Kamis, 07 Februari 2019

Super Tawadhu ala KH Maimoen Zubair


Mbah Moen. Sumber foto: Akun instagram Gus Yusuf (yusuf_ch


Saat mengantarkan Syaikhona Dr Abdun Nashir al-Malibari sowan ke Sarang, ada (minimal) empat dawuh KH Maimoen Zubair yang sangat berkesan bagi saya. 

Empat dawuh itu menunjukkan begitu 'sundul langit'-nya ketawadhuan KH Maimoen Zubair. Empat dawuh keluar dari lisan mulia beliau dengan alami tanpa ada sedikitpun takalluf (paksaan):

طال عمري وقل عملي

"Umurku panjang tapi amal baikku sedikit."

Jika amal KH Maimoen Zubair yg telah menghabiskan umurnya untuk khidmah Islam dan Muslimin dianggap sedikit, lalu bagaimana dengan amal kami ini?

عمري فوق التسعين، ادع لي أن أموت على دين الإسلام

Kepada Syaikh Abdun Nashir al-Malibari beliau berkata: "Umurku sudah 90 tahun lebih. Tolong doakan agar saya meninggal dalam keadaan membawa agama Islam."

Bayangkan, ulama dan waliyyullah besar ini masih minta didoakan meninggal dengan membawa agama Islam. Padahal, amal kesalehan beliau untuk kemaslahatan umat Islam, khususnya muslimin Indonesia sudah tak terhingga.

Sungguh betapa tawadhunya beliau, seakan tidak menganggap amal baiknya hingga takut meninggal tidak membawa Islam.

 أنتم صاحب المؤلفات وأنا ما عندي تأليفات

Beliau juga berkata kepada Syaikh Abdun Nashir al-Malibari: "Anda penulis banyak kitab. Sedangkan saya tidak punya karangan apa-apa."

Padahal kita tahu Mbah Moen itu punya banyak kitab. Diantaranya adalah Tarajim Masyayikh Sarang, Maslak at-Tanassuk al-Makki, Ta'liqat 'ala Jauharatit Tauhid, dan Ta'liqat 'ala Bad'i al-Amali. Saking tawadhunya, seakan semua kitab itu tidak beliau anggap sebagai karangan ilmiah.

Syaikh Abdun Nashir al-Malibari pun berkata sambil menunjuk kitab Tarajim Masyayikh Sarang: "Lha ini, Kiai. Ini kan tulisan Panjenengan."

Mbah Moen menjawab:

إنما هي تراجم، وليس فيه علم

"Kitab ini hanya kumpulan biografi. Tidak ada ilmunya."

Semoga Allah selalu memberi Mbah Moen dan Syaikh Abdun Nashir kesehatan dzahir dan bathin. Dan semoga kita sebagai santri langsung atau santri dari santrinya KH Maimoen Zubair dapat meneladani akhlak mulia ini.

Ditulis oleh Kiai Nanal Ainal Fauz di Gedung PBNU Jakarta, Rabu 6 Februari 2019

Rabu, 06 Februari 2019

Perempuan Terlibat Terorisme karena Taat Mutlak pada Suami


Sumber gambar: wikiborneo.com

Ketika menikah dengan suaminya pada usia 16 tahun, “Humaira” membayangkan kehidupan rumah tangga yang normal dan bisa mengurangi beban finansial ibunya. Ia juga ingin segera meninggalkan kampungnya, karena para warga, menurutnya, tidak dapat menerima dirinya yang memilih memakai cadar.

Namun yang terjadi kemudian pada Humaira adalah “petualangan” dari satu daerah ke daerah lainnya, keluar masuk hutan, sebelum akhirnya ditangkap oleh polisi dan dipenjara.

Ia mengikuti suaminya, pelaku terorisme yang masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), dan rela berpisah dengan bayi perempuan semata wayang yang saat itu masih berusia delapan bulan.

Dari kampungnya di wilayah Indonesia timur, Humaira mengikuti suami ke belantara Sulawesi yang sangat lebat, sampai sinar matahari saja tidak bisa menembus pepohonan sehingga ia tidak bisa membedakan mana siang dan malam.

Humaira adalah salah satu dari beberapa istri teroris yang kisahnya diangkat dalam buku Perempuan dan Terorisme: Kisah Perempuan dalam Kejahatan Terorisme yang ditulis oleh Leebarty Taskarina, analis di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Buku tersebut merupakan hasil dari tesis pascasarjana di Jurusan Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.

Dalam penelitiannya, Leebarty melakukan wawancara secara mendalam terhadap para perempuan ini, dan ia menemukan bahwa mereka sering kali berada dalam posisi tidak berdaya dan tidak memiliki banyak pilihan selain patuh terhadap suaminya.

“Suami mereka selalu membawa dalil sami’na wa atho’na yang artinya aku mendengar maka aku taat,“ ujar Leebarty atau Barty pada peluncuran dan diskusi buku di Jakarta (12/1), dikutip dari magdalene.co.

Para suami tersebut, tambahnya, kerap kali berkata bahwa istri merupakan sekolah utama bagi anak-anak mereka yang nantinya akan meneruskan “perjuangan” ini.

Seperti pada kasus Humaira, “perjuangan” tersebut menghasilkan masalah ekonomi, psikologis, kesehatan,  bakan kesehatan reproduksi. Barty mengatakan, Humaira tidak diberi nafkah oleh suami dan menggantungkan hidup pada belas kasihan orang-orang yang menampungnya bersama sang anak.

Kemiskinan yang dihadapi Humaira kemudian mendorongnya menitipkan anak kepada saudara suaminya. Setelah itu, suaminya memerintahkan Humaira untuk ikut masuk ke dalam gerakan terorisme pada 2015.

Cendekiawan Islam Musdah Mulia menuturkan bahwa doktrin-doktrin pembodohan dan indoktrinasi patriarkal pada gerakan terorisme sangat merugikan perempuan.

“Seharusnya dalil ‘aku mendengar maka aku taat’ tidak bisa dimasukkan ke dalam konsep berkeluarga. Di dalam keluarga, baik istri maupun suami memiliki kedudukan yang setara dan wajib mengkritik dan mengingatkan satu sama lain. Jadi bukan ketaatan mutlak pada suami,” ujar Musdah, yang bekerja untuk Yayasan Indonesia Conference on Religion and Peace.

Ia mengatakan bahwa gerakan terorisme saat ini menargetkan perempuan untuk  menjadi bagian dari gerakan mereka karena perempuan dianggap lebih loyal. Selain itu, ujarnya, petugas keamanan tidak mudah curiga pada perempuan, apalagi yang membawa anak. 

AKBP Didik Novirahmanto, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Foreigner Terrorist BNPT, mengatakan peran aktif perempuan dalam gerakan terorisme ini sangat diperhatikan oleh BNPT karena juga ada pergeseran peran perempuan.

“Dulu, perempuan memang hanya menjadi pendukung. Namun akhir-akhir ini, doktrinnya membuat perempuan juga berada di posisi strategis, seperti posisi perekrutan, dan merekrut sesama perempuan,” ujar Didik dalam diskusi.

Adanya upaya sistematis di dalam gerakan terorisme untuk merekrut perempuan, menurut Musdah, harus menjadi peringatan bagi perempuan untuk waspada.

“Kita perlu membekali literasi damai pada perempuan mengenai pentingnya melawan terorisme,” ujar Musdah.

Menurutnya, literasi damai ini harus diterapkan dalam beragama, terutama memilah-milah ajaran agama yang memuat paham-paham intoleransi. Ia menyarankan agar masyarakat tidak lagi menggunakan narasi yang dibuat oleh kelompok terorisme, seperti menyebut aktivitas mereka sebagai aksi jihad.

“Sekecil apa pun paham intoleransi tersebut, harus sangat diwaspadai, karena ini telah menjadi bibit kehancuran yang terjadi di Suriah saat ini,” ujar Musdah.

Didik mengatakan bahwa narasi-narasi damai juga seharusnya mulai disebarkan melalui  berbagai media sosial untuk melawan narasi yang digunakan oleh kelompok terorisme.

"Penelitian ini dapat membuka perspektif kita bahwa ternyata perempuan yang terlibat dalam aksi terorisme adalah korban. Perspektif baru ini dapat membantu memahami situasi dan kondisi mereka, dan membantu dalam proses deradikalisasi,” ujarnya.

(Elma Adisya)

Senin, 04 Februari 2019

Gadis (Sebuah Pertemuan)


Ilustrasi. Sumber: merdeka.com

Azan subuh menggema. Membangunkan kehidupan kota untuk kembali beraktivitas di awal pekan. Lafaz syahadat yang dikumandangkan muazin dengan suara khasnya, mengingatkanku pada sebuah pertemuan dengan sosok yang kusebut: Gadis.

Malam itu, sudah lama sekali sampai-sampai tak rinci aku mencoba menerawang ingatan.

Di ujung selatan kota, pertamakali parasnya terekam dalam benak. Matanya yang agak bulat, bibir tipis yang membuatnya manis, serta kerudung sederhana yang dikenakannya ketika itu, bagiku cukup untuk menghiasi keramaian. Senyumnya tak kalah indah dari langit yang bertebaran bintang.

Angin-angin bertiup kencang dengan teriring lantunan salawat para pecinta nabi, bersaut-sautan dengan bising klakson dan mesin kendaraan yang ramai melintasi jalan raya. Tubuhku dan orang-orang yang ada di sekitar tak sengaja tergerak mengikuti irama rebana yang mengiringi kisah perjalanan manusia suci.

Kalimat-kalimat tayyibah disenandungkan sebagai identitas dari keberimanan manusia di negeri ini. Orang-orang, pada malam itu, bersukacita memperingati penghulu alam raya yang diutus ke bumi untuk memperhalus budi dan mempertajam intelektual bagi peradaban.

Gadis itu berdiri tegap, sorot matanya tajam memperhatikan setiap orang yang melangkah di hadapannya. Meskipun begitu, senyum dari bibir tipisnya tak pernah lelah diberikan sebagai bagian dari ajaran kemanusiaan yang dibawa nabi.

Aku pun begitu. Juga tak luput dari pandangannya yang memukau. Bahagia, tentu saja. Ada perasaan bahagia bercampur bangga, bahkan sekaligus rasa penasaran yang berlebih untuk–setidaknya—mencari tahu identitas dirinya.

Dalam jarak sekira lima belas langkah dari tempatku berdiri, Gadis menjadi objek penglihatanku seraya meniadakan pandangan yang lain. Seperti syahadat, saat itu aku bersaksi bahwa tiada objek yang pantas dipandang selain paras manis miliknya. Barangkali, inilah yang disebut sebagai pandangan pertama. Takjub.  

Akan tetapi, berulang kali di dalam hati, aku mencoba menepis perasaan itu. Tapi semakin diupayakan agar rasa itu pergi, justru kian kuat rasa penasaran menggelora dalam dada. Karena itu, pandanganku sengaja kualihkan ke atas; ke langit yang sedang cerah-cerahnya.

Aku menyendiri, mensunyikan diri di dalam keramaian, memandang langit yang hening. Sembari membayangkan paras manis Gadis itu bergelayut manja di awan, beriring-iring dengan sekumpulan bintang yang melengkapi keindahannya

“Ah bodoh! Bukannya membuang justru malah membayang,” umpatku dalam hati.

Usai berdialog dengan diri, rupanya aku terkalahkan oleh bujuk rayu—entah siapa—untuk mendekat atau bahkan membincang walau hanya sekadar dua kadar. Aku beranjak, memutar arah sepasang sandalku ke depan dan memakainya, kemudian melangkah perlahan penuh ragu dan malu; mendekati Gadis.

Entah siapa yang lebih dulu, tangan kami berjabat, saling menggait satu sama lain. Masing-masing dari kami, secara bergantian, menyebut identitas diri yang paling fundamen; nama. Setelah itu, ada tekad dalam hati bahwa sekalipun sudah kutahu siapa biasa ia disapa, aku tetap menamainya Gadis

Tak lupa, kami berswafoto sebagai pengingat jika kelak di kemudian hari kembali bertemu. Senyumnya kini sudah abadi, baik di dalam ingatan atau pun pada gambar digital di gawai milikku

Sungguh, malam itu, bahagiaku membuncah. Gadis dan sebuah pertemuan di malam yang dianugerahi banyak berkah. Harapku, rajutan pertemuan akan senantiasa terangkai hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan, kecuali jika semesta sudah berkehendak.

Gadis…