Sebuah Catatan: Idealisme yang Tak Pernah Usai - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 17 September 2020

Sebuah Catatan: Idealisme yang Tak Pernah Usai

 

Berbincang soal idealisme

Pada sebuah pertemuan, beberapa waktu lalu, saya sengaja mengangkat tema idealisme sebagai bahan pembicaraan serius di tengah hiruk-pikuk bercandaan yang tak jelas arah. Bagi saya, idealisme ini sesuatu yang tak pernah usai untuk dibahas.

 

Kata Tan Malaka, Bapak Kemerdekaan Republik ini, idealisme adalah kekayaan terakhir yang dimiliki seorang pemuda. Karena merupakan kekayaan, maka tentu saja hanya sedikit yang benar-benar dapat memilikinya.

 

Idealisme bagi saya adalah prinsip, semacam sebuah kedaulatan untuk memerdekakan diri sendiri dari keterjajahan orang lain. Setiap manusia, menurut saya, memiliki idealisme masing-masing, yang dapat ditafsirkan berbeda-beda.

 

Namun, saya tegaskan dalam pertemuan itu, bahwa idealisme bukan anti-kemapanan. Bukan sebuah prinsip yang melatari keinginan untuk selalu hidup sengsara, jauh dari kekayaan materi-duniawi, dan bahkan memang tidak punya keinginan untuk kaya.

 

Bukan itu. Idealisme adalah benar-benar barang berharga, yang tidak oleh sembarang orang dimiliki. Ia suci. Tidak bisa ternodai oleh apa pun. Tetapi, idealisme hanya akan menjadi pura-pura jika digenggam oleh orang-orang munafik.

 

Di dalam suatu perkumpulan, tentu saja terdapat garis besar haluan agar perkumpulan itu tak keluar jalur. Saya rasa, semua perkumpulan memiliki koridor gerak masing-masing, sehingga saat keluar dari jalur yang semestinya, perkumpulan ini bisa dianggap sebagai perkumpulan yang tak menanamkan idealisme sebagai sesuatu yang suci.

 

Suatu perkumpulan ini bisa apa pun. Organisasi, komunitas, LSM, dan perkumpulan-perkumpulan masyarakat adat di pelosok-pelosok daerah. Masing-masing perkumpulan atau kelompok itu, pasti punya aturan main sendiri-sendiri yang wajib dijalani oleh orang-orang yang ada di dalamnya.

 

Ketika ada ideologi yang mengintervensi dari luar, yang kemudian mengotori kesucian idealisme di dalam perkumpulan, maka menjadi sangat wajar jika orang-orang yang ada di dalam perkumpulan itu mencoba melakukan perlawanan.

 

Setiap orang bisa memahami idealisme sesuai dengan kapasitas berpikirnya masing-masing. Oleh karena itu, idealisme bermakna sangat relatif. Tetapi idealisme yang saya maksud itu adalah tidak mencampuri urusan internal suatu perkumpulan dengan ideologi perkumpulan yang lain.

 

Kita boleh aktif di mana pun tempat, bahkan di partai politik sekalipun. Tapi keaktifan kita di mana-mana itu, jangan sampai menghancurkan bangunan idealisme suatu perkumpulan dengan ideologi yang kita bawa dari luar.

 

Saya akan memberikan contoh dan permisalan.

 

Ketika kuliah, di Universitas Islam “45” Bekasi, beberapa organisasi saya ikuti. Tidak hanya sebagai anggota, tetapi pengurus harian. Pertama, saya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himikom) Unisma Bekasi.

 

Kedua, saya menjabat sebagai Ketua Departemen Kajian dan Wawasan Kebangsaan UKM Pusat Kajian Pancasila. Ketiga, saya menjadi Ketua UKM Teater Korek. Dari ketiga organisasi ini, saya belajar banyak hal.

 

Saat di Himikom, misalnya, saya benar-benar menjaga keutuhan idealisme perkumpulan itu. Saya berupaya agar jangan sampai Himikom ini kemasukan ideologi-ideologi dari luar, yang berpotensi merusak dan menghancurkan idealisme Himikom.

 

Begitu pula saat di Pusat Kajian Pancasila. Saya hanya fokus untuk menjadi penyedia kajian setiap minggu, sesuai tugas pokok dan fungsi yang diberikan kepada saya. Kajian-kajian itu pun dilakukan agar para anggota tidak tergerus idealismenya dengan ideologi dari luar.

 

Lebih-lebih saat di Teater Korek. Idealisme kekaryaan, kesenian, dan kebudayaan sangat melekat di sana, sehingga sangat sulit untuk dimasuki atau diintervensi oleh kepentingan dari luar. Teater Korek adalah rumah bagi semua orang, tanpa harus menghancurkan satu sama lain.

 

Dari ketiga perkumpulan yang saya ikuti, saya sangat tidak rela jika perkumpulan itu dijadikan sebagai ‘lumbung kader’ untuk melakukan kaderisasi di luar, oleh pihak-pihak luar, di luar perkumpulan itu.

 

Di suatu perkumpulan yang lain, saya pernah diminta untuk menjaga marwah idealisme, saya patuhi karena yang meminta adalah seorang yang mengepalai perkumpulan itu. Tetapi di perjalanan, dia membelot, saya dituduh kaku. Akhirnya saya tinggalkan itu perkumpulan.

 

Lalu saya dipersalahkan karena meninggalkan perkumpulan itu. Sudah sejak lama, padahal, saya ingin membuat sebuah pertemuan akbar membahas soal ini, tapi orang yang meminta saya untuk menjaga idealisme itu, saya rasa kurang berpengalaman untuk adu argumentasi.

 

Kini, saya benar-benar merdeka karena sudah bisa berjalan di atas kesucian idealisme, tanpa intervensi ‘balas budi’ dan bayang-bayang senior. Sekarang, saya sudah dilamar NU Online untuk membantu pewartaan ke-NU-an di level nasional. Begitu pun, dilamar pula oleh Media IPNU untuk membantu mengedit artikel berita dari kontributor di daerah.

 

Selain itu, saya pun diminta untuk menjadi pengurus di Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDI Perjuangan Jakarta Timur. Di kendang banteng ini, saya mewakili unsur teater, yakni Laboratorium Teater Korek. Sebuah organisasi teater untuk para alumni Teater Korek Unisma Bekasi.

 

Tentu saja, saya tidak bodoh. Keaktifan saya di partai politik, tidak lantas menghancurkan idealisme saya sebagai pewarta NU Online dan Redaktur di Media IPNU. Saya juga tidak akan mencampuri urusan itu, sehingga menjadi bias antara ideologi partai dan idealisme perkumpulan.


Nah, sesuatu yang menjadi rancu itu adalah ketika, misalnya, saya saat di NU membincang partai, tapi ketika di partai justru membincang NU. Bahkan, bodohnya lagi apabila saya punya niat mencari kader untuk mengurus partai melalui perkumpulan NU, sementara mencari kader untuk mengurusi NU melalui perkumpulan partai.


Itulah yang disebut sebagai kehancuran idealisme. Idealisme itu, bergerak dan berpikir sesuai dengan porsinya, Tidak dihancurleburkan dari satu perkumpulan ke dalam sebuah perkumpulan yang lain. Saya menentang keras hal-hal yang demikian itu. Sebab, tentu saja akan menggerus nilai-nilai idealisme itu sendiri.


Apalagi kalau sudah uang yang berbicara.


Benar saja kata Tan Malaka, idealisme adalah kekayaan terakhir yang dimiliki pemuda. Sebab menjaganya butuh kearifan, ketelitian, kehati-hatian, dan kecerdasan. Jangan sampai bias. Jangan sampai rancu, seperti yang sudah-sudah.

 

Wallahua’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar