Jumat, 01 Mei 2026

9 Tahun Belajar dan Berkhidmah di NU Online, Kini Saatnya Saya Pamit Undur Diri

 



“Barangsiapa yang telah mencicip manisnya pertemuan maka harus siap mencecap pahitnya perpisahan.”

Saya tidak pernah benar-benar siap untuk bagian kedua dari kalimat itu.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat atau sekadar hitungan kalender, tetapi kumpulan kenangan, proses jatuh-bangun, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan perjalanan panjang menemukan jati diri. NU Online bagi saya adalah ruang hidup yang ikut membentuk siapa saya hari ini, bukan hanya tempat berkhidmah dan berkarya.

Semua ini bermula pada Januari 2017. Saat itu, saya masih seorang mahasiswa semester lima di jurusan Ilmu Komunikasi, dengan konsentrasi jurnalistik, di Universitas Islam "45" Bekasi (sekarang Univeristas Muhammadiyah Indonesia). Saya sedang berada di fase penuh tanya: ingin menjadi apa, dan bagaimana cara mencapainya?

Jawaban pertama saya temukan ketika mengikuti Kelas Menulis di NU Online.

Di sana, saya bertemu dengan Abdullah Alawi—mentor, senior, sekaligus guru yang membuka jalan pertama saya di dunia jurnalistik. Gaya mengajarnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mengajarkan teknik menulis, sekaligus menanamkan keberanian untuk memulai.

Artikel pertama saya berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim menjadi tonggak penting. Tulisan itu diedit dan diterbitkan langsung oleh Abdullah Alawi pada 16 Januari 2017. Saat melihat nama saya tertera sebagai penulis, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, saya merasa: "mungkin saya memang bisa berjalan di jalan ini".

Dari sana, perjalanan saya dimulai. Saya menjadi kontributor daerah untuk Bekasi, meliput berbagai kegiatan PCNU Kota Bekasi. Di fase ini, saya belajar arti konsistensi. Menulis dan liputan di sela-sela kuliah sekaligus belajar memahami bahwa setiap berita adalah tanggung jawab. Tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah saya ditempa.

Tahun 2020 menjadi babak baru. Saya dihubungi oleh Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (sekarang Redaktur Eksekutif) untuk bergabung sebagai Reporter In-house. Dari sinilah dunia saya melebar. Saya tidak lagi hanya menulis berita lokal, tetapi mulai masuk ke isu-isu nasional, bertemu tokoh-tokoh penting, dan memahami kompleksitas realitas yang lebih luas.

Saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal melaporkan peristiwa, tetapi juga membaca situasi, menggali makna, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.

Lalu datang tahun 2023—fase yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia media.

Pemimpin Redaksi, Ivan Aulia Ahsan, memberi saya kepercayaan menjadi Redaktur desk Polhukam, per 1 Oktober 2023. Sebuah amanah yang tidak ringan. Saya harus mengelola isu, menentukan arah pemberitaan, menugaskan reporter, hingga mengedit naskah dengan ketelitian tinggi.

Di sini, saya belajar bahwa di balik sebuah berita yang terbit, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada pertimbangan ideologi, akurasi data, kekuatan logika bahasa, dan ketajaman sudut pandang.

Saya tidak berjalan sendiri. Saya ditemani oleh tim reporter luar biasa: Haekal Attar, Fathur Rohman, Suci Amaliyah, Mufidah Adzkia, dan Rikhul Jannah. Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga teman seperjuangan. Kami berbagi tekanan, tawa, lelah, dan semangat yang sama setiap harinya.

Jika hari ini saya berdiri di titik ini, salah satu alasannya adalah mereka.

Lalu saya mencapai salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidup saya: mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada 24-27 April 2024.

Bagi saya, UKW bukan sekadar ujian, tetapi refleksi dari seluruh proses yang telah saya jalani sejak 2017. Ketika dinyatakan lulus dan menyandang predikat “berkompeten”, saya merasa seperti menutup satu bab penting dengan penuh rasa syukur.

Bukan karena akhirnya saya “diakui”, tetapi karena saya tahu betul betapa panjang jalan yang telah saya tempuh untuk sampai ke titik itu.

Mengikuti UKW membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang tepat dan mampu melangkah lebih jauh.

Dan kini, 2026.

Saya berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara bertahan di zona nyaman atau melangkah ke ruang baru yang belum pasti. Setelah berpikir panjang, saya memilih yang kedua.

Saya sudah menyatakan undur diri secara lisan dan tatap muka kepada Pemred NU Online Ivan Aulia Ahsan serta Direktur Utama NU Online H Hamzah Sahal. Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan media, saya juga sudah menyatakan undur diri melalui Surat Pengunduran Diri yang saya layangkan ke PT Visi Berkah Bangsa, perusahaan yang menaungi NU Online.

Saya mengakhirkan khidmah saya di NU Online pada 30 April 2026. Lalu per 1 Mei 2026, saya sudah resmi tidak lagi menjadi bagian dari perkhidmahan sebagai kru Redaksi NU Online.

Saya meyakinkan kepada semua orang, terutama para reporter di desk Polhukam NU Online, bahwa saya tidak pergi. Saya hanya sedang melanjutkan perjalanan.

Saya masih Aru yang sama—yang ceria, yang terbuka untuk diskusi, yang bisa ditemui dan dihubungi kapan saja. Tidak ada yang berubah dari diri saya, kecuali keberanian untuk mencoba hal baru.

NU Online akan selalu menjadi rumah kedua saya. Tempat saya belajar menulis dari nol. Tempat saya ditempa menjadi wartawan. Tempat saya mengenal arti tanggung jawab, profesionalitas, dan dedikasi.

Namun, setiap rumah pada akhirnya akan melahirkan seorang perantau. Saya percaya, merantau bukan berarti menjauh tapi justru cara untuk kembali dengan versi diri yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap memberi makna.

Mungkin hari ini adalah perpisahan. Tapi saya percaya, ini bukan akhir dari cerita kita. Suatu hari nanti, ketika jalan yang kita tempuh membawa kita ke puncak masing-masing, kita akan bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita.

Dan kalau saat itu tiba, kita akan tersenyum bangga dan berkata: "perpisahan ini ternyata tidak sia-sia."

Terima kasih untuk semua kawan-kawan di NU Online yang telah membantu, membimbing, dan melangkah bersama saya selama sembilan tahun, sejak 2017 hingga 2026. Maafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik secara lisan atau tulisan maupun berupa konten digital di media sosial saya.

Saya, Aru Elgete, pamit undur diri dan sampai jumpa!


Bekasi, 1 Mei 2026.

Minggu, 12 April 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (6): Mengapa Doa Kita Tak Selalu Sesuai Harapan?

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil ke-6 spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede Bekasi, pada 12 April 2026.



Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-6 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede, Bekasi, Jawa Barat, pada 12 April 2026.


*****


لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ العَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ 

"Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa. Sebab, Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Ia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilihkan untuk dirimu sendiri. Dan pada waktu yang Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."


Kalau doa kita belum juga “tembus”, jangan sampai ذلك يُوجِب لك اليأس (dzālika yūjibu laka al-ya’s) — itu membuat kita putus asa. Jangan sampai kita kemudian merasa: “Kayaknya Tuhan tidak perhatian kepada saya.”


Semua orang pasti pernah mengalami ini, dalam derajat yang berbeda-beda. Kalau frustrasinya besar, keluhannya kepada Tuhan juga besar. Tapi semua orang pasti pernah mengalami.

Jujur saja, kadang kita juga protes: “Ini bagaimana sih, ya Allah? Doa terus, kok tidak dikabulkan?” Nah, kenapa doa yang tidak dikabulkan atau terlambat dikabulkan itu tidak boleh membuat kita putus asa?

Karena dalam Hikmah ke-6 ini disebutkan:

فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ


Artinya:
Allah menjamin pengabulan doa bagimu, tetapi dalam apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu kehendaki.

Jadi tugas manusia adalah berdoa. Bagaimana Allah mengabulkan doa kita, itu bukan urusan kita. Allah punya cara sendiri.

فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ
Sesuai dengan apa yang Allah pilihkan untukmu.

Intinya hikmah ke-6 ini yaitu manusia jangan mengatur Tuhan. Kitalah yang diatur oleh Allah, bukan sebaliknya.

Kadang kita ini ingin mengatur: “Ya Allah, saya minta mobil… mereknya ini ya Allah.”
Itu terlalu spesifik. Jangan begitu. Allah yang punya hak penuh menentukan.


Kemudian:
وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ
Waktunya terserah Allah. Bisa sekarang, nanti, tahun depan, atau bahkan di akhirat.

Yang penting: Allah menjamin doa akan dikabulkan.

Masalahnya, manusia ingin doa dikabulkan sesuai cara dan waktunya sendiri. Ini yang keliru.



Jamaah perempuan ngaji Al-Hikam


Hikmah ini mengajarkan optimisme: harapan tidak boleh putus. Walaupun tidak sesuai keinginan kita, doa tetap dikabulkan.

Kalau mindset kita benar bahwa kita diatur oleh Allah, maka kita tidak akan mudah frustrasi.

Dalam syarahnya, Ibn ‘Ajibah menjelaskan adab berdoa. Secara ekstrem bahkan dikatakan: sebenarnya manusia tidak perlu berdoa, karena semua sudah dijamin Allah. Tapi kita tetap harus berdoa. Kenapa? Karena doa itu menegaskan posisi kita sebagai hamba (عبد).

Seorang hamba itu wajar meminta kepada Tuhannya. Jadi tujuan utama doa bukan isi permintaannya, tetapi sikap kehambaan. Kalau kita tidak pernah meminta, itu malah tidak pantas.

Adab Berdoa

1. Doa untuk menegaskan kehambaan, bukan menagih janji Allah. Tidak boleh kita berdoa dengan mental seperti “debt collector”.

2. Tidak boleh putus asa jika tidak dikabulkan sesuai keinginan.


Dalam hadis disebutkan, doa itu punya tiga kemungkinan:

1. Langsung dikabulkan.
2. Ditunda dan disimpan sebagai pahala di akhirat.
3. Diganti dengan dihindarkan dari musibah yang setara.

Jadi tidak ada doa yang sia-sia.


مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي دُعَائِهِ تَارِكًا لِاخْتِيَارِهِ رَاضِيًا بِاخْتِيَارِ الْحَقِّ...

Kalau seseorang berdoa tetapi tetap memaksakan kehendaknya, tidak ridha dengan pilihan Allah, lalu doanya dikabulkan, itu belum tentu karena Allah ridha.

Bisa jadi itu istidraj (dibiarkan agar semakin jauh). Seperti orang yang terus merengek, lalu dikasih hanya supaya diam. Jadi dikabulkannya doa belum tentu tanda cinta Allah.

Orang tasawuf itu selalu waspada bahwa doa yang dikabulkan belum tentu karena Allah ridha dan ibadah yang dilakukan belum tentu diterima. Bisa jadi orang yang jarang ibadah, justru sekalinya ibadah, ibadah dia diterima oleh Allah.

Ini penting agar tidak sombong.

Contoh:
Saat berbuka, jangan langsung merasa: “Puasa saya pasti diterima.” Tidak boleh merasa pasti. Harus tetap ada rasa khawatir.


Ilmu tasawuf itu mengajarkan: jangan terlalu yakin dengan amal sendiri dan harus ada rasa tidak pasti (khauf dan raja’) supaya tidak jatuh pada kesombongan.


Kalau kita berdoa dengan kesadaran: "Saya berdoa, tapi hasilnya saya serahkan sepenuhnya kepada Allah”...

فَهُوَ مُجَابٌ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ

Dia sebenarnya sudah dikabulkan, walaupun belum diberi.

Dan:

الأعمال بخواتيمها

Amal itu dinilai dari akhirnya, bukan awalnya.



Bekasi, 12 April 2026

Sabtu, 28 Maret 2026

72 Tahun Bapak Saryono: Teladan Keteguhan Prinsip dan Kedisiplinan

 

Bapak Saryono saat ziarah ke makam bapaknya, Mbah Suwarno bin Mangku Dimedjo di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur (2023)

Tanggal 28 Maret 2026 adalah momen 72 tahun keselamatan hidup Bapak Saryono. Tujuh dekade lebih Bapak telah selamat menjalani hidup, melewati berbagai fase dengan keteguhan, kesabaran, dan prinsip yang tak pernah goyah. Bagi kami, anak-anaknya, angka 72 adalah simbol dari hidup yang penuh berkah dan keberhasilan.


Bapak bukanlah sosok yang banyak bicara tentang pencapaian pribadi, tetapi kami menyaksikan sendiri tentang jejak hidupnya yang menjadi teladan nyata. Kesederhanaannya menyimpan kekuatan. Ketegasannya mengandung kasih. Sikap diamnya sering kali justru menyampaikan pesan yang paling dalam.


Salah satu hal yang paling kami syukuri adalah cara Bapak membesarkan kami. Ia tak pernah memaksa anak-anaknya menggapai mimpi tertentu. Tidak ada tekanan untuk menjadi ini atau itu. Tidak ada tuntutan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan. Namun, di balik kebebasan itu, Bapak justru mendorong anak-anaknya meraih cita-cita masing-masing dengan sepenuh hati.


Anak pertama, Wahdaniah Puji Hartami (Mbak Nia) menjadi seorang apoteker. Anak kedua, Nisfu Syawaluddin Tsani (Mas Nisfu) mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan. Lalu saya, anak ketiga, memilih jalan sebagai penulis, sebuah cita-cita yang sudah tumbuh sejak kecil. Tidak satu pun dari pilihan itu yang lahir dari paksaan. Semua tumbuh dari dorongan halus namun kuat dari seorang ayah yang percaya bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri.


Bapak selalu menanamkan bahwa hidup bukan soal mengikuti jejak orang lain, tetapi tentang bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ia mengajarkan kedisiplinan waktu sejak kami kecil: bangun pagi, berangkat dan pulang kerja saat hari gelap, menghargai setiap detik, dan tidak menunda pekerjaan. Bagi Bapak, waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan.


Bapak juga mengajarkan kami untuk memegang teguh prinsip. Dalam hidup, akan selalu ada godaan untuk mengambil jalan pintas, untuk berkompromi dengan nilai-nilai. Namun Bapak selalu mengingatkan bahwa komitmen atas pilihan adalah harga diri yang harus dijaga. Sekali melangkah, harus berani bertanggung jawab sampai akhir.


Satu nasihat Bapak yang selalu terngiang hingga hari ini adalah tentang keberanian. Ia mengajarkan agar kami tidak pernah takut pada apa pun: tidak takut gagal, tidak takut mencoba, tidak takut menghadapi dunia. Satu-satunya hal yang patut ditakuti, katanya, adalah ketika kita tidak mendapat ridha dan keikhlasan dari keluarga. Sebab, tanpa itu, keberhasilan apa pun akan terasa hampa.


Bapak adalah sosok yang sangat teliti. Dalam hal apa pun, Bapak selalu memperhatikan detail, sekecil apa pun itu. Dari cara bekerja, berbicara, hingga mengambil keputusan, semuanya dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bapak juga mengajarkan kami agar tidak lalai terhadap apa pun. Kesalahan kecil, jika dibiarkan, bisa menjadi masalah besar. Karena itu, kehati-hatian adalah bagian dari tanggung jawab.


Salah satu nilai yang paling sering ia ulang adalah filosofi Jawa yang sederhana namun mendalam: eling lan waspada. Ungkapan ini sering ia kutip dari tokoh punakawan dalam pewayangan, Semar. Eling berarti selalu ingat kepada Allah, tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa hidup ini ada dalam pengawasan-Nya. Sementara waspada berarti berhati-hati terhadap segala kemungkinan, termasuk potensi kejahatan atau niat buruk dari orang lain.


Nilai ini bukan sekadar kata-kata bagi Bapak. Ia menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Bapak tidak mudah percaya pada sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Ia selalu kritis terhadap siapa pun, bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memastikan kebenaran. Bagi Bapak, berpikir kritis adalah bentuk tanggung jawab, bukan sikap negatif.


Dalam dunia yang sering kali penuh kepalsuan, sikap ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Memang, percaya itu penting. Namun memastikan kebenaran jauh lebih penting. Menghormati orang lain tidak berarti menelan mentah-mentah segala yang mereka katakan.


Keteguhan adalah kata lain yang tak bisa dilepaskan dari sosok Bapak. Dalam berbagai situasi, Bapak selalu menunjukkan konsistensi sikap. Ia tidak mudah goyah oleh tekanan, tidak mudah berubah arah karena pengaruh. Ketika ia sudah meyakini sesuatu sebagai kebenaran, ia akan berdiri tegak mempertahankannya.


Namun di balik semua ketegasan itu, ada kasih sayang yang begitu besar. Bapak mungkin tidak selalu mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi kami merasakannya dalam setiap tindakan. Dalam setiap nasihat. Dalam setiap diamnya yang penuh makna.


Kini, pada usia ke-72, kami melihat perjalanan panjang yang telah ia lalui dengan penuh rasa syukur. Hidupnya adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gemerlap dunia, tetapi dari nilai-nilai yang diwariskan. Dari anak-anak yang tumbuh dengan prinsip. Dari keluarga yang tetap utuh dan saling menguatkan.


Kami tahu, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Sebagai anak, kami hanya bisa berharap satu hal: semoga masih ada waktu untuk kami terus berbakti, meski tak akan pernah sebanding dari segala yang telah Bapak berikan.


Terima kasih, Bapak, atas kebebasan yang telah diberikan kepada kami untuk bermimpi. Terima kasih atas dorongan yang membuat kami berani melangkah. Terima kasih atas keteguhan, kedisiplinan, dan nilai-nilai hidup yang tak ternilai harganya.


Pada usia ke-72 ini, semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semoga langkah-langkah yang telah Bapak tempuh menjadi jalan berkah, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang mengenalmu.


Semoga kami, anak-anakmu, mampu terus menjaga amanah nilai-nilai yang telah kau tanamkan. Selamat ulang tahun ke-72, Bapak Saryono. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya.



Bekasi, 28 Maret 2026

Senin, 23 Februari 2026

26 Tahun Istriku: Mari Kita Rayakan Hidup Tanpa Budaya Patriarki dan Feodal

 

Istriku ulang tahun

Tanggal 23 Februari 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup istriku. Di usia yang Ke-26, aku tidak hanya melihat angka yang bertambah, tetapi juga lapisan demi lapisan kedewasaan yang telah terbentuk dari pengalaman, tantangan, dan pilihan-pilihan hidup yang kamu ambil dengan penuh kesadaran. Kamu telah tumbuh menjadi sosok perempuan tangguh—ketangguhan yang tidak lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan meski rasa itu hadir.


Ketangguhanmu selalu mengingatkanku pada sosok ibuku. Bukan dalam arti membandingkan, melainkan melihat benang merah nilai yang sama: keteguhan hati, keikhlasan dalam menjalani peran, dan kekuatan untuk tetap berdiri di tengah badai kehidupan. Seperti beliau, kamu memiliki cara sendiri dalam menghadapi kerasnya realitas, tanpa kehilangan kelembutan sebagai manusia. Ada keseimbangan yang jarang dimiliki banyak orang—antara kuat dan hangat, antara tegas dan penuh empati.


Di usia ini, aku melihat perubahan yang semakin jelas dalam caramu memandang dunia. Kamu tidak lagi terburu-buru dalam merespons masalah. Kamu memilih untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu mencari solusi dengan akal sehat. Kedewasaan itu bukan sekadar tentang usia, melainkan tentang kemampuan untuk memilah mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang harus dilepaskan. Kamu telah sampai pada titik di mana emosi tidak lagi menjadi penguasa, melainkan mitra yang kamu kendalikan dengan bijaksana.


Hal yang paling aku kagumi adalah keberanianmu dalam menghadapi masa depan. Kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan datang, seperti kita semua. Namun, kamu tidak membiarkan ketidakpastian itu menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Kamu memilih untuk tetap berjalan, tetap berusaha, dan tetap percaya bahwa apa pun yang datang, kita bisa menghadapinya bersama. Sikap ini bukan sesuatu yang sederhana; ini adalah hasil dari keberanian yang ditempa oleh pengalaman.


Kita berdua tahu bahwa perjalanan hidup, terutama dalam rumah tangga, tidak selalu mulus. Akan ada batu karang yang menghadang, ombak yang datang tanpa peringatan, dan arah yang kadang terasa membingungkan. Namun, dalam semua itu, aku percaya bahwa kita tidak sedang berlayar sendirian. Kita berada dalam bahtera yang sama, dengan tujuan yang sama. Kita harus siap melangkah bersama, bukan saling meninggalkan ketika keadaan menjadi sulit.


Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu ingin aku jaga bersama kamu: semangat untuk tidak pernah lelah. Bukan berarti kita harus selalu kuat tanpa jeda, melainkan kita harus tahu kapan beristirahat tanpa kehilangan arah. Lelah adalah manusiawi, tetapi menyerah bukanlah pilihan yang ingin kita ambil. Kita boleh berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru.


Aku juga ingin kita terus mengingat pentingnya menjaga kedaulatan diri. Dalam hubungan apa pun, termasuk pernikahan, identitas pribadi tidak boleh hilang. Kamu tetaplah dirimu—perempuan dengan pikiran, keinginan, dan prinsip hidup yang kamu pegang. Aku tidak ingin kita saling menguasai, melainkan saling menghormati ruang dan kebebasan satu sama lain. Kedaulatan diri adalah fondasi dari hubungan yang sehat, karena dari situlah lahir rasa saling percaya yang sejati.


Ketika kita berbicara tentang keluarga, aku percaya kita memiliki visi yang sama: membangun ruang yang adil, hangat, dan manusiawi. Kita ingin merawat keluarga tanpa terjebak dalam budaya patriarki dan feodal yang membatasi peran dan potensi seseorang. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; yang ada hanyalah perbedaan peran yang dijalankan dengan kesadaran dan kesepakatan bersama. Kita belajar untuk tidak mengulang pola lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan nilai yang kita yakini.


Dalam bahtera rumah tangga ini, kita bukan kapten dan penumpang. Kita adalah rekan kerja, mitra yang saling mendukung dan melengkapi. Ada kalanya kamu yang memegang kendali, ada kalanya aku. Tidak ada kompetisi di antara kita, yang ada hanyalah kolaborasi. Kita bekerja sama untuk menjaga arah, memperbaiki layar ketika robek, dan memastikan bahwa kita tetap bergerak maju meski perlahan.


Aku juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun atas tuntutan sepihak. Kita tidak hanya menuntut untuk diistimewakan, tetapi juga berusaha untuk mengistimewakan satu sama lain. Ada keindahan dalam memberi tanpa selalu menghitung, dalam memahami tanpa selalu meminta dipahami terlebih dahulu. Ketika kita sama-sama berusaha untuk memberi yang terbaik, keseimbangan itu akan tercipta dengan sendirinya.


Di usia 26 ini, kamu berada di fase kehidupan yang penuh potensi. Banyak hal yang telah kamu capai, dan lebih banyak lagi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Aku tidak meragukan kemampuanmu untuk terus berkembang, karena aku telah melihat bagaimana kamu belajar dari setiap pengalaman—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Kamu tidak pernah benar-benar berhenti bertumbuh.


Perjalanan ke depan mungkin tidak akan lebih mudah, tetapi aku yakin kamu akan menjadi lebih kuat. Bukan karena dunia menjadi lebih ramah, melainkan karena kamu semakin siap untuk menghadapinya. Dan dalam semua itu, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Aku ada di sampingmu, bukan sebagai penentu arah hidupmu, tetapi sebagai teman berjalan yang siap mendukungmu dalam setiap langkah.



Selamat ulang tahun yang ke-26, istriku. Terima kasih telah menjadi dirimu yang sekarang—perempuan tangguh, dewasa, dan penuh keberanian. Semoga kita terus belajar, terus bertumbuh, dan terus melangkah bersama, apa pun yang menghadang di depan.



Bekasi, 23 Februari 2026

Minggu, 08 Februari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (5): Ajaran Tasawuf dan Jalan Menuju Kebahagiaan Batin

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Februari 2026.


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-5 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Februari 2026. 


*****


إجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك


Ijtihāduka fīmā ḍumina laka wa taqṣīruka fīmā ṭuliba minka dalīlun ‘alā inṭimās al-baṣīrah minka.


Kesungguhanmu dalam hal yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu dalam hal yang dituntut darimu, adalah tanda padamnya mata batinmu.


Ijtihāduka artinya usaha kerasmu.

Fīmā ḍumina laka: dalam hal-hal yang sudah dijamin untukmu. Siapa yang menjamin? Allah. Di sini memang tidak disebut langsung, karena kitab ini ditujukan bagi orang-orang yang sudah paham.


Jadi maksudnya: usaha kerasmu untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah.


Lalu wa taqṣīruka: kelalaianmu, keteledoranmu.

Fīmā ṭuliba minka: dalam hal-hal yang justru dituntut darimu oleh Allah.

Dalīlun ‘alā inṭimās al-baṣīrah minka: itu tanda padam atau buramnya mata batinmu.


Artinya begini. Sesuatu yang sudah dijamin Allah, kamu kejar mati-matian. Sementara sesuatu yang Allah tuntut kamu lakukan, kamu malah lalai. Itu tanda bahwa “lampu neon” batinmu sudah mulai redup. Kesadarannya tidak bekerja sesuai “algoritma” yang benar.


Apa yang sudah dijamin Allah? Sesuatu yang sudah dijamin itu adalah rezeki. Penghidupan dasar manusia sudah dijamin oleh Allah.


Ibadah tidak dijamin. Kalau kamu tidak beribadah, Allah tidak “otomatis” memberi pahala. Karena itu yang dituntut adalah ibadah, kesungguhan mendekat kepada Allah.


Soal rezeki, Muslim atau tidak, semuanya diberi oleh Allah. Allah memberi makan orang beriman maupun tidak beriman. Karena Allah menciptakan manusia, maka konsekuensi dasar hidup manusia (makan, minum, kebutuhan minimal agar tetap hidup) dijamin oleh Allah.


Kalau ingin hidup mewah dan berfoya-foya, itu wilayah usaha manusia. Tapi batas minimal agar manusia tidak mati kelaparan, itu dalam jaminan Allah.


Burung tidak punya kulkas, tapi tetap hidup. Kucing tidak punya deposito, tapi setiap hari tetap dapat makan. Manusia pada level biologis punya kesamaan dengan hewan: sama-sama makhluk hidup dalam animal kingdom. Kalau Allah menjamin hewan-hewan itu, masa manusia tidak dijamin? 


Tapi bukan berarti tidak perlu bekerja. Ajaran ini bukan berarti kita lalu berhenti bekerja, berhenti sekolah, tidak mengajar, dan pasrah total.


Ini ajaran untuk membangun kesadaran batin bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan makhluk-Nya. Kalau kesadaran ini masuk, minimal bisa mengurangi tingkat stres.


Masalah kesehatan mental sekarang besar sekali. Ada World Mental Health Day. Banyak orang modern mengalami stres berat. Sementara kesadaran spiritual seperti ini bisa menjadi “obat” batin.


Makanya di masyarakat seperti Indonesia, indeks kebahagiaan relatif lumayan. Ada cobaan, tapi orang bilang, “ya sudah, dijalani saja.” Mindset ini dibentuk oleh ajaran-ajaran seperti ini (tasawuf) sejak kecil.


Lalu apakah ajaran ini membuat orang jadi fatalis? 


Ada kritik: ajaran (tasawuf) seperti ini membuat orang pasrah, tidak punya etos kerja, jadi tertinggal. Jawabannya: bisa begitu, kalau dipahami salah.


Kalau dipahami keliru, orang bisa jadi fatalis: tidak mau berusaha, semua diserahkan ke Allah, lalu tidak bekerja. Itu bukan maksud tasawuf. Itu abusing tasawuf. 


Tasawuf dan kebahagiaan

Tasawuf pada dasarnya mirip filsafat Yunani dalam satu hal: sama-sama mencari kebahagiaan. 


Orang Yunani tidak punya agama wahyu, maka mereka mencari jalan kebahagiaan lewat filsafat. Dalam tradisi Yunani, kebahagiaan disebut eudaimonia. Dalam Islam disebut sa‘ādah. Inti agama juga kebahagiaan manusia, di dunia dan akhirat.


Kebahagiaan bukan semata jumlah harta, tapi sikap batin. Memang tetap ada batas minimal kebutuhan hidup. Tapi setelah itu, kebahagiaan terutama ditentukan oleh kondisi hati. Para sufi besar bahkan bisa bahagia tanpa banyak harta, tapi itu butuh latihan panjang.


Hukum tasawuf dalam bekerja

Ajaran Al-Hikam bukan mengajarkan malas. Ini masih wilayah tindakan (af‘āl).


Hukum pertama: kita wajib bekerja, tapi harus sadar bahwa kerja sekeras apa pun tidak bisa menembus takdir Allah. Kalau mentok, jangan putus asa. Karena putus asa membuat hidup tidak bahagia.


Takdir tidak diketahui sebelum kita berusaha. Jadi tetap harus bekerja.


Hukum kedua: setiap orang punya maqam berbeda. Ada orang yang memang maqamnya banyak ibadah dan sedikit urusan dunia. Tapi ada yang maqamnya jadi pegawai, dosen, peneliti, pengusaha, politisi. Kalau maqamnya bekerja di dunia, lalu tiba-tiba berhenti dengan alasan tawakal, itu keliru. Itu malas yang dibungkus tasawuf.


Kebahagiaan itu urusan internal

Inti tasawuf: kebahagiaan itu terutama urusan batin, bukan eksternal.


Harta, jabatan, gaji itu eksternal dan tidak sepenuhnya dalam kendali kita. Gaji bisa dinegosiasi, tapi akhirnya bos atau sistem yang menentukan.


Tapi sikap batin, cara kita merespons hidup, itu wilayah otonomi kita. Kita punya kuasa besar di situ.


Kalau kita tidak bahagia, padahal kebahagiaan itu wilayah batin yang bisa kita kelola, maka kita perlu mengoreksi diri. Jangan selalu menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Allah.


Karena di wilayah batin itulah sebenarnya kemerdekaan manusia paling besar berada.



Bekasi, 8 Februari 2026

Minggu, 11 Januari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (4): Istirahatlah, Biar Allah yang Mengurus

 

Foto bersama santri laki-laki usai Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan ke-4 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 11 Januari 2026. 


*****


أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِه لِنَفْسِك

Istirahatkan dirimu dari mengatur (segala urusan), karena apa yang sudah diurus oleh selainmu (Allah) untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusnya sendiri.


Makna kata “Ariḥ


Kata أرِحْ (ariḥ) berarti istirahat, tenang, rileks. Dalam bahasa kita bisa diterjemahkan sebagai rehat atau santai. Dalam istilah hari ini, bisa disebut sebagai slow living, hidup dengan ketenangan dan tidak penuh kegelisahan.


Maka أرِحْ نَفْسَكَ berarti “tenangkanlah dirimu”.


Hikmah ini berbunyi:


أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu dari mengatur-ngatur (tadbîr)


فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْك

karena apa yang sudah dijalankan oleh selainmu (yakni Allah) untukmu


لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

jangan engkau sibuk menjalankannya sendiri


Ini adalah bagian dari pembahasan besar dalam Al-Hikam tentang tindakan manusia (al-af‘āl). 


Manusia itu hakikatnya adalah makhluk yang bergerak. Selama masih bergerak, ia masih hidup. Kalau berhenti bergerak, barulah ia menjadi jenazah. Maka seluruh Kitab Al-Hikam di bagian awal membahas hukum-hukum tentang tindakan manusia.


Dalam hikmah-hikmah sebelumnya kita sudah belajar bahwa manusia wajib beramal dan berusaha tetapi amal dan usaha tidak boleh dijadikan sandaran mutlak.


Artinya: kita harus bekerja, tapi hasilnya jangan kita anggap sepenuhnya dari usaha kita. Yang menentukan hasil adalah Allah.


Sekarang kita naik ke tingkat keempat: “Istirahatkan dirimu dari mengatur dan mengusahakan segalanya.”


Ini tampak seperti bertentangan dengan perintah bekerja. Tapi di sinilah rahasia tasawuf.


Dalam tasawuf, semua ajaran selalu memiliki dua sisi: Syariat (zāhir) dan Hakikat (bāṭin)


Ibn ‘Ajîbah, salah satu pensyarah Al-Hikam, menjelaskan bahwa banyak ayat dan hadits tampak bertentangan jika dibaca dengan satu dimensi saja.


Contohnya, Al-Qur’an mengatakan: “Masuklah kalian ke surga karena amal kalian.”


Tetapi ada hadits Nabi mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya, termasuk aku.”


Kalau dibaca secara literal, ini tampak kontradiktif. Tapi menurut Ibn ‘Ajîbah: Ayat itu berbicara pada level syariat dan Hadits itu berbicara pada level hakikat. Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.


Maka “jangan mengatur” dalam hikmah ini tidak berarti kita berhenti bekerja, melainkan “jangan menjadikan diri kita seolah-olah sebagai satu-satunya pengatur kehidupan.” Ada “Pengurus Besar” di atas semua pengurus, yaitu Allah.


Seperti kisah cicak yang ditanyakan kepada Kiai Ma‘ruf Irsyad Kudus: “Cicak itu siapa yang memberi makan?”


Jawab beliau: “Kamu tidak usah mengurusi cicak. Sudah ada yang mengurus.”


Atau seperti kisah Abdul Muthalib saat Kakbah hendak diserang Abrahah. Ia tidak panik: “Ini rumah-Mu ya Allah. Kalau Engkau mau menjaganya, Engkau jaga sendiri. Dan benar, Allah mengirim burung Ababil.


Dalam setiap urusan, selalu ada “Ababil” yang dikirim Allah. Kita sering tidak tahu dari mana, kapan, dan bagaimana datangnya, tapi ia selalu datang.


Jadi, usaha itu penting tetapi usaha bukan sandaran. Dan pada level yang lebih tinggi: “kalau sudah ada yang mengurus, jangan gelisah ingin mengurus segalanya sendiri.”


Inilah makna:

أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu, karena ada “Pengurus Agung” yang sedang bekerja.


Kalimat “sudah ada yang mengurus” jangan disalahpahami menjadi “kalau begitu kita tidak perlu berusaha.” Tidak begitu. Hikmah ini hanya berlaku bagi orang yang sudah berusaha.


Orang yang belum berusaha, lalu langsung berkata “sudah ada yang mengurus”, itu keliru.


Ini seperti kaidah dalam makan: “Berhentilah sebelum kenyang.” Kalimat itu hanya berlaku bagi orang yang sudah makan. Kalau belum punya nasi sama sekali, kaidah itu tidak relevan. 


Begitu juga dengan hikmah keempat ini. Ia berlaku bagi orang yang sudah bekerja, sudah berikhtiar, lalu setelah itu punya kesadaran: “Sekarang ini sudah ada yang mengurus.”


Ababil selalu datang artinya bahwa dalam setiap urusan selalu ada pengurus. Dan ketika kita sudah berusaha lalu terjepit, buntu, tidak melihat jalan keluar, Allah akan mengirim Ababil.


Ababil itu selalu ada. Ia datang bukan ketika hidup santai, tetapi ketika kita sudah berusaha, situasi sudah mepet, kita tidak punya jalan keluar, maka di situlah pertolongan Allah datang. Inilah yang membuat hidup menjadi ringan dan bahagia. Inilah makna أَرِحْ نَفْسَكَ — menenangkan diri.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Dalam syarah Ibn ‘Ajîbah dikutip perkataan wali besar Sahl at-Tustarî: “Tinggalkanlah pengaturan-pengaturanmu sendiri, karena itulah yang membuat hidup menjadi ribet.”


Manusia menjadi gelisah karena terus membuat skenario: “Kalau gagal begini, kalau berhasil begitu. Malau A tidak jalan, pakai B. Kalau B gagal, pakai C. Itulah cara berpikir modern yang satu dimensi.


Burung yang hanya punya satu sayap akan berputar-putar, tidak bisa terbang lurus. Orang tasawuf juga berusaha, tapi tidak menjadikan usaha sebagai sandaran mutlak. Karena ketika usaha dijadikan penentu hasil, hidup menjadi berat.


Imam Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

لا تختَرْ من أمرك شيئًا

“Jangan merasa punya hak memilih.”


Ini bukan berarti tidak boleh memilih secara lahir. Kita tetap memilih, melamar pekerjaan, membuat keputusan. Tapi jangan merasa bahwa pilihan kita itulah penentu segalanya. 


Di sinilah muncul kaidah tasawuf yang dalam: Pilihlah untuk tidak memilih. Artinya: secara lahir kita memilih tapi secara batin kita sadar bahwa yang menentukan adalah Allah. 


Contohnya, melamar kerja. Tingkat syariat: Saya memilih melamar kerja di NU Online. Tingkat kedua: Saya diterima, tapi saya sadar bahwa ini bukan semata pilihan saya, ini pilihan Allah. Tingkat ketiga: Jangan sampai saya terpenjara oleh pilihan itu. Saya tidak boleh diperbudak oleh karier dan status. Tingkat keempat: Bahkan usaha untuk “lari” dari keterikatan pun dilepaskan. Inilah yang disebut: lari dari lari.


Semua ini berpuncak pada firman Allah:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Larilah kalian kepada Allah.” 

Dari dunia, menuju Allah. Menjauh dari sesuatu, untuk mendekat kepada-Nya.


Allah adalah Pengurus dari segala pengurus. Syekh Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

إن كان ولا بد من التدبير، فدبّر أن لا تدبّر

“Jika kamu memang harus berusaha, maka usahakanlah untuk tidak mengandalkan usahamu.”


Artinya: Kalau kamu terpaksa harus mengatur dan berusaha, maka iringi itu dengan kesadaran bahwa yang menggerakkan usahamu adalah Allah. Karena di balik usaha kita, ada yang sedang “mengusahakan” kita.


Ada dua orang sama-sama bekerja. Yang satu berkata: “Saya berhasil karena kerja keras saya.” Yang lain berkata: “Saya memang bekerja, tapi kemampuan bekerja ini dari Allah.” Secara lahir sama, tapi secara batin berbeda.


Inilah makna terdalam:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Tenangkan dirimu, karena ada Pengurus di balik semua usaha kita.



Bekasi, 11 Januari 2026

Tentang Perempuan Bernama WIANI: Sosok Tangguh yang Tak Pernah Menutup Pintu Rumahnya

 

Saya bersama ibu di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo (2025) 



Tanggal 11 Januari 2026 menjadi penanda usia ke-67 bagi seorang perempuan yang bagi kami bukan sekadar ibu, melainkan rumah, cahaya, dan arah.

Namanya Wiani—nama yang tidak biasa, penuh sejarah, dan sarat makna. Sebuah nama yang merupakan singkatan dari Wanita Indonesia Anti Netherland Indische. Nama itu diberikan dengan harapan dan semangat oleh kedua orang tuanya: Mbah Maridin Madio Utomo bin Wiro Sutirto dan Mbah Suresmi binti Mangun Suwiryo. Dari namanya saja, sudah tampak bahwa ibu lahir dari semangat perlawanan, dari rahim sejarah yang tak sederhana.

Ibu lahir di Jakarta pada 11 Januari 1959, di tengah keluarga dengan latar belakang abangan-kejawen. Namun jalan hidupnya tidak berhenti pada warisan tradisi semata. Sejak remaja, ibu memilih untuk mencari sendiri jalan keyakinannya. Ia mulai mengaji, belajar ibadah, dan mendalami Islam—bahkan ketika itu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ibu memahami Islam bukan karena warisan, tetapi ia mencari dan menggenggamnya dengan kesadaran penuh, serta menjadikannya pegangan hidup.

Keteguhan itu tidak lepas dari didikan sang ayah, Mbah Madio Utomo, seorang pria asal Surakarta yang pernah menjadi tentara rakyat melawan penjajah. Didikan ala militer yang keras dan disiplin membentuk ibu menjadi pribadi yang tangguh. Hidup tidak pernah diajarkan untuk mudah, tetapi untuk dijalani dengan keberanian dan tanggung jawab. Dari sana, ibu belajar berdiri tegak menghadapi kerasnya kehidupan.

Namun di balik ketangguhan itu, ibu memiliki hati yang begitu lembut. Ia adalah sosok yang mudah luluh ketika melihat kemiskinan dan ketidakadilan. Ada kepekaan yang tidak bisa ia abaikan. Bagi ibu, penderitaan orang lain bukan sesuatu yang bisa ditonton dari jauh—itu adalah panggilan untuk bergerak, untuk membantu, sekecil apa pun yang bisa ia lakukan.

Sejak saya kecil, ada satu hal yang selalu saya ingat: pintu rumah ibu hampir tidak pernah ditutup rapat, kecuali saat malam benar-benar larut atau ketika rumah sedang kosong. Selebihnya, pintu rumahnya selalu terbuka.

Rumah itu menjadi tempat singgah bagi siapa saja—tetangga, kerabat, bahkan orang-orang yang mungkin tidak punya tempat lain untuk mengadu. Di rumah itu, tidak ada sekat antara kaya dan miskin, antara dekat dan jauh. Semua diterima.

Ibu juga tidak memilih-milih dalam bergaul. Ia bisa duduk dan berbincang dengan siapa saja, termasuk dengan orang-orang paling sederhana di lingkungan sekitar. Ia tidak pernah merasa lebih tinggi, tidak pernah menjaga jarak. Justru di situlah letak keindahannya: ibu hadir sebagai manusia yang memanusiakan manusia lain. Sebelum mengenal jargon memanusiakan manusia dari Gus Dur, saya sudah menyaksikannya langsung dari praktik keseharian yang dilakukan ibu.

Jika ada satu hal yang benar-benar melekat dalam diri ibu, itu adalah kemurahan hatinya. Ia tidak segan membantu siapa pun selama ia mampu. Ibu tidak menghitung untung rugi. Bagi ibu, membantu adalah bagian dari hidup, bukan sesuatu yang perlu dipertimbangkan terlalu lama. Tangan ibu selalu lebih cepat daripada pikirannya ketika melihat orang lain membutuhkan.

Meski hidup tidak selalu mudah, ibu tetap menjadi pribadi yang ceria. Ia suka bercanda, tertawa, dan membuat suasana menjadi ringan. Ia tidak mudah tersinggung, tidak menyimpan dendam, dan selalu memilih untuk melihat sisi baik dari sesuatu. Barangkali sifat inilah yang juga menurun kepada kami sebagai anak-anaknya—kemampuan untuk tetap ceria meski hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Menariknya, ibu tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal hingga tingkat sekolah menengah pertama. Namun siapa pun yang berbicara dengannya sering kali tidak menyadari hal itu. Wawasannya luas, cara berpikirnya matang, dan pandangannya terhadap kehidupan begitu dalam. Ibu adalah bukti bahwa pendidikan sejati tidak selalu datang dari bangku sekolah, melainkan dari pengalaman, kepekaan, dan kemauan untuk terus belajar.

Dalam hal mendidik anak, ibu memiliki visi yang jelas: anak-anaknya harus lebih baik darinya. Ia ingin kami memiliki bekal yang lebih kuat, baik secara ilmu maupun iman. Karena itu, ia menempatkan kami—saya dan Mas Nisfu Syawaluddin Tsani—di Buntet Pesantren Cirebon. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ibu ingin anak-anaknya kelak bisa istiqamah dalam mendoakannya.

Untuk Mbak Nia, Wahdaniah Puji Hartami, ibu memiliki harapan yang berbeda tetapi sama mulianya. Ia menyekolahkan Mbak Nia di sekolah menengah farmasi dan kemudian menguliahkannya di UHAMKA jurusan Farmasi, agar kelak menjadi apoteker. Harapannya sederhana namun penuh makna: agar ketika ibu dan bapak menua, ada anak yang bisa menjadi tempat konsultasi dalam urusan kesehatan.

Semua yang ibu lakukan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depan anak-anaknya. Ia mungkin tidak memiliki gelar tinggi, tetapi ia memiliki kebijaksanaan yang tidak semua orang miliki. Ia mungkin tidak hidup dalam kemewahan, tetapi ia kaya dalam kasih sayang dan pengorbanan.

Kini, di usianya yang ke-67, kami menyadari betapa besar peran ibu dalam membentuk siapa kami hari ini. Dari namanya, kami belajar tentang sejarah dan keberanian. Dari perjalanan hidupnya, kami belajar tentang pencarian dan keteguhan. Dari sikapnya, kami belajar tentang kasih, keikhlasan, dan kemanusiaan.

Di usianya yang sudah sangat senja itu, ibu selalu hadir bersama anak-anaknya dalam olahraga rutin bulanan: bulutangkis. Ibu masih sehat dan lincah. Pujian ini bahkan pernah datang dari seorang tak dikenal yang mengajaknya bicara di GOR tempat kami bermain bulutangkis.

Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi kami, anak-anaknya, untuk terus mengabdi. Untuk membalas, meski kami tahu tidak akan pernah sebanding. Untuk menemani, menjaga, dan membahagiakan ibu di sisa usia yang Allah berikan.

Selamat ulang tahun yang ke-67, Ibu Wiani. Semoga sehat selalu, panjang umur, dan senantiasa dalam lindungan-Nya. Dan semoga kami masih diberi kesempatan untuk terus menjadi anak-anak yang bisa dibanggakan—hingga akhir hayatmu bersama bapak.


Bekasi, 11 Januari 2026