Kamis, 03 Januari 2019

Menjadi Aktivis Politik Islam (1)


Sumber foto: suaranasional.com


Pertama-tama, kita mesti maknai terma aktivis sebagai seorang atau kelompok yang bertindak secara bersama untuk sebuah perubahan; perumusan; dan penetapan tujuan bersama.

Hannah Arendt membedakannya dengan manusia pekerja dan seniman. Manusia tindakan (aktivis) merupakan konsep manusia paling otentik, yakni ketika perilaku mereka hanya tertuju pada keutamaan hidup: kebebasan.

Sebagai manusia otentik, aktivis sangat diharapkan sumbangsih gagasan dan gerakannya. Sebab, ada banyak realitas menjadi bobrok dan kemudian memicu kemunduran berpikir serta berperilaku.

Karenanya, mau tidak mau, aktivis harus terlibat dalam berbagai upaya pengentasan berbagai permasalahan krusial. Sedangkan salah satu masalah yang hingga kini menuai pertentangan adalah isu pertautan antara Islam dan Negara.

Mengapa harus aktivis politik?

Lagi-lagi meminjam pernyataan Arendt, politik itu adalah kebebasan. Politik memungkinkan manusia untuk bertindak dan berpikir secara otonom.

Politik memicu hal-hal baru dengan menerobos standar atau mode perilaku, pemikiran, serta penilaian yang telah sedemikian rupa mengalami pembakuan. Itulah politik secara esensi.

Lebih jauh, karena isu Islam dan Negara sebagai sentral pembahasan, maka tentu tidak keliru jika politik dijadikan sebagai alat bantu bagi aktivis politik Islam dalam memposisikan diri.

Dengan demikian, menjadi aktivis politik Islam mendapati relevansinya yang sangat cocok dalam bahasan ini.

Islam Politik

Dewasa ini, perbincangan seputar Islam dan Negara memang tak henti menuai perdebatan. Sebagaimana disebutkan di awal, fokus tentang bagaimana pertautan keduanya menjadi bahan garapan yang terus dipoles sedemikian rupa.

Salah satu inti pertanyaan mendasar dalam persoalan tersebut adalah bagaimana pola pertautan antara Islam dan Negara dalam konteks Indonesia?

Masih mungkinkah mempertahankan pola legal atau formal, sebagaimana generasi muslim awal seperti Natsir menyerukannya? Apakah pola yang lebih substansial sebagaimana Cak Nur, Gus Dur, dan pemikir muslim generasi baru lainnya serukan?

Tidakkah pola yang disebut belakangan itu lebih mencerminkan nilai-nilai Islam? Perdebatan yang tak kunjung kelar inilah yang kemudian mengharuskan kita untuk bicara mengenai Islam Politik.

Ya, antagonisme dalam tubuh umat Islam, baik dalam aspek gagasan atau prakteknya, hanya mungkin diretas melalui jalur politik.

Islam Politik niscaya harus kita pandang sebagai alat paling memungkinkan untuk menebar keharmonisan. Paling tidak, meredam antagonisme yang seharusnya bukan sebagai keutamaan. 

Namun jika tidak, disintegrasi di antara umat Islam sendiri hanya akan menjadi wabah penyakit yang mengerikan sekaligus mematikan.

Terinspirasi dari Leonard Binder, Islam akan mampu dipertahankan sebagai kekuatan politik hanya jika seseorang atau kelompok mau memainkan peran sebagai perantara kultural antara Islam dengan kebudayaan. Itulah mengapa Islam politik dalam hal ini dipandang relevan sebagai bahan diskusi bersama.

Bahtiar Effendi dalam Islam dan Negara  (2009), memberi peta pemikiran politik yang terbilang relevan untuk terus dipertahankan, bila perlu diperluas.

Dalam bab 'Tumbuhnya Intelektualisme Islam Baru', ia mengulas secara historis tentang Tiga Aliran Pemikiran; Pembaharuan Teologis/Religius, Reformasi Politik/Birokrasi, dan Transformasi Sosial.

Meski upayanya tersebut dalam rangka memperbaiki keretakan hubungan antara Islam dan Negara, tetapi di sini kita bisa tempatkan sebagai gagasan pemikiran politik yang harus dirambah oleh masing-masing aktivis politik Islam.

Bersambung... (Maman Suratman)

Rabu, 02 Januari 2019

Empat Alasan TGB Hijrah ke Golkar


Tuan Guru Bajang. Sumber pepnews.com

Lama tak terdengar nama ulama-politisi ini di kancah politik praktis. Terakhir ketika tiba-tiba dirinya menyatakan mendukung Jokowi 2 periode, sempat menjadi isu hangat di tengah masyarakat.

Setelah Joko Widodo menunjuk KH Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya, nama Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi memang sempat meredup, tetapi kini muncul dengan berganti 'baju' ideologi politik. 

Sejak dukungannya kepada Jokowi beberapa waktu lalu, ideologi politik TGB memang sudah 'kuning'. Hal itu karena dirinya tak lagi sejalan dengan 'baju biru' kepolitikannya di Partai Demokrat, sekalipun parpol ini mengantarkannya duduk menjadi penguasa di Nusa Tenggara Barat. 

Tak hanya itu, soal ideologi keagamaan yang dianutnya, TGB cenderung tawasuth (tengah-tengah, moderat). Pemikiran seperti itu kurang diterima oleh arus deras pemikiran yang 'ketat' dan sulit juga bergabung dengan kelompok yang cenderung berpikiran serba 'longgar'.

Pilihan TGB untuk bergabung dengan Partai Golkar sekaligus menjelaskan kepada publik bahwa sudah sejak dulu sebenarnya ia memang berideologi politik 'kuning'. Secara politik mungkin dapat dijelaskan.

Golkar sekalipun lahir dari rezim yang sempat digulingkan oleh semangat reformasi, tapi memiliki sumber daya yang multikultural baik secara ideologi keagamaan maupun politik. 

Keberadaan Golkar dipandang tidak 'hijau' dan tidak 'merah', bahkan 'putih' pun tidak. Inilah barangkali yang menjadi alasan kuat, kenapa TGB tampak lebih nyaman memilih Golkar dibanding parpol lainnya yang mungkin saja cenderung ketat terhadap warna kepolitikannya.

TGB menyebut bahwa Partai Golkar merupakan wujud partai tengah yang kokoh. Ia juga meyakini betapa pentingnya bersikap moderat bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan membuatnya untuk menempuh karir politik kembali dengan warna baru. 

Pria yang menjabat Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) yang ditunjuk menggantikan Quraish Shihab pada Oktober 2017 lalu, tidak hanya sosok politisi ulung, tetapi juga ulama yang berdedikasi terhadap perkembangan dan kemajuan Islam Indonesia.

Pilihan Quraish Shihab yang langsung menunjuk TGB untuk menggantikannya bukan semata-mata karena soal kedekatan pribadi, tapi yang pasti TGB merupakan sosok ulama yang memiliki pengetahuan yang cukup luas terhadap seluk-beluk ajaran Islam.

Karir akademisnya sejak S1 hingga S3 diselesaikan secara sempurna di Universitas Al-Azhar Mesir yang juga dikenal berbasis ideologi pemikiran Islam yang moderat.

Hal yang menarik adalah karir politik bagi seorang yang mengenyam pendidikan Timur Tengah dipastikan nyaman berada dalam parpol yang berwarna 'hitam-putih', hampir tak pernah melirik kelompok berideologi politik 'hijau'.

Lain halnya dengan TGB, yang walaupun ia merupakan 'aktivis' Timur Tengah, tetapi sejak awal malah lebih memilih bergabung ke Demokrat. Bukan PKS, PPP, dan PKB.

Inilah kecenderungan sikap moderat TGB yang kemudian kian menemukan momentumnya, saat ia memilih Partai Golkar sebagai kendaraan politik terbarunya.

Berarti, tak salah jika memang sudah sejak dulu ideologi politik TGB sudah 'kuning'. Keberadaan TGB di jalur politik tentu saja memiliki tujuan dan utamanya, yakni 'kuningisasi'.

Sebab walau bagaimanapun, banyak diantaranya yang terjebak dalam 'fanatisme warna', sehingga pada akhirnya cenderung 'homogen' dalam berbagai sikap politiknya. 

'Kuningisasi' yang dimaksud tentu saja berbeda dengan konsep 'kuningisasi' era Orde Baru yang menuntut seluruh kawasan dicat warna kuning, atau memaksa para pekerja pemerintah 'berbaju' kuning. Karena jika tidak, maka harus siap-siap wilayah mereka terabaikan dalam setiap proses pembangunan. 

'Kuningisasi' ala TGB bertujuan bagaimana merefleksikan sikap politik secara moderat dan benar-benar berupaya mengajak seluruh elemen masyarakat agar selalu mengedepankan sikap moderasi, baik dalam berpikir dan bertindak.

Sejauh ini, tampak sekali betapa masyarakat terkotak-kotakkan akibat polarisasi politik, sehingga sikap moderat dalam berbagai hal dianggap tak relevan, bahkan diacuhkan.

Bergabungnya TGB ke Partai Golkar selain menjadi tambahan amunisi politik bagi elektabilitas parpol berlambang beringin ini, juga penegasan sikap politik dirinya untuk berjuang membangun masyarakat muslim Indonesia yang ramah, toleran, dan tentu saja selalu berada di 'jalur tengah' dalam hal ideologi politik maupun keagamaan. 

TGB selalu memandang penting sikap moderat yang ditunjukkan melalui sekian banyak prestasi dan keberhasilannya membangun NTB dengan tanpa memunculkan 'gesekan politik' sedikit pun.

Keberhasilan menjaga keseimbangan masyarakat melalui kematangan dan kedewasaan dalam sikap toleransi antarumat beragama, menjadi salah satu contoh dari upaya keras TGB menumbuhkan moderasi di daerahnya.

Maka, jangan terburu-buru untuk menilai TGB sebagai 'politisi kutu loncat' yang berpindah dari satu parpol ke parpol lainnya dengan alasan mengharap kekuasaan.

Sikap politik pribadinya yang mendukung Jokowi di ajang kontestasi politik, seharusnya tidak dipandang sebagai sikap nyeleneh dari Partai Demokrat yang tampak berseberangan. 

Perhitungan politik TGB mendukung Jokowi tentu saja telah dipertimbangkan secara matang dengan segala konsekuensi yang bakal diterima.

Arus kuat 'politisasi agama' yang sangat mengganggu iklim politik, justru berhasil mengeluarkan TGB dari kungkungan itu, sekalipun konsekuensi yang harus diterima tentu saja tuduhan-tuduhan menyakitkan dari publik.

Oleh sebab memilih dan bergabung ke dalam Partai Golkar, tentu saja ia sedang membangun image politiknya sendiri. Selain itu, ia juga melepaskan dirinya dari berbagai tuduhan politik yang kurang mengenakkan.

Dan, setidaknya ada empat alasan yang diungkapkan TGB untuk memutuskan diri berhijrah ke Partai Golkar.

1. Membangun Indonesia dengan Islam Wasathiyah (moderat)

Ulama kharismatik yang dikabarkan hafiz Qur'an ini ingin membangun Indonesia dengan Islam Wasathiyah.

"Bagi saya membangun Indonesia adalah tentang ber-fastabiqul khairat, berlomba dalam kebajikan dengan prinsip falsafah jalan tengah wasathiyyah atau moderasi," kata TGB melalui keterangan pers resmi, Jumat (21/12/2018), dikutip dari TribunNews.

Menurutnya, Golkar merupakan partai politik yang tepat untuk meneruskan cita-cita tersebut.

2. Golkar Merawat Nilai Baik dan Meninggalkan Hal Negatif

TGB melihat Partai Golkar telah berusaha bertransformasi dengan merawat nilai baik sekaligus meninggalkan hal-hal negatif.

"Saya menangkap semangat ishlah itu dan saya ingin menjadi bagian dari institusi yang transformatif itu," kata TGB.

Semangat transformasi tersebut, lanjutnya, sangat diperlukan bangsa Indonesia dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat di seluruh bidang.

3. Golkar Mendukung Jokowi di Pilpres 2019

Ia memilih Golkar karena secara pribadi mendukung Presiden Joko Widodo yang akan menjabat untuk periode kedua.

"Dukungan ini saya harapkan bergulir secara kelembagaan melalui Partai Golkar yang, dalam pandangan saya, dengan konsep kekaryaannya sangat sebangun dengan semangat Pak Jokowi dalam membangun Indonesia," katanya.

Begitu gabung ke partai berlambang beringin itu, ia langsung diamanahkan untuk menduduki posisi dua jabatan sekaligus. Selain sebagai Koordinator Bidang Keumatan DPP Partai Golkar, TGB juga menjabat Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Golkar.

4. Suka-suka yang nulis lah.

Golkar kan nomer empat, jadi alasannya dibikin empat. Masalah?

Peran Penting Sosok Perempuan di Balik Kesuksesan Pemimpin


Sumber gambar: dakwatuna.com


Presiden RI ke-3 Burhanudin Jusuf Habibie merupakan sosok kepala negara yang paling romantis, menurut saya. Sampai-sampai kisahnya bersama sang istri, difilmkan di layar lebar. Cukup menyentuh sekali. 

Karena itu, seringkali ia mengungkapkan soal sosok perempuan yang selalu berada di balik kesuksesannya. Hasri Ainun, itulah istrinya. Ia mengungkapkan betapa sang istri merupakan sebuah kekuatan dalam masa-masa sulit.

"Saya menerima penghargaan ini atas nama keluarga dan anak-anak, menantu, dan cucu, khususnya kepada istri saya tercinta, dokter Hasri Ainun Habibie yang telah mendampingi dengan kesetiaan yang tulus serta dengan pengorbanan yang ikhlas sehingga saya dapat menjadi hamba Allah seperti sekarang ini," katanya dengan penuh romantisme cinta saat Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Filsafat dan Teknologi Universitas Indonesia, dikutip dari Republika Online.

Ia menambahkan, "Di balik sukses seorang tokoh, tersembunyi peran dua wanita yang amat menentukan, yaitu ibu dan istri."

Kisah di atas memberikan pelajaran bahwa di balik setiap kesuksesan suami, selalu ada peran seorang istri. Penyebabnya, Allah SWT telah menganugerahkan kesabaran kepada perempuan (istri) untuk merawat keluarganya tanpa berkeluh kesah.

Perempuan juga dihiasi dengan perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai anak-anaknya. Maka, makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk lelaki ini juga kerap menjadi sumber inspirasi bagi suaminya.

Ketika masa kenabian, profil Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al-Uzza’, istri baginda Nabi Muhammad SAW, tak bisa dilupakan. 

Sayyidatina Khadijah turut berperan dalam kesuksesan dakwah Nabi. Tak hanya itu, seluruh hidupnya diberikan untuk mendukung dan membela dakwah Rasulullah SAW bersama para sahabatnya.

Tentang istri pertamanya ini, Rasulullah SAW bersabda, "Allah tidak menggantikan untukku perempuan yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku saat orang lain ingkar kepadaku, ia mempercayaiku saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah mengaruniakan kepadaku putra (dari hasil perkawinan dengannya) sedang perempuan-perempuan lain tidak.”

Keistimewaan Khadijah pun diakui Allah SWT. Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Jibril datang kepada Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan ke mari. Ia membawa wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Jika dia sampai kepadamu maka katakanlah bahwa Tuhan dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga.”

Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling mendukung dalam kebaikan, bekerja sama, dan tolong menolong. (QS at-Taubah ayat 71). Dan, menjadikan sepasang suami-istri seperti pakaian yang saling melengkapi dan menutupi kekurangan di antarkeduanya.

Seperti yang difirmankan Allah SWT. “....Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka...” (QS al-Baqarah ayat 187).

Semoga Indonesia senantiasa dipimpin oleh seorang yang memiliki cinta kepada dirinya sendiri, kepada istrinya, kepada anak, menantu dan cucu-cucunya, kepada lingkungan sekitar, serta tentu kepada masyarakat Indonesia pada umumnya.