![]() |
| Bapak Saryono saat ziarah ke makam bapaknya, Mbah Suwarno bin Mangku Dimedjo di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur (2023) |
Tanggal 28 Maret 2026 adalah momen 72 tahun keselamatan hidup Bapak Saryono. Tujuh dekade lebih Bapak telah selamat menjalani hidup, melewati berbagai fase dengan keteguhan, kesabaran, dan prinsip yang tak pernah goyah. Bagi kami, anak-anaknya, angka 72 adalah simbol dari hidup yang penuh berkah dan keberhasilan.
Bapak bukanlah sosok yang banyak bicara tentang pencapaian pribadi, tetapi kami menyaksikan sendiri tentang jejak hidupnya yang menjadi teladan nyata. Kesederhanaannya menyimpan kekuatan. Ketegasannya mengandung kasih. Sikap diamnya sering kali justru menyampaikan pesan yang paling dalam.
Salah satu hal yang paling kami syukuri adalah cara Bapak membesarkan kami. Ia tak pernah memaksa anak-anaknya menggapai mimpi tertentu. Tidak ada tekanan untuk menjadi ini atau itu. Tidak ada tuntutan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan. Namun, di balik kebebasan itu, Bapak justru mendorong anak-anaknya meraih cita-cita masing-masing dengan sepenuh hati.
Anak pertama, Wahdaniah Puji Hartami (Mbak Nia) menjadi seorang apoteker. Anak kedua, Nisfu Syawaluddin Tsani (Mas Nisfu) mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan. Lalu saya, anak ketiga, memilih jalan sebagai jurnalis, sebuah cita-cita yang sudah tumbuh sejak kecil. Tidak satu pun dari pilihan itu yang lahir dari paksaan. Semua tumbuh dari dorongan halus namun kuat dari seorang ayah yang percaya bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri.
Bapak selalu menanamkan bahwa hidup bukan soal mengikuti jejak orang lain, tetapi tentang bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ia mengajarkan kedisiplinan waktu sejak kami kecil: bangun pagi, berangkat dan pulang kerja saat hari gelap, menghargai setiap detik, dan tidak menunda pekerjaan. Bagi Bapak, waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan.
Bapak juga mengajarkan kami untuk memegang teguh prinsip. Dalam hidup, akan selalu ada godaan untuk mengambil jalan pintas, untuk berkompromi dengan nilai-nilai. Namun Bapak selalu mengingatkan bahwa komitmen atas pilihan adalah harga diri yang harus dijaga. Sekali melangkah, harus berani bertanggung jawab sampai akhir.
Satu nasihat Bapak yang selalu terngiang hingga hari ini adalah tentang keberanian. Ia mengajarkan agar kami tidak pernah takut pada apa pun: tidak takut gagal, tidak takut mencoba, tidak takut menghadapi dunia. Satu-satunya hal yang patut ditakuti, katanya, adalah ketika kita tidak mendapat ridha dan keikhlasan dari keluarga. Sebab, tanpa itu, keberhasilan apa pun akan terasa hampa.
Bapak adalah sosok yang sangat teliti. Dalam hal apa pun, Bapak selalu memperhatikan detail, sekecil apa pun itu. Dari cara bekerja, berbicara, hingga mengambil keputusan, semuanya dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bapak juga mengajarkan kami agar tidak lalai terhadap apa pun. Kesalahan kecil, jika dibiarkan, bisa menjadi masalah besar. Karena itu, kehati-hatian adalah bagian dari tanggung jawab.
Salah satu nilai yang paling sering ia ulang adalah filosofi Jawa yang sederhana namun mendalam: eling lan waspada. Ungkapan ini sering ia kutip dari tokoh punakawan dalam pewayangan, Semar. Eling berarti selalu ingat kepada Allah, tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa hidup ini ada dalam pengawasan-Nya. Sementara waspada berarti berhati-hati terhadap segala kemungkinan, termasuk potensi kejahatan atau niat buruk dari orang lain.
Nilai ini bukan sekadar kata-kata bagi Bapak. Ia menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Bapak tidak mudah percaya pada sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Ia selalu kritis terhadap siapa pun, bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memastikan kebenaran. Bagi Bapak, berpikir kritis adalah bentuk tanggung jawab, bukan sikap negatif.
Dalam dunia yang sering kali penuh kepalsuan, sikap ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Memang, percaya itu penting. Namun memastikan kebenaran jauh lebih penting. Menghormati orang lain tidak berarti menelan mentah-mentah segala yang mereka katakan.
Keteguhan adalah kata lain yang tak bisa dilepaskan dari sosok Bapak. Dalam berbagai situasi, Bapak selalu menunjukkan konsistensi sikap. Ia tidak mudah goyah oleh tekanan, tidak mudah berubah arah karena pengaruh. Ketika ia sudah meyakini sesuatu sebagai kebenaran, ia akan berdiri tegak mempertahankannya.
Namun di balik semua ketegasan itu, ada kasih sayang yang begitu besar. Bapak mungkin tidak selalu mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi kami merasakannya dalam setiap tindakan. Dalam setiap nasihat. Dalam setiap diamnya yang penuh makna.
Kini, pada usia ke-72, kami melihat perjalanan panjang yang telah ia lalui dengan penuh rasa syukur. Hidupnya adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gemerlap dunia, tetapi dari nilai-nilai yang diwariskan. Dari anak-anak yang tumbuh dengan prinsip. Dari keluarga yang tetap utuh dan saling menguatkan.
Kami tahu, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Sebagai anak, kami hanya bisa berharap satu hal: semoga masih ada waktu untuk kami terus berbakti, meski tak akan pernah sebanding dari segala yang telah Bapak berikan.
Terima kasih, Bapak, atas kebebasan yang telah diberikan kepada kami untuk bermimpi. Terima kasih atas dorongan yang membuat kami berani melangkah. Terima kasih atas keteguhan, kedisiplinan, dan nilai-nilai hidup yang tak ternilai harganya.
Pada usia ke-72 ini, semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semoga langkah-langkah yang telah Bapak tempuh menjadi jalan berkah, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang mengenalmu.
Semoga kami, anak-anakmu, mampu terus menjaga amanah nilai-nilai yang telah kau tanamkan. Selamat ulang tahun ke-72, Bapak Saryono. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya.
Bekasi, 28 Maret 2026





