Minggu, 15 Januari 2017

Komitmen Bersama Menjaga Tradisi Islam Nusantara


Dari kiri ke kanan: Muhammad Ammar, Sami Makarim, Ahmad Mustofa Al-Qodiri Al-Baghdadi, Aru Elgete, Muhammad Syakir Ni'amillah. Foto Bersama di Makam Pangeran Jayakarta, Jakarta.

Jumat (13/1) malam, debat resmi kandidat Cagub-Cawagub DKI Jakarta digelar. Suhu politik Ibukota memanas. Terlebih di media sosial, semua orang memberikan komentar dan tanggapan atas apa yang ditontonnya. Gaduh. 

Seolah tak ada yang menonton debat kecuali dia, sehingga berkewajiban memosting tulisan di media sosial untuk memberitahu orang lain. Seakan Facebook, Twitter, Path, dan Line adalah penentu kemenangan pasangan calon (Paslon) idamannya.

Saling sindir, cibir, dan ungkapan merendahkan digulirkan melalui tulisan maupun meme. Seperti keluar jalur dari kesepakatan awal bahwa Pilkada Serentak 2017, khususnya di DKI Jakarta harus teduh dan damai. Tapi kenyataan berkata lain. Tetap saja begitu, memang sudah wataknya.

Malam itu, saat tahu bahwa begitu menjijikkannya kehidupan di dunia maya, saya dan teman-teman seperjuangan semasa di Buntet bergegas menziarahi makam ulama Betawi. Tujuan wisata spiritual ketika itu adalah Pangeran Jayakarta. Berharap dengan washilah beliau, doa dan keinginan kami diwujud-nyatakan oleh Allah, yakni agar Jakarta kembali Teguh Beriman.

Kalau ingin tahu sejarah hidupnya Pangeran Jayakarta, silakan ngaji di Mbah Yai Google atau beli buku di Gramedia atau Toko Buku terdekat.

Diantara kami, tak ada yang didapuk menjadi imam besar. Karena semua berpotensi menjadi imam besar, minimal di lingkungannya masing-masing. Tempat tinggal kami saling berjauhan satu sama lain, dan hanya bisa disatukan oleh komitmen bersama, yaitu menjaga tradisi Islam Nusantara.

Muhammad Syakir Ni'amillah, salah seorang putra Kiai Buntet yang kini sedang menempuh studi di UIN Syarif Hidayatullah. Dia adalah pelopor gerakan ziarah. Tiap kali pertemuan, Syakir selalu mengajak untuk sowan ke Ulama-ulama Betawi. 

Sami Makarim pun sama. Dia kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Domisilinya di daerah Cibubur, namun dia memilih untuk tinggal di asrama. Mungkin menurutnya hal itu dapat lebih memantik semangat untuk terus belajar. Kalau ada waktu senggang, dia semangat menggerakkan tubuhnya untuk ziarah ke orang-orang alim di Ibukota.

Ahmad Mustofa Al-Qodiri Al-Baghdadi, tinggal di Cibubur. Dia sekretaris Lajnah Ruhaniyah Qodiriyah. Mamet, begitu sapaan akrabnya, tidak akan bisa ikut wisata spiritual kalau tanpa Sami, kerabat dekatnya. Atau kalau terpaksa, dia memilih Ojek Online sebagai jawaban. Yang jadi permasalahannya adalah, bukan karena tidak bisa mengendarai sepeda motor, tapi hanya kurang mahir saja. Entahlah, begitu katanya.

Muhammad Ammar, berdomisili di Rawasari, Jakarta Pusat. Dia aktivis muda NU yang terkadang membantu pekerjaan bisnis orangtuanya, Dwi Er Grafika. Kalau urusan percetakan, apa pun, silakan hubungi dia. Nah, rumahnya itu selalu menjadi titik kumpul kami sebelum berangkat ke tujuan wisata spiritual. 

Dia punya buku Ulama Betawi, abad 18 hingga 20. Lengkap dengan sejarah hidup dan lokasi makamnya. Sebelumnya, kami mengkaji, membaca, dan berdiskusi soal tokoh yang ingin diziarahi itu. Kemudian, kami berniat dan bertekad untuk menjaga tradisi Islam Nusantara.

Bukan hanya tradisi ziarah kubur saja yang ingin dilestarikan. Tetapi soal gaya hidup dan sikap umat Islam di Nusantara. Bahwa sejarah kehidupan orang-orang Islam Nusantara sangat berbeda dengan kebanyakan Muslim di Barat, apalagi di Arab. Islam di sini sangat santun. Tata Krama yang diajarkan oleh leluhur bangsa sangat sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad.

Kami berlima tentu berbeda pandangan dalam beberapa hal. Misal, dalam hal pilihan dalam kontestasi politik Tanah Air. Berdebat dan berdiskusi sering mewarnai persahabatan kami, tapi tak pernah saling menjatuhkan satu sama lain. Sebab menjunjung peradaban Islam Nusantara jauh lebih berharga daripada hanya mendebatkan hal-hal yang berpotensi memecah-belah.

Bagi kami, politik adalah alat untuk memenuhi amanat Pancasila dan UUD 1945, bukan sebagai motor penggerak guna menggapai kekuasaan. Karenanya, setelah tahu bahwa debat kandidat, Jumat malam itu berlangsung begitu menggelikan, kami lebih memilih menjaga komitmen bersama. 

Meskipun berbeda pilihan dalam Pilkada DKI Jakarta tahun ini, perdebatan sengit yang cenderung menebar kebencian dan bahkan memperlebar ruang permusuhan tetap kami jauhi. Karena memang, tradisi Islam Nusantara tidak pernah mengajarkan kebencian dan permusuhan.

Dalam perjalanan persahabatan kami, cahaya perdamaian mesti harus selalu ditebarkan. Sebab dengan itu, kami dapat menghargai perbedaan pendapat. Tidak menghindari diskusi dan debat, apalagi saat disambi dengan secangkir kopi hitam.

Hal yang kami hindarkan adalah sikap ingin menang sendiri, merasa paling benar dan menganggap orang lain salah. Selain itu, kami selalu menghindari gaya komunikasi yang berusaha menjatuhkan atau bahkan menjelekkan dan menghina lawan bicaranya. 

Kalau ada salah kata, silakan didiskusikan. Jangan dipendam dalam hati, sehingga membatu dan membentuk gumpalan kebencian. Begitu menurut kami.




Wallahu A'lam



Bekasi Utara, 15 Januari 2017



Aru Elgete

Jumat, 13 Januari 2017

Fulan: Jangan Dekati Aru, Dia Liberal!


Foto bersama komunitas Forum Ide di Kerajaan Eden, Jakarta Pusat.

Saya sering mendengar atau setidaknya mendapat laporan bahwa ada yang bilang, "Jangan dekati Aru, dia liberal!" Hal itu sudah biasa terdengar saat saya mulai berani memberikan tanggapan dan komentar yang sangat tidak umum di media sosial milik sendiri. Sekira empat tahun yang lalu.

Terhitung sudah hampir belasan kali, saya keluar-masuk rumah ibadah agama lain. Saat sedang bersafari ke rumah ibadah agama lain, seketika itu juga saya langsung mengunggahnya ke Facebook atau Twitter. Beragam penafsiran dan tanggapan bermunculan. Salah satunya, "Oh, Aru liberal toh."

Bahkan, tak jarang saya mengikuti diskusi di Utan Kayu bersama Jaringan Islam Liberal. Sebelum dan pasca diskusi, saya senang mengunggah foto atau tulisan hasil dari proses pendewasaan pemikiran di sana. Semakin terbukalah tabir, bahwa saya memang benar liberal.

Kritik pun tak jarang saya lontarkan ke kelompok-kelompok keagamaan yang beragama dengan saklek dan kaku. Sebab, yang saya tahu sejak keterlibatan dalam diskusi di Utan Kayu, agama itu suci dan lembut, tidak kasar dan main hakim sendiri.

Toh, saya berpikir bahwa mengkritik kelompok keagamaan tertentu bukan berarti mengkritik agama itu sendiri. Kelompok keagamaan sama sekali tidak merepresentasikan agama yang tak terdefinisi itu. Misal, saya anti dengan FPI, HTI, MUI, dan FUI, bukan berarti saya anti dengan Islam atau bahkan anti dengan semua ulama di Indonesia.

Saya mengerti Islam tidak langsung dari empunya, tidak langsung dari Rasulullah, tidak langsung dari teks Al-Quran atau hadits yang saya baca, tidak otodidak. Islam yang saya pahami adalah hasil dialektika antara literatur keagamaan yang saya baca dan kajian-kajian ilmiah yang saya ikuti.

Begini, awalnya saya mengerti Islam dari para ulama di Buntet Pesantren Cirebon. Mereka mengajarkan dan menginformasikan bahwa agama yang dibawa Rasulullah mengajarkan welas asih, tidak dengan amarah; apalagi kebencian. 

Kemudian saya diperkenalkan dengan Gus Dur, Cak Nur, Ahmad Wahib, Ahmad Tohari, Mahbub Junaidi, Buya Hamka, Buya Haedar Nashir, Prof Quraish Shihab, Kiai Said Aqil Siroj, Buya Syafi'i hingga Kiai Lukman Hakim (Menteri Agama RI saat ini). Saya mengenalnya melalui buku, diskusi, atau bertemu langsung untuk mengetahui bagaimana Islam, sejak dulu hingga sekarang.

Mereka semua sepakat dan sependapat bahwa Islam itu berkewajiban menebar rahmat untuk semua, tak pandang bulu, dan tidak pilih kasih. Jadi, seperti itulah perjalanan pemahaman keagamaanku. Tidak secara otodidak, tapi melalui proses yang panjang. Bertahun-tahun.

Saya jadi paham bahwa Rasulullah, menurut pengetahuanku tidak pernah membenci dan memusuhi. Tidak pernah mencaci apalagi memaki. Santun, penyayang, humoris, sederhana, dan pemersatu umat.

Cara berdakwahnya tentu dengan merangkul, bukan memukul. Mengajak diskusi, bukan menutup diri. Menghampiri, bukan menjauhi. Toh, kalau kita berbeda pandangan kenapa justru permusuhan yang dikedepankan?

"Ah, Aru liberal. Ngapain juga diskusi agama sama dia, mending dijauhin!"

Mungkinkah Nabi Muhammad berbuat seperti itu? Pernahkah beliau menjauhi musuh-musuhnya? Bukankah Kekasih Allah itu mengasihi semua makhluk tanpa pengecualian? Kalau saya dianggap musuh, kenapa justru dijauhi? Seperti itukah dakwah Kanjeng Nabi? Silakan dijawab dalam hati.

Saya pun mengakui bahwa diri ini masih dalam keadaan yang tersesat. Sebab hidup di dunia adalah sebuah proses kemanunggalan kepada Allah. Itulah tauhid. Apabila saya sudah tak sesat dan sudah merasa paling benar, maka kalimat ihdinash-shiratal-mustaqim tak perlu lagi dibaca dalam setiap peribadatanku.

Oh iya, urusan ibadah tak perlu diumbar ke permukaan. Salat, puasa, zakat, dan syahadatku adalah amal perbuatan. Wudluku bukan dengan air biasa, tetapi perilaku yang terpuji. Ruku' dan sujudku adalah sebuah tanda penghormatan kepada Allah dan Rasul-Nya di setiap desah nafas yang terhela.

Bagaimana? Liberal banget kan?

Kawanku yang budiman, Islam itu pembebas dan membebaskan. Firman Allah yang pertama pun, Iqro bismirobbik. Tidak menekankan kepada kita perihal apa yang harus dibaca. Itu artinya Islam dan Allah sendiri bersifat membebaskan.

Adakah yang tahu maksud Allah dalam Firman pertamanya itu, benda atau objek apa yang harus dibaca?

Menurut hemat saya, Allah memerintahkan hamba-Nya agar senantiasa membaca semesta. Membaca kehidupan. Membaca gerak-gerik alam. Membaca teks verbal dan nonverbal. Membaca secara tekstual maupun kontekstual. Bahkan, membaca kematian dengan memperbanyak manfaat kehidupan.

Itu!

Intinya adalah, saya tidak akan mendiamkan sebuah ketersesatan merajalela. Karena tugas Rasulullah ketika itu justru menghampiri orang-orang yang tersesat dan memberi informasi sekaligus petunjuk jalan kebenaran. Tidak justru menyesat-nyesatkan ketersesatan. Apalagi menjauhi orang lain yang dianggap sesat.

Terakhir, perlu dipahami. Ketika saya mengkritik kelompok atau komunitas agama, jangan diartikan bahwa saya sedang mengkritik agama. Orang dewasa pasti bisa membedakan antara kelompok agama dengan agama itu sendiri. 

Sama seperti saudara-saudaraku di sana yang senang mengkritik Ulama kebanggaanku, seperti Prof Quraish Shihab, Kiai Said Aqil Siroj, dan bahkan Buya Syafi'i. Atau mengkritik kelompok keagamaan dambaanku, NU dan Muhammadiyah. Saya tidak akan mengatakan bahwa saudara-saudaraku itu mengkritik atau anti dengan Islam. Tidak.

Hanya saja, kita juga harus tahu diri. Harus menakar diri. Kritik yang dilontarkan itu beradab atau tidak? Komentar yang kita berikan itu, berdasar atau tidak? Kalau tidak, yuk diskusi. Siapkan kopi kental tanpa gula sebagai pemantik agar tak cepat ngantuk.

Saya tunggu undangan diskusinya...


Perumahan Perwirasari, Bekasi Utara, 13 Januari 2017



Aru Elgete

Selasa, 10 Januari 2017

Surat Terbuka Untuk Teater Korek


Anggota dan pengurus sedang menyanyikan Mars Teater Korek, usai pementasan Domino pada Senin (9/1) malam.


Yth,
Pelopor/Pendiri/Penerus Teater Korek
di Tempat

Sehubungan dengan terselenggaranya pementasan Gema Awal Tahun yang berjudul Domino, Senin (9/1) malam di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan demi kebaikan dan kemajuan Teater Korek ke depannya. 

Pertama,
Saya mengapresiasi kerja Teater Korek yang tetap konsisten berada di jalur kebudayaan dan kemanusiaan. Domino itu sarat dengan keadaan kita akhir-akhir ini. Isu kemiskinan, kesengsaraan, dan pemerkosaan dihadirkan di dalamnya. Saya berpikir, Domino ini adalah sebuah kritik untuk penguasa yang senang menelantarkan nasib rakyatnya.

Kedua,
Dengan segala kerendahan hati, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu kelancaran proses belajar anggota Teater Korek. Bahwa sesungguhnya, kalimat belajar latihan dan belajar mentas adalah bentuk kejujuran lahir-bathin yang dialamatkan kepada masyarakat.

Saya sepakat dengan ucapan Sutradara Domino, Zeta Margana, dalam kerja kebudayaan diperlukan netralisasi jiwa dan rasa. Rendah hati pun mesti diejawantahkan agar kelak, di puncak kemapanan, seluruh anggota Teater Korek, baik secara struktural maupun kultural, mendapatkan hasil sempurna.

Ketiga,
Kemarin saat pementasan, saya melihat animo masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan pertunjukkan Domino. Walaupun tidak semua dari penonton yang hadir itu memiliki niat dan tujuan yang sama. Tetapi setidaknya, Teater Korek sudah dipercaya masyarakat sebagai salah satu penggerak kebudayaan di Kota Bekasi. Mohon dipertahankan.

Keempat,
Segera melakukan pembenahan organisasi, terlebih soal kaderisasi dan kekaryaan. Dua hal itu yang mesti diperhatikan. Teater Korek merupakan sebuah organisasi di bawah naungan Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni (DIKA) Unisma Bekasi tentu memiliki sisi internal dan eksternal. Nah, itu yang hampir tak tampak saat ini.

Kita perlu melakukan hubungan ke luar, melakukan kerja bersama dengan komunitas kampus atau yang bukan kampus. Tetapi, jangan lupa bahwa kita memiliki dapur sendiri. Jangan hanya karena kedekatan emosional yang sangat erat dengan beberapa elemen kebudayaan, Teater Korek menjadi seperti tak punya apa-apa. 

Sepenglihatan saya, Teater Korek seperti sedang bergelap-gelap dalam terang. Bahkan lebih parahnya, seperti ditenggelamkan pada lautan kepentingan. Sekali lagi, saya sangat berharap Teater Korek segera melakukan pembenahan organisasi. Tujuannya, agar rumah tangga Teater Korek tak samar-samar dipandang mata. 

Yang namanya organisasi tentu memiliki alur koordinasi dan birokrasi yang mesti dijalankan secara formal. Misal, Teater Korek perlu memiliki batasan-batasan tertentu kepada lembaga yang berada di sekitarnya. Kedekatan emosional antar-individu tidak bisa mempengaruhi atau menjebol batasan itu. Orang dewasa pasti mengerti, organisasi atau lembaga jelas berbeda dengan pribadi atau individu seseorang.

Kita tidak akan bisa meningkatkan kekaryaan, kalau dapur tidak ngebul karena sebagian besar perabotan sudah hancur dimakan rayap. Atau hilang terbawa gelombang eksistensi. Bahkan, lenyap ditelan oleh kemaruk jiwa yang berlebih.

Kelima,
Teruntuk anggota baru Teater Korek, khususnya yang mementaskan Domino kemarin malam, saya ucapkan selamat. Kalian telah menempuh hidup baru di koridor kesunyian, di lorong yang tak dicintai banyak orang, dan di jalan yang dibenci segelintir orang. Selamat melakukan peribadatan suci dengan kerja kebudayaan dan kemanusiaan.

Jangan berhenti berproses. Sebab di dalam kerja teater, kita akan terlatih untuk menjadi luas dalam berpikir dan tidak hanya melihat suatu peristiwa dari satu sudut pandang. Selain itu, teater mengajarkan keseimbangan. Stabilitas tubuh yang menjadi bagian dari olah tubuh, sangat berpengaruh bagi kehidupan, kelak. Percayalah.

Jangan berhenti mengolah pikir, rasa, jiwa, dan tubuh. Karena itu merupakan modal dasar untuk mencapai kebermanfaatan diri. Tetap pasrah-rebahkan hidup pada alam, tetapi jangan menyerah pada keadaan. Jangan sampai terbunuh oleh waktu, apalagi dibunuh oleh tubuh sendiri.

Saya tahu betul bagaimana proses yang dilakukan menuju Domino itu. Anggota baru Teater Korek angkatan 13 datang dari berbagai latar belakang yang tak sama. Mereka sangat militan dan tidak pernah mengeluh; mereka merebah-pasrahkan diri pada proses. 

Keenam,
Saya mohon kepada angkatan 13, para aktor Domino, agar menyatukan jiwa-jiwa dan membangunnya dalam senasib serasa. Dengan begitu, kerekatan antarkita akan tercipta sehingga rumah tangga yang kini samar-samar itu menjadi terang-benderang, dan perlahan kita membangkitkan tubuh untuk tegap menghadapi berbagai rintangan di depan mata.


Ketujuh,
Teater Korek adalah organisasi kekeluargaan. Tidak ada gelar alumni dalam perjalanannya. Organisasi yang selalu membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Membebaskan. Namun, tetap serius saat melakukan kerja kebudayaan. Pelopor dan para pendiri Teater Korek ikut membantu, minimal urun-rembug saat bicarakan konsep.

Maka atas perkenan surat ini, saya mohon kepada seluruh pelopor, pendiri, dan para pendahulu agar 'turun gunung' mengawal gerak adik-adiknya. 

Kedelapan,
Maafkan saya karena sempat hilang sejak Maret 2016 dan baru kembali di akhir tahun kemarin. Semoga kita dapat membangun Teater Korek dengan karya bersama-sama. Semoga pula keresahan kita dapat menjadi penguat untuk tetap teguh dan konsisten dalam ketersesatan di jalan kebenaran. 

Kesembilan,
Saya beritahukan juga kepada para pendiri, pelopor, dan pendahulu Teater Korek bahwa akan dilangsungkan Mukelu Biasa (Muktamar Keluarga Luar Biasa) pada Februari 2017, di Puncak, Jawa Barat.  

Demikian surat ini, saya sampaikan dengan segala kerendahan hati. Atas perhatian dari Teater Korek (pelopor, pendiri, dan penerus) diucapkan terimakasih.


Wallahu A'lam

Hormat saya,


Aru Elgete
(Kepala Bidang Non-Artistik Teater Korek Unisma Bekasi, 2015-2017)