Senin, 23 Maret 2020

MAHACORONA (2)


Ilustrasi. Sumber gambar: nationalgeographic.grid.id

Kuberi tahu kepadamu
wahai virus yang menggemuruhkan bumi
pandemi yang kusebut: Mahacorona
dengarkan baik-baik, ya

keberadaanmu kini membuat kami susah
orang-orang harus masuk rumah
begitu pula untuk ibadah
tapi sungguh itu tidak mudah

bagaimana dengan manusia gerobak yang biasa keliling bersama anak-anaknya di tengah kota?
siapa yang peduli kepada mereka?
saban malam mereka tidur di pelataran toko yang tertutup?

alas tidur mereka kardus-kardus bekas
atapnya langit luas

mereka terbangun saat matahari pertama kali menyengat tubuhnya
ada pula yang terbangun karena azan subuh yang membisingkan kesunyian
sebagian ada yang terbangun lantaran suara pemilik toko yang bersiap untuk kembali berjualan

pemilik toko itu pun juga harus berikhtiar mencari rezeki
ia berpenghasilan harian
tak bisa makan jika di rumah seharian
apalagi kalau harus bertahan di rumah selama dua mingguan
lebih-lebih berbulan-bulan

lalu,

manusia gerobak itu bangun
menghadapi dunia lagi
mencari apa pun yang bisa dicari
menjual apa saja yang dapat dijual
mereka tak peduli sama sekali oleh apa pun juga
yang terpenting hari ini bisa makan
menyambung hidup

mereka entah mandi di mana
mungkin di masjid-masjid pinggir jalan atau musala di dalam komplek dan perumahan
sembari melaksanakan salat berjamaah
atau mereka menumpang mandi di rumah ibadah yang lain
di gereja
pura
atau vihara
bagi mereka Tuhan segalanya
mengunjungi rumah-Nya adalah anugerah yang patut disyukuri
disanalah akan ada nikmat yang tersuguh sepanjang hari

manusia gerobak yang saban hari kulihat di tengah kota itu tak pernah berpangku tangan
mereka selalu berupaya dengan penuh sungguh tanpa berharap belas-kasihan dari pejabat pemerintahan
sakitnya tak ditanggung BPJS
bahkan mereka tak paham siapa kepala daerahnya

manusia gerobak itu
hari-harinya tak ada sedikit pun waktu untuk mengeluh
mereka tak pernah pula mengritik kerja pemerintah
mereka hidup untuk menghidupi kehidupannya
tanpa sedikit pun mengiba kepada pejabat yang sedang berkuasa

setiap saat mereka bersyukur
atas karunia yang tak terukur
meski ada virus yang menjalar di bumi
mereka tetap yakin tak tertular sama sekali
kalau sakit, obatnya hanya satu: berdoa sungguh-sungguh
yakin mereka, kelompok yang termarjinalkan dan teraniaya akan cepat dikabul doanya

maka sebelum tidur, doa dipanjatkan agar diberi hidup untuk esok hari
saat terbangun hingga menjelang rebah, dimanfaatkan waktu untuk berikhtiar seraya bersyukur tanpa henti

Mahacorona,
aku mohon ampun
jangan kau hinggap di tubuh mereka
tolong beritahu pula kepada semua yang ketakutan atas hadirmu itu: jangan emosian!

Sabtu, 21 Maret 2020

Unjuk Rasa di Masjid yang Meniadakan Salat Jumat


Ilustrasi. Sumber gambar: grid.id

Pagi tadi, sekelompok orang melangsungkan unjuk rasa atau demonstrasi di depan masjid yang meniadakan salat Jumat. Orang-orang itu memprotes Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) seraya berteriak dengan sangat keras.

"Bubarkan DKM. Ganti pengurus DKM," kata sekelompok pendemo itu, diucapkan berulangkali dan secara serentak.

Sejurus kemudian, Ketua DKM menemui para pendemo. Adu mulut pun terjadi dan tak bisa terhindarkan. Tak lama berselang, seorang ustaz melerai pertikaian adu mulut mereka.

Seorang pentolan demo berkata sembari melotot, "Begini ustaz, masa orang mau salat Jumat dilarang?!"

Dengan santai dan penuh keyakinan, Ketua DKM menjawab pertanyaan menyerang itu. "Kalau kami izinkan salat Jumat, bisa-bisa kami dosa ustaz."

Lalu, si pendemo itu kebingungan dan lantas bertanya, "Kok, bisa berdosa?"

"Ini kan hari Sabtu," jawab Ketua DKM.

Hehehehehee....

Jumat, 20 Maret 2020

MAHACORONA (1)


Sumber: tirto.id

engkau sedang dan semakin hangat dibincangkan
oleh manusia-manusia yang hidupnya penuh ketakutan
maksudku, kekhawatiran
maaf

engkau tak nampak sedikit pun
tapi hadirmu sungguh mencekam
sudah banyak yang tak kau beri ampun
meski segala upaya telah disungguhkan
Mahacorona yang menakjubkan, kapan kau tak menghantui manusia lagi?

semua orang cemas
merasa was-was
memperlebar ruang batas
sungguh, kehadiranmu adalah sarkas
engkau tak lebih bahaya dari mers dan sars
tetapi orang-orang mengutukimu dengan sangat keras
kasihan sekali

para pemuka agama mulai gemar beretorika
mengajari umat agar meningkatkan takwa
jangan lupa pula sering-sering berdoa
dan mari senantiasa berolahraga
hidup bersih juga perlu
mencuci tangan agar tak kotor melulu

kami sebagai umat kemudian bertanya:
memangnya selama ini kami tidak bertakwa, jarang berdoa, tidak pernah berolahraga, tidak hidup bersih, dan selalu kotor dalam keseharian?

Mahacorona yang kucinta
kau ini benar adanya?
atau hanya sekadar apa?
maaf hanya bertanya