Jumat, 11 Maret 2016

Kalau Anti-Liberalisme, kenapa tidak anti-Arabisme atau Wahabisme?


Di beberapa kesempatan, saya sering sekali melihat aksi turun jalan yang dilakukan oleh teman-teman yang tergabung dalam komunitas #IndonesiaTanpaJIL. Mereka menolak liberalisasi agama, dan menganggap bahwa teman-teman JIL acapkali menista agama. Mereka berdalih bahwa Indonesia akan hancur ketika paham Liberalisme menguat.

Alih-alih menolak adanya paham Liberalisme dan Sekularisme, tanpa mereka sadari di dalam tubuh komunitas yang dianggap paling benar itu justru terkontaminasi oleh paham Arabisme atau Wahabisme. Seperti yang kita ketahui bahwa Wahabisme adalah sebuah paham atau gerakan yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab yang ditolak mentah-mentah oleh sebagian besar ulama di dunia.

Pada kesempatan kali ini, saya tidak sedang mencibir gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Anggaplah bahwa tulisan ini merupakan bentuk kasih sayang saya terhadap teman-teman #IndonesiaTanpaJIL, dan dijauhkan oleh rasa kebencian dan kedengkian. Saya tetap menghargai pemikiran dan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh komunitas #IndonesiaTanpaJIL, sebab negara ini menjunjung tinggi kebebasan berekspresi atas pemikiran-pemikiran yang terdapat di setiap otak manusia.

Di dalam tulisan ini, saya sebagai Nahdliyyin, walau hanya secara kultural, tidak sedang membela JIL atau menolak gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Sekalipun di beberapa hal saya setuju dengan pemikiran teman-teman JIL, namun ada juga beberapa hal yang tidak saya setujui. Begitupun dengan ITJ. Meskipun saya tidak setuju dengan beberapa argumentasi dari teman-teman ITJ, tapi ada beberapa hal yang saya setujui.

NU sebagai organisasi keagamaan di Indonesia, tegas dalam mempertahankan keindonesiaan dengan berdasar pada PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945). Dengan begitu, dapat ditarik simpulan bahwa NU menolak paham Liberalisme dari Barat dan menolak gerakan Wahabisme dari Arab.

Namun bukan berarti NU gelap mata terhadap kedua komunitas yang kontroversial itu; JIL dan ITJ. Sebagai Nahdliyyin, yang sangat saya suka dengan keberadaan NU adalah selalu mengadopsi kebaikan dari kedua komunitas itu. Karena posisi NU yang moderat, maka sampai sekarang NU bisa tetap bertahan dan selalu eksis sebagai garda terdepan mempertahankan NKRI.

Nah, kembali ke ITJ. Teman-teman yang anti-JIL secara keseluruhan tanpa memilah mana yang baik dan buruk itu selalu saja gelap mata terhadap perbedaan pendapat. Ini mirip sekali seperti argumentasi yang terlontar dari seorang penggagas gerakan Wahabi. Saya tergelitik dengan salah satu argumentasi yang diungkapkan oleh teman-teman ITJ, "Pancasila dihina kau marah, tapi giliran Rasulullah dihina kau bilang, jangan marah! Sampeyan Muslim?"

Kalau teman-teman ITJ bisa bersikap dewasa, tentu ada beberapa hal yang harus saya tanggapi. Semoga teman-teman ITJ tidak gelap mata dengan saya. Sekali lagi, tulisan ini adalah sebuah bentuk kasih sayang saya terhadap teman-teman ITJ, tidak dengan kebencian apalagi kedengkian.

Sejak Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936, ulama-ulama NU sepakat bahwa Indonesia bukan Darul Harb dan bukan juga Darul Islam, tetapi Darussalam. Begitu pula dengan gagasan Soekarno-Hatta dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa Indonesia bukan negara sekular dan juga bukan negara agama. Lalu bagaimana dengan penghinaan yang dilancarkan kepada Pancasila, sebagai ideologi final kenegaraan kita, dan penghinaan kepada Rasulullah, sebagai tokoh keteladanan Umat Islam yang menjadi mayoritas di Negeri ini?

Begini, Pancasila merupakan pengalaman bangsa Indonesia yang sudah ratusan tahun hidup di dalam jiwa setiap manusia Nusantara; jauh sebelum Indonesia merdeka secara politik. Kita harus tegas terhadap penghinaan yang ditujukan kepada Pancasila, namun tidak dibenarkan ketika ketegasan itu dibarengi dengan kedengkian apalagi tindak anarkis. Dan teman-teman ITJ, saya perhatikan seperti sudah termakan doktrin Hizbut Tahrir yang menyatakan bahwa Pancasila tidak penting. Itu yang pertama. Maka, dari sini, saya beranggapan bahwa ITJ sudah dirasuki oleh paham Wahabisme atau Arabisme yang berdampak pada sikap anti-Nasionalisme.

Kedua, soal Rasulullah yang dihina melalui karikatur-karikatur yang dibuat oleh orang Barat. Bagaimana seharusnya kita menyikapi? Sebagai pengiman Rasulullah sebagai utusan Allah yang selama ini terjaga, tentu kita merasa ada yang tidak beres ketika wajah beliau tergambarkan, padahal selama ini kita sendiri pun belum pernah melihat keaslian wajah beliau.

Kita berhak marah, berhak meradang. Tapi juga tidak dibenarkan ketika kita melakukan tindak anarkis dan aksi saling pentung. Kalau Rasulullah selama ini wajahnya tidak ditampakkan oleh Allah, maka siapa yang digambar oleh orang Barat itu? Rasulullah yang asli, yang benar-benar berasal dari suku Quraisy itu, yang pernah mendamaikan keragaman dengan piagam madinah kala itu, atau hanya interpretasi mereka saja terhadap Rasulullah? Saya yakin, bahwa tidak ada yang mengetahui persis wajah asli Rasulullah, termasuk orang Barat itu, kecuali Allah dan sahabat-sahabat beliau pada masanya.

Oleh karenanya, sebagai Nahdliyyin, saya ingin berada di posisi tengah. Moderat. Ummatan wasath. Atau yang dikatakan dalam al-Quran "laa syarqiyyah wa laa ghorbiyyah", tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Bahwa saya tidak anti Liberal juga tidak anti Arab, yang saya tolak adalah paham Liberal dan Budaya Arab yang tidak sesuai dengan kebudayaan di Indonesia.

Teman-teman #IndonesiaTanpaJIL yang budiman, kalau kalian anti dengan Liberalisme, sebaikanya kalian introspeksi diri, adakah di dalam komunitas kalian yang menyusup dan menyebarkan paham Wahabisme dan anti-Nasionalisme? Kita Indonesia, harus terbebas dari paham Liberalisme dan Wahabisme!

Saya pun anti dengan Liberalisme. Tetapi saya meyakini bahwa ada unsur liberalitas dalam Islam. Islam yang saya yakini adalah Islam yang Liberated atau Liberation. Islam yang membebaskan belenggu kesengsaraan dan penyengsaraan, penindasan dan ketertindasan, serta belenggu kebodohan dan pembodohan. Kurang lebih, seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah.

Saya juga anti dengan Arabisme, tapi saya tetap mengimani bahwa ada unsur Arabitas dalam keislaman saya. Karena Rasulullah adalah orang Arab tulen. Saya juga anti terhadap paham Islamisme, tetapi saya tetap mengamini bahwa dalam keislaman kita, tetap ada unsur Islamitas.

Untuk teman-teman ITJ yang tidak suka dengan tulisan ini, silakan hubungi saya secara pribadi, dan atur waktu untuk ngopi bareng. Kalau anti-Liberalisme, kenapa tidak anti-Arabisme atau Wahabisme?

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith-thoriq.
Previous Post
Next Post