Beda Kiai Kampung dan Ustadz Televisi - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 14 Maret 2019

Beda Kiai Kampung dan Ustadz Televisi


Ilustrasi: satelitpost.com

Kiai Hamdan.

Ia adalah pemuka agama yang sehari-hari bergelut dengan lumpur, pacul, kitab, ceramah, membersamai keluarga orang yang meninggal, hingga melayani tamu dengan hajat bermacam-macam.

Ia jauh dari media; baik koran, media sosial, apalagi televisi. Jauh dari kota dan pusat peradaban. Meski begitu, Kiai Hamdan memiliki kearifan yang kadang tidak dimiliki para pendakwah sekarang.

Suatu ketika, ia diminta mengisi ceramah tentang Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad saw. Kiai Hamdan menyampaikan peristiwa yang 'tak masuk akal' itu secara perlahan, sesekali menyelinginya dengan syair dan shalawat. Diantara syair yang sering disenandungkan adalah sebagai berikut:

Isro’ Mi’roj Kanjeng Nabi (Isro’ Miraj Baginda Nabi Muhammad)
Tindake ing wayah bengi (Berangkatnya di waktu malam)
Di dereake moloekat loro (Diikuti dua malaikat)
Jibril Mikail Asmane (Jibril dan Mikail namanya)

Shalatullah salamullah – ‘ala thoha Rosulillah
Shalatullah salamullah – ‘ala yasiin habibillah

Tindak ipun wanci ndalu (berangkatnya di waktu malam)
Dumugi nginggil langit sap pitu (sampai di atas langit sap tujuh)
Akhiripun nampi wahyu (sampai akhirnya mendapat wahyu)
Shalat wajib limang wektu (salat wajib lima waktu)

Usai mendendangkan syair, Kiai Hamdan meminta seluruh hadirin menyanyikannya secara koor, beramai-ramai dan bersalawat bersama-sama. Kemudian secara perlahan, kiai kampung ini mengurai peristiwa 14 abad silam itu.

“Dalil Isra’ Mi’raj adalah bahwa Kanjeng Nabi semur hidupnya tidak pernah berbohong,” tuturnya.

Hadirin mendengarkan dan larut dalam ceramah, seakan mendapat kedamaian dari suatu pemahaman yang mudah.

Jika ditelisik lebih dalam, Kiai Hamdan adalah seorang pengembara ilmu. Semasa muda, ia pindah dari satu pesantren ke pesantren lain. Koleksi dalil Al-Quran dan haditsnya cukup banyak untuk dicekokkan ke jamaahnya. Namun, hal itu tidak dilakukan. Ia cukup menyampaikan beberapa potong dalil saja.

Selebihnya, ia sajikan dengan bahasa kaumnya; bahasa masyarakat Jawa yang lekat dengan syair, tembang, dan sedikit humor. Ia masuk ke jiwa-jiwa jamaah, menyelami keseharianya, masalahnya, pengalamannya dan kebutuhan riilnya. Ia membumi, tidak melangit.

Kiai kampung ini, berbeda dengan beberapa ustadz yang akhir-akhir ini marak di media, khususnya televisi. Berbekal terjemahan Al-Quran terbitan Kementerian Agama atau kitab terjemahan Hadits di toko-toko, mereka mengguyur penonton dengan hujan dalil dan banjir ayat yang memusingkan.

Terkadang malah ceramah sambil marah-marah, mencaci dan menyesatkan sesama muslim maupun nonmuslim; tanpa perasaan. Mereka enggan menyelami jiwa jamaah, seperti yang dilakukan Kiai Hamdan.

Sudah barang tentu, tak ada waktu untuk membungkus ajaran agama dengan kearifan lokal (local wisdom), membikin syair atau cerita. Mirisnya lagi, ceramah-ceramah mereka justru menyulut kebencian dan permusuhan.

Saya tidak ingin menyebut siapa orang-orang yang berdakwah dengan gaya marah-marah sehingga menyulut kebencian. Tapi setidaknya, masyarakat Indonesia sudah tahu sendiri, seperti misalnya Sugik Nur, Tengku Zulkarnaen, Haikal Hassan, Maher At-Tuwailibi, dan saudara-saudaranya. 

Barangkali, mereka terlalu bersemangat. Mungkin pula tidak tahu metodologi dakwah di nusantara. Atau bisa jadi, mereka mengimpor ajaran dari Timur Tengah dan Saudi Arabia secara mentah-mentah. 

Apapun itu, mereka masih hidup dan punya kesempatan untuk berubah, menuju semangat beragama yang lebih cerah.

Toh, masyarakat Indonesia kini sudah cerdas. Orang awam pun sudah bisa menilai, mana yang layak mereka teladani dan tidak. Orang sudah bisa membedakan mana dakwah yang arif dan cerdas, sehingga mereka berminat untuk mendengarnya.

Untungnya, masih ada Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang berdakwah dengan teduh: menjaga kesantunan Islam dengan wajah Indonesia.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) misalnya, ia kerapkali mengkritik cara dakwah yang cenderung menyesatkan.

“Ulama atau kiai itu adalah alladziina yandzhuruuna ummah bi 'aini rahmah (orang-orang yang melihat umat dengan pandangan kasih sayang),” kata sesepun NU itu, dalam suatu pengajian baru-baru ini.

Ada juga yang berdakwah dengan modern dan segar, yaitu Majelis Maiyah Kiai Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng dengan jamaahnya yang tersebar di berbagai kota, juga pelosok Indonesia; bahkan mancanegara.

Cak Nun, begitu orang menyebutnya, menggabungkan unsur modern dengan konvensional dalam berdakwah, serta interaktif dan komunikatif dengan jamaah.

Ia seakan mencontoh dakwah para wali di bumi nusantara: dengan sentuhan seni dan budaya. Wajar saja jika dalam berbagai kesempatan, jamaahnya kuat duduk berjam-jam tanpa berpindah, bahkan ketika hujan turun sekalipun.

Akhirnya, kearifan Kiai Hamdan serta beberapa pendakwah yang santun dalam menyampaikan dakwah, tetaplah menjadi akar yang kuat, meski tidak muncul dalam dunia entertain yang gemerlap dan bertabur bunga.

Barangkali, orang seperti Kiai Hamdan ini ribuan jumlahnya, tersebar di seantero Nusantara. Kita saja yang tidak tahu, dan media yang enggan membesarkannya.


(Ahmad Naufa)