“Barangsiapa yang telah mencicip manisnya pertemuan maka harus siap mencecap pahitnya perpisahan.”
Saya tidak pernah benar-benar siap untuk bagian kedua dari kalimat itu.
Sembilan tahun bukan waktu yang singkat atau sekadar hitungan kalender, tetapi kumpulan kenangan, proses jatuh-bangun, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan perjalanan panjang menemukan jati diri. NU Online bagi saya adalah ruang hidup yang ikut membentuk siapa saya hari ini, bukan hanya tempat berkhidmah dan berkarya.
Semua ini bermula pada Januari 2017. Saat itu, saya masih seorang mahasiswa semester lima di jurusan Ilmu Komunikasi, dengan konsentrasi jurnalistik, di Universitas Islam "45" Bekasi (sekarang Univeristas Muhammadiyah Indonesia). Saya sedang berada di fase penuh tanya: ingin menjadi apa, dan bagaimana cara mencapainya?
Jawaban pertama saya temukan ketika mengikuti Kelas Menulis di NU Online.
Di sana, saya bertemu dengan Abdullah Alawi—mentor, senior, sekaligus guru yang membuka jalan pertama saya di dunia jurnalistik. Gaya mengajarnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mengajarkan teknik menulis, sekaligus menanamkan keberanian untuk memulai.
Artikel pertama saya berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim menjadi tonggak penting. Tulisan itu diedit dan diterbitkan langsung oleh Abdullah Alawi pada 16 Januari 2017. Saat melihat nama saya tertera sebagai penulis, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, saya merasa: "mungkin saya memang bisa berjalan di jalan ini".
Dari sana, perjalanan saya dimulai. Saya menjadi kontributor daerah untuk Bekasi, meliput berbagai kegiatan PCNU Kota Bekasi. Di fase ini, saya belajar arti konsistensi. Menulis dan liputan di sela-sela kuliah sekaligus belajar memahami bahwa setiap berita adalah tanggung jawab. Tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah saya ditempa.
Tahun 2020 menjadi babak baru. Saya dihubungi oleh Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (sekarang Redaktur Eksekutif) untuk bergabung sebagai Reporter In-house. Dari sinilah dunia saya melebar. Saya tidak lagi hanya menulis berita lokal, tetapi mulai masuk ke isu-isu nasional, bertemu tokoh-tokoh penting, dan memahami kompleksitas realitas yang lebih luas.
Saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal melaporkan peristiwa, tetapi juga membaca situasi, menggali makna, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.
Lalu datang tahun 2023—fase yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia media.
Pemimpin Redaksi, Ivan Aulia Ahsan, memberi saya kepercayaan menjadi Redaktur desk Polhukam, per 1 Oktober 2023. Sebuah amanah yang tidak ringan. Saya harus mengelola isu, menentukan arah pemberitaan, menugaskan reporter, hingga mengedit naskah dengan ketelitian tinggi.
Di sini, saya belajar bahwa di balik sebuah berita yang terbit, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada pertimbangan ideologi, akurasi data, kekuatan logika bahasa, dan ketajaman sudut pandang.
Saya tidak berjalan sendiri. Saya ditemani oleh tim reporter luar biasa: Haekal Attar, Fathur Rohman, Suci Amaliyah, Mufidah Adzkia, dan Rikhul Jannah. Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga teman seperjuangan. Kami berbagi tekanan, tawa, lelah, dan semangat yang sama setiap harinya.
Jika hari ini saya berdiri di titik ini, salah satu alasannya adalah mereka.
Lalu saya mencapai salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidup saya: mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada 24-27 April 2024.
Bagi saya, UKW bukan sekadar ujian, tetapi refleksi dari seluruh proses yang telah saya jalani sejak 2017. Ketika dinyatakan lulus dan menyandang predikat “berkompeten”, saya merasa seperti menutup satu bab penting dengan penuh rasa syukur.
Bukan karena akhirnya saya “diakui”, tetapi karena saya tahu betul betapa panjang jalan yang telah saya tempuh untuk sampai ke titik itu.
Mengikuti UKW membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang tepat dan mampu melangkah lebih jauh.
Dan kini, 2026.
Saya berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara bertahan di zona nyaman atau melangkah ke ruang baru yang belum pasti. Setelah berpikir panjang, saya memilih yang kedua.
Saya sudah menyatakan undur diri secara lisan dan tatap muka kepada Pemred NU Online Ivan Aulia Ahsan serta Direktur Utama NU Online H Hamzah Sahal. Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan media, saya juga sudah menyatakan undur diri melalui Surat Pengunduran Diri yang saya layangkan ke PT Visi Berkah Bangsa, perusahaan yang menaungi NU Online.
Saya mengakhirkan khidmah saya di NU Online pada 30 April 2026. Lalu per 1 Mei 2026, saya sudah resmi tidak lagi menjadi bagian dari perkhidmahan sebagai kru Redaksi NU Online.
Saya meyakinkan kepada semua orang, terutama para reporter di desk Polhukam NU Online, bahwa saya tidak pergi. Saya hanya sedang melanjutkan perjalanan.
Saya masih Aru yang sama—yang ceria, yang terbuka untuk diskusi, yang bisa ditemui dan dihubungi kapan saja. Tidak ada yang berubah dari diri saya, kecuali keberanian untuk mencoba hal baru.
NU Online akan selalu menjadi rumah kedua saya. Tempat saya belajar menulis dari nol. Tempat saya ditempa menjadi wartawan. Tempat saya mengenal arti tanggung jawab, profesionalitas, dan dedikasi.
Namun, setiap rumah pada akhirnya akan melahirkan seorang perantau. Saya percaya, merantau bukan berarti menjauh tapi justru cara untuk kembali dengan versi diri yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap memberi makna.
Mungkin hari ini adalah perpisahan. Tapi saya percaya, ini bukan akhir dari cerita kita. Suatu hari nanti, ketika jalan yang kita tempuh membawa kita ke puncak masing-masing, kita akan bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita.
Dan kalau saat itu tiba, kita akan tersenyum bangga dan berkata: "perpisahan ini ternyata tidak sia-sia."
Terima kasih untuk semua kawan-kawan di NU Online yang telah membantu, membimbing, dan melangkah bersama saya selama sembilan tahun, sejak 2017 hingga 2026. Maafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik secara lisan atau tulisan maupun berupa konten digital di media sosial saya.
Saya, Aru Elgete, pamit undur diri dan sampai jumpa!
Bekasi, 1 Mei 2026.

0 komentar: