Perbedaan Awliya', Amir, dan Rais (3) - Aru Elgete

Breaking

Jumat, 05 Agustus 2016

Perbedaan Awliya', Amir, dan Rais (3)

Sumber: https://penjalabaja.wordpress.com/

Tulisan kali ini adalah sebagai kelanjutan dari Perbedaan Awliya', Amir, dan Rais 2 dan Perbedaan Awliya', Amir, dan Rais 1 yang membahas soal makna dan gaya kepemimpinan. Awliya' yang selama ini dimaknai sebagai kepemimpinan atau Wali yang berarti pemimpin, ternyata memiliki pemaknaan berbeda; yakni Awliya' berarti adalah orang terdekat, yang karenanya kita bisa menaruh kepercayaan yang sangat mendalam kepadanya. Adapun anjuran Tuhan dalam al-Quran yang menyatakan bahwa kita dilarang untuk menjadikan orang kafir sebagai Awliya', itu memang benar adanya. Kafir yang dimaknai sebagai pendusta, tidak boleh dijadikan sebagai orang yang memiliki kedekatan yang sangat intim kepada kita. Sebenarnya Tuhan mempersilakan kita untuk berteman baik dengan pendusta asalkan memiliki siasat agar tidak terjerumus ke dalam lembah kekafiran, karena kalau tidak memiliki siasat yang baik dan matang, bisa jadi justru kita yang akan dirugikan. Jadi, Awliya' atau Wali bukanlah diartikan sebagai pemimpin yang memiliki batas teritorial, seperti gubernur, walikota, bupati, kepala desa, ketua RT/RW, kepala dusun, atau bahkan presiden. Awliya' atau Wali adalah orang yang memiliki hubungan atau kedekatan emosional yang sangat intim, sehingga kita dapat menaruh kepercayaan kepadanya.

Sementara Amir atau Ulil Amri berarti seseorang yang memiliki kehendak untuk memerintah berdasarkan kemauan dari rakyat. Artinya, Amir atau Ulil Amri ini adalah pemimpin yang berhubungan dengan batas teritorial tertentu. Di dalam al-Quran ada anjuran bahkan perintah untuk mematuhi Allah, mematuhi Rasulullah, dan Ulil Amri di sekitar kita. Silakan buka surat Annisa ayat 59. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Amir atau Ulil Amri ini silakan klik Perbedaan Awliya', Amir, dan Rais 2 sebagai referensi untuk pemaknaan yang lebih baru dan segar.

Selanjutnya adalah Rais atau Ro'is atau Ro'isun. Sebutan Rais mulai digunakan oleh orang-orang modern, sebagai pembaruan kata atau panggilan untuk seorang pemimpin dari yang sudah lama menjadi baru. Rais atau Ro'is ini berasal dari kata Ro'sun yang berarti kepala; رئيس جامعة (Ro'isun Jaami'ah) berarti Rektor atau pemimpin tertinggi di sebuah Universitas. Atau رَائِسُ الْمَدْرَسَةِ yang berarti kepala sekolah, dan masih banyak lagi padanan kata Ro'sun yang dimaknai sebagai pemimpin. Secara fisik, kepala adalah salah satu bagian tubuh yang paling menonjol dan terlihat, padanya terdapat beberapa panca indera yang fungsinya sangat dibutuhkan. Maka tidak heran jika kepala dimaknai sebagai bagian tubuh yang paling jemawa, angkuh, dan bahkan sombong.

Di zaman modern ini, menjadi seorang pemimpin sebuah instansi atau institusi merupakan sebuah penghargaan agar harkat, martabat, dan derajat diri menjadi lebih tinggi dan meningkat, bukan lagi menjadi sebuah amanah yang harus dipegang teguh agar instansi atau institusi yang dikepalai bisa menjadi lebih baik dan berkembang dengan tujuan bersama yang sudah ditentukan sejak awal. Menjadi seorang pemimpin adalah sebuah kebanggaan yang akan mengangkat status sosial dan juga akan menuai penghormatan yang berlebih dari orang sekitar. Pemimpin yang seperti itu, akan menganggap bawahannya hanya sebagai hamba yang tidak boleh melawan atau membantah perintahnya, ia tidak akan mendengarkan keluh dan arahan dari bawahannya karena sudah menganggap kedudukan dirinya lebih tinggi daripada bawahannya.

Kira-kira seperti itulah kepala, ia merasa paling tinggi dan merasa paling bisa mengerjakan semuanya. Padahal untuk mengangkat dan memindahkan kertas pun, ia tidak mampu mengerjakannya sendiri dan membutuhkan kaki tangan untuk membantu pekerjaannya. Kepala memang seperti itu, apalagi kalau kepalanya sudah keras (baca: keras kepala), akan semakin sulit untuk mendengarkan masukan baik yang akan mengubah segalanya menjadi lebih baik. Seperti itulah kepala, ia selalu ingin menang sendiri, layaknya Bos, berlagak sok ini-itu, berlenggak-lenggok semaunya, ingin menang sendiri, dan lain sebagainya.

Maka itu, kepala yang baik adalah yang selalu turun ke tanah, menyejajarkan posisinya dengan sesuatu yang biasanya diinjak dan terinjak, menganggap sahabat kepada semua orang yang biasa ditindas dan tertindas, itulah kepala yang senantiasa dipergunakan untuk bersujud, mencium langsung bawahannya, bahkan ia berani merendahkan dirinya sendiri dari bawahannya yang berada di bagian belakang (bokong). Itulah kepala yang harus mendapat apresiasi, ia bukan kepala yang gila hormat, bukan juga kepala yang ingin menang sendiri, ia adalah kepala yang tahu diri, kepala yang mengetahui bagaimana kondisi bawahannya, dialah kepala yang hebat.

Jadi, seperti itulah gambaran Rais secara harafiyah berarti kepala namun secara istilah dimaknai sebagai pemimpin atau kepala dari sebuah instansi, institusi, atau organisasi. Selain Rais, Amir, dan Awliya', juga ada istilah lainnya yang berarti pemimpin, yakni Imam. Untuk pembahasan lebih lanjut, tunggu postingan berikutnya.




Wallahu A'lam



Bekasi, 5 Agustus 2016/2 Dzulqo'dah 1437