Surat R.A. Kartini untuk Perempuan Indonesia - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 20 April 2016

Surat R.A. Kartini untuk Perempuan Indonesia




Kepada Yth.
Seluruh Perempuan Indonesia
di
Tempat

Assalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, semoga derap langkah kita menuju kebaikan selalu mendapat Berkah dan Karunia dari Tuhan.

Dari tempatku saat ini, aku melihat perempuan Indonesia tak lagi seperti dulu. Kalian, perempuan yang saat ini masih ada di Bumi Pertiwi, lebih asyik menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan atau di tempat makan ala Amerika dan Eropa, sementara lupa bagaimana aku berjuang untuk kemerdekaan yang saat ini kalian rasakan.

Aku khawatir dengan tingkah laku perempuan saat ini, atau barangkali kalian justru tidak mengenalku dan bahkan sama sekali tidak memahami kepribadianku, benar begitu?

Aku jarang mendengar suara perempuan yang kritis, yang berani menentang penindasan dan ketertindasan, demi sebuah kebenaran yang menjadi perjuanganku tempo dulu.

Di hari kelahiranku, kalian hanya bisa memperingati dengan sesuatu yang sifatnya simbolik dan formalistik, tidak substantif.

Aku tidak butuh gambarku dipasang di akun media sosial milik kalian, dan sosok pribadiku hanya menjadi perbincangan di seminar atau diskusi.

Aku butuh kalian yang aplikatif; menjadi penerusku, memperjuangkan kesetaraan, melawan ketimpangan peran di ruang publik yang didominasi kaum Adam, tidak diam ketika melihat dan mendengar pelecehan seksual atau diskriminasi terhadap perempuan, dan lain sebagainya.

Emansipasi yang kuajarkan tidak berarti menjadikan perempuan bisa semena-mena terhadap lelaki. Sesuatu yang kalian harus lawan adalah perilaku lelaki yang durjana, yang tak mengindahkan perempuan untuk bisa berperan aktif, dan yang menjadikan perempuan hanya sebagai objek bukan subjek.

Perempuan dan laki-laki memang memiliki kodratnya masing-masing, tidak bisa dipertukarkan. Tapi perempuan berkemampuan untuk bisa menjadi lebih. Mereka, kaum lelaki, hampir tidak bisa mengerjakan pekerjaannya di ruang privat dan ruang publik secara bersamaan. Tidak seperti perempuan, yang bisa mengerjakan pekerjaan di ruang publik sembari mengasuh anak agar tidak kelaparan dan kesepian.

Perempuan, harus segera pergi ke ruang privat setelah kepentingannya di ruang publik selesai. Sementara lelaki, hampir tidak memiliki ruang privat. Sekalipun punya, mereka lebih bersikap abai dan tak peduli.

Perempuan penerusku yang emansipatoris, aku tak butuh wacana dan kepintaran kalian dalam beretorika atau pemikiranmu teoritik. Pesanku, tetap hormati lelaki sebagai perwujudan pengkodratan Ilahi untuk kita, hargai lelaki sebagai sesama manusia; jangan semena-mena dan tidak santun dalam berperilaku. Satu lagi, tunjukkan bahwa kalian memiliki kemampuan yang lebih dari lelaki, dan lawan ketidakadilan serta penindasan terhadap perempuan!

Kalau dengan fisik perempuan pasti kalah, maka lawan-lah dengan kepiawanmu memikat lelaki lalu menjeratnya dengan akal dan pikiran yang sebenarnya Tuhan beri lebih ketimbang lelaki.

Demikian surat ini kubuat, atas perhatian dari seluruh perempuan di Indonesia, kuucapkan terimakasih dan selamat berjuang!

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Tulisan ini dibuat oleh Raden Adjeng Kartini dari singgasananya kini, atas kegelisahan karena melihat kelemahan dan ketidakmampuan perempuan untuk bersaing dengan lelaki, atau minimal melawan bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Ia bilang "sudah tak kutemui lagi, perempuan yang rela mati demi memperjuangkan kebenaran dan pembebasan kemerdekaan".