Kamis, 21 Maret 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (2): Nasab Ningrat dan Ulama


Sumber foto: suara.com
KH Ma’ruf Amin terlahir dari keluarga pesantren, keluarga kiai dan ulama. Dari ayah dan ibunya, ia mewarisi darah ulama yang sanad keilmuannya tersambung kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi, ia juga mewarisi darah keningratan.

Jalur Banten

Dari jalur silsilah Banten, Kiai Ma’ruf tersambung kepada Sultan Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Berikut silsilah lengkapnya:

KH Ma’ruf Amin – KH Muhammad Amin Koper – Kiai Abdullah – Nyai Kati – Nyai Kanisah – Syekh Alim – Syekh Abdullah – Syekh Ibrohim – Syekh Hasan Bashri Cakung – Raden Mahmud – Raden Saleh – Sultan Abdul Mufakhir – Sultan Maulana Muhammad – Sultan Maulana Yusuf – Sultan Maulana Hasanuddin – Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Jalur Sumedang

Dari Jalur Sumedang, Kiai Ma’ruf tersambung kepada Prabu Geusan Ulun (Syarif Ja’far) yang beristrikan Ratu Harisbaya. Silsilahnya adalah: Syekh Hasan Bashri Cakung – Raden Ayu Fatimah – Raden Wiranegara – Pangeran Wiraja II – Pangeran Wirajaya I – Prabu Geusan Ulun Sumedang.

Silsilah Prabu Geusan Ulun tersambung kepada Syekh Datuk Kahfi, Penyebar Islam di Cirebon. Geusan Ulun – Pangeran Santri (Maulana Soleh) – Pangeran Pamelekaran – Pangeran Panjunan (Syekh Abdurrahman) – Syekh Nurjati (Syekh Datuk Kahfi).

Jalur Madura

Ratu Harisbaya bernama lain Nyai Narantoko. Silsilah lengkapnya: Ratu Harisbaya – Pangeran Suhra Pradoto (Jambringin Pamekasan) – Ki Pragalbo (Bangkalan) – Ki Demang Plakaran – Aryo Pojok (Sampang).

Jalur Demak

Pangeran Suhra Pradoto beristrikan Ratu Pembayun. Ratu Pembayun – Sultan Trenggana – Raden Patah (Demak).

Syekh Nawawi Al-Bantani

Kiai Ma’ruf Amin juga tersambung nasabnya dengan Syekh Nawawi Al-Bantani dari jalur ibu, sekalipun secara tidak langsung. Syekh Nawawi punya enam saudara, yakni: Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah, dan Sariyah. Kiai Ma’ruf Amin merupakan keturunan langsung dari Syekh Abdullah.

Silsilahnya: Kiai Ma’ruf Amin – Nyai Maemunah – Kiai Muhammad Ramli – Nyai Marsati – Syekh Abdullah – Syekh Abdullah (dari Syekh Nawawi) – Syekh Umar – Syekh Arabi – Syekh Ali – Syekh  Jamad – Syekh Janta – Syekh Masbuqil – Syekh Maskun – Syekh Masnun – Syekh Maswi – Syekh Tajul Arsy (Pangeran Sunyaranas) – Sultan Maulana Hasanuddin – Syekh Syarif Hidayatullah.

Dari jalur ayah dan ibu, nasab Kiai Ma’ruf bersambung kepada Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri dan sultan Banten pertama.

Mencermati silsilah di atas, tampak bahwa Kiai Ma’ruf mewarisi genetik kepemimpinan yang kuat. Ia keturunan dari para raja yang mengislamkan tanah Jawa bagian barat. Ia punya modal sosial yang kuat untuk menjadi penguasa Indonesia yang akan memperkuat keislaman umat yang telah diislamkan oleh para leluhurnya.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin: Politik Jalan Tengah

Sanad Keilmuan

Sanad keilmuan Kiai Ma’ruf bersambung dengan jalur para ulama Nusantara yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Pertama-tama, ia belajar kepada ayahnya, Kiai Muhammad Amin yang terkenal sebagai ahli fiqih.

Kiai Amin belajar di Makkah selama 15 tahun, antara lain mengambil sanad keilmuan dari Sayyid Alawi Al-Maliki di Makkah. Kiai Amin menjadi guru banyak kiai di seputar Banten, mengajarkan kitab Al-Mahalli, Tuhfah, Al-Muhadzdzab, dan lain-lain.

Lalu, Ma’ruf kecil belajar kepada kakeknya dari ibu, yakni Kiai Muhammad Ramli yang mengambil sanad keilmuannya di Makkah. Diantaranya dari Syekh Mahfuzh At-Tarmasi, ulama asal Termas Pacitan yang menjadi guru para ulama NU. Kiai Ramli memberi cucunya itu berupa ijazah doa-doa yang diamalkan hingga kini.

Kemudian, Ma’ruf belajar sebentar di Perguruan Islam Citangkil, Cilegon, Banten, sebelum melanjutkan penjelajahan ilmunya ke Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sepulang dari Tebuireng, ia belajar secara tabarrukan di tiga pesatren; Caringin (Labuan Pandeglang), Petir (Serang), dan Pelamunan (Serang).

Setelah bermukim di Jakarta, ia melanjutkan pencarian ilmunya kepada Kiai Ahmad Mi’an dan Kiai Usman Perak di Masjid Al-Fudlola, sebuah masjid bersejarah di Tanjung Priuk. Ia juga mengambil sanad keilmuan dari Habib Ali Husein Al-Attas yang dikenal sebagai Habib Ali Bungur.

Dengan kajian berbagai kitab yang komprehensif itu, Ma’ruf memiliki bekal yang matang dalam mengembangkan dirinya sebagai ulama. Perkembangan keilmuannya bahkan diakui oleh ayahnya sendiri.

“Kalau ada ajaran bahwa seorang ayah boleh sungkem pada anaknya, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan sungkem pada Ma’ruf,” ujar Kiai Amin.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Rabu, 20 Maret 2019

Lima Ciri Seorang Idealis, Dijauhi Hingga Dibunuh



Demi kebutuhan perut dan kekayaan, lawan bisa jadi kawan atau sebaliknya. Bahkan, menjadi munafik pun seperti wajib dilakukan. Lantas, di mana letak idealisme? Jawabannya: terletak di permukaan bibir, menjadi diksi-diksi yang rumit dimengerti.

*****

Akhir-akhir ini, di linimasa media sosial milik pribadi, saya memosting berbagai kutipan atau 'untaian kata bijak' soal idealisme. Saya yakin, di luar sana, ada banyak orang yang membicarakan soal pernyataan saya yang diabadikan oleh admin instagram @katabangaru.

Jujur, kalimat-kalimat itu muncul dari obrolan-obrolan santai atau celetukan ringan kala sedang membincang berbagai hal dengan teman diskusi, baik yang sebaya maupun lebih tua, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat pemerintah kota. 

Soal bagaimana makna idealisme, saya rasa tidak sulit untuk mencarinya di internet. Tinggal googling saja. Terlebih di zaman yang serba digital ini, segala sesuatunya tersedia di mesin pencari google. Termasuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang akan memberikan makna terkait kata-kata yang dicari, dan sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), sebelumnya EYD.

Saya pun demikian, mencari bentuk dan makna kata tidak hanya dari satu sumber. Jujur saja, saya tahu 'idealisme' itu dari Tan Malaka. Siapa dia? Sila cari tahu sendiri. Secara umum, dia adalah Bapak Bangsa Indonesia yang mati di tangan saudaranya sendiri.

Kata-kata Tan Malaka yang sering digaungkan, terutama oleh mahasiswa pergerakan atau aktivis mahasiswa adalah, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda".

Oleh sebab ketertarikan saya dengan kalimat tersebut, suatu ketika, bersama dengan salah seorang teman diskusi, saya mengeluh: "Jangan-jangan anak-anak muda yang maunya serba instan itu tidak kenal dengan sosok Tan Malaka?"

Seorang teman yang ada di hadapan, saya tanya. Apakah dia tahu tentang idealisme dan sosok Tan Malaka? Jawabnya lucu. Sungguh, lucu.

"Siapa sih itu Tan Malaka? Sok banget ngomongin idealisme, belum tahu aja sih kalau hidup pragmatis itu, enak." 

Seketika itu saya tertawa terbahak-bahak. Bukan maksud menghina karena menertawakan dengan sangat berlebihan, tapi jujur itu adalah spontanitas. Tak lama kemudian, saya jelaskan semampunya, juga disesuaikan dengan kadar intelektualitas lawan bicara saya itu.

Jadi, kemudian saya membuat status WA berupa kalimat Tan Malaka dipadukan dengan jawaban pemuda zaman now, teman diskusi saya itu. Begini jadinya:


Tan Malaka bilang, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda".

Dijawab oleh pemuda zaman now, "Siapa itu Tan Malaka? Sok banget ngomongin idealisme, belum tahu aja sih kalau hidup pragmatis itu, enak".

Nah, baiklah. Saya jelaskan, bahwa orang-orang yang memiliki karakter idealis, di muka bumi, hanya segelintir saja. Tidak banyak. Merekalah yang biasanya memiliki pandangan berlainan dengan orang-orang yang ada di sekitar, punya konsep diri yang berbeda, dan cara yang tidak sama dalam menanggapi setiap langkah kehidupan.

Seseorang yang merasa diri sebagai sosok idealis, pasti ada rasa bangga tersendiri, karena telah menjadi beda dari kondisi pemikiran, cara pandang, dan gaya hidup orang-orang pada umumnya. Bahkan, sosok yang idealis itu terkadang diasingkan (atau mengasingkan diri) karena tidak suka (atau tidak disukai) dengan (atau oleh) orang-orang yang ada di sekitarnya.

"Lebih baik diasingkan daripada harus menyerah pada kemunafikan," kata Soe Hok Gie. Tau? Pasti kagak. Hahahahaha...

Berikut adalah ciri dari orang-orang yang memiliki karakter idealis. Saya dapatkan dari berbagai sumber terpercaya di internet, juga buku (digital dan cetak).

Pertama, berani berargumentasi dengan sangat kontras atau berbeda dari pandangan umum.

Di saat suatu kebijakan atau peraturan ditetapkan, sementara orang-orang secara gambaran umum ada yang mengangguk, tidak setuju tapi diam, dan senang selama itu menguntungkan; berbeda dengan seorang idealis, karena dia pasti gerah melihatnya.

Dia akan berargumentasi dengan kontras dan keras, tak peduli terhadap resiko yang akan dihadapi. Dia bakal menyuarakan suara yang berasal dari lubuk hati terdalam, agar muncul ke permukaan sehingga menjadi 'ancaman' bagi orang atau kelompok yang tidak disukainya.

Kedua, dianggap berbeda dan dijauhi banyak orang.

Seorang idealis akan banyak dibicarakan karena gelagat frontal dan tidak peduli dengan budaya yang telah berjalan sebagaimana biasa. Sebab, menurut seorang idealis, seseorang itu direkrut ke dalam bagian sebuah kelompok adalah karena sebagai (atau membawa) pribadi, yang bukan hanya untuk mengekor tanpa tahu arah yang akan dilalui di depan.

Dan, menurutnya, bukan hal yang salah juga jika melakukan kritik dengan lantang dan keras. Toh, kritik merupakan bagian dari pengejawantahan kata-kata tulus untuk menuntut sebuah perubahan menjadi lebih baik, walaupun itu menyakitkan untuk didengar.

"Qulil haq walau kaana murron!" demikian kata Nabi Muhammad, panutan dan sosok muslim sedunia yang sangat idealis.

Ketiga, tidak pernah punya niat untuk mengubah diri (menjadi tidak idealis).

Seorang idealis, akan sangat sering berasyik-masyuk dalam pemikiran pribadi yang kritis nan ideal, tapi bukan dimaksudkan sebagai sebuah sifat yang egois atau keras kepala.

Dia juga terkadang bercermin diri, berdialog pada diri, bermuhasabah, introspeksi, serta memperbaiki diri (bukan mengubah karakter). Namun, sungguh, dia tetap akan berada di jalur 'kebenaran', menyuarakan kenyataan yang sering ditutup-tutupi.

Sekalipun resiko dimusuhi, misalnya, atau jabatan terancam, bahkan menjadi miskin karena tidak kebagian 'kue', seorang idealis akan tetap teguh pada pendiriannya.

Dia berkeyakinan bahwa rezeki dan takdir di dunia ini, sudah ada yang mengatur. Sebab yang terpenting adalah menjadi pribadi yang benar dan membenarkan berbagai sesuatu yang dianggapnya sebagai sebuah kekeliruan.

Keempat, idealisme dilembutkan (tapi tidak bisa diubah) oleh cinta.

Sebab cinta juga bisa bersemi pada pribadi yang idealis. Susah menerima pendapat yang normatif dan budaya yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip idealisme, tidak menutup kemungkinkan untuk cinta itu dibangun dan bersemi dalam sisi ideal.

Seorang idealis tidak pernah bermaksud atau berkeinginan untuk mencari pasangan yang sempurna, tetapi justru pasangan yang bisa mengerti serta memberi pengertian dari sudut pandang lain; dengan bahasa cinta.

Dia suka dengan kata cinta, tapi dia pasti paham betul bahwa cinta bukan hanya sekadar kata-kata, dan yakin kalau cinta akan datang karena implementasi yang memikat.

Seorang idealis, di mana pun berada, siapa pun orangnya, pasti merupakan seorang yang cerdas dan memiliki kadar intelektualitas di atas orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ini sudah rahasia umum. Silakan saja, dicari dan dibuktikan sendiri.

Maka, karena kecerdasan itulah, sosok yang berkarakter idealis memiliki daya pikat tersendiri, yang tidak dipunya oleh kebanyakan orang; pada umumnya. 

Maka, jangan pernah takut kepadanya. Sebab, dia tidak akan membuat hal-hal yang kriminal atau membuat masalah yang berkenaan dengan hukum, terlebih masalah cinta. Hahahahahaha.

Sebab, sebagaimana wataknya, dia akan berkata dengan sebenar-benarnya perkataan. Kalau sedang rindu dan cinta, akan disampaikan pula dengan bahasa frontal dan apa adanya. Tidak canggung, jaga wibawa (jaim), dan berpura-pura manis padahal busuk.

Kelima, dikenal sebagai sosok yang menjadi diri sendiri.

Idealis itu merupakan karakter yang seringkali dicap, hampir mirip, dengan tindakan provokatif. Betul. Hanya bedanya tidak dalam makna negatif, tetapi mengajak orang lain berpikir agar tak termakan oleh keadaan; sekalipun menguntungkan. 

Orang-orang seperti itu, dikenal dan dinilai sebagai sosok yang mampu menjadi diri sendiri, dan berbeda atau berani berbeda (dalam kebaikan). Sementara hal tersebut, sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. Iya, kan? Dari sisi mana pula, seorang idealis itu dapat merugikan?

Pertanyaan kemudian yang muncul adalah, "Bukankah seorang yang luar biasa itu dilahirkan dari sesuatu yang tidak biasa?"

Namun, perlu diingat, bahwa seorang yang punya karakter idealis itu, tidak angkuh terhadap siapa pun. Dia tetap membumi, karena yakin tidak akan tertelan bumi sekalipun tak dapat mengikuti arus. 

"Ingatlah, bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras dari pada di atas bumi," kata Tan Malaka.

Kebanyakan, secara umum, orang-orang yang bersuara lantang menyuarakan kebenaran itu adalah seorang pemimpin pada zamannya. Sebab, barangkali bagi mereka, dasar awal menjadi pemimpin adalah saat mampu bertahan walau banyak ocehan dan komentar yang menggoncang.

Seorang idealis akan senantiasa melangkahkan kaki untuk terus mendaki dengan tetap menghadap ke bawah dan ke depan sesekali, secara bergantian. Dia tidak akan menoleh sedikit pun ke belakang, walau sebenarnya tahu bahwa ada banyak pisau yang siap membunuh. 

Menjadi idealis itu berat, orang-orang pragmatis, pengecut, penakut, dan selalu mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi pasti tidak akan kuat.

Sebab harus siap menerima resiko; diasingkan, hidup miskin, bahkan berbagai ancaman pembunuhan (seperti Nabi Isa 'Alaihissalam), atau bahkan dibunuh seperti diantaranya Tan Malaka, Otto Iskandar Di Nata, dan Khulafaur-Rasyidin.

Kalau kamu, hanya karena tidak kebagian kue, pasti ngedumel. Iya, kan? Hahahahaha...

"Idealisme adalah nasi dan garam, pisau dan darah," kata sahabat saya, mahasiswa tingkat akhir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang tidak khawatir kalau-kalau dosennya terciduk KPK lantaran kasus yang menjerat Ketua Umum PPP berlambang ka'bah, Romahurmuziy. Hahahahahaha.

So, di mana letak idealisme itu? Di permukaan bibir, menjadi diksi-diksi yang rumit dimengerti. Halah, kebanyakan alasan!

Sekian dan terima kasih~

Senin, 18 Maret 2019

Kiai Ma'ruf Unggul dalam Debat? Gak Usah Lebay!


Adegan Sandiaga Uno mencium tangan Kiai Ma'ruf Amin
Debat ketiga yang melibatkan calon wakil presiden dari masing-masing paslon, sudah selesai dilaksanakan dan cukup memuaskan. Saya mendapati berita, bahwa beberapa pakar politik menyebutkan Kiai Ma'ruf menang unggul dalam debat kali ini.

Benarkah?

Banyak lembaga survei pun yang mengklaim elektabilitas Jokowi-Ma’ruf setelah debat cawapres ini masih tetap unggul di atas pasangan Prabowo-Sandi. 

Halah berlebihan!

Jika Kiai Ma'ruf terlihat lebih unggul, tak usah dibangga-banggakan. Lebay. Biasa saja lah. 

Saya suka adegan Pak Sandiaga Uno mencium tangan Kiai Ma'ruf. 

Pak Sandi menunjukkan akhlak mulia sebagaimana santri milenial yang takzim (hormat) terhadap orang yang lebih tua dan juga lebih berilmu. Memantapkan masyarakat bahwa Pak Sandi benar-benar pilihan hasil ijtima ulama yang selalu menghormati ulama.

Ditambah lagi menutup sesi debat kali ini dengan kalimat mulia, “Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannasir”. Kalimat itu diucapkan dengan fasih tidak terbata-bata.

Hal tersebut menepis semua isu yang  sempat menggegerkan dirinya soal wudlu di satu gayung, atau pun pencitraan salat yang dikrumuni banyak orang untuk berfoto. Jelas, isu semua terbantahkan hanya kalimat penutupnya.

Setelah Pak Sandi menyampaikan pernyataan penutup, giliran Kiai Ma’ruf berdiri dan memulai dengan salam. Kiai Ma'ruf terlihat lancar menyampaikan pernyataan penutupnya, pasti sudah disiapkan dengan matang. 

Ciri khas sebagai seorang ulama pun masih kental dengan membawa beberapa dalil untuk menguatkan argumen. 

"Al-Ishlah ila ma huwal ashlah, tsummal ashlah fal ashlah (Melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik, yang lebih baik. Secara terus menerus dan berkelanjutan),” kata Kiai Ma’ruf.

Menurut Kiai Ma’ruf, kebijakan pemerintah Jokowi-JK sudah baik. Sementara Kiai Ma’ruf hadir untuk mendampingi Jokowi lima tahun ke depan sebagai perbaikan yang masih kurang maksimal terhadap apa yang sudah dilakukan Jokowi-JK. 

Kiai Ma’ruf akan bekerja sungguh-sungguh semaksimal mungkin, karena hasilnya bukan untuk dirinya maupun Jokowi. Hasilnya untuk generasi yang akan datang, nanti.

Sedangkan untuk menangkal hoaks, Kiai Ma’ruf berpesan dengan mengutip potongan firman Allah dalam surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi:

 إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah."

Hoaks menjadi titik fokus yang saat ini harus diperhatikan khusus. Karena hoaks, Indonesia bisa terpecah belah. 

Ia juga meminta doa restu, “Oleh karena itu kami mohon doa restu kepada seluruh rakyat indonesia, agar cita cita dan niat kami itu atas izin allah dapat terwujud”.

Secara sepontan, hampir seluruh hadirin dalam studio debat itu mengucapkan aamiin secara bersamaan. Doa tetap menjadi pendorong agar semua yang diharapkan diridhoi Allah, dan doa itu sudah diaminkan bersama.

Setelah selesai menyampaikan pernyataan penutup, Pak Sandi mencium tangan Kiai Ma’ruf dan penonton yang hadir langsung melantunkan salawat bersama. Persis seperti melihat santri yang baru saja ngaji kepada kiai.

Pak Sandi santri milenial, dan santri tetaplah santri, tidak boleh melangkahi kiai. Setua apapun Kiai Ma’ruf, moderator tetap memanggilnya putra bangsa. 

(Hafas Alawy, dalam status facebooknya pada Senin, 18 Maret 2019)