Minggu, 11 Januari 2026

Tentang Perempuan Bernama WIANI: Sosok Tangguh yang Tak Pernah Menutup Pintu Rumahnya

 

Saya bersama ibu di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo (2025) 



Tanggal 11 Januari 2026 menjadi penanda usia ke-67 bagi seorang perempuan yang bagi kami bukan sekadar ibu, melainkan rumah, cahaya, dan arah.

Namanya Wiani—nama yang tidak biasa, penuh sejarah, dan sarat makna. Sebuah nama yang merupakan singkatan dari Wanita Indonesia Anti Netherland Indische. Nama itu diberikan dengan harapan dan semangat oleh kedua orang tuanya: Mbah Maridin Madio Utomo bin Wiro Sutirto dan Mbah Suresmi binti Mangun Suwiryo. Dari namanya saja, sudah tampak bahwa ibu lahir dari semangat perlawanan, dari rahim sejarah yang tak sederhana.

Ibu lahir di Jakarta pada 11 Januari 1959, di tengah keluarga dengan latar belakang abangan-kejawen. Namun jalan hidupnya tidak berhenti pada warisan tradisi semata. Sejak remaja, ibu memilih untuk mencari sendiri jalan keyakinannya. Ia mulai mengaji, belajar ibadah, dan mendalami Islam—bahkan ketika itu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ibu memahami Islam bukan karena warisan, tetapi ia mencari dan menggenggamnya dengan kesadaran penuh, serta menjadikannya pegangan hidup.

Keteguhan itu tidak lepas dari didikan sang ayah, Mbah Madio Utomo, seorang pria asal Surakarta yang pernah menjadi tentara rakyat melawan penjajah. Didikan ala militer yang keras dan disiplin membentuk ibu menjadi pribadi yang tangguh. Hidup tidak pernah diajarkan untuk mudah, tetapi untuk dijalani dengan keberanian dan tanggung jawab. Dari sana, ibu belajar berdiri tegak menghadapi kerasnya kehidupan.

Namun di balik ketangguhan itu, ibu memiliki hati yang begitu lembut. Ia adalah sosok yang mudah luluh ketika melihat kemiskinan dan ketidakadilan. Ada kepekaan yang tidak bisa ia abaikan. Bagi ibu, penderitaan orang lain bukan sesuatu yang bisa ditonton dari jauh—itu adalah panggilan untuk bergerak, untuk membantu, sekecil apa pun yang bisa ia lakukan.

Sejak saya kecil, ada satu hal yang selalu saya ingat: pintu rumah ibu hampir tidak pernah ditutup rapat, kecuali saat malam benar-benar larut atau ketika rumah sedang kosong. Selebihnya, pintu rumahnya selalu terbuka.

Rumah itu menjadi tempat singgah bagi siapa saja—tetangga, kerabat, bahkan orang-orang yang mungkin tidak punya tempat lain untuk mengadu. Di rumah itu, tidak ada sekat antara kaya dan miskin, antara dekat dan jauh. Semua diterima.

Ibu juga tidak memilih-milih dalam bergaul. Ia bisa duduk dan berbincang dengan siapa saja, termasuk dengan orang-orang paling sederhana di lingkungan sekitar. Ia tidak pernah merasa lebih tinggi, tidak pernah menjaga jarak. Justru di situlah letak keindahannya: ibu hadir sebagai manusia yang memanusiakan manusia lain. Sebelum mengenal jargon memanusiakan manusia dari Gus Dur, saya sudah menyaksikannya langsung dari praktik keseharian yang dilakukan ibu.

Jika ada satu hal yang benar-benar melekat dalam diri ibu, itu adalah kemurahan hatinya. Ia tidak segan membantu siapa pun selama ia mampu. Ibu tidak menghitung untung rugi. Bagi ibu, membantu adalah bagian dari hidup, bukan sesuatu yang perlu dipertimbangkan terlalu lama. Tangan ibu selalu lebih cepat daripada pikirannya ketika melihat orang lain membutuhkan.

Meski hidup tidak selalu mudah, ibu tetap menjadi pribadi yang ceria. Ia suka bercanda, tertawa, dan membuat suasana menjadi ringan. Ia tidak mudah tersinggung, tidak menyimpan dendam, dan selalu memilih untuk melihat sisi baik dari sesuatu. Barangkali sifat inilah yang juga menurun kepada kami sebagai anak-anaknya—kemampuan untuk tetap ceria meski hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Menariknya, ibu tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal hingga tingkat sekolah menengah pertama. Namun siapa pun yang berbicara dengannya sering kali tidak menyadari hal itu. Wawasannya luas, cara berpikirnya matang, dan pandangannya terhadap kehidupan begitu dalam. Ibu adalah bukti bahwa pendidikan sejati tidak selalu datang dari bangku sekolah, melainkan dari pengalaman, kepekaan, dan kemauan untuk terus belajar.

Dalam hal mendidik anak, ibu memiliki visi yang jelas: anak-anaknya harus lebih baik darinya. Ia ingin kami memiliki bekal yang lebih kuat, baik secara ilmu maupun iman. Karena itu, ia menempatkan kami—saya dan Mas Nisfu Syawaluddin Tsani—di Buntet Pesantren Cirebon. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ibu ingin anak-anaknya kelak bisa istiqamah dalam mendoakannya.

Untuk Mbak Nia, Wahdaniah Puji Hartami, ibu memiliki harapan yang berbeda tetapi sama mulianya. Ia menyekolahkan Mbak Nia di sekolah menengah farmasi dan kemudian menguliahkannya di UHAMKA jurusan Farmasi, agar kelak menjadi apoteker. Harapannya sederhana namun penuh makna: agar ketika ibu dan bapak menua, ada anak yang bisa menjadi tempat konsultasi dalam urusan kesehatan.

Semua yang ibu lakukan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depan anak-anaknya. Ia mungkin tidak memiliki gelar tinggi, tetapi ia memiliki kebijaksanaan yang tidak semua orang miliki. Ia mungkin tidak hidup dalam kemewahan, tetapi ia kaya dalam kasih sayang dan pengorbanan.

Kini, di usianya yang ke-67, kami menyadari betapa besar peran ibu dalam membentuk siapa kami hari ini. Dari namanya, kami belajar tentang sejarah dan keberanian. Dari perjalanan hidupnya, kami belajar tentang pencarian dan keteguhan. Dari sikapnya, kami belajar tentang kasih, keikhlasan, dan kemanusiaan.

Di usianya yang sudah sangat senja itu, ibu selalu hadir bersama anak-anaknya dalam olahraga rutin bulanan: bulutangkis. Ibu masih sehat dan lincah. Pujian ini bahkan pernah datang dari seorang tak dikenal yang mengajaknya bicara di GOR tempat kami bermain bulutangkis.

Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi kami, anak-anaknya, untuk terus mengabdi. Untuk membalas, meski kami tahu tidak akan pernah sebanding. Untuk menemani, menjaga, dan membahagiakan ibu di sisa usia yang Allah berikan.

Selamat ulang tahun yang ke-67, Ibu Wiani. Semoga sehat selalu, panjang umur, dan senantiasa dalam lindungan-Nya. Dan semoga kami masih diberi kesempatan untuk terus menjadi anak-anak yang bisa dibanggakan—hingga akhir hayatmu bersama bapak.


Bekasi, 11 Januari 2026

Previous Post
Next Post

0 komentar: