Minggu, 11 Januari 2026

Tentang Perempuan Bernama WIANI: Sosok Tangguh yang Tak Pernah Menutup Pintu Rumahnya

 

Saya bersama ibu di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo (2025) 



Tanggal 11 Januari 2026 menjadi penanda usia ke-67 bagi seorang perempuan yang bagi kami bukan sekadar ibu, melainkan rumah, cahaya, dan arah.

Namanya Wiani—nama yang tidak biasa, penuh sejarah, dan sarat makna. Sebuah nama yang merupakan singkatan dari Wanita Indonesia Anti Netherland Indische. Nama itu diberikan dengan harapan dan semangat oleh kedua orang tuanya: Mbah Maridin Madio Utomo bin Wiro Sutirto dan Mbah Suresmi binti Mangun Suwiryo. Dari namanya saja, sudah tampak bahwa ibu lahir dari semangat perlawanan, dari rahim sejarah yang tak sederhana.

Ibu lahir di Jakarta pada 11 Januari 1959, di tengah keluarga dengan latar belakang abangan-kejawen. Namun jalan hidupnya tidak berhenti pada warisan tradisi semata. Sejak remaja, ibu memilih untuk mencari sendiri jalan keyakinannya. Ia mulai mengaji, belajar ibadah, dan mendalami Islam—bahkan ketika itu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ibu memahami Islam bukan karena warisan, tetapi ia mencari dan menggenggamnya dengan kesadaran penuh, serta menjadikannya pegangan hidup.

Keteguhan itu tidak lepas dari didikan sang ayah, Mbah Madio Utomo, seorang pria asal Surakarta yang pernah menjadi tentara rakyat melawan penjajah. Didikan ala militer yang keras dan disiplin membentuk ibu menjadi pribadi yang tangguh. Hidup tidak pernah diajarkan untuk mudah, tetapi untuk dijalani dengan keberanian dan tanggung jawab. Dari sana, ibu belajar berdiri tegak menghadapi kerasnya kehidupan.

Namun di balik ketangguhan itu, ibu memiliki hati yang begitu lembut. Ia adalah sosok yang mudah luluh ketika melihat kemiskinan dan ketidakadilan. Ada kepekaan yang tidak bisa ia abaikan. Bagi ibu, penderitaan orang lain bukan sesuatu yang bisa ditonton dari jauh—itu adalah panggilan untuk bergerak, untuk membantu, sekecil apa pun yang bisa ia lakukan.

Sejak saya kecil, ada satu hal yang selalu saya ingat: pintu rumah ibu hampir tidak pernah ditutup rapat, kecuali saat malam benar-benar larut atau ketika rumah sedang kosong. Selebihnya, pintu rumahnya selalu terbuka.

Rumah itu menjadi tempat singgah bagi siapa saja—tetangga, kerabat, bahkan orang-orang yang mungkin tidak punya tempat lain untuk mengadu. Di rumah itu, tidak ada sekat antara kaya dan miskin, antara dekat dan jauh. Semua diterima.

Ibu juga tidak memilih-milih dalam bergaul. Ia bisa duduk dan berbincang dengan siapa saja, termasuk dengan orang-orang paling sederhana di lingkungan sekitar. Ia tidak pernah merasa lebih tinggi, tidak pernah menjaga jarak. Justru di situlah letak keindahannya: ibu hadir sebagai manusia yang memanusiakan manusia lain. Sebelum mengenal jargon memanusiakan manusia dari Gus Dur, saya sudah menyaksikannya langsung dari praktik keseharian yang dilakukan ibu.

Jika ada satu hal yang benar-benar melekat dalam diri ibu, itu adalah kemurahan hatinya. Ia tidak segan membantu siapa pun selama ia mampu. Ibu tidak menghitung untung rugi. Bagi ibu, membantu adalah bagian dari hidup, bukan sesuatu yang perlu dipertimbangkan terlalu lama. Tangan ibu selalu lebih cepat daripada pikirannya ketika melihat orang lain membutuhkan.

Meski hidup tidak selalu mudah, ibu tetap menjadi pribadi yang ceria. Ia suka bercanda, tertawa, dan membuat suasana menjadi ringan. Ia tidak mudah tersinggung, tidak menyimpan dendam, dan selalu memilih untuk melihat sisi baik dari sesuatu. Barangkali sifat inilah yang juga menurun kepada kami sebagai anak-anaknya—kemampuan untuk tetap ceria meski hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Menariknya, ibu tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal hingga tingkat sekolah menengah pertama. Namun siapa pun yang berbicara dengannya sering kali tidak menyadari hal itu. Wawasannya luas, cara berpikirnya matang, dan pandangannya terhadap kehidupan begitu dalam. Ibu adalah bukti bahwa pendidikan sejati tidak selalu datang dari bangku sekolah, melainkan dari pengalaman, kepekaan, dan kemauan untuk terus belajar.

Dalam hal mendidik anak, ibu memiliki visi yang jelas: anak-anaknya harus lebih baik darinya. Ia ingin kami memiliki bekal yang lebih kuat, baik secara ilmu maupun iman. Karena itu, ia menempatkan kami—saya dan Mas Nisfu Syawaluddin Tsani—di Buntet Pesantren Cirebon. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ibu ingin anak-anaknya kelak bisa istiqamah dalam mendoakannya.

Untuk Mbak Nia, Wahdaniah Puji Hartami, ibu memiliki harapan yang berbeda tetapi sama mulianya. Ia menyekolahkan Mbak Nia di sekolah menengah farmasi dan kemudian menguliahkannya di UHAMKA jurusan Farmasi, agar kelak menjadi apoteker. Harapannya sederhana namun penuh makna: agar ketika ibu dan bapak menua, ada anak yang bisa menjadi tempat konsultasi dalam urusan kesehatan.

Semua yang ibu lakukan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depan anak-anaknya. Ia mungkin tidak memiliki gelar tinggi, tetapi ia memiliki kebijaksanaan yang tidak semua orang miliki. Ia mungkin tidak hidup dalam kemewahan, tetapi ia kaya dalam kasih sayang dan pengorbanan.

Kini, di usianya yang ke-67, kami menyadari betapa besar peran ibu dalam membentuk siapa kami hari ini. Dari namanya, kami belajar tentang sejarah dan keberanian. Dari perjalanan hidupnya, kami belajar tentang pencarian dan keteguhan. Dari sikapnya, kami belajar tentang kasih, keikhlasan, dan kemanusiaan.

Di usianya yang sudah sangat senja itu, ibu selalu hadir bersama anak-anaknya dalam olahraga rutin bulanan: bulutangkis. Ibu masih sehat dan lincah. Pujian ini bahkan pernah datang dari seorang tak dikenal yang mengajaknya bicara di GOR tempat kami bermain bulutangkis.

Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi kami, anak-anaknya, untuk terus mengabdi. Untuk membalas, meski kami tahu tidak akan pernah sebanding. Untuk menemani, menjaga, dan membahagiakan ibu di sisa usia yang Allah berikan.

Selamat ulang tahun yang ke-67, Ibu Wiani. Semoga sehat selalu, panjang umur, dan senantiasa dalam lindungan-Nya. Dan semoga kami masih diberi kesempatan untuk terus menjadi anak-anak yang bisa dibanggakan—hingga akhir hayatmu bersama bapak.


Bekasi, 11 Januari 2026

Minggu, 07 Desember 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (3): Cara Menembus Tembok Kokoh Takdir Tuhan

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam ke-3 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Desember 2025.


*****


Sawābiqul himami lā takhriqu aswāral aqdar

Ini hikmah yang sederhana. Tapi iman atau kualitas iman yang sampai pada hikmah seperti ini membutuhkan perjuangan hidup yang sangat panjang. Ini adalah kesimpulan dari pengalaman batin, pengalaman rohani yang luar biasa, sampai kemudian Ibn ‘Aṭhā’illāh mendapatkan ilham untuk menulis hikmah ketiga ini.

Sawābiqul himam: cita-cita yang berlari dengan sangat kencang.

Ini menggunakan ṣifat ‘ilal mausūl, jadi asalnya adalah al-himam as-sawābiq: cita-cita yang begitu kuat, saking kuatnya seperti seorang pelari sprint, bukan pelari maraton. Kencang sekali.

Himam atau cita-cita, tujuan, tekad yang begitu kuat—saking kuatnya sampai mirip seorang pelari kencang—lā takhriqu aswāral aqdar: tidak bisa menembus tembok takdir Allah yang begitu kokoh. Tembok itu begitu kuat sampai mustahil ditembus oleh tekad manusia.

Secara redaksi, maknanya sederhana: takdir Tuhan itu seperti tembok kokoh, tidak mungkin ditembus. Tetapi kalau kita baca syarah-nya Ibn ‘Ajībah, ini menjadi menarik sekali.

Menurut Ibn ‘Ajībah, memang takdir Allah itu seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Kalau Allah sudah mentakdirkan A, kehendak manusia tidak bisa mengubahnya. Tetapi orang-orang yang ‘ārif billāh, orang-orang yang mengenal Allah, orang-orang yang memiliki ma‘rifat—ketika mereka menghendaki sesuatu, kehendak itu beriringan atau selaras dengan kehendak Allah.

Maka orang yang sudah mencapai ma‘rifat, ketika dia menghendaki A, ya A itu terjadi. Tetapi terjadinya bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Analogi sederhananya begini: kita sudah sangat mengenal gerak-gerik, perangai, dan kebiasaan seorang sahabat. Kalau kita diajak ke warung oleh orang itu, kita sudah tahu pasti dia akan pesan rawon. Bahkan kalau ke restoran Jepang pun, ya tetap saja rawon. Karena kebiasaannya begitu. Jadi saya bisa “menerka” apa yang akan terjadi, bukan karena saya menentukan, tetapi karena saya tahu kebiasaannya.

Orang ‘ārif billāh itu seperti itu: mengenal kebiasaan Allah, mengenal gerak-geriknya, mengenal kehendaknya. Bukan berarti dia mengetahui rahasia takdir Allah, tetapi kualitas ma‘rifat membuat kehendaknya selaras dengan kehendak Allah. Maka ketika dia berkehendak, kehendaknya itu sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Maka para wali itu ketika mengatakan sesuatu seperti “kun”, seolah-olah terjadi. Ini bukan berarti mereka menentukan takdir. Tapi karena pada momen itu, kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Ada sebuah hadits qudsi yang dikutip Ibn ‘Ajībah: "Wahai hamba-Ku, Aku adalah Allah yang jika berkata kepada sesuatu “kun”, maka terjadilah. Taatlah kepada-Ku, maka Aku jadikan engkau—ketika engkau mengatakan “kun”—maka terjadi pula."

Namun ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu, dan terjadinya itu bukan karena kekuatan dirinya mengubah takdir, tetapi karena pada momen itu Allah memang menghendaki hal tersebut terjadi.

Kadang-kadang juga seorang mukmin biasa, meskipun bukan wali, pada momen tertentu—misalnya ketika ia dizalimi—doanya diijabah. “Du‘ā’ul maẓlūm mustajāb.” Artinya Allah menjadikan kehendaknya selaras dengan kehendak orang yang teraniaya. Maka sesuatu terjadi.

Jadi memang takdir Allah tidak bisa ditembus. Tetapi ada momen ketika kehendak Allah itu selaras dengan kehendak manusia tertentu.

Para ahli ilmu kalam membagi takdir: ada qaḍāmu‘allaq yang masih bisa berubah dengan sedekah, doa, dan amal baik; dan qaḍā’ mubram yang tidak mungkin berubah. Tapi pembagian seperti itu hanyalah pendekatan rasional, tidak selalu memuaskan dalam ilmu tasawuf.

Para sufi mengatakan: pokoknya takdir Allah itu pada akhirnya tidak bisa diubah. Kalau tampak seperti berubah, itu karena Allah menghendaki perubahan itu.

Qada pada akhirnya tidak bisa diubah. Ini semua sesuatu yang hanya bisa dipahami melalui pengalaman hidup. Ilmu tasawuf itu ilmu kehidupan.

Kalau seseorang sudah punya pengalaman hidup yang cukup panjang, belajar tasawuf menjadi enak, karena dia punya referensi batin. Kalau terlalu muda, membaca tasawuf bisa membingungkan, karena tasawuf itu banyak bertumpu pada intuisi batin.

Takdir itu bisa dikenali, bukan oleh teori, tetapi oleh pengalaman hidup. Orang itu intuisi. Tapi ini intuisi yang jujur dari batin, bukan intuisi karena nafsu.

Ini semua masih bagian dari pembahasan amal (dalam Kitab Al-Hikam). Hikmah pertama membahas bahwa amal tidak boleh dijadikan sandaran. Hikmah kedua tentang bertindak sesuai maqam. Hikmah ketiga tentang tindakan manusia tidak bisa serta merta menghasilkan sesuatu, karena tetap ada gramatika amal.

Kalau seseorang memahami tiga kaidah amal ini, hidupnya menjadi “well”—enak, marem, hasanah. Bukan berarti tidak ada masalah, tetapi batinnya tenang.

Sekarang di (dunia) Barat, banyak orang berpikir hidup itu hanya tentang mengubah segala hal menjadi sesuatu yang menguntungkan—profit, value added. Ini benar, tetapi kalau diekstremkan, menjadi cara pandang yang timpang. Mereka melihat hidup dengan “mata satu”. Tidak seimbang. Maka hidup jadi tidak enak.

Kita harus melihat hidup dengan dua mata: seimbang. Di situlah wellness.

Kita tidak mungkin menembus tembok takdir. Tapi bukan berarti manusia tidak menentukan nasib. Kata Karl Marx: “Manusia pencipta nasibnya sendiri.” Ini benar, tapi hanya separuh: benar dalam kerangka ikhtiar. Tetapi apakah ikhtiar menghasilkan? Tidak selalu, karena ada batas-batas takdir.

Tasawuf itu keseimbangan dua daun pintu. Kalau satu daun saja ditutup, tidak sempurna.

Ibn ‘Ajībah dalam pendahuluan Kitab Syarah Al-Hikam ini mengatakan, Qur’an itu punya ayat-ayat syariat dan ayat-ayat hakikat. Yang tampak bertentangan sebenarnya bukan bertentangan. Yang satu bicara syariat, yang satu bicara hakikat.

Contoh: "Udkhulul-jannata bimā kuntum ta‘malūn.” Artinya: Masuklah surga karena amal kalian.

Tapi ada hadits: "Lā yadkhulul-jannata aḥadun bi ‘amalih.” Artinya: Tidak ada yang masuk surga karena amalnya.

Secara rasional, ini bertentangan. Tapi dalam ilmu hakikat tidak. Ayat pertama adalah syariat: kamu harus beramal. Hadits kedua adalah hakikat: yang memasukkanmu ke surga adalah rahmat Allah.

Demikian juga ayat: "Lâ tudrikuhul-abshâru wa huwa yudrikul-abshâr, wa huwal-lathîful-khabîr." Artinya: Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Tetapi ayat lain: "Wujūhun yauma idhin nāḍirah ilā rabbihā nāẓirah." Artinya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri karena memandang Tuhannya.

Secara rasional tampak bertentangan. Tetapi pendekatannya berbeda: yang satu syariat, yang satu hakikat. Dua kamar, tidak kontradiksi.

Inilah gramatika kehidupan yang diajarkan dalam hikmah ketiga.


Minggu, 02 November 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (2): Memahami Maqam Diri, Tajrid atau Asbab?

 

Gus Ulil saat mengampu Kitab Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman Ngaji Kitab Al-Hikam bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 2 November 2025.

***

Wa iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbabi minas syahwatil khafiyyah. Wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah.

Salah satu ajaran penting di dalam tasawuf adalah bahwa Allah itu memiliki dua dimensi. Allah itu sendiri tunggal, tetapi dalam keterlihatan-Nya ada dua sisi: al-awwal wal-akhir, az-zahir wal-bathin— yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tidak tampak. Jadi selalu ada pasangan, dua.

Gambarannya seperti pintu yang terdiri dari dua daun. Ada daun pintu yang saling melengkapi. Itu adalah salah satu ajaran penting tasawuf. Karena itu, kalau kita membaca Al-Hikam, kita akan menemukan bahwa hikmahnya itu seperti dua daun pintu: ada satu sisi dan sisi pasangannya.

Bagian pertama: iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbab minas syahwatil khafiyyah—ini satu daun pintu.

Bagian kedua: wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah—ini daun pintu yang kedua.

Ajaran tasawuf selalu begitu: ada khauf dan ada raja', ada keseimbangan. Dalam hidup pun demikian: kalau satu pasangan hilang, hidup menjadi tidak seimbang.

Sekarang maknanya: iradatuka at-tajrid—keinginanmu untuk menyendiri, ‘uzlah, tidak melakukan apa-apa, padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam asbab, yaitu maqam bahwa kamu harus bergaul dengan masyarakat, bekerja, membangun dunia, menjadi dosen, pedagang, petani, atau apa pun. Kamu harus terlibat dalam kehidupan sosial. Itu namanya asbab.

Tiba-tiba kamu ingin menyendiri dan tidak berinteraksi, itu termasuk minas syahwatil khafiyyah atau syahwat yang tersembunyi. Pada dasarnya itu adalah kemalasan, tetapi dibungkus dengan bahasa sufi. Seolah-olah sedang beribadah, padahal lari dari tanggung jawab.

Misalnya orang yang seharusnya bekerja masuk kantor, tapi setiap hari i‘tikaf di masjid. I‘tikaf itu baik, tetapi kalau bukan maqam-nya, itu malah menjadi cara untuk lari dari tanggung jawab. Itu syahwat yang halus. Kadang alasan "ibadah" itu hanya pembungkus. Padahal intinya menghindar dari tanggung jawab.

Sesuatu yang bentuknya baik sekalipun, kalau dasarnya syahwat, tetap tidak baik. Ini ilmu batin. Bentuk boleh religius, tetapi jika motivasinya syahwat, tetap buruk.

Ini teori maqam. Mayoritas manusia berada pada maqam asbab, yaitu harus bekerja, membangun bumi (‘imaratul ardh). Jika orang pada maqam asbab memaksa diri masuk maqam tajrid, maka ia sedang lari dari tanggung jawab.

Sebaliknya, ada orang tertentu yang memang Allah tempatkan dalam maqam tajrid, yaitu menyendiri dan fokus pada ibadah batin. Itu maqam tinggi dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya. Kalau orang maqam tajrid justru ingin turun ke maqam asbab, itu berarti turun derajat.

Pertanyaanya: bagaimana kita tahu ukuran (size) maqam kita?

Dalam akidah, kita diajarkan iman kepada takdir. Allah sudah menetapkan ukuran (size) bagi setiap orang. Seperti pakaian: ada S, M, L, XL. Tubuh kita punya ukuran. Begitu pula batin kita punya ukuran. Kalau orang ukuran tubuhnya L tapi memaksakan memakai baju S supaya terlihat langsing, maka yang terjadi hanya kesempitan dan tidak nyaman. Begitu pula di batin: hidup tidak sesuai maqam itu seperti memakai ukuran yang bukan ukuran kita — tidak nyaman, tidak enak dilihat, dan menyiksa diri.

Ada orang yang sejak awal diberi anugerah untuk mengetahui ukuran dirinya. Tetapi ada juga yang perlu perjalanan panjang untuk mengenal maqamnya sendiri.

Ciri orang yang sudah mengenal ukuran dirinya: ia hidup dengan tenang, bahagia, dan tidak iri pada orang lain. Dia menjalani maqamnya dengan enak.

Karena itu doa kita:
"Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku, maqamku. Dan berikan kekuatan kepadaku untuk istiqamah menjalani maqam itu, tanpa iri kepada orang lain."

Kalau kita hidup sesuai dengan maqam kita, kita enak. Dan orang lain pun enak melihat kita.

Di sini kita sebetulnya temanya tentang tajrid. Tajrid itu artinya hidup yang murni hanya untuk Allah saja. Kita tidak menjalankan asbāb, tidak menjalankan sarana-sarana untuk mencapai sesuatu yang bersifat keduniaan.

Itu tajrid. Memang tajrid ini adalah maqām yang tinggi. Manusia yang beriman itu sebetulnya arah atau tujuan orientasi hidupnya itu harus tajrid.

Asbāb itu hanya wasīlah saja sebetulnya. Tapi intinya tajrid. Nah, tajrid itu ada tiga, kalau kita baca syarahnya:

Wa ammā ‘inda aṣ-ṣūfiyyati, tajrid itu fahuwa ‘alā fanā’ faḍl al-Islām.

Tajrīd az-ẓāhir faqaṭ. Tajrīd dalam tingkat zahir.
Aw al-bāṭin faqaṭ. Tajrīd
batin.
Aw humā ma‘an
, atau dua-duanya.

Tajrīd az-ẓāhir adalah tarkul asbāb ad-dunyāwiyyah wa kharḍul ‘awā’id al-jismāniyyah ‘alā al-jism.

Tajrid az-ẓāhir itu adalah meninggalkan sebab-sebab keduniaan. Kita tidak melakukan ikhtiar duniawi dan melawan kebiasaan-kebiasaan jasmani. Misalnya, mestinya kalau pagi sarapan, kita tidak sarapan. Itu namanya melawan hukum jasmani.

Kalau siang biasanya makan siang, kita tidak makan siang. Sore biasanya ada camilan, kita tidak makan camilan. Itu namanya melawan hukum badan atau hukum jasmani. Kalau malam jam sembilan harusnya sudah tidur, ini tidak tidur. Itu melawan hukum jasmani.

Kalau sampai melawan hukum jasmani itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Latihan rohani itu kadang memang mengharuskan adanya tajrīd az-ẓāhir.

Makanya tradisi orang Jawa, kalau mau punya gawe besar: mau mantu, mau nyunat anak, mau punya perhelatan apa saja, mau mengadakan haul, mau mengadakan pengajian besar, mau mengadakan reuni besar, mengadakan event besar—bahkan event biasa saja—itu sebelum acara biasanya puasa dulu. Itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Tajrīd az-ẓāhir ini diperlukan.

Kadang kalau kita menghadapi perhelatan atau tugas besar, kita harus puasa dulu. Tujuannya supaya hati kita terfokus, terkonsentrasi. Karena biasanya kalau badan kita di tajrid: dia ingin makan, kita tahan tidak makan. Ingin tidur, tidak tidur. Maka hati kita mengalami peningkatan kualitas. Orang kalau puasa itu rohaninya meningkat. Sinyal rohaninya tajam.

Pokoknya kalau menghadapi perkara besar, dianjurkan tajrīd az-ẓāhir.

Puasa, atau begadang malam (tirakat), itu ritual orang Jawa. Tapi tentu ini kalau tidak berlebihan, ada ukuran, ada manfaat rohaninya, bukan ekstrem.

Jadi itu tajrīd az-ẓāhir. Kebutuhan jasmani dikurangi.

Kemudian yang kedua tajrīd al-bāṭin. Tajrīd al-bāṭin yaitu meninggalkan keterikatan batin. Misalnya, kita terikat dengan hal-hal seperti kecanduan menonton film, kecanduan membaca status, bangun tidur langsung cek status. Itu keterikatan mental.

Sekarang ini, dalam era modern, kecanduan itu banyak sekali. Karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan. Rutinitas itu membosankan. Padahal hidup manusia tidak bisa tanpa rutinitas. Kalau tidak ada orang yang bekerja setiap hari jam 7 sampai jam 5, dunia tidak akan berjalan. Rutinitas itu penyangga kehidupan.

Tapi untuk mengatasi rasa bosan itu, manusia lalu mencari pelarian, dan muncullah kecanduan. Kecanduan itu bentuk keterikatan batin.

Satu-satunya keterikatan yang tidak membuat orang kecanduan adalah keterikatan kepada Allah. Makanya manusia modern ingin membunuh Allah dengan harapan bisa bebas. Tapi akibatnya justru muncul Tuhan-tuhan palsu: kecanduan-kecanduan itu.

Obat kecanduan yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh. Tahlil. Menghayati bahwa tidak ada Tuhan asli selain Allah. Kalau hati kita melekat ke situ, kita tidak akan kecanduan.

Kemudian ada juga al-awā’iq al-wahmiyyah yaitu hambatan-hambatan yang bersifat waham (khayalan mental), seperti kecemasan berlebih. Misalnya: nanti kalau begini bagaimana? Kalau begitu bagaimana? Kita terjebak kecemasan.

Tajrīd al-bāṭin adalah melepaskan adiksi-adiksi batin dan kecemasan-kecemasan yang tidak beralasan. Itu yang dalam psikologi modern disebut mental disorder. Sekarang ini memang banyak orang mengalami gangguan mental. Setelah kebutuhan material terpenuhi, dia butuh yang spiritual. Kalau tidak terpenuhi, muncul gangguan mental.

Obatnya adalah melepaskan kecanduan dan kecemasan itu.

Kalau kita bisa tajrīd az-ẓāhir dan tajrīd al-bāṭin, insyaallah hidup kita bahagia. Kuncinya hidup enak itu adalah tahu ukuran diri. Know your level, know yourself.

Sekarang kita masuk penjelasan tentang adab al-mutajarrid dan adab al-mutasabbib. Mutajarrid adalah orang yang makam hidupnya tajrid. Mutasabbib adalah orang yang makam hidupnya asbāb. Keduanya punya tata krama (etika) masing-masing.

Ada orang fakir yang mutajarrid. Ia harus:
1. Menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya.
2. Menyayangi orang yang lebih rendah darinya.
3. Mengetahui ukuran dirinya (‘arif bi maqāmihi).
4. Tidak memaksakan keinginan lalu mencari pembenaran atau justifikasi nafsu.

Kalau seseorang itu salah, ya akui salah. Jangan memvalidasi hawa nafsu.

Adapun orang fakir yang mutasabbib (yang menjalankan sebab, bekerja, punya harta), jika Allah memberikan kelebihan rezeki, maka:
1. Bersahabat dengan orang-orang yang baik.
2. Menjauhi orang-orang yang buruk.
3. Menjaga shalat berjamaah.
4. Membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Masing-masing punya aturan. Kalau kita menjalankan aturan itu, hidup akan harmonis dan membahagiakan.



Bekasi, 2 November 2025