Minggu, 11 Januari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (4): Istirahatlah, Biar Allah yang Mengurus

 

Foto bersama santri laki-laki usai Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan ke-4 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 11 Januari 2026. 


*****


أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِه لِنَفْسِك

Istirahatkan dirimu dari mengatur (segala urusan), karena apa yang sudah diurus oleh selainmu (Allah) untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusnya sendiri.


Makna kata “Ariḥ


Kata أرِحْ (ariḥ) berarti istirahat, tenang, rileks. Dalam bahasa kita bisa diterjemahkan sebagai rehat atau santai. Dalam istilah hari ini, bisa disebut sebagai slow living, hidup dengan ketenangan dan tidak penuh kegelisahan.


Maka أرِحْ نَفْسَكَ berarti “tenangkanlah dirimu”.


Hikmah ini berbunyi:


أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu dari mengatur-ngatur (tadbîr)


فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْك

karena apa yang sudah dijalankan oleh selainmu (yakni Allah) untukmu


لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

jangan engkau sibuk menjalankannya sendiri


Ini adalah bagian dari pembahasan besar dalam Al-Hikam tentang tindakan manusia (al-af‘āl). 


Manusia itu hakikatnya adalah makhluk yang bergerak. Selama masih bergerak, ia masih hidup. Kalau berhenti bergerak, barulah ia menjadi jenazah. Maka seluruh Kitab Al-Hikam di bagian awal membahas hukum-hukum tentang tindakan manusia.


Dalam hikmah-hikmah sebelumnya kita sudah belajar bahwa manusia wajib beramal dan berusaha tetapi amal dan usaha tidak boleh dijadikan sandaran mutlak.


Artinya: kita harus bekerja, tapi hasilnya jangan kita anggap sepenuhnya dari usaha kita. Yang menentukan hasil adalah Allah.


Sekarang kita naik ke tingkat keempat: “Istirahatkan dirimu dari mengatur dan mengusahakan segalanya.”


Ini tampak seperti bertentangan dengan perintah bekerja. Tapi di sinilah rahasia tasawuf.


Dalam tasawuf, semua ajaran selalu memiliki dua sisi: Syariat (zāhir) dan Hakikat (bāṭin)


Ibn ‘Ajîbah, salah satu pensyarah Al-Hikam, menjelaskan bahwa banyak ayat dan hadits tampak bertentangan jika dibaca dengan satu dimensi saja.


Contohnya, Al-Qur’an mengatakan: “Masuklah kalian ke surga karena amal kalian.”


Tetapi ada hadits Nabi mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya, termasuk aku.”


Kalau dibaca secara literal, ini tampak kontradiktif. Tapi menurut Ibn ‘Ajîbah: Ayat itu berbicara pada level syariat dan Hadits itu berbicara pada level hakikat. Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.


Maka “jangan mengatur” dalam hikmah ini tidak berarti kita berhenti bekerja, melainkan “jangan menjadikan diri kita seolah-olah sebagai satu-satunya pengatur kehidupan.” Ada “Pengurus Besar” di atas semua pengurus, yaitu Allah.


Seperti kisah cicak yang ditanyakan kepada Kiai Ma‘ruf Irsyad Kudus: “Cicak itu siapa yang memberi makan?”


Jawab beliau: “Kamu tidak usah mengurusi cicak. Sudah ada yang mengurus.”


Atau seperti kisah Abdul Muthalib saat Kakbah hendak diserang Abrahah. Ia tidak panik: “Ini rumah-Mu ya Allah. Kalau Engkau mau menjaganya, Engkau jaga sendiri. Dan benar, Allah mengirim burung Ababil.


Dalam setiap urusan, selalu ada “Ababil” yang dikirim Allah. Kita sering tidak tahu dari mana, kapan, dan bagaimana datangnya, tapi ia selalu datang.


Jadi, usaha itu penting tetapi usaha bukan sandaran. Dan pada level yang lebih tinggi: “kalau sudah ada yang mengurus, jangan gelisah ingin mengurus segalanya sendiri.”


Inilah makna:

أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu, karena ada “Pengurus Agung” yang sedang bekerja.


Kalimat “sudah ada yang mengurus” jangan disalahpahami menjadi “kalau begitu kita tidak perlu berusaha.” Tidak begitu. Hikmah ini hanya berlaku bagi orang yang sudah berusaha.


Orang yang belum berusaha, lalu langsung berkata “sudah ada yang mengurus”, itu keliru.


Ini seperti kaidah dalam makan: “Berhentilah sebelum kenyang.” Kalimat itu hanya berlaku bagi orang yang sudah makan. Kalau belum punya nasi sama sekali, kaidah itu tidak relevan. 


Begitu juga dengan hikmah keempat ini. Ia berlaku bagi orang yang sudah bekerja, sudah berikhtiar, lalu setelah itu punya kesadaran: “Sekarang ini sudah ada yang mengurus.”


Ababil selalu datang artinya bahwa dalam setiap urusan selalu ada pengurus. Dan ketika kita sudah berusaha lalu terjepit, buntu, tidak melihat jalan keluar, Allah akan mengirim Ababil.


Ababil itu selalu ada. Ia datang bukan ketika hidup santai, tetapi ketika kita sudah berusaha, situasi sudah mepet, kita tidak punya jalan keluar, maka di situlah pertolongan Allah datang. Inilah yang membuat hidup menjadi ringan dan bahagia. Inilah makna أَرِحْ نَفْسَكَ — menenangkan diri.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Dalam syarah Ibn ‘Ajîbah dikutip perkataan wali besar Sahl at-Tustarî: “Tinggalkanlah pengaturan-pengaturanmu sendiri, karena itulah yang membuat hidup menjadi ribet.”


Manusia menjadi gelisah karena terus membuat skenario: “Kalau gagal begini, kalau berhasil begitu. Malau A tidak jalan, pakai B. Kalau B gagal, pakai C. Itulah cara berpikir modern yang satu dimensi.


Burung yang hanya punya satu sayap akan berputar-putar, tidak bisa terbang lurus. Orang tasawuf juga berusaha, tapi tidak menjadikan usaha sebagai sandaran mutlak. Karena ketika usaha dijadikan penentu hasil, hidup menjadi berat.


Imam Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

لا تختَرْ من أمرك شيئًا

“Jangan merasa punya hak memilih.”


Ini bukan berarti tidak boleh memilih secara lahir. Kita tetap memilih, melamar pekerjaan, membuat keputusan. Tapi jangan merasa bahwa pilihan kita itulah penentu segalanya. 


Di sinilah muncul kaidah tasawuf yang dalam: Pilihlah untuk tidak memilih. Artinya: secara lahir kita memilih tapi secara batin kita sadar bahwa yang menentukan adalah Allah. 


Contohnya, melamar kerja. Tingkat syariat: Saya memilih melamar kerja di NU Online. Tingkat kedua: Saya diterima, tapi saya sadar bahwa ini bukan semata pilihan saya, ini pilihan Allah. Tingkat ketiga: Jangan sampai saya terpenjara oleh pilihan itu. Saya tidak boleh diperbudak oleh karier dan status. Tingkat keempat: Bahkan usaha untuk “lari” dari keterikatan pun dilepaskan. Inilah yang disebut: lari dari lari.


Semua ini berpuncak pada firman Allah:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Larilah kalian kepada Allah.” 

Dari dunia, menuju Allah. Menjauh dari sesuatu, untuk mendekat kepada-Nya.


Allah adalah Pengurus dari segala pengurus. Syekh Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

إن كان ولا بد من التدبير، فدبّر أن لا تدبّر

“Jika kamu memang harus berusaha, maka usahakanlah untuk tidak mengandalkan usahamu.”


Artinya: Kalau kamu terpaksa harus mengatur dan berusaha, maka iringi itu dengan kesadaran bahwa yang menggerakkan usahamu adalah Allah. Karena di balik usaha kita, ada yang sedang “mengusahakan” kita.


Ada dua orang sama-sama bekerja. Yang satu berkata: “Saya berhasil karena kerja keras saya.” Yang lain berkata: “Saya memang bekerja, tapi kemampuan bekerja ini dari Allah.” Secara lahir sama, tapi secara batin berbeda.


Inilah makna terdalam:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Tenangkan dirimu, karena ada Pengurus di balik semua usaha kita.



Bekasi, 11 Januari 2026