Minggu, 07 Desember 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (3): Cara Menembus Tembok Kokoh Takdir Tuhan

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam ke-3 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Desember 2025.


*****


Sawābiqul himami lā takhriqu aswāral aqdar

Ini hikmah yang sederhana. Tapi iman atau kualitas iman yang sampai pada hikmah seperti ini membutuhkan perjuangan hidup yang sangat panjang. Ini adalah kesimpulan dari pengalaman batin, pengalaman rohani yang luar biasa, sampai kemudian Ibn ‘Aṭhā’illāh mendapatkan ilham untuk menulis hikmah ketiga ini.

Sawābiqul himam: cita-cita yang berlari dengan sangat kencang.

Ini menggunakan ṣifat ‘ilal mausūl, jadi asalnya adalah al-himam as-sawābiq: cita-cita yang begitu kuat, saking kuatnya seperti seorang pelari sprint, bukan pelari maraton. Kencang sekali.

Himam atau cita-cita, tujuan, tekad yang begitu kuat—saking kuatnya sampai mirip seorang pelari kencang—lā takhriqu aswāral aqdar: tidak bisa menembus tembok takdir Allah yang begitu kokoh. Tembok itu begitu kuat sampai mustahil ditembus oleh tekad manusia.

Secara redaksi, maknanya sederhana: takdir Tuhan itu seperti tembok kokoh, tidak mungkin ditembus. Tetapi kalau kita baca syarah-nya Ibn ‘Ajībah, ini menjadi menarik sekali.

Menurut Ibn ‘Ajībah, memang takdir Allah itu seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Kalau Allah sudah mentakdirkan A, kehendak manusia tidak bisa mengubahnya. Tetapi orang-orang yang ‘ārif billāh, orang-orang yang mengenal Allah, orang-orang yang memiliki ma‘rifat—ketika mereka menghendaki sesuatu, kehendak itu beriringan atau selaras dengan kehendak Allah.

Maka orang yang sudah mencapai ma‘rifat, ketika dia menghendaki A, ya A itu terjadi. Tetapi terjadinya bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Analogi sederhananya begini: kita sudah sangat mengenal gerak-gerik, perangai, dan kebiasaan seorang sahabat. Kalau kita diajak ke warung oleh orang itu, kita sudah tahu pasti dia akan pesan rawon. Bahkan kalau ke restoran Jepang pun, ya tetap saja rawon. Karena kebiasaannya begitu. Jadi saya bisa “menerka” apa yang akan terjadi, bukan karena saya menentukan, tetapi karena saya tahu kebiasaannya.

Orang ‘ārif billāh itu seperti itu: mengenal kebiasaan Allah, mengenal gerak-geriknya, mengenal kehendaknya. Bukan berarti dia mengetahui rahasia takdir Allah, tetapi kualitas ma‘rifat membuat kehendaknya selaras dengan kehendak Allah. Maka ketika dia berkehendak, kehendaknya itu sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Maka para wali itu ketika mengatakan sesuatu seperti “kun”, seolah-olah terjadi. Ini bukan berarti mereka menentukan takdir. Tapi karena pada momen itu, kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Ada sebuah hadits qudsi yang dikutip Ibn ‘Ajībah: "Wahai hamba-Ku, Aku adalah Allah yang jika berkata kepada sesuatu “kun”, maka terjadilah. Taatlah kepada-Ku, maka Aku jadikan engkau—ketika engkau mengatakan “kun”—maka terjadi pula."

Namun ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu, dan terjadinya itu bukan karena kekuatan dirinya mengubah takdir, tetapi karena pada momen itu Allah memang menghendaki hal tersebut terjadi.

Kadang-kadang juga seorang mukmin biasa, meskipun bukan wali, pada momen tertentu—misalnya ketika ia dizalimi—doanya diijabah. “Du‘ā’ul maẓlūm mustajāb.” Artinya Allah menjadikan kehendaknya selaras dengan kehendak orang yang teraniaya. Maka sesuatu terjadi.

Jadi memang takdir Allah tidak bisa ditembus. Tetapi ada momen ketika kehendak Allah itu selaras dengan kehendak manusia tertentu.

Para ahli ilmu kalam membagi takdir: ada qaḍāmu‘allaq yang masih bisa berubah dengan sedekah, doa, dan amal baik; dan qaḍā’ mubram yang tidak mungkin berubah. Tapi pembagian seperti itu hanyalah pendekatan rasional, tidak selalu memuaskan dalam ilmu tasawuf.

Para sufi mengatakan: pokoknya takdir Allah itu pada akhirnya tidak bisa diubah. Kalau tampak seperti berubah, itu karena Allah menghendaki perubahan itu.

Qada pada akhirnya tidak bisa diubah. Ini semua sesuatu yang hanya bisa dipahami melalui pengalaman hidup. Ilmu tasawuf itu ilmu kehidupan.

Kalau seseorang sudah punya pengalaman hidup yang cukup panjang, belajar tasawuf menjadi enak, karena dia punya referensi batin. Kalau terlalu muda, membaca tasawuf bisa membingungkan, karena tasawuf itu banyak bertumpu pada intuisi batin.

Takdir itu bisa dikenali, bukan oleh teori, tetapi oleh pengalaman hidup. Orang itu intuisi. Tapi ini intuisi yang jujur dari batin, bukan intuisi karena nafsu.

Ini semua masih bagian dari pembahasan amal (dalam Kitab Al-Hikam). Hikmah pertama membahas bahwa amal tidak boleh dijadikan sandaran. Hikmah kedua tentang bertindak sesuai maqam. Hikmah ketiga tentang tindakan manusia tidak bisa serta merta menghasilkan sesuatu, karena tetap ada gramatika amal.

Kalau seseorang memahami tiga kaidah amal ini, hidupnya menjadi “well”—enak, marem, hasanah. Bukan berarti tidak ada masalah, tetapi batinnya tenang.

Sekarang di (dunia) Barat, banyak orang berpikir hidup itu hanya tentang mengubah segala hal menjadi sesuatu yang menguntungkan—profit, value added. Ini benar, tetapi kalau diekstremkan, menjadi cara pandang yang timpang. Mereka melihat hidup dengan “mata satu”. Tidak seimbang. Maka hidup jadi tidak enak.

Kita harus melihat hidup dengan dua mata: seimbang. Di situlah wellness.

Kita tidak mungkin menembus tembok takdir. Tapi bukan berarti manusia tidak menentukan nasib. Kata Karl Marx: “Manusia pencipta nasibnya sendiri.” Ini benar, tapi hanya separuh: benar dalam kerangka ikhtiar. Tetapi apakah ikhtiar menghasilkan? Tidak selalu, karena ada batas-batas takdir.

Tasawuf itu keseimbangan dua daun pintu. Kalau satu daun saja ditutup, tidak sempurna.

Ibn ‘Ajībah dalam pendahuluan Kitab Syarah Al-Hikam ini mengatakan, Qur’an itu punya ayat-ayat syariat dan ayat-ayat hakikat. Yang tampak bertentangan sebenarnya bukan bertentangan. Yang satu bicara syariat, yang satu bicara hakikat.

Contoh: "Udkhulul-jannata bimā kuntum ta‘malūn.” Artinya: Masuklah surga karena amal kalian.

Tapi ada hadits: "Lā yadkhulul-jannata aḥadun bi ‘amalih.” Artinya: Tidak ada yang masuk surga karena amalnya.

Secara rasional, ini bertentangan. Tapi dalam ilmu hakikat tidak. Ayat pertama adalah syariat: kamu harus beramal. Hadits kedua adalah hakikat: yang memasukkanmu ke surga adalah rahmat Allah.

Demikian juga ayat: "Lâ tudrikuhul-abshâru wa huwa yudrikul-abshâr, wa huwal-lathîful-khabîr." Artinya: Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Tetapi ayat lain: "Wujūhun yauma idhin nāḍirah ilā rabbihā nāẓirah." Artinya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri karena memandang Tuhannya.

Secara rasional tampak bertentangan. Tetapi pendekatannya berbeda: yang satu syariat, yang satu hakikat. Dua kamar, tidak kontradiksi.

Inilah gramatika kehidupan yang diajarkan dalam hikmah ketiga.


Minggu, 02 November 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (2): Memahami Maqam Diri, Tajrid atau Asbab?

 

Gus Ulil saat mengampu Kitab Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman Ngaji Kitab Al-Hikam bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 2 November 2025.

***

Wa iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbabi minas syahwatil khafiyyah. Wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah.

Salah satu ajaran penting di dalam tasawuf adalah bahwa Allah itu memiliki dua dimensi. Allah itu sendiri tunggal, tetapi dalam keterlihatan-Nya ada dua sisi: al-awwal wal-akhir, az-zahir wal-bathin— yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tidak tampak. Jadi selalu ada pasangan, dua.

Gambarannya seperti pintu yang terdiri dari dua daun. Ada daun pintu yang saling melengkapi. Itu adalah salah satu ajaran penting tasawuf. Karena itu, kalau kita membaca Al-Hikam, kita akan menemukan bahwa hikmahnya itu seperti dua daun pintu: ada satu sisi dan sisi pasangannya.

Bagian pertama: iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbab minas syahwatil khafiyyah—ini satu daun pintu.

Bagian kedua: wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah—ini daun pintu yang kedua.

Ajaran tasawuf selalu begitu: ada khauf dan ada raja', ada keseimbangan. Dalam hidup pun demikian: kalau satu pasangan hilang, hidup menjadi tidak seimbang.

Sekarang maknanya: iradatuka at-tajrid—keinginanmu untuk menyendiri, ‘uzlah, tidak melakukan apa-apa, padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam asbab, yaitu maqam bahwa kamu harus bergaul dengan masyarakat, bekerja, membangun dunia, menjadi dosen, pedagang, petani, atau apa pun. Kamu harus terlibat dalam kehidupan sosial. Itu namanya asbab.

Tiba-tiba kamu ingin menyendiri dan tidak berinteraksi, itu termasuk minas syahwatil khafiyyah atau syahwat yang tersembunyi. Pada dasarnya itu adalah kemalasan, tetapi dibungkus dengan bahasa sufi. Seolah-olah sedang beribadah, padahal lari dari tanggung jawab.

Misalnya orang yang seharusnya bekerja masuk kantor, tapi setiap hari i‘tikaf di masjid. I‘tikaf itu baik, tetapi kalau bukan maqam-nya, itu malah menjadi cara untuk lari dari tanggung jawab. Itu syahwat yang halus. Kadang alasan "ibadah" itu hanya pembungkus. Padahal intinya menghindar dari tanggung jawab.

Sesuatu yang bentuknya baik sekalipun, kalau dasarnya syahwat, tetap tidak baik. Ini ilmu batin. Bentuk boleh religius, tetapi jika motivasinya syahwat, tetap buruk.

Ini teori maqam. Mayoritas manusia berada pada maqam asbab, yaitu harus bekerja, membangun bumi (‘imaratul ardh). Jika orang pada maqam asbab memaksa diri masuk maqam tajrid, maka ia sedang lari dari tanggung jawab.

Sebaliknya, ada orang tertentu yang memang Allah tempatkan dalam maqam tajrid, yaitu menyendiri dan fokus pada ibadah batin. Itu maqam tinggi dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya. Kalau orang maqam tajrid justru ingin turun ke maqam asbab, itu berarti turun derajat.

Pertanyaanya: bagaimana kita tahu ukuran (size) maqam kita?

Dalam akidah, kita diajarkan iman kepada takdir. Allah sudah menetapkan ukuran (size) bagi setiap orang. Seperti pakaian: ada S, M, L, XL. Tubuh kita punya ukuran. Begitu pula batin kita punya ukuran. Kalau orang ukuran tubuhnya L tapi memaksakan memakai baju S supaya terlihat langsing, maka yang terjadi hanya kesempitan dan tidak nyaman. Begitu pula di batin: hidup tidak sesuai maqam itu seperti memakai ukuran yang bukan ukuran kita — tidak nyaman, tidak enak dilihat, dan menyiksa diri.

Ada orang yang sejak awal diberi anugerah untuk mengetahui ukuran dirinya. Tetapi ada juga yang perlu perjalanan panjang untuk mengenal maqamnya sendiri.

Ciri orang yang sudah mengenal ukuran dirinya: ia hidup dengan tenang, bahagia, dan tidak iri pada orang lain. Dia menjalani maqamnya dengan enak.

Karena itu doa kita:
"Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku, maqamku. Dan berikan kekuatan kepadaku untuk istiqamah menjalani maqam itu, tanpa iri kepada orang lain."

Kalau kita hidup sesuai dengan maqam kita, kita enak. Dan orang lain pun enak melihat kita.

Di sini kita sebetulnya temanya tentang tajrid. Tajrid itu artinya hidup yang murni hanya untuk Allah saja. Kita tidak menjalankan asbāb, tidak menjalankan sarana-sarana untuk mencapai sesuatu yang bersifat keduniaan.

Itu tajrid. Memang tajrid ini adalah maqām yang tinggi. Manusia yang beriman itu sebetulnya arah atau tujuan orientasi hidupnya itu harus tajrid.

Asbāb itu hanya wasīlah saja sebetulnya. Tapi intinya tajrid. Nah, tajrid itu ada tiga, kalau kita baca syarahnya:

Wa ammā ‘inda aṣ-ṣūfiyyati, tajrid itu fahuwa ‘alā fanā’ faḍl al-Islām.

Tajrīd az-ẓāhir faqaṭ. Tajrīd dalam tingkat zahir.
Aw al-bāṭin faqaṭ. Tajrīd
batin.
Aw humā ma‘an
, atau dua-duanya.

Tajrīd az-ẓāhir adalah tarkul asbāb ad-dunyāwiyyah wa kharḍul ‘awā’id al-jismāniyyah ‘alā al-jism.

Tajrid az-ẓāhir itu adalah meninggalkan sebab-sebab keduniaan. Kita tidak melakukan ikhtiar duniawi dan melawan kebiasaan-kebiasaan jasmani. Misalnya, mestinya kalau pagi sarapan, kita tidak sarapan. Itu namanya melawan hukum jasmani.

Kalau siang biasanya makan siang, kita tidak makan siang. Sore biasanya ada camilan, kita tidak makan camilan. Itu namanya melawan hukum badan atau hukum jasmani. Kalau malam jam sembilan harusnya sudah tidur, ini tidak tidur. Itu melawan hukum jasmani.

Kalau sampai melawan hukum jasmani itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Latihan rohani itu kadang memang mengharuskan adanya tajrīd az-ẓāhir.

Makanya tradisi orang Jawa, kalau mau punya gawe besar: mau mantu, mau nyunat anak, mau punya perhelatan apa saja, mau mengadakan haul, mau mengadakan pengajian besar, mau mengadakan reuni besar, mengadakan event besar—bahkan event biasa saja—itu sebelum acara biasanya puasa dulu. Itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Tajrīd az-ẓāhir ini diperlukan.

Kadang kalau kita menghadapi perhelatan atau tugas besar, kita harus puasa dulu. Tujuannya supaya hati kita terfokus, terkonsentrasi. Karena biasanya kalau badan kita di tajrid: dia ingin makan, kita tahan tidak makan. Ingin tidur, tidak tidur. Maka hati kita mengalami peningkatan kualitas. Orang kalau puasa itu rohaninya meningkat. Sinyal rohaninya tajam.

Pokoknya kalau menghadapi perkara besar, dianjurkan tajrīd az-ẓāhir.

Puasa, atau begadang malam (tirakat), itu ritual orang Jawa. Tapi tentu ini kalau tidak berlebihan, ada ukuran, ada manfaat rohaninya, bukan ekstrem.

Jadi itu tajrīd az-ẓāhir. Kebutuhan jasmani dikurangi.

Kemudian yang kedua tajrīd al-bāṭin. Tajrīd al-bāṭin yaitu meninggalkan keterikatan batin. Misalnya, kita terikat dengan hal-hal seperti kecanduan menonton film, kecanduan membaca status, bangun tidur langsung cek status. Itu keterikatan mental.

Sekarang ini, dalam era modern, kecanduan itu banyak sekali. Karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan. Rutinitas itu membosankan. Padahal hidup manusia tidak bisa tanpa rutinitas. Kalau tidak ada orang yang bekerja setiap hari jam 7 sampai jam 5, dunia tidak akan berjalan. Rutinitas itu penyangga kehidupan.

Tapi untuk mengatasi rasa bosan itu, manusia lalu mencari pelarian, dan muncullah kecanduan. Kecanduan itu bentuk keterikatan batin.

Satu-satunya keterikatan yang tidak membuat orang kecanduan adalah keterikatan kepada Allah. Makanya manusia modern ingin membunuh Allah dengan harapan bisa bebas. Tapi akibatnya justru muncul Tuhan-tuhan palsu: kecanduan-kecanduan itu.

Obat kecanduan yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh. Tahlil. Menghayati bahwa tidak ada Tuhan asli selain Allah. Kalau hati kita melekat ke situ, kita tidak akan kecanduan.

Kemudian ada juga al-awā’iq al-wahmiyyah yaitu hambatan-hambatan yang bersifat waham (khayalan mental), seperti kecemasan berlebih. Misalnya: nanti kalau begini bagaimana? Kalau begitu bagaimana? Kita terjebak kecemasan.

Tajrīd al-bāṭin adalah melepaskan adiksi-adiksi batin dan kecemasan-kecemasan yang tidak beralasan. Itu yang dalam psikologi modern disebut mental disorder. Sekarang ini memang banyak orang mengalami gangguan mental. Setelah kebutuhan material terpenuhi, dia butuh yang spiritual. Kalau tidak terpenuhi, muncul gangguan mental.

Obatnya adalah melepaskan kecanduan dan kecemasan itu.

Kalau kita bisa tajrīd az-ẓāhir dan tajrīd al-bāṭin, insyaallah hidup kita bahagia. Kuncinya hidup enak itu adalah tahu ukuran diri. Know your level, know yourself.

Sekarang kita masuk penjelasan tentang adab al-mutajarrid dan adab al-mutasabbib. Mutajarrid adalah orang yang makam hidupnya tajrid. Mutasabbib adalah orang yang makam hidupnya asbāb. Keduanya punya tata krama (etika) masing-masing.

Ada orang fakir yang mutajarrid. Ia harus:
1. Menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya.
2. Menyayangi orang yang lebih rendah darinya.
3. Mengetahui ukuran dirinya (‘arif bi maqāmihi).
4. Tidak memaksakan keinginan lalu mencari pembenaran atau justifikasi nafsu.

Kalau seseorang itu salah, ya akui salah. Jangan memvalidasi hawa nafsu.

Adapun orang fakir yang mutasabbib (yang menjalankan sebab, bekerja, punya harta), jika Allah memberikan kelebihan rezeki, maka:
1. Bersahabat dengan orang-orang yang baik.
2. Menjauhi orang-orang yang buruk.
3. Menjaga shalat berjamaah.
4. Membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Masing-masing punya aturan. Kalau kita menjalankan aturan itu, hidup akan harmonis dan membahagiakan.



Bekasi, 2 November 2025

Minggu, 05 Oktober 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (1): Jangan Bersandar pada Amal

 


Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam
Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman pengajian Ngaji Al-Hikam pertemuan ke-1 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 5 Oktober 2025.

***

Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu menggantungkan diri pada kemampuan dan usaha manusia semata. Padahal, manusia memiliki keterbatasan dalam mengontrol segala hal.

Ibn ‘Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menulis:

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja' (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."

Orang yang menggantungkan diri sepenuhnya pada pekerjaan atau usahanya, dan merasa hasil akhir sepenuhnya ditentukan oleh kerja kerasnya, akan mudah stres ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Contoh sederhana bisa kita lihat di negara-negara seperti Jepang atau Jerman. Di sana, semua sistem berjalan sangat rapi. Kereta terlambat satu menit saja sudah dianggap luar biasa. Gus Ulil pernah mengalami sendiri, kereta di Jepang terlambat tujuh menit. Sepanjang perjalanan, petugas berkali-kali meminta maaf. Itu karena keterlambatan seperti itu bisa merusak seluruh jadwal berikutnya.

Beda dengan di Indonesia. Kereta terlambat setengah jam pun dianggap hal biasa. Di Jepang dan Jerman, manusia berhasil menciptakan sistem yang sangat tertib dan efisien, sehingga mereka merasa bisa mengontrol semua variabel kehidupan. Namun, begitu ada sedikit gangguan, semuanya panik.

Itulah makna dari nuqsanurraja' yaitu orang yang terlalu percaya diri pada amal atau usahanya akan kehilangan keseimbangan begitu ada hal yang tidak sesuai rencana. Dalam bahasa sekarang, ini disebut stres atau bahkan “kiamat kecil” bagi dirinya.

Lalu muncul pertanyaan: kalau begitu, apakah amal tidak penting?

Ajaran tasawuf menjawab: amal penting, tapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Ajaran tasawuf itu seperti pintu dengan dua daun. Kalau hanya memegang satu sisi—misalnya hanya menekankan amal, tapi lupa pada hati—maka pintu itu bocor, tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya, kalau hanya bicara hati tanpa amal, hasilnya pincang.

Jadi, amal memang penting, tapi kita tidak boleh menggantungkan harapan sepenuhnya pada amal itu. Amal harus disertai kesadaran bahwa hasilnya bergantung pada kehendak Allah.

Hal ini sama seperti hubungan kita dengan dunia. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi kita juga tidak boleh terlalu melekat padanya. Kekayaan, misalnya, bukan sesuatu yang salah. Yang salah adalah ketika kekayaan menjadi tujuan utama hidup.

Ajaran tasawuf selalu menekankan keseimbangan. Karena pada hakikatnya, seluruh ciptaan Allah selalu berpasangan: siang dan malam, laki-laki dan perempuan, atas dan bawah. Segala sesuatu memiliki dua sisi yang saling melengkapi.

Manusia modern sering terjebak pada ilusi bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka bisa mengontrol segalanya. Dari keberhasilan itulah muncul kesombongan.

Sekarang manusia berusaha “menyelamatkan bumi” dengan slogan save the earth. Itu niat baik, tetapi kalau disertai rasa bahwa manusia mampu menyelamatkan bumi dengan kekuatannya sendiri, itu bentuk kesombongan. Padahal, yang memiliki kuasa penuh atas bumi hanyalah Allah.

Kemajuan teknologi seperti komputer dan quantum computing memungkinkan manusia membuat simulasi kehidupan. Dari situ, manusia bisa memprediksi masa depan, bahkan memprediksi kemungkinan penyakit yang akan diderita seseorang. Tapi semua itu tetap hanya simulasi, bukan kenyataan. Karena masa depan sepenuhnya ada dalam kehendak Allah.

Maka, Islam mengajarkan agar kita selalu berkata insyaallah ketika berencana melakukan sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 23-24:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ ، اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali (dengan mengatakan) ‘insyaallah’.”

Artinya, manusia wajib berusaha, tapi hasil akhirnya tetap dalam kuasa Allah.

Jadi, pemahaman tasawuf harus selalu dilihat dari dua sisi: amal dan kesadaran spiritual. Amal penting, tapi amal bukan satu-satunya sebab. Amal akan bermakna jika disertai kesadaran la haula wa la quwwata illa billah: tidak ada daya dan upaya kecuali karena Allah.

Dalam konteks spiritual, Ibn ‘Athaillah menjelaskan:

"Barangsiapa mencapai hakikat Islam, dia akan selalu beramal. Barangsiapa mencapai hakikat iman, dia sadar bahwa amalnya terjadi karena Allah. Dan barangsiapa mencapai hakikat ihsan, dia menyadari bahwa tiada sesuatu pun selain Allah.”

Jadi, semakin tinggi tingkat spiritual seseorang, semakin dalam kesadarannya bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah, bukan karena dirinya sendiri.


Jamaah perempuan Ngaji Al-Hikam



Bekasi, 5 Oktober 2025

Jumat, 11 Juli 2025

Perjalanan Anak Bekasi Berproses Jadi Jurnalis NU Online Sejak 2017

 

 

Bersama dua reporter Polhukam dan Pemred NU Online


Kelas Menulis NU Online pada awal Januari 2017 membawa saya pada jalan yang tak pernah saya sangka akan menjadi bagian penting dalam hidup saya.


Saat itu, saya hanya seorang mahasiswa semester awal yang penuh semangat menulis tapi belum tahu ke mana harus menyalurkan hasil karya saya. 


Di dalam Kelas Menulis NU Online 2017 itu, saya dibimbing oleh Bang Abdullah Alawi, redaktur senior NU Online, yang dengan sabar menanggapi setiap tulisan saya, seaneh apa pun susunannya. Itulah awal perkenalan saya dengan dunia NU Online. 


Saat kelas masih berlangsung ini, naskah pertama saya dimuat oleh Bang Alawi pada 16 Januari 2017. Tulisan itu berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim. 


Tak lama setelah Kelas Menulis selesai, saya mulai menulis sebagai kontributor NU Online dari Bekasi. Saya meliput kegiatan PCNU Kota dan Kabupaten Bekasi, serta mewawancarai para tokohnya untuk menanggapi isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan. Semua saya lakukan dengan suka cita, tanpa pernah berpikir soal honor. Yang penting tulisan saya tayang, itu sudah cukup membanggakan.


Lalu pada Maret 2019, saya ditelepon oleh Mas Mahbib Khoiron (kala itu sebagai Redaktur Pelaksana, kini Redaktur Eksekutif NU Online). Pesan yang disampaikan cukup sederhana, tapi membekas dalam di hati saya. Kabar itu adalah bahwa tulisan saya sejak 2017 akan dihitung dan dibayar, karena dianggap telah konsisten. 


Bahkan bukan hanya yang lama, tulisan-tulisan saya setelahnya pun akan terus dihargai secara layak. Saat itu saya masih mahasiswa. Bisa dibayar dari menulis adalah kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Ada perasaan dihargai dan diakui.


Saya terus menulis. Hari demi hari. Sampai-sampai saya merasa seperti "humas" bagi PCNU Kota Bekasi. Segala kegiatan mereka hampir tak pernah luput saya tulis. 


Namun pada awal 2020, saya terpaksa sedikit menarik diri. Saya menyusun skripsi, setelah 2 tahun skripsi itu saya biarkan terbengkalai. Di saat yang sama Pandemi Covid-19 datang. Bagi saya, pandemi sebagai blessing in disguise. Momen ini saya manfaatkan untuk menyusun skripsi dan kemudian ikut sidang skripsi pada Juni 2020. Saya dinyatakan lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi yang konsentrasi jurusannya adalah Jurnalistik, dari Universitas Islam "45" Bekasi. 


Belum sempat bernapas lega, di tengah kesibukan merevisi skripsi, Mas Mahbib kembali menghubungi saya, akhir Juli 2020. Ia menawari saya untuk bergabung penuh sebagai reporter nasional NU Online, menggantikan posisi Husni Sahal yang saat itu berpindah tugas menjadi Humas di Kementerian Ketenagakerjaan. 


Tawaran itu datang saat saya bahkan belum terlalu memikirkan akan bekerja di mana. Dunia masih diselimuti kecemasan akibat pandemi. Tapi saya tahu, ini bukan tawaran yang bisa saya tolak. Saya langsung mengiyakan.



Kemudian 10 Agustus 2020, saya resmi mulai bertugas sebagai reporter nasional NU Online. Setiap Senin siang kami menggelar rapat redaksi, dan dari situlah saya mulai rutin meliput berbagai kegiatan PBNU, lembaga dan banom-banomnya, atau mewawancarai narasumber untuk menanggapi isu-isu sosial-politik yang sedang berkembang. Dunia jurnalistik, yang sejak kecil sudah jadi cita-cita, kini benar-benar menjadi ruang hidup saya.


Selanjutnya pada Juni 2022, terjadi perubahan penting di tubuh redaksi. Mas Mukafi Niam, Pemimpin Redaksi kami, digantikan oleh Bang Ivan Aulia Ahsan. Di bawah kepemimpinannya, NU Online berhasil terverifikasi Dewan Pers. Kemudian saya dipercaya untuk menangani desk Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam). Tugas yang tidak ringan, karena saya bersentuhan langsung dengan isu-isu sensitif dan kerap menjadi sorotan publik.


Bertemu para politisi, pengamat, akademisi, bahkan aktivis rakyat menjadi rutinitas saya. Meliput unjuk rasa, membedah kebijakan pemerintah, hingga menuliskan keresahan publik dari kacamata NU yang moderat dan berpihak pada keadilan sosial. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya di desk Polhukam.


Lalu pada 1 November 2023, Bang Ivan kembali mengajak saya naik ke step berikutnya dengan menjadi Asisten Redaktur atau Redaktur di desk Polhukam. Tugas utama saya berubah, dari eksekutor lapangan menjadi perancang arah liputan. Setiap hari saya merancang proyeksi liputan, memastikan isu-isu strategis tidak luput dari pengamatan kami, dan yang lebih penting adalah menyusunnya dengan pendekatan yang tajam dan kritis.


Di desk Polhukam ini, saya tidak bekerja sendiri. Saya ditemani oleh para reporter andal yang tidak hanya tangguh secara teknis, tapi juga peka secara ideologis. 


Ada Haekal Attar, "penjaga gawang" liputan PBNU yang juga tak segan turun ke jalan untuk meliput aksi-aksi rakyat. Ada M Fathur Rohman yang setia menjaga suara rakyat di parlemen dan tajam mengkritik gejala militerisasi sipil di bawah pemerintahan Prabowo. Ada juga Suci Amaliyah, yang saya juluki "wartawan konflik" karena setiap ada gejolak, Suci siap meliput dengan kepekaan dan keberanian.


Hari ini, 11 Juli 2025, NU Online genap berusia 22 tahun. Sebuah perjalanan panjang dan bermakna. Saya pribadi tumbuh bersama NU Online, dari kontributor daerah, menjadi reporter nasional, hingga kini menjadi bagian dari tim redaksi.


Dari pinggiran Bekasi, bahkan pedalaman, karena sekarang saya tinggal di Desa Srimahi, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, saya melangkah masuk ke pusat-pusat peristiwa nasional. Semua itu berkat ruang yang dibuka NU Online yang memberikan kesempatan, makna, dan arah.


Harapan saya untuk NU Online pada usianya yang ke-22 tahun ini sederhana, tapi penting, yaitu tetaplah kritis terhadap oligarki, militerisasi sipil, dan kelakuan pejabat yang di luar nalar. 


Saya berharap, NU Online tak pernah letih menyuarakan kebenaran, apalagi ketika dunia makin penuh dengan kebisingan dan polarisasi. NU Online harus menjadi penjernih, bukan pengabur. Menjadi pelita di tengah gelapnya informasi yang manipulatif.


Bagi saya, NU Online juga harus terus memberi ruang bagi penulis muda dari pelosok-pelosok kampung seperti saya dulu, yang bermodal semangat dan keyakinan bahwa menulis adalah cara mencintai Indonesia dengan cara yang paling jujur.

Jumat, 06 Juni 2025

6 Juni Ke-31




Hari ini, 6 Juni 2025, saya sudah berusia 31 tahun. Hari ulang tahun merupakan momen yang secara pribadi saya maknai sebagai titik balik untuk merefleksi dan menata ulang arah hidup. 


Saya punya kebiasaan melakukan perenungan mendalam setiap lima tahun sekali—sebuah jeda yang saya beri ruang dalam hidup untuk mengevaluasi siapa saya, ke mana saya akan melangkah, dan apa yang ingin saya maknai dari seluruh perjalanan ini? 


31 tahun bukan angka yang kecil. Sebab di balik angka ini telah menyimpan banyak musim, jatuh-bangun, luka, tawa, dan keputusan-keputusan penting. 


Dalam lima tahun terakhir, saya seperti dihadapkan pada cermin besar yang memperlihatkan siapa diri saya sebenarnya? Saya merasa bahwa hidup bukan sekadar bertujuan agar terlihat baik di mata orang lain. Sebab dari situlah pelajaran-pelajaran penting mulai muncul satu demi satu.


Saya belajar bahwa hidup tak selalu bisa dikendalikan. Namun kini saya sudah agak bisa mengendalikan cara merespons yang baik atas sesuatu. 


Salah satu proses terbesar dalam hidup saya beberapa tahun belakangan ini adalah belajar mengelola emosi. Saya dulu lebih mudah terbakar: marah, kecewa, cemas, atau merasa disalahpahami. 


Namun perlahan, saya mulai belajar untuk menahan diri. Saya belajar diam ketika ingin bereaksi keras. Saya belajar menunda respons saat hati sedang bergejolak. Ternyata, kemampuan untuk tidak segera menanggapi segala hal adalah bentuk kedewasaan yang mahal.


Ego juga bukan hal mudah untuk dikendalikan karena sering kali menyamar sebagai kebenaran, padahal hanya keinginan untuk merasa benar. Saya belajar untuk meredam ego, meskipun secara perlahan. Saya mulai mengerti bahwa mengalah bukan berarti kalah, bahwa mendengarkan bisa lebih kuat daripada berbicara, dan bahwa memaafkan bukan bentuk kelemahan, melainkan kebebasan. Hal-hal ini tak bisa saya kuasai sepenuhnya, tetapi kini saya sadar bahwa itu penting.


Saya juga merasa kemampuan saya dalam menganalisis masalah berkembang. Saya tidak lagi buru-buru menilai sesuatu dari permukaan. Saya mulai belajar melihat akar persoalan, membaca konteks, dan memahami sisi lain dari cerita yang tampaknya keliru di awal. Kematangan membuat saya sedikit lebih bijaksana dalam bersikap. Saya mulai tahu kapan harus bertindak, kapan cukup diam, dan kapan harus benar-benar pergi? 


Bagian yang paling melegakan dari perjalanan ini adalah saya mulai bisa berdamai dengan masa lalu saya. Dulu, saya terlalu sering membenci bagian-bagian dari hidup saya yang gelap dan menyakitkan. Saya merasa itu harus dilupakan, disembunyikan, atau dihapus. Tapi belakangan saya sadar: masa lalu itu bukan musuh. 


Tanpa luka, saya tidak akan punya empati. Tanpa rintangan, saya tidak akan tahu cara untuk bertahan. Sekarang, saya bisa menatap ke belakang tanpa dendam, tanpa amarah. Hanya ada rasa syukur dan pengertian.


Saya juga memegang satu amanah penting dari ibu untuk menjadi pribadi yang menyenangkan di mana pun saya berada. Pesan ini saya maknai bukan dalam artian harus selalu lucu atau menuruti semua orang, tapi bisa menjadi sosok yang membuat orang lain merasa nyaman, didengar, dan diterima.


Saya ingin, setidaknya, kehadiran saya di sebuah lingkaran pergaulan bisa membuat hati orang lain sedikit lebih hangat. Sebab saya percaya, hidup bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling mampu membuat kehidupan ini lebih manusiawi bagi orang lain. 


Hari ini, saya tidak menginginkan sesuatu yang muluk-muluk. Saya hanya berharap bisa menjadi lebih jujur kepada diri sendiri. Saya ingin mengenal kesejatian diri saya lebih dalam lagi. 


Kesejatian diri itu bukan hanya soal identitas sosial, profesi, atau peran-peran yang saya mainkan di hadapan orang lain, tetapi diri saya yang asli—yang barangkali sedang bersembunyi di balik tuntutan, ekspektasi, dan rutinitas harian.


Saya tahu perjalanan ini belum selesai. Barangkali malah baru dimulai. Namun saya ingin menempuhnya dengan lebih tenang, lebih ikhlas, dan lebih rendah hati. Saya tidak ingin lagi terjebak pada perlombaan membuktikan diri. Saya ingin berjalan dengan tujuan, bukan dorongan serta dengan keyakinan, bukan ketakutan.


Selamat ulang tahun untuk diri saya sendiri. Terima kasih sudah bertahan, sudah mencoba, dan sudah bangkit berulang kali. Terima kasih juga karena sudah memilih untuk terus tumbuh, bahkan di tengah rasa lelah. Semoga lima tahun ke depan saya bisa melihat kembali tulisan ini dan berkata, “Terima kasih karena sudah memulainya dengan baik.”