Jumat, 27 Maret 2020

JUMATAN: Berhentilah Saling Menyalahkan! (Renungan Al-Baqarah: 113)


Ilustrasi. Sumber gambar: docplayer.info

Jumat pekan kemarin, lingkungan sekitar rumah saya masih baik-baik saja. Berbeda dengan hari ini, yang sudah terkepung oleh penyebaran korona. Dua perumahan di dekat permukiman tempat saya tinggal, sudah ada yang positif korona dan sedang menjalani masa karantina di salah satu rumah sakit rujukan di Kota Bekasi. 

Oleh karena Jumat kemarin masih baik-baik saja, maka masih ada gelaran salat Jumat. Saya jumatan di Masjid Jami' Hasbiyallah, Kaliabang Tengah, Bekasi Utara. Sudah sejak lama, saya jumatan di masjid ini. Sebab, jujur saja, khutbah-khutbah Jumat di masjid ini sama sekali tidak pernah ada nuansa kebencian. Justru sebaliknya, para khotib menyampaikan materi khutbah tentang ibadah, persatuan, dan perdamaian. 

Khotib yang diundang pun, sangat mumpuni. Berkali-kali saya jumatan di sana, khotibnya adalah seorang kiai atau guru yang berhaluan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Sehingga, saat menjelaskan tentang dalil --baik naqli maupun aqli-- sangat terperinci dan jelas. Tidak leterlek, tekstual, dan saklek. Sebagaimana kebanyakan pemuka agama di perkotaan. 

Jumat kemarin, entah siapa nama kiai yang khutbah itu, temanya adalah soal larangan saling menyalahkan. Dari balik mimbar, kiai itu menjelaskan tentang sebuah ayat di dalam Al-Quran yang mesti dijadikan sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi umat Islam. Ayat itu adalah yang termaktub dalam surat Al-Baqarah nomor 113. 

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍۖ وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

Artinya: Dan orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan),” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan),” padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.

KH Bisri Mustofa (Ayahanda KH Mustofa Bisri atau Gus Mus) dalam kitab tafsir Al-Ibriz menjelaskan bahwa pada ayat tersebut, masing-masing dari mereka (Yahudi dan Nasrani) sama-sama merasa paling benar dan menuding yang lain salah. 

Orang Yahudi itu berkata: Kalau orang Nasrani itu agamanya tidak benar. Orang Nasrani juga berkata: Orang Yahudi itu agamanya tidak benar. (Padahal) orang Yahudi dan orang Nasrani itu membaca Kitab Suci milik Allah, begitu pula orang-orang yang tidak memiliki pengertian juga, mereka juga berkata seperti apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Allah sendiri yang akan memberikan keputusan hukum pada Hari Kiamat nanti, atas permasalahan yang menjadi perdebatan orang-orang tersebut.

Lalu, apa yang bisa kita petik pelajaran sebagai hikmah dari ayat tersebut? Khotib Jumat itu mengungkapkan beberapa hal agar menjadi pelajaran.

Pertama, kita mesti bersyukur dilahirkan sebagai umat Islam yang merupakan agama 'bontot'. Sehingga kita dapat belajar dari sejarah. Jika terdapat sejarah yang baik, maka tugas kita adalah melanjutkan estafet kebaikan itu. Sehingga menjadi amal jariyah yang tidak pernah terputus. Akan tetapi jika sejarah itu tidak baik, maka wajiblah kita belajar darinya, dan mencukupkan sejarah itu. Jangan diteruskan. Sebab hanya akan merusak dan menghancurkan peradaban.

Sebagaimana ayat di atas. Itulah contoh sejarah yang buruk. Sudah selayaknya kita memangkas sejarah yang seperti itu. Kita bisa memilih untuk tidak melanjutkan. Sebab, saat kita berhenti untuk saling menyalahkan, sebagaimana yang terjadi dalam sejarah Yahudi-Nasrani pada ayat itu, berarti kita telah berperan dalam menciptakan sebuah peradaban yang berkeadaban. 

Mari merenung, berapa banyak kita telah menyakiti hati orang lain lantaran kita merasa paling benar seraya menuding orang lain salah? 

Kedua, orang-orang Yahudi dan Nasrani itu oleh Allah telah diberikan kitab sebagai pedoman hidup masing-masing. Tetapi mereka masih juga saling berselisih paham. Apa yang menyebabkan mereka bersikap seperti itu? Tidak lain adalah karena kurangnya ilmu, sehingga mereka seperti memakai 'kacamata kuda' yang sempit dalam memandang, menilai, dan melihat sesuatu hal. 

Ketiga, marilah kita benar-benar menuntut ilmu dengan sebaik mungkin. Mencari pengetahuan atas dasar keinginan dan kesadaran untuk bisa menjadi manfaat dan berguna bagi orang banyak. Jangan sampai ada niat yang terselip dalam hati, kita menuntut ilmu karena ingin menjatuhkan orang lain. Pergunakan ilmu yang kita miliki sebagai sumber cahaya untuk masyarakat, bukan justru menjadi petaka bagi sesama. 

Keempat, ayat di atas menjadi bekal bagi kita untuk membangun peradaban yang baik. Ayat 113 dalam surat Al-Baqarah itu tidak hanya berlaku bagi umat Islam, karena terdapat di dalam Al-Quran, tetapi juga berlaku bagi umat beragama yang lain. Kita bisa gunakan ayat ini sebagai modal untuk membangun kerukunan antarumat beragama. Bahwa di dalam Al-Quran memang ada contoh tidak baik yang pernah dipraktikkan oleh umat beragama zaman dulu, maka tugas kita saat ini adalah agar jangan meniru perilaku buruk itu.

Oleh karenanya, saya tidak pernah lelah untuk terus menyuarakan soal toleransi. Mari kita bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan. Terlebih, kita hidup di Kota Bekasi (atau Indonesia) yang merupakan sebuah wilayah yang berpenduduk sangat heterogen.

Kita, sebagai umat beragama, masing-masing memang memiliki klaim kebenaran tersendiri yang berbeda dengan konsep kebenaran agama lain. Namun, tempatkanlah hal itu di 'dapur' atau di ruang internal sehingga tidak terjadi perselisihan sebagaimana yang telah diterangkan dalam Al-Quran itu. 

Alangkah lebih baiknya pula, di ruang internal itu, kita mengajak umat atau jamaah atau pengikut kita agar sekalipun agama kita 'paling benar', tapi sungguh tidak dibenarkan menuding agama lain sebagai objek yang pasti salah dan tidak ada sama sekali kebenaran dalam ajarannya. Dengan kata lain, janganlah menghasut umat untuk membenci orang yang berbeda pemahaman dengan kita.

Kelima, biarlah Allah yang menjadi 'pengadilan' terakhir bagi segala sesuatu yang saat ini tengah menjadi perselisihan. Tidak ada keadilan yang bisa tegak seadil-adilnya, kecuali Allah-lah hakim yang paling adil. Karena itu, mari kita senantiasa berbaik sangka kepada semua orang, belajar dan menggali pengetahuan dari semua kalangan, serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan persatuan.

Maka, mulai saat ini, berhentilah saling menyalahkan!

Kamis, 26 Maret 2020

Menolak Lupa: Garingnya Bercandaan Pejabat Negara Soal Korona



Mengisolasi diri di rumah, sudah entah sejak kapan, tentu saja merupakan hal yang sangat membosankan dan menjenuhkan. Sekalipun diisi dengan aktivitas atau kegiatan bermanfaat seperti membaca buku, untuk seseorang yang senang bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang, saya tetap juga merasakan jenuh. 

Dua malam yang lalu, Selasa malam, 24 Maret 2020, saya nekat keluar untuk menghilangkan rasa jenuh. Tapi tentu saja tidak jauh-jauh dari rumah. Sekira jam sepuluh malam, saya ngopi dengan abang saya, Ale Nisfu, di sebuah warung kopi di Jalan Muchtar Tabrani, Kaliabang Nangka, Bekasi Utara. 

Suasana malam itu sungguh sepi, tapi masih ada juga orang-orang yang beraktivitas di luar. Apa mau dikata ngeyel? Entahlah. Saya tidak bisa dan tidak mau menghakimi orang-orang yang tidak mau mengisolasi diri di rumah. Sebab barangkali ada keperluan mendesak sehingga mereka harus pergi atau keluar dari rumah. Ya, seperti saya dan abang saya ini, sekadar ngopi untuk menghilangkan jenuh; sebuah kebutuhan yang sangat mendesak. Hehehehe...

Di tengah obrolan yang sama sekali tidak membahas korona, tetiba ada mobil polisi patroli lewat dengan menyalakan sirine yang sangat mengganggu pendengaran. Berisik sekali. Kemudian ditambah dengan woro-woro dari Pak Polisi menggunakan alat pengeras suara: toa. Siapa pun yang ketika itu sedang asyik ngobrol, saya yakin pasti berhenti dan mengalihkan konsentrasi ke polisi yang lewat itu. 

"Dimohon kepada warga masyarakat Bekasi Utara agar segera masuk ke dalam rumah masing-masing, demi mencegah penularan virus covid-19 yang sudah masuk ke daerah kita. Dimohon kerjasamanya untuk sama-sama mewujudkan program pemerintah, yakni melawan virus corona," demikian imbauan Pak Polisi yang saya masih ingat. 

Orang-orang di sekitar, anehnya, sama sekali tidak ada yang mengindahkan omongan polisi itu tadi. Barangkali masih ada keperluan mendesak lainnya, sehingga orang-orang belum bergegas untuk pulang. Saya pun demikian. Masih ngopi-ngopi santai.

Sesaat setelah, bunyi-bunyian polisi yang berisik itu hilang, saya kembali membuka obrolan dengan tema yang berbeda:

"Mas, gue kalo jadi Jokowi mah asli dah kagak bakalan bisa tidur. Dia pasti lagi mikir gimana caranya ngasih solusi buat keadaan sekarang. Serba salah banget pasti."

"Pemerintah terlalu santai, sih. Awal-awal korona waktu booming di Cina, pemerintah kita malah masih asyik ngomongin soal pariwisata atau investasi, bukannya malah mikirin upaya pencegahan supaya itu virus nggak masuk," timpal abang saya. Dia lalu menyicip kopi yang ada di hadapannya.

Dia melanjutkan, "Ditambah Jokowi ini orang Jawa. Budaya Jawa itu kan hati-hati sekali. Penuh perhitungan yang matang. Terus juga pasti mempertimbangkan bisikan-bisikan yang ada di sekeliling. Itulah yang bikin pemerintah terkesan lamban dalam penanganan korona ini. Jokowi pasti pusing banget."

Demikian obrolan saya mengenai korona dan pemerintah yang sangat lamban. 

Sementara itu, pagi ini, Kamis 26 Maret 2020, saya menemukan sebuah gambar kolase yang beredar. Gambar kolase itu adalah kumpulan tangkapan layar judul berita soal candaan para petinggi negara mengenai korona. Seperti meremehkan. Tidak ada upaya apa pun dalam mencegah. Inilah yang menjadi bukti dari obrolan kami, saya dan abang saya, bahwa pemerintah memang sangat lamban.

*****

Berikut ini adalah kumpulan berita itu.

Pertama, sebuah berita yang ditayangkan di Detikcom pada Senin, 3 Februari 2020 yang berjudul: Rapat di DPR, Ribka Tjiptaning Bercanda Korona 'Komunitas Rondo Mempesona'. 

Anggota Komisi IX Ribka Tjiptaning dari Fraksi PDIP mengikuti rapat penanganan virus corona. Dengan nada santai, Ribka berbicara soal singkatan 'korona' yakni komunitas rondo mempesona yang menurut dia berbahaya.

Hal itu disampaikan Ribka saat rapat kerja (raker) bersama dengan Menkes Terawan Agus Putranto di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/2/2020). Ribka awalnya mengatakan virus corona tak bahaya bagi kesehatan dibanding virus MERS dan SARS.

"Itu tadi dijabarkan sama ahli paru itu di Metro TV kalau nggak salah saya lihat. Ini lebih bahaya MERS dan SARS dibanding itu daripada si corona, kecuali komunitas rondo mempesona. Bahaya itu penghuni koronanya itu, sebab hati-hati itu ya kan," kata Ribka. Sejumlah peserta rapat tertawa saat Ribka berbicara.

Rondo merupakan bahasa Jawa yang berarti janda. Ribka mengatakan 'virus korona' ini bahaya bagi para pria yang telah berumah tangga.

"Bapak-bapak kalau kena korona yang itu ngeri kita. Itu korona beneran itu, korona yang membahayakan itu, komunitas rondo mempesona itu," ujarnya.

Usai menjelaskan 'virus korona' yang bahaya, Ribka kembali menyampaikan komentarnya terkait penanganan 238 WNI yang diobservasi di Natuna. Menurutnya, para WNI tersebut terkena musibah dan tak perlu dikucilkan.

"Jadi corona virus ini kita tak perlu bagaimana, jadi saudara-saudara kita di Natuna itu dia sudah datang-disemprot-semprot diperlakukan kayak begitu, dia juga nggak pengin kena musibah itu, tapi ya bagaimana menimpa dia," imbuhnya.

Kedua, CNN Indonesia menayangkan berita berjudul, Mahfud: RI Satu-satunya Negara Besar di Asia Tak Kena Corona. Berita ini tayang pada Jumat, 7 Februari 2020.

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengklaim bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara besar di Asia yang belum memiliki kasus positif virus corona. Sementara negara-negara lain beberapa sudah memiliki kasus positif virus corona.

"Yang ingin saya katakan bahwa sampai saat ini Indonesia itu adalah satu-satunya negara besar di Asia yang tidak punya kasus corona. Virus corona itu tuh ndak ada di Indonesia," kata Mahfud di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (7/2).

Mahfud menegaskan bahwa penduduk Indonesia sejauh ini tak ada yang positif terjangkit virus corona. "Terinfeksi aja di sini tak ada," kata Mahfud.

Mahfud juga menegaskan seluruh WNI yang sudah dievakuasi dari Wuhan, China dalam kondisi sehat. Mereka kini tengah menjalani observasi selama 14 hari di Natuna.

Mahfud menjelaskan observasi itu dilakukan karena mengikuti standarisasi yang diterapkan World Health Organization (WHO) agar tiap negara melakukan observasi masing-masing warga negaranya yang dievakuasi dari Wuhan.

"Bahwa orang yang pulang dari Wuhan itu sedang ada virus Corona maka sebaiknya diobservasi selama 14 hari itu," kata dia.

Setidaknya ada 285 orang yang saat ini masih menjalani observasi di Natuna untuk 14 hari sebagaimana masa inkubasi virus corona. Mereka terdiri dari 237 WNI, 1 WNA, 5 orang tim Kemenlu, 24 tim penjemput, dan 18 kru Batik Air.

Hingga hari ini, mereka sudah tujuh hari menjalani masa observasi sejak tiba di Natuna pada 1 Februari 2020. Menkes Terawan Agus Putranto menyebut 285 orang itu dalam kondisi baik tanpa ada peningkatan suhu tubuh.

Jika tak ada kendala dan tetap sehat, mereka akan dipulangkan ke kediaman masing-masing pekan depan, tepatnya 14 Februari. 

Ketiga, Detikcom menayangkan sebuah berita pada Senin, 10 Februari 2020. Berita itu berjudul, Canda Luhut saat Ditanya Corona Masuk Batam: Mobil?

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sudah enggan bicara banyak soal dampak virus corona. Saat ditanya wartawan, Luhut hanya mengatakan virus corona sudah pergi dari Indonesia.

"Corona? Corona kan sudah pergi," pungkas Luhut di kantornya, Jakarta Pusat, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Luhut sempat ditanya soal adanya suspect alias dugaan corona yang menjangkit warga di Batam. Namun Luhut malah menjawabnya dengan candaan, dia menyebut corona sebagai mobil.

"(Corona masuk Batam?) Hah? Mobil Corona?" kata Luhut sambil tersenyum.

Memang corona sendiri bukan cuma nama virus. Pabrikan kendaraan bermotor Toyota memang pernah mengeluarkan mobil dengan nama Corona pada medio 1950-an.

Di Indonesia, mobil Corona sendiri masuk dan dirakit perusahaan lokal pada generasi keempat atau sekitar tahun 1970-an.

Sejak diluncurkan pada tahun 1957 hingga 1986, mobil ini terbilang moncer sebab mampu menjual hingga 5 juta unit mobil secara global. Generasi terakhir mobil Corona yang dijual di Indonesia adalah Corona Absolute, dan sejak tahun 1998 produksi Toyota di Indonesia digantikan oleh Camry.

Kembali ke Luhut, dia juga mengatakan soal imbas corona terhadap pariwisata. Menurutnya memang pariwisata akan menurun, namun pemerintah lewat Kemenparekraf sudah menyiapkan paket wisata domestik, sehingga bisa mengurangi kerugian karena berkurangnya wisatawan asing.

"Berjalannya waktu kita juga bikin dari Kemenpar membuat paket-paket wisata untuk domestik sekarang ini. Mengurangi dampak kerugiannya," ungkap Luhut.

Keempat, CNN Indonesia merilis berita berjudul, Menkes Tantang Harvard Buktikan Virus Corona di Indonesia. Berita ini tayang pada Selasa, 11 Februari 2020.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menantang Universitas Harvard untuk membuktikan langsung hasil riset yang memprediksi virus corona semestinya sudah masuk ke Indonesia.

Terawan berkukuh hingga saat ini belum ada kasus virus corona karena Indonesia telah memiliki alat untuk mendeteksi virus asal China tersebut. 

"Ya Harvard suruh ke sini. Saya suruh buka pintunya untuk melihat. Tidak ada barang yang ditutupi," ujar Terawan di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2).

Terawan mengklaim proses pemeriksaan terkait virus corona dilakukan dengan ketat dan sesuai standar.

Untuk itu, ia meminta semua pihak mestinya bersyukur karena hingga saat ini belum ada orang terjangkit virus corona di Indonesia. Menurutnya, kondisi itu tak lepas dari doa yang terus dipanjatkan. 

"Perkara Indonesia itu tidak ada (virus corona) ya berkat Yang Maha Kuasa, karena doa kita semua. Kita tidak mengharapkan itu ada. Dan kita terus berdoa mudah-mudahan jangan ada mampir ke Indonesia," katanya. 

Penelitian dari Harvard sebelumnya menyebutkan belum ditemukannya kasus virus Corona di Indonesia karena Indonesia belum mampu mendeteksi virus corona. Sementara di sejumlah negara tetangga telah mendeteksi keberadaan virus tersebut. Keraguan Harvard itu disampaikan oleh tim peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health di Amerika Serikat.

Kelima, Republika Online menerbitkan sebuah berita pada Senin, 17 Februari 2020 berjudul, Kelakar Menhub: Kita Kebal Corona karena Doyan Nasi Kucing.

Menteri Perhubungan (Menhub) RI. Budi Karya Sumadi berkelakar bahwa tidak ditemukannya virus COVID-19 di Indonesia hingga saat ini karena masyarakatnya memiliki kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh itu dimiliki lantaran setiap hari gemar makan nasi kucing.

"Tapi (ini) guyonan sama Pak Presiden ya, insya Allah ya, (virus) COVID-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," kata Budi Karya saat menyampaikan pidato ilmiah dalam acara peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-74 di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin (17/2).

Nasi kucing adalah nasi dengan porsi kecil dan lauk yang sangat sederhana seperti sambal ikan teri, telur, tempe dan beragam variasi lainnya. Nasi yang biasa dibungkus dengan daun pisang ini populer di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang.

Meski demikian, ia melanjutkan bahwa hingga saat ini faktanya memang belum ada laporan pasien terjangkit virus COVID-19 di Tanah Air. Dengan merujuk laporan Bank Dunia 2020, Budi Karya kemudian menyebutkan bahwa virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China itu menjadi salah satu penyebab ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Selain itu, kata dia, gejolak ekonomi global itu masih diperparah dengan perang dagang Amerika Serikat dengan China, konflik di Timur Tengah, hingga keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit.

"Dengan keadaan ini kita harus bangga Indonesia itu tiga tahun berturut-turut growth (pertumbuhan ekonomi)-nya lima persen. Kita nomor dua di dunia setelah China," kata dia.

Sebelumnya, Medical Officer dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk wilayah Indonesia Vinod Kumar Bura mengatakan Indonesia mampu mendeteksi virus novel COVID-19 2019 dengan fasilitas yang memadai dan sesuai dengan standar WHO.

"Mereka (Kementerian Kesehatan RI) baru saja menguji semua spesimen dari 60 kasus dalam beberapa minggu terakhir dan telah mengonfirmasi bahwa tidak satu pun dari kasus itu positif virus corona. Kami sepenuhnya yakin bahwa laboratorium ini mampu untuk mendeteksi virus COVID-19 ini," terang Vinod di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan usai mengunjungi fasilitas deteksi virus di kantor badan itu di Jakarta.

Keenam, CNBC Indonesia menerbitkan berita berjudul, Terawan Bicara Kekuatan Doa yang Bikin RI Bebas Corona. Berita ini kemudian terbit pada Senin, 17 Februari 2020.

Sampai dengan hari ini, belum ada satupun orang di Tanah Air yang positif terjangkit virus corona (Covid-19). Dalam berbagai kesempatan, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengungkapkan hal itu tak lepas dari doa. Hal itu tentu menjadi pertanyaan awak media, tidak terkecuali dalam konferensi pers setelah rapat koordinasi di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Terawan menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan dasar Pancasila. Sila pertama pun berbunyi Ketuhanan yang Yang Maha Esa.

"Apa pun agamanya, selama kita berpegang teguh pada Pancasila, doa itu menjadi hal yang harus utama maka namanya ora et labora. Saya kira itu tetap ada bekerja sambil berdoa dan itu sebuah hal yang sangat mulia," ujar Terawan.

Ia tidak mempermasalahkan apabila ada negara atau pihak lain yang keberatan dengan hal itu. Hal itu merupakan hak bangsa Indonesia untuk mengandalkan yang maha kuasa.

"Selama kita mengandalkan yang maha kuasa ya itulah hasil yang kita dapatkan sekarang. Kenapa malu mengandalkan yang maha kuasa? Aku tanya ganti. Ngapain malu kita andalkan yang maha kuasa? Masa berdoa aja malu. Salahnya sendiri," kata Terawan.

"Orang boleh beragama tapi belum tentu mau berdoa. Itu yang ingin saya tajamkan, satu, efisiensi harus dilakukan berdasarkan rasional ilmu kesehatan pada standar WHO. Yang kedua, yo berdoa. Nek ndak berdoa jangan coba-coba andalkan kekuatan sendiri," lanjutnya.

Berdasarkan data monitoring KSP hingga Senin (17/2/2020) pukul 08.00 WIB, virus corona telah menjangkiti 71.290 orang di seluruh dunia dengan jumlah korban meninggal dunia 1.772 orang. Sementara itu sebanyak 10.893 orang pulih.

Ketujuh, sebuah berita yang ditayangkan oleh Okezone berjudul, Kelakar Bahlil di Depan Hary Tanoe: Virus Korona Tak Masuk Indonesia Karena Izinnya Susah. Berita ini terbit pada Senin, 24 Februari 2020.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut masalah perizinan masih menjadi faktor pertama yang menghambat investasi di Indonesia. Banyak investor yang mengeluh jika perizinan di Indonesia begitu lama dan juga berbelit.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, lamanya proses perizinan di Indonesia bahkan sampai dibuat jokes. Adapun bunyi jokes tersebut menyebut jika alasan virus Korona sulit masuk ke Indonesia karena sulitnya perizinan.

Jokes tersebut dilemparkan Bahlil dalam acara Manager Forum XLIV 'Kebijakan Investasi untuk Mendorong Perekonomian Nasional dan Coorporate Busines'. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo.

"Sampai katanya virus korona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah," ujarnya dalam acara Manager Forum MNC Group di Gedung Inews, Jakarta, Senin (24/2/2020)

Bahlil pun mencontohkan jika berbelitnya perizinan adalah terjadi pada proses perizinan yang diajukan PT Vale Indonesia Tbk. Untuk mendapatkan izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) sudah 3,5 tahun tak kunjung rampung.

*****

Setidaknya, obrolan saya dengan abang saya diatas itu terjawab sudah bahwa wajar saja jika saat ini, kasus positif korona meningkat tajam. Bahkan, ada sekitar 100 kasus per hari. Itu yang ketahuan. Berapa yang belum terdeteksi? Saya dan abang saya yakin, kasus positif korona di Indonesia, hingga saat ini, sudah lebih dari 1000. Hanya saja belum terdeteksi.

Lalu, kenapa kok bisa demikian? Semakin hari kian mencekam? Jawabannya adalah karena pembantu-pembantunya Pak Jokowi tidak serius dalam hal mencegah masuknya pandemi ini. Bahkan terkesan meremehkan. Kabinet Indonesia Maju, menurut saya, harus segera direshuffle. Jangan sampai, para 'pelawak' yang garing banget itu terus-terusan jadi menteri atau jadi petinggi negeri.

Kalau anggota DPR, Ribka Tjiptaning itu, wajarlah kalau berpernyataan ngawur begitu. Namanya juga DPR. Maklumin saja. Bagi Gus Dur, DPR itu kan sama dengan TK. Jadi, untuk apa kita ngurusin anak TK? Namanya juga anak-anak. Harap maklum saja.

Terakhir, mari kita doakan Presiden Jokowi semoga diberikan kekuatan atas berbagai cobaan yang sedang menimpa dirinya. Kemarin, 25 Maret 2020, ibunda tercintanya wafat. Ibu Sudjiatmi Notomiharjo adalah kekuatan spiritual yang selama ini dimiliki Joko Widodo. Namun kini, kekuatan itu dicabut oleh Allah. 

Pepatah mengatakan, semakin tinggi pohon maka akan semakin besar tiupan anginnya. Semakin besar iman seseorang kepada Tuhan, akan semakin besar pula cobaan yang diberikan. So, kita dapat melihat seberapa tebal iman dan ketegaran hati seseorang dapat dilihat dari seberapa besar cobaan yang diterimanya. 

Semoga Pak Jokowi senantiasa diberikan kesehatan. Aamiin.  

Rabu, 25 Maret 2020

Menyepi dari Korona


Ilustrasi. Sumber gambar: grid.id

Hari ini, di tengah hiruk-pikuk keramaian manusia membincang korona, umat Hindu merayakan dan memperingati Hari Raya Nyepi. Tahun ini, tradisi Nyepi itu tidak hanya dirasakan oleh umat Hindu, tetapi juga oleh seluruh umat manusia. Kita berbondong-bondong untuk berhindar dari keburukan, mencari ruang sepi, agar kehidupan tetap dapat berjalan. 

Sebagai pribadi, dan orang lain menyebut saya sebagai pelaku kebinekaan, saya mengucapkan: Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi 1942 tahun Saka yang bertepatan dengan 25 Maret 2020. Saya titip doa untuk kebaikan bangsa Indonesia dan juga dunia, agar kembali normal seperti sediakala, agar kehidupan dapat berjalan sebagaimana biasa. 

Selama setahun ini, mari kita sadari dan renungi, telah banyak dosa yang menyelimuti seluruh lapisan bumi. Sudah ada milyaran kesalahan, kemaksiatan, dan kebobrokan kita yang membuat bumi menjadi tidak baik-baik saja. Hari ini, sejak pagi tadi pukul 06.00 hingga besok pukul 06.00, umat Hindu berdoa seraya mengistirahatkan lelah yang sudah lama berlaku-lampah, menjelajah isi bumi dengan segudang masalah. 

Dari umat Hindu, kita belajar, tentang sebuah keberpasrahan dan kerelaan untuk menyelami diri, merenungi, serta memandang diri sendiri. Inilah yang disebut muhasabah an-nafs atau introspeksi diri. Aktivitas selama 364 hari, telah banyak yang dilewati, lebih-lebih malapetaka yang disebabkan dari kecerobohan dan kelalaian diri. Berapa banyak hal itu terjadi?

Selama 24 jam, sehari penuh, pemeluk Hindu di Indonesia melaksanakan sebuah peribadatan sekaligus permenungan suci. Itulah yang disebut: Tapa Brata Nyepi, yakni amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungaan. Demikian keterangan yang saya dapat dari berbagai literatur. 

Dalam penyepian diri itu, umat Hindu harus meniadakan api dari hidupnya, selama satu hari penuh. Tidak ada api untuk memasak atau bahkan sekadar menyalakan lilin serta tidak sama sekali menghidupkan listrik. Kalau ada ibu-ibu yang ternyata punya anak kecil atau orang yang sedang sakit, maka harus mendapat izin terlebih dulu dari pihak yang memegang otoritas untuk bisa menyalakan lilin sebagai penerang. 

Dari amati geni, kita dapat belajar, betapa kita selama ini sangat bergantung pada api dan cahaya. Dapatkah sekali saja, mengisi hari untuk tidak bertemu cahaya dan api? Di dalam gelap, di dalam kesendirian, akan dengan mudah kita berdialog dengan diri sendiri. Menghancurkan segala macam pembenaran yang mengagungkan diri sendiri. Sehingga ke depan, di kemudian hari, kita dapat lebih mudah mengendalikan ego, mengontrol hawa nafsu, dan menjadi lebih tenang dalam menyikapi segala hal. 

Selain itu, umat Hindu juga menjalankan amati karya atau tidak melakukan kegiatan atau aktivitas apa pun. Hal tersebut bertujuan agar umat Hindu benar-benar bisa fokus untuk melakukan semedi. Di sinilah, kita dapat belajar dari umat Hindu, bahwa untuk bisa berkunjung ke diri sendiri, kita mesti memberhentikan terlebih dulu segala macam kesibukan dunia. 

Jika sudah tidak ada aktivitas lain yang menganggu permenungan, kita akan sangat dengan mudah mendalami diri, mengenali diri, dan menginsyafi diri. Sehingga dengan demikian, jika kita sudah dapat menemukan diri sendiri di dalam kedalaman, kita tentu saja akan bertemu dengan Tuhan. Kata Nabi Isa, siapa yang telah mengenali diri sendiri, maka ia akan mengenali siapa Tuhannya. 

Dari permenungan itu, kita akan mengetahui seberapa jauh kita mengenali diri dan Tuhan. Bahkan lebih dalam lagi, kita akan mengetahui siapa atau apa yang selama ini kita sembah? Jangan-jangan, yang selama ini menjadi sesembahan kita adalah hawa nafsu, ego, eksistensi, dan narsisme. Sehingga kita menjadi mudah marah jika ada sesuatu hal yang tidak berkesesuaian dengan keinginan kita. Bukankah demikian? 

Lalu, umat Hindu juga menjalankan amati lelanguan. Yakni tidak bersenang-senang. Ini menjadi penting sekali. Sebab, sebagaimana para bijak bestari berungkap bahwa Tuhan akan dapat dicumbui dengan keprihatinan dan kesengsaraan. Sementara kemewahan dan kemegahan, akan sangat berpeluang besar menjauhkan diri kita dari kemahakuasaan Tuhan. 

Di dalam kesenang-senangan itu, ada sejumlah kelalaian yang siap menelanjangi kita dari kesucian. Oleh sebab itu, meninggalkan perilaku senang-senang menjadi salah satu upaya agar permenungan dapat berjalan khidmat. Sehingga, jika amati lelanguan ini dapat dijalani dengan khusyuk, kita akan melewati berbagai malapetaka yang siap mencelakai diri karena kesenangan duniawi. 

Terakhir, umat Hindu tentu saja akan menjalani amati lelungaan, yakni tidak bepergian. Secara adat, kalau ketahuan ada umat Hindu yang nekat bepergian saat sedang menjalankan ritual Tapa Brata, terutama di Bali, maka akan langsung ditangkap oleh polisi agama yang disebut: pecalang. Namun, tetap ada keringanan bagi mereka yang akan melahirkan atau mereka yang sedang sakit sehingga harus pergi berobat ke dokter. 

Di saat kondisi seperti sekarang, situasi yang memprihatinkan lantaran Covid-19 yang membuat siapa pun khawatir, kita dapat belajar dan memetik keteladanan umat Hindu. Betapa mereka sangat serius, khusyuk, dan khidmat dalam menyelami samudera diri yang tanpa batas dan tepi ini. Di luar ada banyak virus bertebaran, tetapi rupanya di dalam diri juga terdapat milyaran kotoran yang harus disucikan melalui pertapaan atau permenungan yang mendalam. 

Kita dianjurkan untuk berdiam diri di rumah. Tujuannya agar meminimalisir penyebaran virus jahat itu. Memang, korona dapat dengan mudah disembuhkan, tetapi penularannya juga sangat cepat sehingga membuat tenaga medis menjadi kewalahan. Maka, untuk bisa mengatasi persoalan ini, jawabannya adalah menyepi. 

Menyepi dalam rangka menghindari korona ini, penting sekali kita manfaatkan sebagai momentum pengenalan diri yang lebih dalam. Mari kita merenung, sudah berapa banyak dosa yang disebabkan oleh kesombongan diri yang menyebabkan ketersinggungan di hati orang lain? Sudah berapa banyak eksistensi yang ditayangkan sehingga menganggap orang lain tidak ada apa-apanya ketimbang diri sendiri --padahal tidak ada yang benar-benar eksis kecuali yang Mahaeksis, Dialah Tuhan Yang Mahatinggi--? 

Sudah berapa kali kita merasa paling baik dari orang lain karena telah menaati anjuran pemerintah dan ulama agar berdiam diri di rumah, sementara di saat yang sama kita menghardik dan mencaci orang-orang yang masih berasyik-masyuk berkegiatan di luar di rumah? 

Sekali lagi, mari kita menyepi. Merenungi. Memandang diri sendiri. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari umat Hindu, dari peringatan Nyepi tahun ini, dari perayaan Tahun Baru Saka 1942 yang bertepatan dengan tahun masehi 2020, di tengah virus korona yang kian mengkhawatirkan.

Sudah sepikah kita dari ramai-ramai kesombongan, keangkuhan, dan kejemawaan? Mari menyepi sejenak.