Jumat, 25 Januari 2019

Jangan Mau Dibegoin Elit Politik!


Ilustrasi. Sumber gambar: tribunnews.com

Biar cerdas dan supaya kita tidak ribut melulu karena membela junjungan atau tokoh-tokoh yang ada di kubu junjungan kita, ada baiknya saya memberikan informasi berikut ini agar sesama rakyat jelata tidak gampang dibegoin.

Begini...

Prabowo Subianto ketika Pilpres 2009 adalah cawapres dari Megawati Soekarnoputri. Ketika itu, presiden dan pemimpin nasional terpilih kita adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono. 

Nah, saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012, Fadli Zon (kaki tangannya Prabowo) adalah juru kampanye pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Pasangan itu, yang diusung oleh Partai Gerindra berhasil menang. 

Pada 2004, Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah menjadi menteri di pemerintahan Megawati Soekarno Putri - KH Abdurrahman Wahid, juga pernah mencalonkan diri menjadi presiden bersama Jusuf Kalla, didukung Surya Paloh. Sementara penantang mereka adalah pasangan Megawati dan KH Hasyim Muzadi. 

Pilpres berikutnya, 2009, Jusuf Kalla mencalonkan diri menjadi presiden dengan wakilnya Wiranto, melawan SBY-Budiono. JK-Wiranto didukung Aburizal Bakrie yang kini lebih dekat dan akrab dengan Prabowo Subianto. Prabowo, menjauh dengan JK dan Wiranto.

Nah, Ratu Hoaks Ratna Sarumpaet di zaman orde baru merupakan sosok yang cukup lantang menentang rezim Soeharto. Aktivis perempuan yang anak teater ini tak kenal lelah untuk terus mendobrak dinding kekuasaan 'pembunuh berdarah dingin' itu. Kini, Ratna digandeng (atau menggandeng) Prabowo yang disokong penuh Keluarga Cendana.

Anies Baswedan, pada 2013, pernah menjadi peserta kandidat calon presiden di konvensi Partai Demokrat. 

Kemudian di Pilpres 2014, Anies berperan sebagai tim sukses Jokowi-JK dan sempat pula masuk kabinet, menjabat Menteri Pendidikan RI. Ia juga dikenal sebagai pengritik keras kelompok 'radikal' seperti FPI melalui Gerakan Merajut Kebangsaan. Sekarang, malah mendekat ke Prabowo, PKS, dan FPI.

Amien Rais, pernah menentang Megawati untuk menjadi presiden. Lalu ia membikin manuver poros tengah, menaikkan Gus Dur. Tapi di tengah jalan, Gus Dur malah digulingkan. Megawati justru dinaikkan jadi presiden.

Pada Pilpres 2004, Amien Rais menjadi capres berpasangan dengan Siswono Yudohusodo melawan pasangan SBY-JK dan Prabowo. Tapi sayang, Prabowo gagal nyapres karena kalah lebih dulu di konvensi Partai Golkar yang menelurkan keputusan, Wiranto-Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) maju sebagai capres dan cawapres. 

Nah lucunya, sekarang Amien Rais malah bergandeng mesra dengan Prabowo. Padahal di zaman reformasi, Amien Rais itu adalah target yang harus diamankan (atau barangkali dimusnahkan) oleh Prabowo. 

Ali Muchtar Ngabalin, pada Pilpres 2014 adalah kerabat dekat dan semacam "die-hard" bagi Prabowo yang kemudian paling sengit menyerang Jokowi. Saat ini, Ali justru bergelayut manja di pelukan Jokowi. 

Apa kabar PKS?

Saat Pilpres 2009 dan Pigub DKI Jakarta 2012, PKS itu gila-gilaan menyerang Prabowo. Ketika Pilpres, PKS mengusung pasangan SBY-Budiono melawan Megawati-Prabowo (Mega Pro). Sedangkan Pilkada DKI 2012, PKS mengusung Hidayat Nur Wahid berpasangan dengan Didik J Rachbini, Prabowo mengusung Jokowi-Ahok.

Nah sekarang, PKS berasyik-masyuk dengan Gerindra. Walau sebenarnya juga sedang kisruh terkait kekosongan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sejak ditinggal Sandiaga Uno. 

Selain itu, PDI Perjuangan bersama Partai Gerindra pernah mesra sebagai oposisi terhadap rezim SBY yang disokong Partai Golkar, PKS, dan PAN. Sekarang? Ya begitu itu...

Satu lagi yang lucu, musisi kenamaan tanah air, Ahmad Dhani, pernah menjadi musuh bebuyutan FPI. Apa pasal? Dianggap menginjak-injak lafaz Allah. Dibela oleh Gus Dur. Kemudian Dhani bikin lagu Laskar Cinta untuk menyindir FPI. Hari ini, kita bisa lihat bagaimana tingkahnya.

Dari pemaparan di atas, apa pesan yang bisa kita petik sebagai pembelajaran? 

Bahwa sesungguhnya di dalam politik praktis yang orientasinya adalah kekuasaan, tidak ada kawan dan lawan abadi. Karena yang abadi adalah kepentingan. Jika ada kepentingan yang sama, maka kubu yang semula berseberangan menjadi rekat dan akrab. 

Kata orang Babelan, everything is just game, enjoy bae ngapah.

Tidak perlu memusuhi kawan dan kerabat kita, atau bahkan kekasih dan keluarga yang berbeda pilihan politiknya. 

Para elit politik itu bisa kapan saja, sesuka hati, bergonta-ganti pasangan dan kerabat politik. Mereka yang awalnya musuh, bisa saja menjadi kawan. Begitu, sebaliknya. 

Sedangkan kita, sudah terlanjur memutus persahabatan, bahkan persaudaraan demi junjungan politik yang saat ini sedang kita bela dan dukung. Mereka-mereka itu bisa saja, usai Pemilu 2019 ini, sudah kongkow-kongkow bareng di balik panggung. 

Kemudian mereka mendapat kekuasaan, sedang kita hilang persahabatan. Hal yang mesti diingat adalah bahwa saat hidup kita susah, maka orang pertama yang menolong kita bukanlah para elit politik di atas sana, tapi justru saudara, tetangga, dan kawan terdekat kita.

Jadi, jangan mau dibegoin sama elit politik!

Kamis, 24 Januari 2019

Ahok dan Kebebasan


Saat mengurus administrasi pembebasan. Sumber: Instagram/BTP

Kalau tidak menuai 'kehebohan', itu namanya bukan Ahok. Bayangkan saja, sejak awal sepak terjangnya di dunia politik, dia selalu menuai kontroversi. Kehadirannya selalu menjadi sorotan, berita hangat.

Sejak terjerat kasus penodaan agama, proses pengadilannya, bahkan selama berada di penjara, dan ketika dia mau bebas, nyaris menjadi topik yang selalu panas untuk diikuti.

Akhirnya, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok (sekarang, BTP) bebas pada 24 Januari 2019 setelah menjalani masa hukuman di penjara selama satu tahun dan delapan bulan lima belas hari, dari penjara Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. 

Tepat tanggal 9 Mei di 2017, dia mulai menjalani hukuman sebagai konsekuensi dari keputusan hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Ahok terbukti bersalah melakukan penodaan agama atas pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Sebuah tanya sederhana menjadi menarik untuk diajukan di ruang publik, yaitu sesungguhnya apa makna kebebasan Ahok dari penjara?

Dipastikan semua orang bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan ini. Baik yang positif, negatif, atau bahkan jawaban yang kontroversial pun sangat mungkin muncul.

Menarik, karena sosok pribadi Ahok memang menarik. Hampir semua yang dimiliki dan dialami Ahok menarik untuk diuraikan. Bahkan, menjadi referensi dalam dunia politik, sosial, keagamaan, kepemimpinan, pemerintahan, dan birokrasi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sosok Ahok menjadi inspirasi banyak orang, tidak saja di negeri ini, tetapi juga di dunia internasional.

Kebebasan Berpendapat

Salah satu indikator yang sangat mendasar bagi sebuah negeri yang merdeka adalah kebebasan dalam mengemukakan pendapat, tanpa merasa terancam. Peristiwa yang dialami Ahok, akibat kesalahan fatal dalam berpendapat tentang agama, mengantarkan dia menjadi seorang pesakitan.

Namun kejadian ini telah menimbulkan ketakutan yang sangat besar dikalangan publik ketika mengemukakan pendapatnya. Karena sangat mungkin menyinggung dan menista keyakinan dan kepercayaan tertentu. Walaupun sesungguhnya tidak bermaksud untuk itu.

Apabila publik merasa ketakutan untuk bebas berpendapat, lalu menjadi pertanyaan mendasar; seberapa jauh negeri ini telah merdeka dalam bersuara dan mengemukakan pendapatnya di depan publik?

Menjadi traumatis, ketika masa orde baru selama 32 tahun, kebebasan berpendapat ini menjadi sesuatu yang masih langka. Sejak reformasi, ada euforia yang luar biasa ketika kebebasan itu menjadi lepas sama sekali. Lalu, peristiwa Ahok seakan ada kemunduran untuk kembali pada masa yang lalu.

"Jadi buat saya kemerdekaan yang hakiki itu kemerdekaan manusia bisa menyuarakan kebenaran tanpa diancam. Tanpa ditindak. Sesuai undang-undang," kata Ahok

Kepatuhan pada Hukum

Apa jadinya sebuah negara tanpa penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku? Jawabannya adalah kekacauan, kemunduran, premanisme, dan adu jotos.

Menjadi pimpinan atau aparat birokrasi yang menjadi contoh penegakan hukum dan aturan tidaklah mudah, terutama ditengah-tengah sistem korup, yang semua orang berusaha memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Sejak menjadi wakil gubernur dan kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta, Ahok telah mempertontonkan bagaimana agar semua ketentuan yang berlaku, dikawal secara konsisten. Mulai dari hal-hal yang kecil bahkan sepele, hingga pada hal-hal besar. Mulai dari menertibkan sejumlah area parkir yang selalu dibawah kendali premanisme, hingga penyusunan RAPB-D DKI di ruangan para legislatif.

Sesungguhnya, negeri ini kaya akan semua aturan dan hukum yang mengatur birokrasi dan pemerintahan, tetapi sangat lemah dalam melakukannya dengan benar dan konsisten. Itu sebabnya, kemajuan yang ditargetkan agar negeri ini bisa melaju dengan kencang menjadi negara maju sangat lambat, atau bahkan berjalan di tempat saja.

Pemimpin Ksatria

Tidak banyak pemimpin yang memiliki jiwa ksatria dalam menjalankan tupoksinya, terutama dalam pengambilan keputusan. Banyak pemimpin yang tampil sekadar boneka saja; dalam pengertian menjalankan tupoksinya hanya sesuai dengan SOP yang ada. Di luar itu, tidak berani mengambil risiko, bahkan cenderung berkompromi.

Seorang Ahok menjalankan semua ketentuan dan regulasi yang ada, bahkan lebih dari yang tertuang secara tertulis, tetapi implementasi yang menopang kepentingan publiknya, dan mengesampingkan kepentingan pribadinya.

Suatu ketika, Presiden Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, mengatakan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu jauh lebih berani dalam memutuskan upah minimum provinsi, ketimbang Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta saat ini; Anies Baswedan-entah.

Pernyataan Iqbal ini tidaklah berlebihan kalau melihat bagaimana kiprah Ahok selama memimpin DKI. Sangat menonjol bagaimana Ahok memimpin serta mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan efisien tanpa menunggu berlama-lama. Bahkan di lapangan sekalipun, dia mampu membuat keputusan-keputusan strategis yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakatnya.

Publik banyak menyaksikan bagaimana seorang Gubernur DKI Jakarta, Ahok, tidak mengambil apa yang bukan haknya. Bahkan yang menjadi haknya sekalipun tidak diambilnya secara semena-mena, seperti pemanfaatan dana taktis sebagai seorang gubernur.

Ahok pembuka tabir kebenaran dan keadilan publik

Ketika menjabat sebagai seorang gubernur, ada banyak hal yang baru diketahui lpublik secara terang benderang tentang berbagai hal dalam pengelolaan birokrasi dan pemerintahan DKI.

Ada banyak penyimpangan dan penyelewangan yang selama ini, bertahun-tahun berjalan tidak diketahui publik. Maka dengan gaya manajemen Ahok yang sangat terbuka, publik tahu dan paham dengan baik.

Sebagai contoh yang bagus adalah pembangunan simpang susun semanggi, yang anggarannya sekitar Rp 350 miliar, tidak dibiayai APBD DKI, tetapi dari sumber jasa pemanfaatan ruang dan pembangunan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Bila semua pimpinan dan kepala daerah pemerintahan memiliki sikap yang benar dan adil, maka kesejehteraan dan keadilan akan menjadi milik dari masyarakat di negeri ini. Dan tentu saja akan menjadi fondasi yang kuat agar republik ini cepat maju menyamai negara-negara maju lainnya.

Ahok sebagai Referensi Politik 

Kiprah seorang Ahok dalam dunia politik negeri ini telah menambah ruang referensi untuk sebuah perubahan dan kemajuan yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh Indonesia menuju level yang lebih tinggi dan lebih maju, agar menjadi negara yang maju.

Sebab, salah satu persyaratan dasar agar menuju level yang lebih tinggi adalah hadirnya banyak sosok yang mampu membuat perubahan itu.

Sosok seorang Ahok telah memberikan acuan bahwa kompetensi seorang politikus untuk membawa perubahan itu jauh lebih baik dan utama dari hal-hal yang lain. Sebuah aliran politik bisa saja tidak besar, tetapi ketika seorang yang memiliki kompetensi yang kuat, maka perubahan bisa diwujudkan dengan mudah melalui instrument politik yang tersedia.

Hal itu tentu menjadi pembelajaran bagi dunia politik Indonesia, agar mendidik dan mempersiapkan kader-kader untuk menjadi pemimpin yang bisa membawa perubahan yang mendasar bagi sebagai negeri.

Pertanyaan yang terus menggoda dan menjadi teka-teki besar adalah kemana arah kiprah politik seorang Ahok? 

Banyak yang meramalkan bahwa Ahok tidak terjun lagi atau rehat sebenatar dari dunia politik, tetapi banyak juga yang memprediksi akan terjun habis. Mengapa pertanyaan ini menjadi menarik? Karena sesungguhnya, sosok seperti Ahok diakui masih langka, dan tentu saja dibutuhkan oleh banyak partai dan juga publik menghendaki.

Dalam pemahaman akademik, sangat mungkin Ahok memasuki kembali dunia politik. Alasan yang sangat kuat adalah karena secara statistik dunia Ahok adalah dunia politik, dan investasinya untuk dunia politik sangatlah besar, disamping tuntutan kehadiran seorang Ahok bagi perubahan dunia politik di republik ini. 

Walaupun demikian, mulai hari ini akan menjadi momen-momen penting untuk melihat kembali arah dari kiprah politik seorang Ahok!


(Yupiter Gulo, Kompasianer)

Selamat Kembali Bersinar Purnama Negeri ini


Sumber gambar: Google Images


Kamis, 24 Januari 2019 Basuki Tjahaja Purnama (BTP) bebas. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu di awal tahun ini. BTP menghirup udara bebas seperti sediakala, menjadi manusia yang baru, dan manusia yang sudah mampu menguasai dirinya sendiri. 

Dia menolak dipanggil Ahok. Kenapa? Karena panggilan etnik itu adalah masa lalu, yang mencebloskan dirinya ke dalam jeruji besi. Dia ingin dipanggil BTP, karena baginya panggilan BTP-lah yang nantinya bakal mampu membuat dia terus bergerak maju.

BTP, bagi saya, adalah korban dari amoralitas keagamaan. Dia telah menjadi tumbal dari pemerkosaan ayat dan kitab suci. Dia yang dipaksa menjadi bagian dari penindasan orang-orang beragama yang haus kekuasaan.

Namun BTP sudah berani berlaku sportif, dia mengaku salah, walaupun salah dan benar masih bisa dipertentangkan. Dia-lah yang mengajarkan kita untuk menjadi ksatria sejati. Tidak takut oleh apa dan siapa. Kesalahan sekecil apa pun, akan dilawan dan dihancurkannya. 

Kelakar BTP suatu ketika, Tuhan pun akan dilawan manakala Pencipta Alam Raya itu berbuat salah; tapi Dia tidak pernah salah; kalau Tuhan salah, maka sudah gagal Dia menjadi Tuhan, bukan Tuhan berarti.

Sekalipun beragama Kristen, guyonannya itu sudah setingkat dengan humor ala Nahdlatul Ulama, yang dibawa oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Yakni menertawakan sesuatu hal yang paling sensitif agar suasana bisa menjadi cair. Paling kerennya, jika seseorang sudah mampu menertawakan dirinya sendiri. BTP? Sudah!

Saya berhasil mendapatkan tulisan dan kesaksian dari Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Bekasi, KH Nurul Huda. Suatu ketika, dia menjenguk BTP dan menjadi saksi bahwa masih ada cinta yang mengitarinya. 

*****

Ahok dan Cinta yang mengitarinya

Jum'at, 3 November 2017 menjadi momentum yang penuh kenangan. Bukan hanya untuk saya, tapi juga 14 teman yang datang bersama mengunjungi Ahok (sekarang, BTP) di Mako Brimob. Sebagian mereka datang dari luar Jakarta, dengan penerbangan dan sewa hotel masing-masing.

Pendaftaran menjenguk Ahok satu bulan sebelumnya, dan itu menjadi pertanda daftar antrian yang panjang. Benar saja, saat tiba di Mako Brimob, Depok, antrian itu sudah terlihat. Untungnya kami dijadwalkan tepat pada jam kami tiba, sehingga hanya cukup menunggu 10 menit untuk bisa langsung berjumpa dengan manusia yang dikelilingi cinta.

Bahkan, bila di luar sana ada tujuh juta orang yang membencinya, kekuatan cinta yang mengitari Ahok tetap membuatnya bersinar, sinar keteduhan akibat tempaan hidup yang tidak ringan.

"Tanpa keikhlasan, kita akan sulit berdamai dengan tekanan, stigma penjara akan membunuh mental orang yang tidak bisa mengubah dirinya," Begitu kata Ahok, saat kami menanyakan kabar dirinya menghadapi situasi ini.

Ahok tampak sehat, tubuhnya lebih berotot, tinggi yang menjulang dengan perpaduan otot yang kekar membuatnya tampak lebih muda dan gagah. 

"Olahraga itu kuncinya, push up, sit up, pull up, saya lakukan sekitar 80% dari detak normal kerja jantung. Ini penting. Jadi, push up itu bukan soal kuat atau tidak, tapi sejauh mana tubuh kita mengizinkan kita menguras energi dengan takaran yang tepat." Begitu Ahok menjawab pertanyaan, "berapa kali push up yang dilakukannya setiap hari?"

Ya, Ahok selalu menggunakan alat deteksi detak jantung sampai menemukan kondisi normal untuk berapa kali melakukan push up dan sit up. Ahok memang detail bukan cuma urusan pekerjaan tapi juga kesehatan tubuhnya.

Kami lebih banyak mendengar, membiarkan Ahok bercerita, sambil tangannya tak henti menulis pesan dan menandatangani puluhan buku, kertas, kanvas, baju, dan bahkan tulisan seorang anak SD yang minta tulisannya dinilai oleh Ahok.

"Kayak gini kan gue jadi terbiasa, ngomong sambil tangan terus bekerja. (Dan) gue nulis gak asal, harus detail dan tepat. Gue baru tau hikmah kenapa saat sekolah dulu, seorang guru mengajarkan menulis bukan scan suatu teks dengan mata kita."

"Dengan menulis, memori kita menyimpan dengan lengkap dan tahan lama, ini berbeda dengan membaca dan menandatangani disposisi. Ribuan surat yang gue terima dan semua harus gue balas, dan supaya bisa membalas dengan baik gue harus membacanya satu persatu, supaya bisa menjiwai saat membalas surat mereka. Kamu tidak akan bisa membalas surat seseorang hanya dengan membacanya sambil lalu, kalaupun kamu jawab pasti tidak dari hati."

Huufft, sorry, saya harus menghela nafas, tidak bisa ditahan lagi, tangis saya pecah, saya duduk persis bersebelahan dengan Ahok, dan menyaksikan sendiri bagaimana Ahok melayani dengan cinta, kami yang mengaguminya.

Sebenarnya tidak tega melihat Ahok harus menandatangani dan menulis pesan puluhan buku serta kertas yang menumpuk, tapi Ahok melakukannya dengan cinta.

"Ini mah gak seberapa, saya menulis memoar Ahok di penjara sudah 176 halaman, lalu menulis Renungan Perjalanan Hidupku sudah 200 halaman, dan semua tulis tangan. Pernah pergelangan tangan ini bengkak karena kelamaan menulis, gak bisa disembuhin pake obat, tau gak sembuhnya pake apa? Pake push up, hahaha, itu mengapa ada dua hal yang aku seneng banget di penjara ini; olahraga dan baca buku."

Mendengar pemaparan Ahok itu, kami menggeleng. Ya Allah, saya benar-benar tidak sedang menjenguk pesakitan di sebuah penjara. Saya menyaksikan manusia tegar, seorang motivator dan inspirator sejati. Ahok menggugah kami, bukan hanya setiap pesan yang meluncur dari mulutnya yang mungil, tetapi gerak tangannya, tatapan matanya, dan gerak tubuhnya.

Bahkan, dia membalikkan badan seluruhnya untuk menjawab pertanyaan dan ia menjawabnya tidak sambil lalu, penuh gairah dan serius menghargai yang bertanya. 

Ahok sehat dan dikelilingi cinta.

"Ikhlas itu menguatkan, kita harus menerima kenyataan, melawan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dalam kemarahan dan dendam. Selain ikhlas tubuh kita juga harus sehat, badan yang sehat akan menggerakkan jiwa kita lebih bergairah. Gerak kita yang positif akan menguatkan jiwa kita."

Saya menimpali ringan, "Iya Pak Ahok, ada yang mengatakan begini, emotion depend on motion."

"Benar itu, makanya kalau kamu tanyakan soal tanah abang berantakan lagi, Ahok yang dulu bisa marah, tapi aku bisa menahan diri sekarang. Pertanyaan itu kan bikin gue keki, lha gue bukan Gubernur lagi, elu tanyain yang begitu, udah tau gue lagi di penjara," timpal Ahok dan kemudian dia tertawa. 

Ahok tertawa dan saya pelan-pelan menelan ludah getir. Pertanyaan teman soal tanah abang berantakan lagi disikapi dengan penuh canda. Perlu diketahui, saya memperhatikan banyak teman saya yang diam-diam menangis haru menyaksikan gaya Ahok yang di luar dugaan kami. Ahok benar-benar membuat suasana kunjungan kami begitu cair tapi penuh ilmu dan motivasi. 

Tiga puluh menit tak terasa, sang penjaga mengingatkan kami. Waktu sudah habis. Di belakang kami masih banyak yang antri.

Selasa dan Jum'at memang menjadi waktu kunjungan yang disediakan Mako Brimob. Sementara Ahok tidak kehabisan energi melayani orang-orang yang mengunjunginya.

Kami berdiri. Ahok menyalami kami satu-persatu. Setiap kami menerima pesan. Utamanya soal semangat mencintai negeri dan membangun bangsa.

Kami datang ingin menyemangati Ahok, tapi yang kami dapatkan dia telah mendapatkan terang kehidupan dan terus menerangi kami.

Kaki kami melangkah meninggalkan ruang kunjungan, mengambil kembali handphone dan barang-barang yang kami titipkan di meja penjaga.

Ahok sehat karena ia menyebar cinta dan dikelilingi cinta. Rasanya tak sabar menantimu kembali berkiprah untuk negeri tercinta.

*****

Ke mana BTP Berlabuh?

Menjadi politisi, sesungguhnya bukanlah cita-citanya sedari kecil. Namun, dia harus terjun ke ruang politik agar mampu membasmi orang-orang jahat, kotor, dan maling-maling kelas kakap.

Kalau terjun ke politik, itu berarti dia harus masuk atau mengenakan pakaian partai politik (parpol), sedangkan menurut BTP, parpol adalah sarangnya (atau minimal, langkah awal) para maling untuk kemudian berkeliaran di berbagai instansi. 

Atau jika memang BTP ingin berparpol, maka pasti dia memilih parpol yang lebih sedikit koruptornya. 

Tapi bagi saya, BTP tak perlu masuk parpol. Dia cukup menjadi seorang yang profesional, keliling memberikan motivasi dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapinya, dan menunggu saja sampai tiba waktunya ditugaskan untuk menjadi seorang menteri. 

Saat itulah kemudian, BTP mampu memberantas para pemain yang sering menggerogoti uang negara. Menteri apa yang cocok? Menurut saya, Menteri Dalam Negeri. Entahlah, saat ini, biarkan BTP bebas dulu.

Terlepas dari berbagai prediksi itu, yang jelas, BTP akan tetap berlabuh pada kebenaran dan melawan berbagai kemunafikan.

BTP telah membuktikan, bahwa menjadi manusia haruslah berani menghadapi apa pun, tidak kemudian lari dari masalah dan memprovokasi massa agar seolah-olah telah terjadi kriminalisasi. Itu namanya playing victim! Paham?

Selamat datang dan kembali bersinar, purnama negeri ini. Sinarilah bangsa ini dengan keteguhan hati, ketegaran jiwa, dan kemantapan gerak untuk terus berbuat baik dalam memperbaiki keadaan negeri.

Selamat berlabuh, di udara kebebasan...