Selasa, 11 Februari 2020

Hari Valentine Islami


Sumber gambar: kisahikmah.com

Ini adalah tulisan dari Pemimpin Rohani Masyarakat Maiyah, Kiai Muhammad Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun atau Mbah Nun, yang ditulis pada sekitar enam tahun lalu. Dalam tulisan di bawah ini, Mbah Nun sengaja membahas soal hari kasih sayang, sekaligus menyindir sebagian umat Islam yang senang sekali dengan label-label atau simbol-simbol Islam.

Termasuk juga dengan wacana Hari Valentine Islami. Bagaimana? Mungkin saja, umat Islam yang "berisik" itu bakal ikut merayakan karena ada embel-embel "Islami"-nya. Kalaupun tidak ikut merayakan Hari Valentine Islami, setidaknya mereka tidak turut dalam kebisingan penghakiman. 

Islam, menurut Mbah Nun, bukanlah kostum drama, sinetron, dan tayangan-tayangan televisi saat Ramadan. Islam merupakan substansi nilai sekaligus metodologi. Ia (Islam) bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari agama lain, dari ilmu-ilmu sosial modern, dan bahkan khazanah tradisional suatu bangsa. Namun secara entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

"(Bahkan) Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang beragam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’ah, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah," tulis Mbah Nun pada 10 Februari 2014. 

Dalam tulisannya itu, Mbah Nun menyebut bahwa semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangannya masing-masing untuk mendekati kesejatian Islam. Sehingga, secara otomatis, hal itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok tertentu.

"Kalau ada teman melakukan perjuangan 'islamisasi', 'dakwah Islam', 'syiar Islam', bahkan perintisan pembentukan 'Negara Islam Indonesia', maka yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah (konsep) Islamnya mereka sendiri," tulis Mbah Nun. 

Islamnya si A, B, dan C, bagi Mbah Nun, tidak bisa diklaim sebagai Islam yang sama persis dengan Islam menurut Allah. Begitulah memang, hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga ketika Islam bertamu ke rumah kita, tidak lantas bermaksud untuk memaksa kita agar mau menerimanya.

Berkali-kali Mbah Nun, dalam setiap pertemuan dalam Majelis Maiyah, terutama yang sering saya ikuti, yakni Kenduri Cinta, beliau sering mengutip dan menafsirkan ayat: "La ikraha fiddin".

Ayat itu dimaknai oleh Mbah Nun bahwa tidak ada paksaan dalam agama, termasuk juga tidak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam, bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

"Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam," tulis Mbah Nun yang pada 2015 diabadikan di Website Caknun.com.

Menurutnya, Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk melakukan kamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi, dan keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: "Yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari surga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril."

Sedemikian rupa-lah Islam, sehingga (dapat) diselenggarakan dan dilakukan dengan berbagai formula dunia modern, industri liberal, modeshow, pembuatan film, diskusi pebgajian, dan yang terpenting adalah dikasih 'kostum Islam'.

Namun, Mbah Nun melanjutkan, tentu saja tidak perlu diteruskan hingga ke tingkat penyelenggaraan tayangan 'Gosip Islami', 'Lokalisasi Pelacuran Islami', 'Peragaan Busana Renang Muslimah', atau bahkan pertandingan bola voli wanita muslimah berkostum mukena putih-putih.

"Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai Hari Valentine Islami," sindir Mbah Nun dalam tulisannya.

Namun rupanya, Mbah Nun cukup serius dengan dan dalam mengungkapkan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubiiina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Ramadan, tepatnya tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal.

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: "hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa."

Artinya: "Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing."

Mendengar pidato itu, pasukan Islam merasa kaget juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. 

Itu pun belum cukup.

Rasulullah memerintahkan agar seluruh rampasan perang, seperti berbagai harta benda dan ribuan onta untuk dibagikan kepada para tawanan, sedangkan pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Mereka mengeluh dan sebagian pasukan Islam mengajukan protes kepada Rasulullah.

Mereka dikumpulkan dan Nabi bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?"

Mereka menjawab: "Sekian tahun, sekian tahun."

"Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

"Tentu saja sangat mencintai."

Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?”

Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan, bahkan dengan bumi dan langit.

Maka tentu saja, seumpama kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, sepertinya kita akan menjawab dengan ungkapan yang berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh juga diberi onta dan emas barang segram dua gram."

Hahahahahaha...

Senin, 10 Februari 2020

Orang Islam Akan Toleran Jika Dekat dengan Al-Quran, Benarkah?


Sumber gambar: detik.com


Bernard Lewis, seorang ahli (peneliti) Islam di Amerika Serikat, memiliki tesis menarik tentang Islam. Pertama, menurutnya, orang Islam akan semakin dekat ke zaman keemasaannya maka akan semakin toleran, dan semakin jauh dari zaman keemasaannya maka akan semakin tidak toleran.

Kedua, orang Islam akan semakin toleran jika semakin dekat dengan pusatnya (Ka'bah, Mekkah, Arab Saudi), dan semakin jauh dari pusatnya maka akan semakin tidak toleran. Disebutkan, orang Islam di Mesir dan Suriah jauh lebih toleran daripada orang Islam di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Tapi sepertinya, tesis Bernard Lewis yang demikian itu, saat ini sudah tidak berlaku sama sekali. Sebab, pada kenyataannya Islam di Timur Tengah belakangan dekade ini, sedang menunjukkan ketidaktolerannya yang luar biasa, terutama dengan adanya fenomena ISIS. Mereka bukan hanya tidak toleran terhadap nonmuslim, tetapi juga kepada muslim lain yang berbeda pemahaman.

Bahkan, mereka tak segan-segan untuk membunuh, membakar, atau memenggal orang-orang yang tidak mau diajak bergabung. Entah mereka ini siapa. Benar-benar orang Islam yang memiliki pemahaman ekstrem-jihadis atau mereka adalah suruhannya Amerika untuk menghancurkan Islam dari dalam. Entahlah.

Kembali kepada Bernard Lewis, jadi bagaimana mengukur toleransi orang Islam?

Ada satu lagi tesis yang menyatakan bahwa semakin orang Islam dekat dengan Al-Quran, maka orang tersebut akan semakin toleran. Namun, ketika orang Islam semakin jauh dari Al-Quran, maka akan semakin tidak toleran. Lalu bagaimana fakta yang terjadi di lapangan dan kehidupan nyata?

Justru orang Islam yang tidak toleran itu mendasarkan pendapat dan pemahamannya pada Al-Quran. Mereka mendalili orang-orang untuk merusak peradaban dengan ayat-ayat di dalam kitab suci. Mereka menafsirkan ayat per ayat secara leterlek, tekstual sekali. Jika Al-Quran terdapat anjuran untuk berperang dan membunuh, mereka lantas memahaminya itu murni sebagai anjuran yang harus dilaksanakan sesegera mungkin.

Al-Quran, ternyata, telah memunculkan konflik penafsiran yang berujung pada kemungkinan toleransi dan intoleransi. Lalu pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menghadirkan pandangan Islam sejati yang mendukung toleransi? Adakah jalan keluar untuk memecahkan masalah konflik interpretasi itu?

Presiden Amerika ke-3 Thomas Jefferson dalam buku yang berjudul Thomas Jefferson's Qur'an menjelaskan bahwa pandangan-pandangan Thomas yang telah memberi pengaruh terhadap konstitusi Amerika Serikat tentang toleransi dan kebebasan beragama, rupanya sedikit-banyak karena dipengaruhi oleh pandangan Al-Quran mengenai toleransi dan kebebasan beragama.

Kalau di Indonesia, bagaimana? Kabarnya Presiden Joko Widodo mau membuat terowongan penghubungan Istiqlal-Katedral, ya? Buat apa? Itu sih namanya Toleransi Omong-Kosong yang hanya nampak di permukaan yang seolah baik-baik saja. Sementara di Karimun, Kepulauan Riau, ada sekelompok umat Islam yang menolak pembangunan Gereja Katolik tapi tidak menjadi sorotan orang-orang Istana.

Bukankah benih-benih intoleransi itu justru akan melahirkan paham radikalisme, dan radikalisme akan kemudian berpangkal pada yang lebih ekstrem: terorisme. Jadi, secara tidak langsung, Presiden Jokowi sedang mendiamkan benih intoleransi itu tertanam kuat di Bumi Pertiwi, hingga kemudian tumbuh besar menjadi monster yang menakutkan. 

Semoga saja tidak demikian. 

Minggu, 09 Februari 2020

Sifat Orang Durhaka Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib


Sumber gambar: mehrnews.com

Dalam Kitab Tuhaf Al-'Uqul 'an Ali Al-Rasul, Abu Muhammad Al-Hassan bin 'Ali bin Al-Husain bin Syu'bah Al-Harrani, menulis bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang beberapa sifat orang yang durhaka. 
Diantaranya adalah berikut ini:

 يقول في الدنيا قول الزاهدين، ويعمل فيها عمل الراغبين

Berbicara tentang dunia laksana orang zuhud, tapi berperilaku seperti pencinta dunia.

 يحب الصالحين ولايعمل بأعمالهم

Mencintai orang-orang saleh, tapi tidak melakukan amal mereka.

 يكره الموت لكثرة سيئاته ولا يدعها في حياته

Takut mati karena banyak dosanya, tapi tidak meninggalkan dosa dalam hidupnya.

 إن سقم ندم على التفريط في العمل وإن صح أمن مغترا

Saat sakit dia menyesali kelalaiannya dalam beramal, tapi setelah sembuh dia kembali merasa aman lagi tertipu.

يؤخر العمل تعجبه نفسه ما عوفي ويقنط إذا أبتلي

Menunda-nunda amal selama sehat dan suka merasa takjub dengan dirinya, tapi saat mendapat cobaan dia putus asa.

يبتغي الزيادة ولا يشكر

Minta ditambah kenikmatan, tapi tidak bersyukur.

إن عرضت له شهوة واقعها بإتكال على التوبة وهو لايدري كيف يكون ذلك

Saat syahwat menghampirinya, dia melakukannya dengan harapan nanti bisa taubat, padahal dia tidak tahu apa yang akan terjadi (setelah itu).

 يستكثر من معصية غيره ما يستقل أكثر منه من نفسه 

Menganggap banyak dosa orang lain, tapi menganggap sedikit dosanya yang (padahal) lebih banyak.

 النوم مع الأغنياء أحب إليه من الركوع مع الضعفاء

Lebih menyukai tidur dengan orang kaya daripada ruku' dengan orang-orang lemah (miskin).

 يخشى الخلق في غير ربه ولا يخشى ربه في خلقه

Takut kepada makhluk bukan karena Allah dan tidak takut kepada Allah dalam urusan makhluk-Nya.


*****

Dari sepuluh uraian diatas, dan sebagai ajang untuk muhasabah (introspeksi diri), jujur saja, adakah kesamaan dengan perilaku kita selama ini? Wallahua'lam...