebihan dan kekurangannya. Maka, melihat dan mencintai manusia karena dan atas kemanusiaannya adalah yang harus kita lakukan sebagai manusia seutuhnya. 

Wallahua'lam...

Selasa, 25 Februari 2020

Gus Mus Kiai Rakyat, Cerminan Nabi Muhammad


Sumber gambar: akun facebook Kalis Mardiasih

Di tengah hiruk-pikuk kebisingan ceramah agama (Islam) yang didominasi oleh narasi kebencian, ditambah lagi dengan para pemuka agama yang gemar 'manggung' sana-sini menyampaikan mauizoh hasanah; yang sebenarnya bahasan yang dikemukakan hanya itu-itu saja --meminjam istilah Gus Dur, yang seperti itu disebut sebagai 'Islam Kaset'. 

Belum lagi, ustadz-ustadz atau kiai-kiai yang dalam ceramahnya keserimpet omongan, salah tashrif, dan ngajak ribut melulu, yang meskipun begitu, mereka tetap santai-santai saja karena merasa sudah punya 'panggung' dan 'penonton' tetap. Bahkan, ustadz-ustadz atau kiai-kiai itu akan dengan mudahnya mendapat pembelaan membabi-buta dari jamaahnya. Sebuah pengkultusan yang salah-kaprah!

Agama, saat ini, tak ubahnya seperti ladang basah untuk meraup banyak keuntungan. Hanya dengan modal iming-iming surga dan pahala serta menakut-takuti neraka dan dosa, para pemuka agama akan dengan sangat mudah mendapat bayaran dan panggung yang 'wah' dari basis massa-nya. Tak jarang pula, hal tersebut, atau katakanlah pengkultusan itu, dimanfaatkan oleh pemuka agama tertentu agar panggungnya menjadi kokoh dan tak bisa dirobohkan oleh siapa saja. 

Ya, di tengah hiruk-pikuk dan fenomena yang seperti itu, saya kok tiba-tiba melihat postingan menarik di akun facebook Kalis Mardiasih. Seorang aktivis perempuan, Gusdurian, dan penulis buku Muslimah yang Diperdebatkan serta Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! sekaligus juga kolomnis di beberapa media: --yang saya tahu dan saya sering baca artikelnya, di Mojokdotco dan Detikcom.

Postingan itu adalah sebuah foto bergambar sosok ulama sejuk dan menenteramkan, yakni Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Gambar Gus Mus itu terpampang di 'pantat' mobil truk berwarna kuning dengan tulisan The Winner dan 'juara sejati (adalah) orang yang mampu mengalahkan diri sendiri'.

Apa menariknya?

Biasanya, sepanjang yang saya tahu, gambar atau kata-kata yang ada di 'pantat' truk adalah cewek cantik dengan tulisan-tulisan yang unik, bahkan tak jarang, ditulis dengan kalimat yang menggugah syahwat. Namun sebagian besar, tulisan di belakang atau di 'pantat' truk --yang biasanya berseliweran di jalur Pantura-- adalah kalimat yang merakyat, yang melekat dengan kehidupan masyarakat dengan taraf ekonomi menengah ke bawah.

Nah kali ini, gambar di 'pantat' truk itu adalah seorang kiai: Gus Mus, ulama terkemuka di zaman ini. Lalu, kenapa? Ya, bagi orang NU, tentu saja ini membanggakan. Lantas, kenapa menarik untuk dibahas? Ya, jelas sangat menarik. 

Sebagaimana yang saya paparkan di awal-awal paragraf itu tadi, di tengah hiruk-pikuk keagamaan dan fenomena pemuka agama yang semakin tak jelas arahnya, ada seorang Gus Mus yang rupanya menjadi sosok yang sangat dicintai rakyat. Wajah yang berseri-seri serta nasihat yang sangat positif memberikan energi, menjadikan dirinya sangat lekat dan rekat dengan rakyat kecil.

Gus Mus tak hanya beretorika melakukan orasi dan memberikan nasihat-nasihat dari atas panggung (mauizoh hasanah) sebagaimana kebanyakan pemuka agama, tetapi Gus Mus pasti juga kerap melakoni kehidupan seperti rakyat biasa --yang itu kemudian menjadi teladan yang mesti dicontoh. Itulah yang disebut dengan uswatun hasanah; memberikan contoh, melakoni hidup, dan membersamai rakyat. 

Siapa yang tak kenal Gus Mus?

Dialah sosok kiai tawadhu (rendah hati), pemaaf, dan ceria. Siapa pun yang berbuat salah, seketika itu juga dimaafkannya, dan seketika itu pula si pembuat salah dibuat takjub dan kagum atas lakon hidup yang dijalani Gus Mus dengan apa adanya dan sangat sederhana. Bagi saya, Gus Mus adalah cerminan dari kiai rakyat yang betul-betul meneladani laku-lampah Nabi Muhammad. Dilakoninya betul, segala bentuk atau nilai kemanusiaan yang telah Nabi jalankan dulu. 

Maka, dewasa ini, jika kita usai membaca sejarah Nabi Muhammad, lengkap dengan perilaku-perilaku yang benar-benar memanusiakan-manusia, tengoklah Gus Mus. Dia adalah cerminan dari segala macam ajaran yang telah diteladankan Nabi Muhammad. Selain Gus Mus, tentu saja ada banyak kiai rakyat lain yang tidak terekspos oleh media. Oleh karenanya, Gus Mus menjadi representasi kiai rakyat yang dapat kita ketahui sekaligus teladani perilakunya. 

*****

Kalis Mardiasih, dalam postingan facebooknya itu, yang diunggah pada 17 Januari 2020 lalu, menulis sebagaimana berikut ini:

Teoriku, ciri-ciri kiai rakyat itu selain posternya dijual di acara haul, ya wajah dan nasihat beliau dimuliakan wong cilik sehingga didokumentasikan oleh sopir truk atau sopir bis. Kalau sampai dibikinin lagu trus dinyanyikan oleh penyanyi dangdut koplo, lha itu levelnya sudah wali.

Artinya, beliau-beliau ini mampu menyampaikan saripati agama yang njelimet dalam bahasa sederhana. Agama jadi nggak kayak buku test cpns yang harus dicentang-centang, tapi menjadi panduan hidup yang memudahkan, bahkan menemani kesusahan hidup sehari-hari. Bukan malah nambahi susah.

Kalau baru ceramah di yutup atau di tipi, berarti levelnya ya selebriti layar kaca.

Gambar dari twitter Mbak Admin Ienas Tsuroiya

(Klik di sini untuk melihat postingan Kalis Mardiasih)

*****

Artinya, Gus Mus adalah salah satu dari sekian banyak kiai rakyat yang sangat membumi di negeri ini, yang mampu memahamkan dalil-dalil keagamaan dengan sangat sederhana. Sehemat pemikiran saya, tulisan di 'pantat' truk yang diunggah di facebook oleh Kalis itu, merupakan penafsiran dari ungkapan nabi usai perang badar.

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, "Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah?" Rasul menjawab, "jihad (memerangi) hawa nafsu."

Saya yakin, Gus Mus dengan ciamik menyampaikan pesan Nabi itu dengan kalimat yang sederhana, sehingga rakyat mencintainya. Gus Mus juga, seyakin saya, senang membuat rakyat menjadi berbunga hatinya lantaran isi ceramah dan laku-lampah yang dilakoninya penuh dengan motivasi agar rakyat terus bertambah kebaikannya.

Karenanya, agar rakyat hidupnya menjadi baik, Gus Mus kemudian menafsirkan pesan Nabi itu dengan narasi yang membangkitkan semangat untuk terus bergerak, mengalahkan ego yang terpatri dalam kalbu. Ingatan rakyat terhadap kalimat penyejuk yang disampaikan Gus Mus itu lalu diabadikan di 'pantat' truk. Tujuannya, barangkali, agar orang-orang (pengendara) lainnya yang ada di belakang dapat membaca dan tidak ugal-ugalan dalam berkendara. 

Lebih jauh, bisa jadi, menurut saya, para pengendara yang membaca tulisan itu, kemudian akan selalu mengingat dalam pikirannya sehingga menjadi tindakan nyata dalam kehidupan. Betapa mulianya yang dilakukan Gus Mus. Ganjaran kebaikan dari Allah tentu saja akan mengalir terus kepadanya, melalui washilah (perantara) kalimat sederhana yang sangat menyentuh, yang ditempatkan di 'pantat' truk itu. 

Siapa yang ingin menjadi juara (dalam kehidupan)? Ayo, kalahkan diri sendiri (ego). Sebab kini, jihad yang paling akbar bukan lagi mengangkat senjata seraya melumpuhkan lawan dengan amarah dan kebencian yang membabi-buta, tetapi jihad yang paling akbar adalah apabila kita mampu mengalahkan diri sendiri; mengalahkan ego; untuk tidak membenci, menghina, dan mencaci. 

Pada pemaknaan yang lain, Gus Dur semasa hidupnya, seringkali menyampaikan kalimat mutiara yang diungkapkan Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam bukunya yang sangat terkenal: Al-Hikam. 

إِدْفِنْ وُجُودَكَ فِى اَرْضِ الْخُمُولِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ

Tanamlah eksistensimu
pada tanah yang tak dikenal
Sebab sesuatu yang tumbuh
dari biji yang tak ditanam
tak berbuah matang

Jadi, bagi saya, melawan diri sendiri berarti juga mampu melumpuhkan ego untuk bisa menjadi terkenal, menghancurkan virus 'star-syndrome'. Kata-kata indah Ibnu Athaillah itu patut kita renungi di tengah berbagai kemudahan untuk menjadi terkenal, seperti sekarang ini. Rasa ingin menjadi terkenal itulah yang dimaksud sebagai ego, dan harus dilawan. Itulah yang dimaksud oleh Gus Mus: melawan diri sendiri. Itu juga yang dimaksud oleh Nabi Muhammad sebagai 'jihad memerangi hawa nafsu'. 

Terakhir, sekali lagi saya ingin menyampaikan bahwa Gus Mus tidak hanya menjadi ulama yang pandai beretorika, tetapi juga melakukan teladan melalui perilaku yang baik dan sesuai dengan yang diucapkannya di kehidupan nyata. Melawan diri sendiri itu, salah satunya telah dilakukan oleh Gus Mus, saat dirinya menolak jabatan sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar NU di Jombang pada 2015 lalu, yang kemudian digantikan oleh KH Ma'ruf Amin. 

Lalu, bisakah kita menanam eksistensi sedalam-dalamnya, padahal berbagai kemudahan tengah ada dan tersedia di hadapan kita? Bisakah kita melawan diri sendiri, melawan ego, melawan berbagai keinginan yang didasari dari syahwat dan hawa nafsu; termasuk riya' dalam beribadah? Wallahua'lam...