Minggu, 02 November 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (2): Memahami Maqam Diri, Tajrid atau Asbab?

 

Gus Ulil saat mengampu Kitab Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman Ngaji Kitab Al-Hikam bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 2 November 2025.

***

Wa iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbabi minas syahwatil khafiyyah. Wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah.

Salah satu ajaran penting di dalam tasawuf adalah bahwa Allah itu memiliki dua dimensi. Allah itu sendiri tunggal, tetapi dalam keterlihatan-Nya ada dua sisi: al-awwal wal-akhir, az-zahir wal-bathin— yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tidak tampak. Jadi selalu ada pasangan, dua.

Gambarannya seperti pintu yang terdiri dari dua daun. Ada daun pintu yang saling melengkapi. Itu adalah salah satu ajaran penting tasawuf. Karena itu, kalau kita membaca Al-Hikam, kita akan menemukan bahwa hikmahnya itu seperti dua daun pintu: ada satu sisi dan sisi pasangannya.

Bagian pertama: iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbab minas syahwatil khafiyyah—ini satu daun pintu.

Bagian kedua: wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah—ini daun pintu yang kedua.

Ajaran tasawuf selalu begitu: ada khauf dan ada raja', ada keseimbangan. Dalam hidup pun demikian: kalau satu pasangan hilang, hidup menjadi tidak seimbang.

Sekarang maknanya: iradatuka at-tajrid—keinginanmu untuk menyendiri, ‘uzlah, tidak melakukan apa-apa, padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam asbab, yaitu maqam bahwa kamu harus bergaul dengan masyarakat, bekerja, membangun dunia, menjadi dosen, pedagang, petani, atau apa pun. Kamu harus terlibat dalam kehidupan sosial. Itu namanya asbab.

Tiba-tiba kamu ingin menyendiri dan tidak berinteraksi, itu termasuk minas syahwatil khafiyyah atau syahwat yang tersembunyi. Pada dasarnya itu adalah kemalasan, tetapi dibungkus dengan bahasa sufi. Seolah-olah sedang beribadah, padahal lari dari tanggung jawab.

Misalnya orang yang seharusnya bekerja masuk kantor, tapi setiap hari i‘tikaf di masjid. I‘tikaf itu baik, tetapi kalau bukan maqam-nya, itu malah menjadi cara untuk lari dari tanggung jawab. Itu syahwat yang halus. Kadang alasan "ibadah" itu hanya pembungkus. Padahal intinya menghindar dari tanggung jawab.

Sesuatu yang bentuknya baik sekalipun, kalau dasarnya syahwat, tetap tidak baik. Ini ilmu batin. Bentuk boleh religius, tetapi jika motivasinya syahwat, tetap buruk.

Ini teori maqam. Mayoritas manusia berada pada maqam asbab, yaitu harus bekerja, membangun bumi (‘imaratul ardh). Jika orang pada maqam asbab memaksa diri masuk maqam tajrid, maka ia sedang lari dari tanggung jawab.

Sebaliknya, ada orang tertentu yang memang Allah tempatkan dalam maqam tajrid, yaitu menyendiri dan fokus pada ibadah batin. Itu maqam tinggi dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya. Kalau orang maqam tajrid justru ingin turun ke maqam asbab, itu berarti turun derajat.

Pertanyaanya: bagaimana kita tahu ukuran (size) maqam kita?

Dalam akidah, kita diajarkan iman kepada takdir. Allah sudah menetapkan ukuran (size) bagi setiap orang. Seperti pakaian: ada S, M, L, XL. Tubuh kita punya ukuran. Begitu pula batin kita punya ukuran. Kalau orang ukuran tubuhnya L tapi memaksakan memakai baju S supaya terlihat langsing, maka yang terjadi hanya kesempitan dan tidak nyaman. Begitu pula di batin: hidup tidak sesuai maqam itu seperti memakai ukuran yang bukan ukuran kita — tidak nyaman, tidak enak dilihat, dan menyiksa diri.

Ada orang yang sejak awal diberi anugerah untuk mengetahui ukuran dirinya. Tetapi ada juga yang perlu perjalanan panjang untuk mengenal maqamnya sendiri.

Ciri orang yang sudah mengenal ukuran dirinya: ia hidup dengan tenang, bahagia, dan tidak iri pada orang lain. Dia menjalani maqamnya dengan enak.

Karena itu doa kita:
"Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku, maqamku. Dan berikan kekuatan kepadaku untuk istiqamah menjalani maqam itu, tanpa iri kepada orang lain."

Kalau kita hidup sesuai dengan maqam kita, kita enak. Dan orang lain pun enak melihat kita.

Di sini kita sebetulnya temanya tentang tajrid. Tajrid itu artinya hidup yang murni hanya untuk Allah saja. Kita tidak menjalankan asbāb, tidak menjalankan sarana-sarana untuk mencapai sesuatu yang bersifat keduniaan.

Itu tajrid. Memang tajrid ini adalah maqām yang tinggi. Manusia yang beriman itu sebetulnya arah atau tujuan orientasi hidupnya itu harus tajrid.

Asbāb itu hanya wasīlah saja sebetulnya. Tapi intinya tajrid. Nah, tajrid itu ada tiga, kalau kita baca syarahnya:

Wa ammā ‘inda aṣ-ṣūfiyyati, tajrid itu fahuwa ‘alā fanā’ faḍl al-Islām.

Tajrīd az-ẓāhir faqaṭ. Tajrīd dalam tingkat zahir.
Aw al-bāṭin faqaṭ. Tajrīd
batin.
Aw humā ma‘an
, atau dua-duanya.

Tajrīd az-ẓāhir adalah tarkul asbāb ad-dunyāwiyyah wa kharḍul ‘awā’id al-jismāniyyah ‘alā al-jism.

Tajrid az-ẓāhir itu adalah meninggalkan sebab-sebab keduniaan. Kita tidak melakukan ikhtiar duniawi dan melawan kebiasaan-kebiasaan jasmani. Misalnya, mestinya kalau pagi sarapan, kita tidak sarapan. Itu namanya melawan hukum jasmani.

Kalau siang biasanya makan siang, kita tidak makan siang. Sore biasanya ada camilan, kita tidak makan camilan. Itu namanya melawan hukum badan atau hukum jasmani. Kalau malam jam sembilan harusnya sudah tidur, ini tidak tidur. Itu melawan hukum jasmani.

Kalau sampai melawan hukum jasmani itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Latihan rohani itu kadang memang mengharuskan adanya tajrīd az-ẓāhir.

Makanya tradisi orang Jawa, kalau mau punya gawe besar: mau mantu, mau nyunat anak, mau punya perhelatan apa saja, mau mengadakan haul, mau mengadakan pengajian besar, mau mengadakan reuni besar, mengadakan event besar—bahkan event biasa saja—itu sebelum acara biasanya puasa dulu. Itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Tajrīd az-ẓāhir ini diperlukan.

Kadang kalau kita menghadapi perhelatan atau tugas besar, kita harus puasa dulu. Tujuannya supaya hati kita terfokus, terkonsentrasi. Karena biasanya kalau badan kita di tajrid: dia ingin makan, kita tahan tidak makan. Ingin tidur, tidak tidur. Maka hati kita mengalami peningkatan kualitas. Orang kalau puasa itu rohaninya meningkat. Sinyal rohaninya tajam.

Pokoknya kalau menghadapi perkara besar, dianjurkan tajrīd az-ẓāhir.

Puasa, atau begadang malam (tirakat), itu ritual orang Jawa. Tapi tentu ini kalau tidak berlebihan, ada ukuran, ada manfaat rohaninya, bukan ekstrem.

Jadi itu tajrīd az-ẓāhir. Kebutuhan jasmani dikurangi.

Kemudian yang kedua tajrīd al-bāṭin. Tajrīd al-bāṭin yaitu meninggalkan keterikatan batin. Misalnya, kita terikat dengan hal-hal seperti kecanduan menonton film, kecanduan membaca status, bangun tidur langsung cek status. Itu keterikatan mental.

Sekarang ini, dalam era modern, kecanduan itu banyak sekali. Karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan. Rutinitas itu membosankan. Padahal hidup manusia tidak bisa tanpa rutinitas. Kalau tidak ada orang yang bekerja setiap hari jam 7 sampai jam 5, dunia tidak akan berjalan. Rutinitas itu penyangga kehidupan.

Tapi untuk mengatasi rasa bosan itu, manusia lalu mencari pelarian, dan muncullah kecanduan. Kecanduan itu bentuk keterikatan batin.

Satu-satunya keterikatan yang tidak membuat orang kecanduan adalah keterikatan kepada Allah. Makanya manusia modern ingin membunuh Allah dengan harapan bisa bebas. Tapi akibatnya justru muncul Tuhan-tuhan palsu: kecanduan-kecanduan itu.

Obat kecanduan yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh. Tahlil. Menghayati bahwa tidak ada Tuhan asli selain Allah. Kalau hati kita melekat ke situ, kita tidak akan kecanduan.

Kemudian ada juga al-awā’iq al-wahmiyyah yaitu hambatan-hambatan yang bersifat waham (khayalan mental), seperti kecemasan berlebih. Misalnya: nanti kalau begini bagaimana? Kalau begitu bagaimana? Kita terjebak kecemasan.

Tajrīd al-bāṭin adalah melepaskan adiksi-adiksi batin dan kecemasan-kecemasan yang tidak beralasan. Itu yang dalam psikologi modern disebut mental disorder. Sekarang ini memang banyak orang mengalami gangguan mental. Setelah kebutuhan material terpenuhi, dia butuh yang spiritual. Kalau tidak terpenuhi, muncul gangguan mental.

Obatnya adalah melepaskan kecanduan dan kecemasan itu.

Kalau kita bisa tajrīd az-ẓāhir dan tajrīd al-bāṭin, insyaallah hidup kita bahagia. Kuncinya hidup enak itu adalah tahu ukuran diri. Know your level, know yourself.

Sekarang kita masuk penjelasan tentang adab al-mutajarrid dan adab al-mutasabbib. Mutajarrid adalah orang yang makam hidupnya tajrid. Mutasabbib adalah orang yang makam hidupnya asbāb. Keduanya punya tata krama (etika) masing-masing.

Ada orang fakir yang mutajarrid. Ia harus:
1. Menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya.
2. Menyayangi orang yang lebih rendah darinya.
3. Mengetahui ukuran dirinya (‘arif bi maqāmihi).
4. Tidak memaksakan keinginan lalu mencari pembenaran atau justifikasi nafsu.

Kalau seseorang itu salah, ya akui salah. Jangan memvalidasi hawa nafsu.

Adapun orang fakir yang mutasabbib (yang menjalankan sebab, bekerja, punya harta), jika Allah memberikan kelebihan rezeki, maka:
1. Bersahabat dengan orang-orang yang baik.
2. Menjauhi orang-orang yang buruk.
3. Menjaga shalat berjamaah.
4. Membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Masing-masing punya aturan. Kalau kita menjalankan aturan itu, hidup akan harmonis dan membahagiakan.



Bekasi, 2 November 2025

Minggu, 05 Oktober 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (1): Jangan Bersandar pada Amal

 


Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam
Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman pengajian Ngaji Al-Hikam pertemuan ke-1 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 5 Oktober 2025.

***

Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu menggantungkan diri pada kemampuan dan usaha manusia semata. Padahal, manusia memiliki keterbatasan dalam mengontrol segala hal.

Ibn ‘Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menulis:

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja' (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."

Orang yang menggantungkan diri sepenuhnya pada pekerjaan atau usahanya, dan merasa hasil akhir sepenuhnya ditentukan oleh kerja kerasnya, akan mudah stres ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Contoh sederhana bisa kita lihat di negara-negara seperti Jepang atau Jerman. Di sana, semua sistem berjalan sangat rapi. Kereta terlambat satu menit saja sudah dianggap luar biasa. Gus Ulil pernah mengalami sendiri, kereta di Jepang terlambat tujuh menit. Sepanjang perjalanan, petugas berkali-kali meminta maaf. Itu karena keterlambatan seperti itu bisa merusak seluruh jadwal berikutnya.

Beda dengan di Indonesia. Kereta terlambat setengah jam pun dianggap hal biasa. Di Jepang dan Jerman, manusia berhasil menciptakan sistem yang sangat tertib dan efisien, sehingga mereka merasa bisa mengontrol semua variabel kehidupan. Namun, begitu ada sedikit gangguan, semuanya panik.

Itulah makna dari nuqsanurraja' yaitu orang yang terlalu percaya diri pada amal atau usahanya akan kehilangan keseimbangan begitu ada hal yang tidak sesuai rencana. Dalam bahasa sekarang, ini disebut stres atau bahkan “kiamat kecil” bagi dirinya.

Lalu muncul pertanyaan: kalau begitu, apakah amal tidak penting?

Ajaran tasawuf menjawab: amal penting, tapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Ajaran tasawuf itu seperti pintu dengan dua daun. Kalau hanya memegang satu sisi—misalnya hanya menekankan amal, tapi lupa pada hati—maka pintu itu bocor, tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya, kalau hanya bicara hati tanpa amal, hasilnya pincang.

Jadi, amal memang penting, tapi kita tidak boleh menggantungkan harapan sepenuhnya pada amal itu. Amal harus disertai kesadaran bahwa hasilnya bergantung pada kehendak Allah.

Hal ini sama seperti hubungan kita dengan dunia. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi kita juga tidak boleh terlalu melekat padanya. Kekayaan, misalnya, bukan sesuatu yang salah. Yang salah adalah ketika kekayaan menjadi tujuan utama hidup.

Ajaran tasawuf selalu menekankan keseimbangan. Karena pada hakikatnya, seluruh ciptaan Allah selalu berpasangan: siang dan malam, laki-laki dan perempuan, atas dan bawah. Segala sesuatu memiliki dua sisi yang saling melengkapi.

Manusia modern sering terjebak pada ilusi bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka bisa mengontrol segalanya. Dari keberhasilan itulah muncul kesombongan.

Sekarang manusia berusaha “menyelamatkan bumi” dengan slogan save the earth. Itu niat baik, tetapi kalau disertai rasa bahwa manusia mampu menyelamatkan bumi dengan kekuatannya sendiri, itu bentuk kesombongan. Padahal, yang memiliki kuasa penuh atas bumi hanyalah Allah.

Kemajuan teknologi seperti komputer dan quantum computing memungkinkan manusia membuat simulasi kehidupan. Dari situ, manusia bisa memprediksi masa depan, bahkan memprediksi kemungkinan penyakit yang akan diderita seseorang. Tapi semua itu tetap hanya simulasi, bukan kenyataan. Karena masa depan sepenuhnya ada dalam kehendak Allah.

Maka, Islam mengajarkan agar kita selalu berkata insyaallah ketika berencana melakukan sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 23-24:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ ، اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali (dengan mengatakan) ‘insyaallah’.”

Artinya, manusia wajib berusaha, tapi hasil akhirnya tetap dalam kuasa Allah.

Jadi, pemahaman tasawuf harus selalu dilihat dari dua sisi: amal dan kesadaran spiritual. Amal penting, tapi amal bukan satu-satunya sebab. Amal akan bermakna jika disertai kesadaran la haula wa la quwwata illa billah: tidak ada daya dan upaya kecuali karena Allah.

Dalam konteks spiritual, Ibn ‘Athaillah menjelaskan:

"Barangsiapa mencapai hakikat Islam, dia akan selalu beramal. Barangsiapa mencapai hakikat iman, dia sadar bahwa amalnya terjadi karena Allah. Dan barangsiapa mencapai hakikat ihsan, dia menyadari bahwa tiada sesuatu pun selain Allah.”

Jadi, semakin tinggi tingkat spiritual seseorang, semakin dalam kesadarannya bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah, bukan karena dirinya sendiri.


Jamaah perempuan Ngaji Al-Hikam



Bekasi, 5 Oktober 2025

Jumat, 11 Juli 2025

Perjalanan Anak Bekasi Berproses Jadi Jurnalis NU Online Sejak 2017

 

 

Bersama dua reporter Polhukam dan Pemred NU Online


Kelas Menulis NU Online pada awal Januari 2017 membawa saya pada jalan yang tak pernah saya sangka akan menjadi bagian penting dalam hidup saya.


Saat itu, saya hanya seorang mahasiswa semester awal yang penuh semangat menulis tapi belum tahu ke mana harus menyalurkan hasil karya saya. 


Di dalam Kelas Menulis NU Online 2017 itu, saya dibimbing oleh Bang Abdullah Alawi, redaktur senior NU Online, yang dengan sabar menanggapi setiap tulisan saya, seaneh apa pun susunannya. Itulah awal perkenalan saya dengan dunia NU Online. 


Saat kelas masih berlangsung ini, naskah pertama saya dimuat oleh Bang Alawi pada 16 Januari 2017. Tulisan itu berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim. 


Tak lama setelah Kelas Menulis selesai, saya mulai menulis sebagai kontributor NU Online dari Bekasi. Saya meliput kegiatan PCNU Kota dan Kabupaten Bekasi, serta mewawancarai para tokohnya untuk menanggapi isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan. Semua saya lakukan dengan suka cita, tanpa pernah berpikir soal honor. Yang penting tulisan saya tayang, itu sudah cukup membanggakan.


Lalu pada Maret 2019, saya ditelepon oleh Mas Mahbib Khoiron (kala itu sebagai Redaktur Pelaksana, kini Redaktur Eksekutif NU Online). Pesan yang disampaikan cukup sederhana, tapi membekas dalam di hati saya. Kabar itu adalah bahwa tulisan saya sejak 2017 akan dihitung dan dibayar, karena dianggap telah konsisten. 


Bahkan bukan hanya yang lama, tulisan-tulisan saya setelahnya pun akan terus dihargai secara layak. Saat itu saya masih mahasiswa. Bisa dibayar dari menulis adalah kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Ada perasaan dihargai dan diakui.


Saya terus menulis. Hari demi hari. Sampai-sampai saya merasa seperti "humas" bagi PCNU Kota Bekasi. Segala kegiatan mereka hampir tak pernah luput saya tulis. 


Namun pada awal 2020, saya terpaksa sedikit menarik diri. Saya menyusun skripsi, setelah 2 tahun skripsi itu saya biarkan terbengkalai. Di saat yang sama Pandemi Covid-19 datang. Bagi saya, pandemi sebagai blessing in disguise. Momen ini saya manfaatkan untuk menyusun skripsi dan kemudian ikut sidang skripsi pada Juni 2020. Saya dinyatakan lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi yang konsentrasi jurusannya adalah Jurnalistik, dari Universitas Islam "45" Bekasi. 


Belum sempat bernapas lega, di tengah kesibukan merevisi skripsi, Mas Mahbib kembali menghubungi saya, akhir Juli 2020. Ia menawari saya untuk bergabung penuh sebagai reporter nasional NU Online, menggantikan posisi Husni Sahal yang saat itu berpindah tugas menjadi Humas di Kementerian Ketenagakerjaan. 


Tawaran itu datang saat saya bahkan belum terlalu memikirkan akan bekerja di mana. Dunia masih diselimuti kecemasan akibat pandemi. Tapi saya tahu, ini bukan tawaran yang bisa saya tolak. Saya langsung mengiyakan.



Kemudian 10 Agustus 2020, saya resmi mulai bertugas sebagai reporter nasional NU Online. Setiap Senin siang kami menggelar rapat redaksi, dan dari situlah saya mulai rutin meliput berbagai kegiatan PBNU, lembaga dan banom-banomnya, atau mewawancarai narasumber untuk menanggapi isu-isu sosial-politik yang sedang berkembang. Dunia jurnalistik, yang sejak kecil sudah jadi cita-cita, kini benar-benar menjadi ruang hidup saya.


Selanjutnya pada Juni 2022, terjadi perubahan penting di tubuh redaksi. Mas Mukafi Niam, Pemimpin Redaksi kami, digantikan oleh Bang Ivan Aulia Ahsan. Di bawah kepemimpinannya, NU Online berhasil terverifikasi Dewan Pers. Kemudian saya dipercaya untuk menangani desk Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam). Tugas yang tidak ringan, karena saya bersentuhan langsung dengan isu-isu sensitif dan kerap menjadi sorotan publik.


Bertemu para politisi, pengamat, akademisi, bahkan aktivis rakyat menjadi rutinitas saya. Meliput unjuk rasa, membedah kebijakan pemerintah, hingga menuliskan keresahan publik dari kacamata NU yang moderat dan berpihak pada keadilan sosial. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya di desk Polhukam.


Lalu pada 1 November 2023, Bang Ivan kembali mengajak saya naik ke step berikutnya dengan menjadi Asisten Redaktur atau Redaktur di desk Polhukam. Tugas utama saya berubah, dari eksekutor lapangan menjadi perancang arah liputan. Setiap hari saya merancang proyeksi liputan, memastikan isu-isu strategis tidak luput dari pengamatan kami, dan yang lebih penting adalah menyusunnya dengan pendekatan yang tajam dan kritis.


Di desk Polhukam ini, saya tidak bekerja sendiri. Saya ditemani oleh para reporter andal yang tidak hanya tangguh secara teknis, tapi juga peka secara ideologis. 


Ada Haekal Attar, "penjaga gawang" liputan PBNU yang juga tak segan turun ke jalan untuk meliput aksi-aksi rakyat. Ada M Fathur Rohman yang setia menjaga suara rakyat di parlemen dan tajam mengkritik gejala militerisasi sipil di bawah pemerintahan Prabowo. Ada juga Suci Amaliyah, yang saya juluki "wartawan konflik" karena setiap ada gejolak, Suci siap meliput dengan kepekaan dan keberanian.


Hari ini, 11 Juli 2025, NU Online genap berusia 22 tahun. Sebuah perjalanan panjang dan bermakna. Saya pribadi tumbuh bersama NU Online, dari kontributor daerah, menjadi reporter nasional, hingga kini menjadi bagian dari tim redaksi.


Dari pinggiran Bekasi, bahkan pedalaman, karena sekarang saya tinggal di Desa Srimahi, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, saya melangkah masuk ke pusat-pusat peristiwa nasional. Semua itu berkat ruang yang dibuka NU Online yang memberikan kesempatan, makna, dan arah.


Harapan saya untuk NU Online pada usianya yang ke-22 tahun ini sederhana, tapi penting, yaitu tetaplah kritis terhadap oligarki, militerisasi sipil, dan kelakuan pejabat yang di luar nalar. 


Saya berharap, NU Online tak pernah letih menyuarakan kebenaran, apalagi ketika dunia makin penuh dengan kebisingan dan polarisasi. NU Online harus menjadi penjernih, bukan pengabur. Menjadi pelita di tengah gelapnya informasi yang manipulatif.


Bagi saya, NU Online juga harus terus memberi ruang bagi penulis muda dari pelosok-pelosok kampung seperti saya dulu, yang bermodal semangat dan keyakinan bahwa menulis adalah cara mencintai Indonesia dengan cara yang paling jujur.

Jumat, 06 Juni 2025

6 Juni Ke-31




Hari ini, 6 Juni 2025, saya sudah berusia 31 tahun. Hari ulang tahun merupakan momen yang secara pribadi saya maknai sebagai titik balik untuk merefleksi dan menata ulang arah hidup. 


Saya punya kebiasaan melakukan perenungan mendalam setiap lima tahun sekali—sebuah jeda yang saya beri ruang dalam hidup untuk mengevaluasi siapa saya, ke mana saya akan melangkah, dan apa yang ingin saya maknai dari seluruh perjalanan ini? 


31 tahun bukan angka yang kecil. Sebab di balik angka ini telah menyimpan banyak musim, jatuh-bangun, luka, tawa, dan keputusan-keputusan penting. 


Dalam lima tahun terakhir, saya seperti dihadapkan pada cermin besar yang memperlihatkan siapa diri saya sebenarnya? Saya merasa bahwa hidup bukan sekadar bertujuan agar terlihat baik di mata orang lain. Sebab dari situlah pelajaran-pelajaran penting mulai muncul satu demi satu.


Saya belajar bahwa hidup tak selalu bisa dikendalikan. Namun kini saya sudah agak bisa mengendalikan cara merespons yang baik atas sesuatu. 


Salah satu proses terbesar dalam hidup saya beberapa tahun belakangan ini adalah belajar mengelola emosi. Saya dulu lebih mudah terbakar: marah, kecewa, cemas, atau merasa disalahpahami. 


Namun perlahan, saya mulai belajar untuk menahan diri. Saya belajar diam ketika ingin bereaksi keras. Saya belajar menunda respons saat hati sedang bergejolak. Ternyata, kemampuan untuk tidak segera menanggapi segala hal adalah bentuk kedewasaan yang mahal.


Ego juga bukan hal mudah untuk dikendalikan karena sering kali menyamar sebagai kebenaran, padahal hanya keinginan untuk merasa benar. Saya belajar untuk meredam ego, meskipun secara perlahan. Saya mulai mengerti bahwa mengalah bukan berarti kalah, bahwa mendengarkan bisa lebih kuat daripada berbicara, dan bahwa memaafkan bukan bentuk kelemahan, melainkan kebebasan. Hal-hal ini tak bisa saya kuasai sepenuhnya, tetapi kini saya sadar bahwa itu penting.


Saya juga merasa kemampuan saya dalam menganalisis masalah berkembang. Saya tidak lagi buru-buru menilai sesuatu dari permukaan. Saya mulai belajar melihat akar persoalan, membaca konteks, dan memahami sisi lain dari cerita yang tampaknya keliru di awal. Kematangan membuat saya sedikit lebih bijaksana dalam bersikap. Saya mulai tahu kapan harus bertindak, kapan cukup diam, dan kapan harus benar-benar pergi? 


Bagian yang paling melegakan dari perjalanan ini adalah saya mulai bisa berdamai dengan masa lalu saya. Dulu, saya terlalu sering membenci bagian-bagian dari hidup saya yang gelap dan menyakitkan. Saya merasa itu harus dilupakan, disembunyikan, atau dihapus. Tapi belakangan saya sadar: masa lalu itu bukan musuh. 


Tanpa luka, saya tidak akan punya empati. Tanpa rintangan, saya tidak akan tahu cara untuk bertahan. Sekarang, saya bisa menatap ke belakang tanpa dendam, tanpa amarah. Hanya ada rasa syukur dan pengertian.


Saya juga memegang satu amanah penting dari ibu untuk menjadi pribadi yang menyenangkan di mana pun saya berada. Pesan ini saya maknai bukan dalam artian harus selalu lucu atau menuruti semua orang, tapi bisa menjadi sosok yang membuat orang lain merasa nyaman, didengar, dan diterima.


Saya ingin, setidaknya, kehadiran saya di sebuah lingkaran pergaulan bisa membuat hati orang lain sedikit lebih hangat. Sebab saya percaya, hidup bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling mampu membuat kehidupan ini lebih manusiawi bagi orang lain. 


Hari ini, saya tidak menginginkan sesuatu yang muluk-muluk. Saya hanya berharap bisa menjadi lebih jujur kepada diri sendiri. Saya ingin mengenal kesejatian diri saya lebih dalam lagi. 


Kesejatian diri itu bukan hanya soal identitas sosial, profesi, atau peran-peran yang saya mainkan di hadapan orang lain, tetapi diri saya yang asli—yang barangkali sedang bersembunyi di balik tuntutan, ekspektasi, dan rutinitas harian.


Saya tahu perjalanan ini belum selesai. Barangkali malah baru dimulai. Namun saya ingin menempuhnya dengan lebih tenang, lebih ikhlas, dan lebih rendah hati. Saya tidak ingin lagi terjebak pada perlombaan membuktikan diri. Saya ingin berjalan dengan tujuan, bukan dorongan serta dengan keyakinan, bukan ketakutan.


Selamat ulang tahun untuk diri saya sendiri. Terima kasih sudah bertahan, sudah mencoba, dan sudah bangkit berulang kali. Terima kasih juga karena sudah memilih untuk terus tumbuh, bahkan di tengah rasa lelah. Semoga lima tahun ke depan saya bisa melihat kembali tulisan ini dan berkata, “Terima kasih karena sudah memulainya dengan baik.”

Kamis, 13 Juli 2023

Pidato Lengkap Gus Yahya: Strategi Membangun Perdamaian di ASEAN dan Indo-Pasifik



Gus Yahya dalam Sosialisasi ASEAN IIDC di Palembang, 10 Juli 2023. (Foto: NU Online)


Kita tahu bahwa globalisasi telah menjadikan dunia ini mengarah kepada satu wujud kampung raksasa, dimana tidak ada satu orang atau satu kelompok bisa mengasingkan diri dari yang lain. Kita ini terpaksa harus bersinggungan dengan siapa pun yang tinggal bersama-sama kita di atas bumi yang kecil ini. Tidak lagi mungkin satu peradaban tumbuh sendiri, terpisah dari peradaban yang lain. Dunia masyarakat global ini akan terus mengarah pada terwujudnya satu peradaban tunggal yang saling bercampur satu sama lain. 


Di dalam keadaan seperti ini, maka isu tentang perbedaan itu menjadi semakin krusial. Dulu orang bisa dengan mudah memelihara cirinya sendiri walaupun berbeda dari yang lain, tanpa saling mengganggu, karena ada ruang-ruang yang memungkinkan setiap kelompok hidup dan tumbuh sendiri terpisah dari yang lain. 


Dulu, pada masa yang jauh, Wong Kito (di Palembang) ini, tidak perlu harus berurusan dengan Reng Madureh (orang Madura). Tapi sekarang ini, apa boleh buat, Reng Madureh jadi Ketua PWNU Sumatra Selatan. Ini perkembangan yang meluas di mana-mana. 


Dulu misalnya di Inggris tidak terbayangkan ada orang India, apalagi jadi Perdana Menteri, jadi wali kota saja tidak terbayangkan. Belum lama itu, tahun 1980-an, 1990-an, orang belum bisa membayangkan bahwa di Inggris ada wali kota orang keturunan India. Tiba-tiba belakangan ada wali kota London yang keturunan Pakistan, dan kemudian Perdana Menteri Inggris orang keturunan India. Bagaimana mungkin? Ini karena dunia ini cenderung mengarah kepada satu kampung yang besar dalam satu peradaban tunggal yang saling bercampur. 


Dalam keadaan demikian, sekali lagi, isu-isu tentang perbedaan ini krusial sekali. Orang yang tadinya bisa nyaman memelihara cirinya sendiri-sendiri tanpa terganggu oleh orang lain karena bisa memisahkan diri dari yang lain; sekarang orang saling berbeda terpaksa harus bertemu dan terpaksa harus terlibat dalam urusan bersama, dalam keadaan saling berbeda. Nah, maka jelas bahwa peradaban yang kita hidupi bersama ini membutuhkan unsur-unsur yang dapat memelihara harmoni di antara kita semua, di tengah-tengah perbedaan yang kita miliki ini. 


Di masa lalu yang belum lama juga, baru kira-kira satu abad yang lalu, orang kalau satu peradaban atau satu kelompok aspirasi sosial-politik tertentu ketika bertemu dengan kelompok yang lain, yang terjadi ya konflik begitu saja, dan perang begitu saja. 


Dan ketika globalisasi ini mulai berkembang, kemudian terjadi aliansi-aliansi di antara satu kelompok kepentingan politik dengan kelompok kepentingan politik yang lain membangun persekutuan militer, dan kemudian saling berbenturan di antara konsolidasi kekuatan militer besar secara internasional melawan kekuatan militer besar yang lain. 


Itulah yang kita alami belum sampai satu abad lalu dengan Perang Dunia II yang sebelumnya juga sudah terjadi dalam Perang Dunia I, dan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang luar biasa yang tidak ada preseden sebelumnya, belum pernah terjadi sebelumnya. 


Sebetulnya sejak setelah perang dunia itu, sudah ada kesadaran di kalangan masyarakat internasional untuk menginisiasi satu tatanan yang baru, yang bisa memaksa semua orang, walaupun berbeda-beda untuk mengembangkan kemampuan hidup berdampingan secara damai. Maka lahirlah Piagam PBB yang kemudian disusul dengan operasionalisasi PBB sebagai organisasi pada 1945. Kita tahu dalam sejarah bahwa ini bukan hal yang mudah. 


Sesudah konsensus internasional itu sendiri, dunia ini bukannya lalu tiba-tiba menjadi dunia yang aman damai tanpa ada konflik. Sampai hari ini, konflik di antara aspirasi politik yang berbeda-beda juga aspirasi ekonomi yang berbeda-beda juga masih saja berlangsung, masih saja muncul sampai sekarang.


Ada kawasan-kawasan di dunia ini yang memang masih bergolak karena konflik antar kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi yang berbeda-beda itu. 


Nah, menjadi tanggung jawab semua orang. Menjadi tanggung jawab setiap manusia sebetulnya untuk memikirkan bagaimana caranya supaya masyarakat manusia di atas bumi yang kecil ini, di masa depan sungguh-sungguh mampu untuk mengembangkan kehidupan yang harmonis di antara perbedaan-perbedaan yang mereka miliki itu. Karena apabila tidak, maka tidak ada arah lain dari konflik antarperbedaan itu yang kemungkinan terus terjadi di antara manusia selain kehancuran bersama. 


Kalau konflik-konflik yang ada ini kita biarkan dan potensi-potensi konflik kita perbolehkan untuk berkembang menjadi konflik-konflik yang aktual, tidak ada masa depan bagi dunia ini selain kehancuran bersama. Tidak akan ada pemenang, yang ada adalah semua kalah. 


Itu sebabnya saya mengikuti, saya yakin betul dari ajaran guru kami, dari teman-teman NU ini yaitu KH Abdurrahman Wahid yang mengatakan bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk membantu Islam selain dengan menolong kemanusiaan seluruhnya. 


Karena kalau hanya berpikir tentang Islam saja, dengan mengabaikan yang lain, apalagi dengan menganggap yang lain sebagai rintangan, maka Islam bukannya akan mencapai kemaslahatan tetapi justru akan terbentur kepada konflik-konflik yang tidak berujung dan tidak akan memenangkan apa-apa, selain hancur bersama-sama yang lain.  


Nah, Indonesia sebagai pemegang presidensi ASEAN, kita tahu insyaallah akhir Agustus atau awal September 2023 yang akan datang, akan digelar Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Indonesia telah mengumumkan proposal agenda besar untuk KTT ASEAN ini yaitu menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan, sebagai epicentrum of growth


Nah kita membaca bahwa tawaran yang diajukan itu memang lebih banyak yang menyangkut ekonomi, menyangkut kesejahteraan, menyangkut kemakmuran kawasan. Nah, memang semua orang juga melihat bahwa kawasan ASEAN ini adalah kawasan yang kaya dari segi sumber daya alam, dari segi populasi, dari segi potensi-potensi kapasitas yang lain, ini lengkap dengan unsur-unsur yang menjamin sukses-sukses ekonomi bagi kawasan ini. 


Tapi kita juga perlu berpikir tentang skenario-skenario yang mungkin bukan yang terbaik. Di antara potensi yang bisa menjadi hambatan bagi agenda membangun epicentrum of growth itu adalah jelas potensi-potensi konflik. Karena ASEAN ini di samping merupakan satu kawasan dengan potensi ekonomi yang besar, ini juga kawasan dengan heterogenitas yang luar biasa. ASEAN ini sangat heterogen. 


Jadi, misalnya orang Indonesia ini tidak bisa berpikir hanya bahwa di Indonesia ini penduduk Muslimnya mayoritas. Karena di bagian-bagian lain di ASEAN ini ada masyarakat-masyarakat yang populasi Muslimnya minoritas. Ada yang sangat krusial, populasi Muslimnya minoritas tapi ukurannya besar sekali, seperti di India. 


Kalau di Indonesia ini, menjadi negara mayoritas Muslim terbesar di dunia yang nomor dua itu di India, tapi minoritas. Kalau kita punya sekitar 250-an juta populasi Muslim, di India itu sudah sekitar 200 juta, dan diperkirakan tahun 2050 nanti populasi Muslim di India kemungkinan jadi lebih banyak daripada Indonesia, tapi minoritas di tengah penduduk India yang lebih 1,5 miliar kira-kira.


Menurut statistik secara keseluruhan, saya belum lama juga mendengar ini, mendapatkan data ini, bahwa di seluruh kawasan Indo-Pasifik ini, Indo-Pasifik itu adalah kawasan di sekitar Samudera Hindia dan sekitar Samudera Pasifik, mulai India sampai Filipina sampai Australia, ini Indo-Pasifik. Nah di kawasan Indo-Pasifik ini, kalau dilihat prosentase populasinya, mayoritas Buddha. Jadi ada 43 persen penduduk Indo-Pasifik ini beragama Buddha, yang Muslim itu cuma 42 persen. Ini data yang saya sendiri baru, belum lama saya dapat. Selebihnya yang lain-lain. 


Nah, maka ketika kita berpikir tentang agenda ekonomi, dan berpikir tentang strategi untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi, walaupun saya ingat dulu dalam pelajaran ekonomi sejak SMA itu teori-teori ekonomi itu biasanya Ceteris Paribus, biasanya itu ini bisa tercapai asalkan tidak ada variabel-variabel yang lain, tapi kan dalam realitas ini variabel segala macam campur aduk, termasuk variabel-variabel berupa perbedaan-perbedaan budaya dan agama. 


Maka ketika kita berpikir tentang strategi untuk membangun episentrum pertumbuhan, membangun pusat pertumbuhan ekonomi di ASEAN ini, yang nantinya jelas kita berharap akan meluas ke seluruh kawasan Indo-Pasifik, kita harus berpikir juga tentang variabel-variabel yang lain, termasuk variabel-variabel heterogenitas masyarakat ASEAN dan Indo-Pasifik ini yang berpotensi mendorong terjadinya konflik-konflik sehingga bisa menghambat agenda membangun epicentrum of growth itu sendiri. 


Maka dari wawasan ini, kami mencoba berpikir tentang satu sumbangan yang mungkin berguna bagi pergulatan ASEAN untuk membangun epicentrum of growth ini, yaitu dengan memperhatikan dan berpikir tentang variabel-variabel di luar variabel-variabel ekonomi itu sendiri. 


Kita tahu bahwa kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini heterogen, tapi juga kita tahu bahwa masyarakat di kawasan ini sebetulnya memiliki warisan budaya dan peradaban yang kurang lebih sama. Kalau dirunut-runut, memang sejarah mencatat bahwa ada satu masa ketika seluruh kawasan Indo-Pasifik ini mengadopsi satu karakter, satu warna budaya yang sama. 


Pada abad ke-3 masehi, di India ada raja besar yaitu Raja Asoka yang setelah menghabiskan separuh kekuasaannya dengan peperangan dan pembantaian yang luar biasa, entah bagaimana kemudian berbalik menjadi raja yang mempromosikan toleransi dan harmoni. 


Kampanye untuk toleransi dan harmoni yang dilancarkan Raja Asoka ini dilakukan dengan sangat deliberate dan dengan pengerahan kapasitas besar-besaran sehingga mencapai ke ujung-ujung Indo-Pasifik. Salah satunya tercatat di Nusantara ini. 


Maka kita pilih Palembang sebagai tempat pertemuan untuk Indonesia di wilayah Barat ini, sebelum ini beberapa waktu lalu kita sudah lakukan pertemuan seperti ini, sama seperti ini untuk Indonesia Bagian Timur di Surabaya. Nah sekarang, hari ini kita selenggarakan pertemuan untuk Indonesia Bagian Barat di Palembang. 


Sengaja pilih Palembang karena sejarah mencatat bahwa Palembang ini menjadi salah satu basis, salah satu aktor peradaban yang menjadi began sangat kuat dari kampanye toleransi dan harmoni dari Asoka itu. Palembang ini, saya sudah pernah menyebut ketika dalam Peringatan Harlah Ke-99 NU dulu di Palembang ini, kita sengaja memilih Palembang sebagai salah satu tempat penyelenggaraan peringatan harlah ini karena Palembang ini adalah pewaris Sriwijaya.


Nah, Sriwijaya ini adalah suar peradaban yang paling kuat dalam sejarah Nusantara ini di dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi dan harmoni itu. Di sini dulu ada kerajaan Sriwijaya yang berhasil mempersatukan sebagian besar dari Nusantara, dan saya katakan merupakan inisiatif berskala peradaban yang dilakukan di kawasan Nusantara ini, dan berhasil bertahan lama sampai 7 abad, dari abad ke-7 sampai abad ke-14, sehingga mewariskan nilai-nilai budaya dan peradaban secara sangat dalam di tengah masyarakat. 


Baru di Surabaya saya katakan, ketika Majapahit mengumumkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sebetulnya adalah warisan dari Sriwijaya. Jadi, Majapahit ini yang pertama kali mengalami kontroversi perbedaan agama di lingkungan kekuasaan di dalam sejarah politik Nusantara ini.


Karena di mana-mana, dulu itu, sebetulnya bukan hanya di Nusantara tapi di seluruh sejarah peradaban dunia umat manusia di mana-mana, kalau kita bicara dari Sumeria, Mesir Kuno, Romawi Kuno, sama, bahwa peradaban itu bangkit di atas basis utama berupa dua komponen dasar yaitu etnik dan agama. Satu etnik tertentu membawakan gagasan agama tertentu, agama dalam pengertian luas, termasuk agama-agama Pagan, membentuk satu konsolidasi politik, sehingga kita tahu bahwa dari setiap peradaban yang pernah lahir itu ada dua unsur itu; etnik dan agama. Satu agama tertentu dijadikan identitas sebagai satu etnik tertentu untuk melakukan satu konsolidasi politik. 


Majapahit itu pertama kali kontroversi perbedaan agama di lingkungan elitenya. Ketika kemudian ada sebagian elite politik Majapahit, lingkungan keluarga Kraton, yang di samping memeluk agama Buddha, sebagian lain memeluk Hindu, sehingga terjadi kontroversi dan itu diselesaikan oleh Mpu Tantular di dalam Sutasoma dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika; yang berbeda-beda itu sebetulnya Satu, karena Tan Hana Dharma Mangrwa; tidak ada kebenaran yang terbelah. Kalau sudah benar, pasti Satu. Kalau masih terbelah, belum satu, berarti belum benar. 


Bisa kita lihat, gagasan macam ini pertama bahwa perbenturan di antara aspirasi yang berbeda pasti bukan hanya terjadi di Majapahit saja, di tempat-tempat lain pasti juga terjadi. Di Kamboja, Thailand, Syam, pada masa-masa itu sekalipun, termasuk di India, di Cina mungkin, dan berbagai kawasan peradaban yang lain. Tetapi gagasan tentang Bhinneka Tunggal Ika muncul, lahir di Majapahit. Ini unik sekali karena menjadikan Majapahit kerajaan pertama di sepanjang sejarah peradaban umat manusia yang menyatakan menolak identitas agama bagi negara. Belum pernah terjadi sebelumnya. 


Kalau kita lihat kerajaan-kerajaan lain sepanjang sejarah, semuanya mengadopsi satu identitas agama tertentu. Tetapi Majapahit mengatakan, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Sekali lagi, perlu diingat bahwa gagasan ini lahir di Majapahit.


Saya yakin bahwa lingkungan budaya Majapahit memungkinkan bagi lahirnya gagasan tentang Bhinneka Tunggal Ika ini pasti tidak lepas dari warisan Sriwijaya yang begitu dalam. Karena ini sekuensial antara Sriwijaya dengan Majapahit, dan nyaris menjadi satu kontinuitas dari Sriwijaya ke Majapahit, kalau kita lihat dari dinamika kultural dan peradabannya. 


Maka kita dihadapkan atau bisa melihat tampilan dari satu potensi peradaban besar yang luar biasa yang pasti akan berguna apabila kita kapitalisasi sebagai satu strategi untuk membangun kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini. Karena sudah dalam catatan sejarah itu, masyarakat kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini sebetulnya dulu pernah mengalami satu kesatuan peradaban yang dibangun di atas nilai-nilai toleransi dan harmoni. Warisan peradaban semacam ini pasti tidak bisa hilang begitu saja. Pasti akan menjadi jejak naluriah bagi masyarakatnya. 


Bisa kita lihat, Palembang ini misalnya, karena Palembang ini adalah pewaris peradaban Sriwijaya yang merupakan peradaban maritim yang begitu besar, maka kita bisa lihat sekarang masyarakat Palembang ini satu-satunya yang berhasil membangun kapal selam dari tepung ketan. Luar biasa. Ini menarik sekali kok bisa imajinasinya kapal selam? Padahal kalau di tempat saya, bentuk semacam itu cemilan genting. Di sini kok imajinasinya kapal selam. Saya kira ini karena warisan naluri peradaban sehingga imajinasinya orang Palembang itu dihubungkan ke kapal selam. 


Kita bisa berharap bahwa apabila ingatan kolektif tentang peradaban, tentang warisan peradaban bersama ini, yang meliputi kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini, kita bangkitkan, ini bisa menjadi strategi untuk membangun kebersamaan di tengah-tengah heterogenitas yang semakin tajam dengan datangnya macam-macam pengaruh baru. 


Kita tahu bahwa kalau perbedaan-perbedaan yang ada sekarang ini, yang ragamnya semakin banyak. Dulu itu, misalnya, Islam yang masuk ke Nusantara ini, itu satu brand saja yang masuk. Sampai dengan awal abad ke-20 sebetulnya Islam di Indonesia satu brand saja, jadi tidak ada macam-macam kayak sekarang ini. Nah sekarang tiba-tiba ada Al Zaytun, ada FPI, macam-macam itu kan karena masuknya pengaruh-pengaruh baru ini. 


Nah, keberagaman yang sedemikian tajam dan banyak ini harus kita atasi dengan cara apa? Kalau prinsip strateginya, tempo hari sudah saya tawarkan dalam salah satu forum yang disebut sebagai International Forum of Religious Freedom di Washington DC, bahwa prinsip dasar untuk membangun koeksistensi damai di antara kelompok-kelompok yang berbeda itu adalah pertama-tama kita perlu identifikasi dulu apa nilai-nilai bersama yang sudah kita pegangi bersama-sama? 


Kenyataannya walaupun kita berbeda kelompok tapi ada nilai yang sama dan yang sama-sama kita yakini. Walaupun misalnya yang satu Islam, yang satu Kristen, yang satu Katolik, yang satu Hindu, Buddha, dan sebagainya, tapi di antara yang berbeda-beda ini ada nilai-nilai yang semuanya setuju. Misalnya nilai tentang kasih sayang, nilai tentang keadilan. Ini nilai-nilai yang kita semuanya setuju. Nilai tentang ikatan keluarga, semuanya setuju. 


Jadi kita identifikasi nilai-nilai yang memang sudah kita pegangi bersama. Nilai yang memang kita sudah saling berbagi. Itu kita pegangi sebagai titik tolak wawasan bahwa kita ini sebenarnya punya agenda bersama, wong nilainya sama kok. Berarti walaupun kita kelompok yang berbeda-beda tapi kita bersama-sama punya agenda yang sama, berdasarkan nilai-nilai yang kita pegangi bersama itu. 


Selanjutnya, mari kita identifikasi nilai-nilai apa yang harus kita kembangkan, supaya kita tidak lagi terdorong untuk berkonflik satu sama lain. Kalau perlu dengan merekontekstualisasi dengan mengadaptasikan, menyesuaikan, membuat penyesuaian-penyesuaian terhadap nilai-nilai yang lama, yang tadinya mendorong konflik. 


Tempo hari saya satu forum dengan Pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta. Saya jadikan contoh bagaimana hubungan Muhammadiyah dengan NU itu. Dulu itu, ada nilai di dalam lingkungan NU itu yaitu tidak boleh besanan dengan orang Muhammadiyah. Orang NU cari jodoh orang Muhammadiyah itu tidak boleh. Orang NU punya menantu subuhan nggak qunut itu bencana besar, dulu itu. Demikian juga orang Muhammadiyah, sebaliknya.


Tapi karena kemudian ada kesadaran bersama tentang kebutuhan untuk membangun, memelihara, dan menjaga bangsa ini bersama-sama, maka masing-masing bersedia mengoreksi. 


Ini ada contoh yang ekstrem sekali di masa lalu. Di Rembang, di tempat kelahiran saya sendiri, dulu itu ada kiai yang sangat anti-Muhammadiyah. Nah sementara itu, ada kiai lain yang Muhammadiyah. 


Sebetulnya di antara mereka ini hubungan di permukaan baik-baik saja, sehingga saling mengunjungi satu sama lain. Tapi kiai yang anti-Muhammadiyah ini, itu kalau ketamuan kiai Muhammadiyah, temannya itu, ya diterima, disambut dengan baik, dengan sopan. 


Tapi begitu si tamu Muhammadiyah ini pulang, dia panggil orang-orang untuk membawa kursi yang tadi diduduki itu ke laut supaya dicuci tujuh kali, salah satunya dengan pasir. Itu sangking antinya kepada Muhammadiyah, ekstrem sekali. Tapi belakangan, putra dari kiai ini menjadi ketua cabang Muhammadiyah di Rembang. 


Ya sekarang orang sudah mau saling mengoreksi. Walaupun kadang-kadang lahir gagasan-gagasan berbeda yang baru. Tapi pada dasarnya ada kemauan, sudah ada nilai yang ditegakkan untuk saling bertoleransi satu sama lain. Walaupun kemudian muncul perbedaan-perbedaan baru. Seperti contohnya NU-Muhammadiyah itulah. 


NU-Muhammadiyah itu kan tadinya saling ada perbenturan yang tajam, tapi kemudian masing-masing mau melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam nilai-nilai ini sehingga berhasil membangun kehidupan berdampingan secara damai, sehingga tetap saja bisa saling mentolerir walaupun lahir perbedaan-perbedaan baru, seperti soal hisab-rukyah ini. 


Ini teman-teman Non-Muslim mungkin tidak terlalu concern dengan ini. Tapi ini salah satu ilustrasi bahwa dulunya misalnya Muhammadiyah itu yang mengusulkan sidang isbat. Dulu pada zaman orde baru, supaya ada sidang isbat di Kementerian Agama. Itu yang mengusulkan Muhammadiyah.


Nah dulu prinsipnya masih sama, sama-sama rukyah atau kalau hisab ya imkanur rukyah itulah, itu istilah teknis sekali. Teorinya sama untuk hisab itu pakai teori yang sama. Nah sekarang tiba-tiba Muhammadiyah itu membuat teori baru soal ini, sehingga menghasilkan elemen perbedaan yang baru. Tapi kita bisa melihat bahwa bisa mentolerir satu sama lain. 


Bahkan, kemarin ketika ada usulan untuk membuat hari libur Idul Adha untuk masing-masing tanggal yang diyakini, akhirnya bisa dibuat kompromi, ya sudah kita bikin cuti bersama, sehingga liburnya lebih lama, tiga hari. 


Ini hal-hal yang sebetulnya merupakan ilustrasi dari kemauan dan kemungkinan. Artinya, bahwa ini bisa dilakukan untuk membuat penyesuaian-penyesuaian di dalam nilai-nilai kita supaya kita bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau kita mampu masing-masing membuat penyesuaian, kita bisa damai. 


Ini seperti yang dilakukan oleh NU misalnya pada tahun 2019, kami menyelenggarakan Munas Alim Ulama di Banjar dan kami menyatakan bahwa kategori Non-Muslim, status Non-Muslim tidak punya relevansi hukum di dalam konteks negara-bangsa modern. Ini adalah rekontekstualisasi. 


Dulunya kalau dalam wawasan Islam yang lama, yang namanya Non-Muslim itu wajib didiskriminasi. Wajib. Makanya ada ide tentang kafir harbi, dzimmi. Kafir harbi itu berarti harus diperangi. Kafir dzimmi ini kafir yang dijadikan warga negara kelas dua. Itu dalam wawasan lama. 


Tapi karena kita sadar bahwa di tengah-tengah konteks realitas kita hari ini tidak mungkin mempertahankan nilai-nilai itu, maka harus dibuat rumusan baru, sehingga NU menyatakan bahwa status kafir, status Non-Muslim tidak punya relevansi hukum di dalam konteks negara-bangsa modern karena setiap warga negara harus setara di depan hukum. Ini salah satu contoh.


Nah hal yang sama sebetulnya sudah dilakukan oleh Gereja Katolik pada tahun 1965 dalam Konsili Vatikan II ketika Gereja Katolik mengatakan bahwa ada keselamatan di luar Gereja Katolik. Itu berarti penghargaan terhadap perbedaan.


Nah tahun 2016 itu ada satu kelompok Yahudi yang menyebut dirinya sebagai gerakan Masorti. Gerakan ini mereka mengklaim sebagai Yahudi konservatif tapi bukan ortodoks. Konservatif tapi bukan ortodoks. Mereka masih memegangi warisan-warisan tekstual dari wacana agama Yahudi tapi mereka bersedia melakukan rekontekstualisasi. Jadi kira-kira ini Yahudi-NU lah. Mirip dengan NU, konservatif tapi tidak ortodoks. 


Mereka melakukan hal sama. Tahun 2016 itu ada pertemuan rabi-rabi di kalangan Yahudi Masorti yang kemudian menghasilkan dokumen yang mereka sebut sebagai Teshuvah atau dokumen pertobatan. Di situ dengan terang-terangan dan jujur sekali, rabi-rabi Yahudi ini membuat tinjauan kritis terhadap gagasan dalam wawasan agama Yahudi yang menganggap Non-Yahudi sebagai manusia kelas dua. 


Karena di dalam khazanah wacana Yahudi itu ada yang menyatakan bahwa Non-Yahudi yang mereka sebut sebagai gentile,  manusia yang derajatnya lebih rendah dari orang Yahudi. Bahkan ada satu dokumen menyatakan bahwa kalau orang Yahudi itu diciptakan dari cahaya, tapi manusia lain diciptakan dari api. Jadi ini mirip urusan malaikat sama setan kalau dalam wacana Islam. Itu ada begitu-begitu dan ini ditinjau secara kritis oleh Gerakan Yahudi Masorti ini dan mereka membuat usulan tentang rekontekstualisasi bahwa nilai-nilai semacam ini tidak bisa lagi diteruskan, harus direkontekstualisasi. 


Ini menunjukkan bahwa sebetulnya membangun konsolidasi untuk harmoni di tengah perbedaan itu mungkin bisa dilakukan dan sudah dilakukan. Kita tinggal melakukan kapitalisasi dari semua ini untuk membangun strategi yang lebih kuat ke depan. Jadi, sekali lagi kita perlu mengidentifikasi nilai-nilai apa yang harus kita tegakkan supaya kita bisa saling toleransi di tengah perbedaan. 


Nah kalau sudah begitu yang nilai-nilai yang sama kita tahu, nilai-nilai yang harus kita tegakkan supaya bisa damai kita tahu, selebihnya perbedaan apa pun ya mari saling mentolerir saja seperti NU dan Muhammadiyah. 


Kalau Muhammadiyah mau puasa duluan, silakan. Kami besok saja. Muhammadiyah mau lebaran duluan, silakan. NU besok saja. Tidak masalah, tidak perlu memaksa untuk sama. Karena ya tidak apa-apa kok berbeda. Orang NU ke masjid, orang Kristen ke gereja, ya nggak harus sama, harus jadi satu ibadahnya; kan nggak harus begitu. Karena nyatanya beda-beda tetap nggak apa-apa. Jadi tidak perlu ada penyamaan.


Kalau sudah begini insyaallah kita yakin bahwa kita punya landasan untuk strategi ke depan. Nah, yang semacam ini, strategi semacam ini, ternyata dulu sudah pernah ada di kawasan ini sebagai warisan peradaban dari Asoka. Itulah sebabnya kami teman-teman di NU ini berpikir tentang satu strategi yang kemudian kami menyebutnya sebagai pendekatan Asoka, Asoka Approach. Kenapa? Karena ini modal kita bersama yaitu warisan peradaban yang sama, peradaban Asoka yang basisnya adalah nilai-nilai tentang toleransi dan harmoni. 


Nah kalau ini kita kapitalisasi, kita punya alat untuk mengonsolidasikan satu basis konstituensi masyarakat yang luas sekali di ASEAN dan Indo-Pasifik ini untuk memberikan wujud yang konkret dari apa yang disebut sebagai peradaban yang harmonis. Karena secara logika, kita tidak punya pilihan. Seluruh umat manusia ini tidak punya pilihan di tengah-tengah arah perkembangan menuju satu peradaban tunggal yang saling bercampur ini. 


Kita tidak bisa mengangankan satu visi tentang peradaban masa depan itu demi keselamatan semua orang, demi kemaslahatan semua orang selain untuk mengupayakan terwujudnya satu peradaban yang dilandaskan dengan tatanan yang sungguh-sungguh adil dan harmonis.


Karena kalau tidak adil, tidak mungkin harmonis. Jadi adil dan harmonis. Adil dan harmonis itu hanya mungkin diwujudkan atas dasar penghargaan, penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat bagi setiap manusia. Selama masih ada diskriminasi tidak akan ada keadilan, dan selama tidak ada keadilan tidak akan ada harmoni dan selama tidak ada harmoni tidak akan ada kedamaian. 


Inilah gagasan-gagasan dasar yang ingin kami sumbangkan. Banyak, belum jadi. Belum jadi satu bangunan strategi yang jelas konstruksinya, belum. Ini baru menginisiasi diskusi, menginisiasi wacana. Tapi modalnya sudah jelas dan siapa yang mau menolak? Karena ini adalah realitas yang tidak terbantahkan dari warisan peradaban kita bersama.


Kita berharap bahwa wacana yang kita kembangkan ini bisa disumbangkan dalam konteks ASEAN dan perwakilan kami di Kemenlu ini sudah melakukan upaya-upaya, makanya kita upayakan supaya forum ini, ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Confefencs (IIDC) kita selenggarakan sebelum KTT ASEAN itu sendiri. Kami sudah mendapatkan izin dari Presiden, bahkan bekerja bersama Kemenlu. Harapannya adalah agar sumbangan, kontribusi dari forum ini nanti bisa diadopsi di dalam kesimpulan-kesimpulan dari KTT ASEAN itu sendiri. Insyaallah


Ke depannya, tentu saja kita berharap bahwa di dalam strategi ASEAN ini ada elemen-elemen yang berasal dari wacana tentang IIDC ini. Inilah gagasan yang kami tawarkan dan kami mohon maaf apabila di dalam memproses ini seolah-olah mungkin diproses di dalam lingkungan yang terbatas. Sebetulnya bukan cuma teman-teman NU saja yang memproses gagasan ini, sebetulnya campur dengan yang lain. Cuma, lingkungannya terbatas sekali karena memang ini gagasan yang masih sangat embryonal, belum jadi betul. 


Tetapi kita berharap dengan sosialisasi semacam ini dan dengan pelaksanaan Forum IIDC itu sendiri, mudah-mudahan bisa menjadi wacana yang diterima oleh kalangan yang lebih luas dan kemudian diproses di lingkungan masing-masing untuk didialogkan kembali bersama-sama, sehingga menjadi strategi yang nyata, dan memberikan sumbangan yang signifikan terhadap strategi membangun ASEAN sebagai epicentrum of growth


Mudah-mudahan harapan-harapan baik ini bisa mencapai wujudnya, maksud-maksud baik ini bisa mencapai tujuannya. Apa yang akan menjadi artikulasi-artikulasi di dalam diskusi pagi hari ini insyaallah akan kami bawa di dalam forum IIDC nanti, dan tentu saja sumbangan bantuan dari bapak-ibu sekalian dalam hal ini akan sangat berharga bagi kami.


*) Tulisan di atas adalah transkrip utuh pidato Gus Yahya dalam agenda Sosialisasi Menuju ASEAN IIDC atau Dialog Antar-Budaya dan Antar-Agama di Asia Tenggara, 10 Juli 2023. 


Baca juga artikel-artikel saya di bawah ini:


1. Hindari Konflik, Gus Yahya Tegaskan Semua Orang Bertanggung Jawab Upayakan Kehidupan Harmonis


2. Dialog Antar-Budaya dan Antar-Agama Jadi Sumbangsuh PBNU Jadikan ASEAN Pusat Pertumbuhan Ekonomi


3. Gus Yahya: Warisan Peradaban Nusantara Jadi Strategi Bangun Kebersamaan di Masa Depan


4. Tawaran Solusi dari Gus Yahya untuk Hidup Damai di Masa Depan


5. Munas NU di Banjar hingga Teladan Raja Asoka di India Jadi Landasan PBNU Inisiasi ASEAN IIDC