Sabtu, 28 Maret 2026

72 Tahun Bapak Saryono: Teladan Keteguhan Prinsip dan Kedisiplinan

 

Bapak Saryono saat ziarah ke makam bapaknya, Mbah Suwarno bin Mangku Dimedjo di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur (2023)

Tanggal 28 Maret 2026 adalah momen 72 tahun keselamatan hidup Bapak Saryono. Tujuh dekade lebih Bapak telah selamat menjalani hidup, melewati berbagai fase dengan keteguhan, kesabaran, dan prinsip yang tak pernah goyah. Bagi kami, anak-anaknya, angka 72 adalah simbol dari hidup yang penuh berkah dan keberhasilan.


Bapak bukanlah sosok yang banyak bicara tentang pencapaian pribadi, tetapi kami menyaksikan sendiri tentang jejak hidupnya yang menjadi teladan nyata. Kesederhanaannya menyimpan kekuatan. Ketegasannya mengandung kasih. Sikap diamnya sering kali justru menyampaikan pesan yang paling dalam.


Salah satu hal yang paling kami syukuri adalah cara Bapak membesarkan kami. Ia tak pernah memaksa anak-anaknya menggapai mimpi tertentu. Tidak ada tekanan untuk menjadi ini atau itu. Tidak ada tuntutan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan. Namun, di balik kebebasan itu, Bapak justru mendorong anak-anaknya meraih cita-cita masing-masing dengan sepenuh hati.


Anak pertama, Wahdaniah Puji Hartami (Mbak Nia) menjadi seorang apoteker. Anak kedua, Nisfu Syawaluddin Tsani (Mas Nisfu) mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan. Lalu saya, anak ketiga, memilih jalan sebagai jurnalis, sebuah cita-cita yang sudah tumbuh sejak kecil. Tidak satu pun dari pilihan itu yang lahir dari paksaan. Semua tumbuh dari dorongan halus namun kuat dari seorang ayah yang percaya bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri.


Bapak selalu menanamkan bahwa hidup bukan soal mengikuti jejak orang lain, tetapi tentang bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ia mengajarkan kedisiplinan waktu sejak kami kecil: bangun pagi, berangkat dan pulang kerja saat hari gelap, menghargai setiap detik, dan tidak menunda pekerjaan. Bagi Bapak, waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan.


Bapak juga mengajarkan kami untuk memegang teguh prinsip. Dalam hidup, akan selalu ada godaan untuk mengambil jalan pintas, untuk berkompromi dengan nilai-nilai. Namun Bapak selalu mengingatkan bahwa komitmen atas pilihan adalah harga diri yang harus dijaga. Sekali melangkah, harus berani bertanggung jawab sampai akhir.


Satu nasihat Bapak yang selalu terngiang hingga hari ini adalah tentang keberanian. Ia mengajarkan agar kami tidak pernah takut pada apa pun: tidak takut gagal, tidak takut mencoba, tidak takut menghadapi dunia. Satu-satunya hal yang patut ditakuti, katanya, adalah ketika kita tidak mendapat ridha dan keikhlasan dari keluarga. Sebab, tanpa itu, keberhasilan apa pun akan terasa hampa.


Bapak adalah sosok yang sangat teliti. Dalam hal apa pun, Bapak selalu memperhatikan detail, sekecil apa pun itu. Dari cara bekerja, berbicara, hingga mengambil keputusan, semuanya dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bapak juga mengajarkan kami agar tidak lalai terhadap apa pun. Kesalahan kecil, jika dibiarkan, bisa menjadi masalah besar. Karena itu, kehati-hatian adalah bagian dari tanggung jawab.


Salah satu nilai yang paling sering ia ulang adalah filosofi Jawa yang sederhana namun mendalam: eling lan waspada. Ungkapan ini sering ia kutip dari tokoh punakawan dalam pewayangan, Semar. Eling berarti selalu ingat kepada Allah, tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa hidup ini ada dalam pengawasan-Nya. Sementara waspada berarti berhati-hati terhadap segala kemungkinan, termasuk potensi kejahatan atau niat buruk dari orang lain.


Nilai ini bukan sekadar kata-kata bagi Bapak. Ia menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Bapak tidak mudah percaya pada sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Ia selalu kritis terhadap siapa pun, bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memastikan kebenaran. Bagi Bapak, berpikir kritis adalah bentuk tanggung jawab, bukan sikap negatif.


Dalam dunia yang sering kali penuh kepalsuan, sikap ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Memang, percaya itu penting. Namun memastikan kebenaran jauh lebih penting. Menghormati orang lain tidak berarti menelan mentah-mentah segala yang mereka katakan.


Keteguhan adalah kata lain yang tak bisa dilepaskan dari sosok Bapak. Dalam berbagai situasi, Bapak selalu menunjukkan konsistensi sikap. Ia tidak mudah goyah oleh tekanan, tidak mudah berubah arah karena pengaruh. Ketika ia sudah meyakini sesuatu sebagai kebenaran, ia akan berdiri tegak mempertahankannya.


Namun di balik semua ketegasan itu, ada kasih sayang yang begitu besar. Bapak mungkin tidak selalu mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi kami merasakannya dalam setiap tindakan. Dalam setiap nasihat. Dalam setiap diamnya yang penuh makna.


Kini, pada usia ke-72, kami melihat perjalanan panjang yang telah ia lalui dengan penuh rasa syukur. Hidupnya adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gemerlap dunia, tetapi dari nilai-nilai yang diwariskan. Dari anak-anak yang tumbuh dengan prinsip. Dari keluarga yang tetap utuh dan saling menguatkan.


Kami tahu, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Sebagai anak, kami hanya bisa berharap satu hal: semoga masih ada waktu untuk kami terus berbakti, meski tak akan pernah sebanding dari segala yang telah Bapak berikan.


Terima kasih, Bapak, atas kebebasan yang telah diberikan kepada kami untuk bermimpi. Terima kasih atas dorongan yang membuat kami berani melangkah. Terima kasih atas keteguhan, kedisiplinan, dan nilai-nilai hidup yang tak ternilai harganya.


Pada usia ke-72 ini, semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semoga langkah-langkah yang telah Bapak tempuh menjadi jalan berkah, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang mengenalmu.


Semoga kami, anak-anakmu, mampu terus menjaga amanah nilai-nilai yang telah kau tanamkan. Selamat ulang tahun ke-72, Bapak Saryono. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya.



Bekasi, 28 Maret 2026

Senin, 23 Februari 2026

26 Tahun Istriku: Mari Kita Rayakan Hidup Tanpa Budaya Patriarki dan Feodal

 

Istriku ulang tahun

Tanggal 23 Februari 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup istriku. Di usia yang Ke-26, aku tidak hanya melihat angka yang bertambah, tetapi juga lapisan demi lapisan kedewasaan yang telah terbentuk dari pengalaman, tantangan, dan pilihan-pilihan hidup yang kamu ambil dengan penuh kesadaran. Kamu telah tumbuh menjadi sosok perempuan tangguh—ketangguhan yang tidak lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan meski rasa itu hadir.


Ketangguhanmu selalu mengingatkanku pada sosok ibuku. Bukan dalam arti membandingkan, melainkan melihat benang merah nilai yang sama: keteguhan hati, keikhlasan dalam menjalani peran, dan kekuatan untuk tetap berdiri di tengah badai kehidupan. Seperti beliau, kamu memiliki cara sendiri dalam menghadapi kerasnya realitas, tanpa kehilangan kelembutan sebagai manusia. Ada keseimbangan yang jarang dimiliki banyak orang—antara kuat dan hangat, antara tegas dan penuh empati.


Di usia ini, aku melihat perubahan yang semakin jelas dalam caramu memandang dunia. Kamu tidak lagi terburu-buru dalam merespons masalah. Kamu memilih untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu mencari solusi dengan akal sehat. Kedewasaan itu bukan sekadar tentang usia, melainkan tentang kemampuan untuk memilah mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang harus dilepaskan. Kamu telah sampai pada titik di mana emosi tidak lagi menjadi penguasa, melainkan mitra yang kamu kendalikan dengan bijaksana.


Hal yang paling aku kagumi adalah keberanianmu dalam menghadapi masa depan. Kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan datang, seperti kita semua. Namun, kamu tidak membiarkan ketidakpastian itu menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Kamu memilih untuk tetap berjalan, tetap berusaha, dan tetap percaya bahwa apa pun yang datang, kita bisa menghadapinya bersama. Sikap ini bukan sesuatu yang sederhana; ini adalah hasil dari keberanian yang ditempa oleh pengalaman.


Kita berdua tahu bahwa perjalanan hidup, terutama dalam rumah tangga, tidak selalu mulus. Akan ada batu karang yang menghadang, ombak yang datang tanpa peringatan, dan arah yang kadang terasa membingungkan. Namun, dalam semua itu, aku percaya bahwa kita tidak sedang berlayar sendirian. Kita berada dalam bahtera yang sama, dengan tujuan yang sama. Kita harus siap melangkah bersama, bukan saling meninggalkan ketika keadaan menjadi sulit.


Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu ingin aku jaga bersama kamu: semangat untuk tidak pernah lelah. Bukan berarti kita harus selalu kuat tanpa jeda, melainkan kita harus tahu kapan beristirahat tanpa kehilangan arah. Lelah adalah manusiawi, tetapi menyerah bukanlah pilihan yang ingin kita ambil. Kita boleh berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru.


Aku juga ingin kita terus mengingat pentingnya menjaga kedaulatan diri. Dalam hubungan apa pun, termasuk pernikahan, identitas pribadi tidak boleh hilang. Kamu tetaplah dirimu—perempuan dengan pikiran, keinginan, dan prinsip hidup yang kamu pegang. Aku tidak ingin kita saling menguasai, melainkan saling menghormati ruang dan kebebasan satu sama lain. Kedaulatan diri adalah fondasi dari hubungan yang sehat, karena dari situlah lahir rasa saling percaya yang sejati.


Ketika kita berbicara tentang keluarga, aku percaya kita memiliki visi yang sama: membangun ruang yang adil, hangat, dan manusiawi. Kita ingin merawat keluarga tanpa terjebak dalam budaya patriarki dan feodal yang membatasi peran dan potensi seseorang. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; yang ada hanyalah perbedaan peran yang dijalankan dengan kesadaran dan kesepakatan bersama. Kita belajar untuk tidak mengulang pola lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan nilai yang kita yakini.


Dalam bahtera rumah tangga ini, kita bukan kapten dan penumpang. Kita adalah rekan kerja, mitra yang saling mendukung dan melengkapi. Ada kalanya kamu yang memegang kendali, ada kalanya aku. Tidak ada kompetisi di antara kita, yang ada hanyalah kolaborasi. Kita bekerja sama untuk menjaga arah, memperbaiki layar ketika robek, dan memastikan bahwa kita tetap bergerak maju meski perlahan.


Aku juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun atas tuntutan sepihak. Kita tidak hanya menuntut untuk diistimewakan, tetapi juga berusaha untuk mengistimewakan satu sama lain. Ada keindahan dalam memberi tanpa selalu menghitung, dalam memahami tanpa selalu meminta dipahami terlebih dahulu. Ketika kita sama-sama berusaha untuk memberi yang terbaik, keseimbangan itu akan tercipta dengan sendirinya.


Di usia 26 ini, kamu berada di fase kehidupan yang penuh potensi. Banyak hal yang telah kamu capai, dan lebih banyak lagi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Aku tidak meragukan kemampuanmu untuk terus berkembang, karena aku telah melihat bagaimana kamu belajar dari setiap pengalaman—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Kamu tidak pernah benar-benar berhenti bertumbuh.


Perjalanan ke depan mungkin tidak akan lebih mudah, tetapi aku yakin kamu akan menjadi lebih kuat. Bukan karena dunia menjadi lebih ramah, melainkan karena kamu semakin siap untuk menghadapinya. Dan dalam semua itu, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Aku ada di sampingmu, bukan sebagai penentu arah hidupmu, tetapi sebagai teman berjalan yang siap mendukungmu dalam setiap langkah.



Selamat ulang tahun yang ke-26, istriku. Terima kasih telah menjadi dirimu yang sekarang—perempuan tangguh, dewasa, dan penuh keberanian. Semoga kita terus belajar, terus bertumbuh, dan terus melangkah bersama, apa pun yang menghadang di depan.



Bekasi, 23 Februari 2026

Minggu, 08 Februari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (5): Ajaran Tasawuf dan Jalan Menuju Kebahagiaan Batin

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Februari 2026.


إجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك


Ijtihāduka fīmā ḍumina laka wa taqṣīruka fīmā ṭuliba minka dalīlun ‘alā inṭimās al-baṣīrah minka.


Kesungguhanmu dalam hal yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu dalam hal yang dituntut darimu, adalah tanda padamnya mata batinmu.


Ijtihāduka artinya usaha kerasmu.

Fīmā ḍumina laka: dalam hal-hal yang sudah dijamin untukmu. Siapa yang menjamin? Allah. Di sini memang tidak disebut langsung, karena kitab ini ditujukan bagi orang-orang yang sudah paham.


Jadi maksudnya: usaha kerasmu untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah.


Lalu wa taqṣīruka: kelalaianmu, keteledoranmu.

Fīmā ṭuliba minka: dalam hal-hal yang justru dituntut darimu oleh Allah.

Dalīlun ‘alā inṭimās al-baṣīrah minka: itu tanda padam atau buramnya mata batinmu.


Artinya begini. Sesuatu yang sudah dijamin Allah, kamu kejar mati-matian. Sementara sesuatu yang Allah tuntut kamu lakukan, kamu malah lalai. Itu tanda bahwa “lampu neon” batinmu sudah mulai redup. Kesadarannya tidak bekerja sesuai “algoritma” yang benar.


Apa yang sudah dijamin Allah? Sesuatu yang sudah dijamin itu adalah rezeki. Penghidupan dasar manusia sudah dijamin oleh Allah.


Ibadah tidak dijamin. Kalau kamu tidak beribadah, Allah tidak “otomatis” memberi pahala. Karena itu yang dituntut adalah ibadah, kesungguhan mendekat kepada Allah.


Soal rezeki, Muslim atau tidak, semuanya diberi oleh Allah. Allah memberi makan orang beriman maupun tidak beriman. Karena Allah menciptakan manusia, maka konsekuensi dasar hidup manusia (makan, minum, kebutuhan minimal agar tetap hidup) dijamin oleh Allah.


Kalau ingin hidup mewah dan berfoya-foya, itu wilayah usaha manusia. Tapi batas minimal agar manusia tidak mati kelaparan, itu dalam jaminan Allah.


Burung tidak punya kulkas, tapi tetap hidup. Kucing tidak punya deposito, tapi setiap hari tetap dapat makan. Manusia pada level biologis punya kesamaan dengan hewan: sama-sama makhluk hidup dalam animal kingdom. Kalau Allah menjamin hewan-hewan itu, masa manusia tidak dijamin? 


Tapi bukan berarti tidak perlu bekerja. Ajaran ini bukan berarti kita lalu berhenti bekerja, berhenti sekolah, tidak mengajar, dan pasrah total.


Ini ajaran untuk membangun kesadaran batin bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan makhluk-Nya. Kalau kesadaran ini masuk, minimal bisa mengurangi tingkat stres.


Masalah kesehatan mental sekarang besar sekali. Ada World Mental Health Day. Banyak orang modern mengalami stres berat. Sementara kesadaran spiritual seperti ini bisa menjadi “obat” batin.


Makanya di masyarakat seperti Indonesia, indeks kebahagiaan relatif lumayan. Ada cobaan, tapi orang bilang, “ya sudah, dijalani saja.” Mindset ini dibentuk oleh ajaran-ajaran seperti ini (tasawuf) sejak kecil.


Lalu apakah ajaran ini membuat orang jadi fatalis? 


Ada kritik: ajaran (tasawuf) seperti ini membuat orang pasrah, tidak punya etos kerja, jadi tertinggal. Jawabannya: bisa begitu, kalau dipahami salah.


Kalau dipahami keliru, orang bisa jadi fatalis: tidak mau berusaha, semua diserahkan ke Allah, lalu tidak bekerja. Itu bukan maksud tasawuf. Itu abusing tasawuf. 


Tasawuf dan kebahagiaan

Tasawuf pada dasarnya mirip filsafat Yunani dalam satu hal: sama-sama mencari kebahagiaan. 


Orang Yunani tidak punya agama wahyu, maka mereka mencari jalan kebahagiaan lewat filsafat. Dalam tradisi Yunani, kebahagiaan disebut eudaimonia. Dalam Islam disebut sa‘ādah. Inti agama juga kebahagiaan manusia, di dunia dan akhirat.


Kebahagiaan bukan semata jumlah harta, tapi sikap batin. Memang tetap ada batas minimal kebutuhan hidup. Tapi setelah itu, kebahagiaan terutama ditentukan oleh kondisi hati. Para sufi besar bahkan bisa bahagia tanpa banyak harta, tapi itu butuh latihan panjang.


Hukum tasawuf dalam bekerja

Ajaran Al-Hikam bukan mengajarkan malas. Ini masih wilayah tindakan (af‘āl).


Hukum pertama: kita wajib bekerja, tapi harus sadar bahwa kerja sekeras apa pun tidak bisa menembus takdir Allah. Kalau mentok, jangan putus asa. Karena putus asa membuat hidup tidak bahagia.


Takdir tidak diketahui sebelum kita berusaha. Jadi tetap harus bekerja.


Hukum kedua: setiap orang punya maqam berbeda. Ada orang yang memang maqamnya banyak ibadah dan sedikit urusan dunia. Tapi ada yang maqamnya jadi pegawai, dosen, peneliti, pengusaha, politisi. Kalau maqamnya bekerja di dunia, lalu tiba-tiba berhenti dengan alasan tawakal, itu keliru. Itu malas yang dibungkus tasawuf.


Kebahagiaan itu urusan internal

Inti tasawuf: kebahagiaan itu terutama urusan batin, bukan eksternal.


Harta, jabatan, gaji itu eksternal dan tidak sepenuhnya dalam kendali kita. Gaji bisa dinegosiasi, tapi akhirnya bos atau sistem yang menentukan.


Tapi sikap batin, cara kita merespons hidup, itu wilayah otonomi kita. Kita punya kuasa besar di situ.


Kalau kita tidak bahagia, padahal kebahagiaan itu wilayah batin yang bisa kita kelola, maka kita perlu mengoreksi diri. Jangan selalu menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Allah.


Karena di wilayah batin itulah sebenarnya kemerdekaan manusia paling besar berada.



Bekasi, 8 Februari 2026

Minggu, 11 Januari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (4): Istirahatlah, Biar Allah yang Mengurus

 

Foto bersama santri laki-laki usai Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan ke-4 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 11 Januari 2026. 


*****


أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِه لِنَفْسِك

Istirahatkan dirimu dari mengatur (segala urusan), karena apa yang sudah diurus oleh selainmu (Allah) untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusnya sendiri.


Makna kata “Ariḥ


Kata أرِحْ (ariḥ) berarti istirahat, tenang, rileks. Dalam bahasa kita bisa diterjemahkan sebagai rehat atau santai. Dalam istilah hari ini, bisa disebut sebagai slow living, hidup dengan ketenangan dan tidak penuh kegelisahan.


Maka أرِحْ نَفْسَكَ berarti “tenangkanlah dirimu”.


Hikmah ini berbunyi:


أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu dari mengatur-ngatur (tadbîr)


فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْك

karena apa yang sudah dijalankan oleh selainmu (yakni Allah) untukmu


لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

jangan engkau sibuk menjalankannya sendiri


Ini adalah bagian dari pembahasan besar dalam Al-Hikam tentang tindakan manusia (al-af‘āl). 


Manusia itu hakikatnya adalah makhluk yang bergerak. Selama masih bergerak, ia masih hidup. Kalau berhenti bergerak, barulah ia menjadi jenazah. Maka seluruh Kitab Al-Hikam di bagian awal membahas hukum-hukum tentang tindakan manusia.


Dalam hikmah-hikmah sebelumnya kita sudah belajar bahwa manusia wajib beramal dan berusaha tetapi amal dan usaha tidak boleh dijadikan sandaran mutlak.


Artinya: kita harus bekerja, tapi hasilnya jangan kita anggap sepenuhnya dari usaha kita. Yang menentukan hasil adalah Allah.


Sekarang kita naik ke tingkat keempat: “Istirahatkan dirimu dari mengatur dan mengusahakan segalanya.”


Ini tampak seperti bertentangan dengan perintah bekerja. Tapi di sinilah rahasia tasawuf.


Dalam tasawuf, semua ajaran selalu memiliki dua sisi: Syariat (zāhir) dan Hakikat (bāṭin)


Ibn ‘Ajîbah, salah satu pensyarah Al-Hikam, menjelaskan bahwa banyak ayat dan hadits tampak bertentangan jika dibaca dengan satu dimensi saja.


Contohnya, Al-Qur’an mengatakan: “Masuklah kalian ke surga karena amal kalian.”


Tetapi ada hadits Nabi mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya, termasuk aku.”


Kalau dibaca secara literal, ini tampak kontradiktif. Tapi menurut Ibn ‘Ajîbah: Ayat itu berbicara pada level syariat dan Hadits itu berbicara pada level hakikat. Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.


Maka “jangan mengatur” dalam hikmah ini tidak berarti kita berhenti bekerja, melainkan “jangan menjadikan diri kita seolah-olah sebagai satu-satunya pengatur kehidupan.” Ada “Pengurus Besar” di atas semua pengurus, yaitu Allah.


Seperti kisah cicak yang ditanyakan kepada Kiai Ma‘ruf Irsyad Kudus: “Cicak itu siapa yang memberi makan?”


Jawab beliau: “Kamu tidak usah mengurusi cicak. Sudah ada yang mengurus.”


Atau seperti kisah Abdul Muthalib saat Kakbah hendak diserang Abrahah. Ia tidak panik: “Ini rumah-Mu ya Allah. Kalau Engkau mau menjaganya, Engkau jaga sendiri. Dan benar, Allah mengirim burung Ababil.


Dalam setiap urusan, selalu ada “Ababil” yang dikirim Allah. Kita sering tidak tahu dari mana, kapan, dan bagaimana datangnya, tapi ia selalu datang.


Jadi, usaha itu penting tetapi usaha bukan sandaran. Dan pada level yang lebih tinggi: “kalau sudah ada yang mengurus, jangan gelisah ingin mengurus segalanya sendiri.”


Inilah makna:

أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu, karena ada “Pengurus Agung” yang sedang bekerja.


Kalimat “sudah ada yang mengurus” jangan disalahpahami menjadi “kalau begitu kita tidak perlu berusaha.” Tidak begitu. Hikmah ini hanya berlaku bagi orang yang sudah berusaha.


Orang yang belum berusaha, lalu langsung berkata “sudah ada yang mengurus”, itu keliru.


Ini seperti kaidah dalam makan: “Berhentilah sebelum kenyang.” Kalimat itu hanya berlaku bagi orang yang sudah makan. Kalau belum punya nasi sama sekali, kaidah itu tidak relevan. 


Begitu juga dengan hikmah keempat ini. Ia berlaku bagi orang yang sudah bekerja, sudah berikhtiar, lalu setelah itu punya kesadaran: “Sekarang ini sudah ada yang mengurus.”


Ababil selalu datang artinya bahwa dalam setiap urusan selalu ada pengurus. Dan ketika kita sudah berusaha lalu terjepit, buntu, tidak melihat jalan keluar, Allah akan mengirim Ababil.


Ababil itu selalu ada. Ia datang bukan ketika hidup santai, tetapi ketika kita sudah berusaha, situasi sudah mepet, kita tidak punya jalan keluar, maka di situlah pertolongan Allah datang. Inilah yang membuat hidup menjadi ringan dan bahagia. Inilah makna أَرِحْ نَفْسَكَ — menenangkan diri.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Dalam syarah Ibn ‘Ajîbah dikutip perkataan wali besar Sahl at-Tustarî: “Tinggalkanlah pengaturan-pengaturanmu sendiri, karena itulah yang membuat hidup menjadi ribet.”


Manusia menjadi gelisah karena terus membuat skenario: “Kalau gagal begini, kalau berhasil begitu. Malau A tidak jalan, pakai B. Kalau B gagal, pakai C. Itulah cara berpikir modern yang satu dimensi.


Burung yang hanya punya satu sayap akan berputar-putar, tidak bisa terbang lurus. Orang tasawuf juga berusaha, tapi tidak menjadikan usaha sebagai sandaran mutlak. Karena ketika usaha dijadikan penentu hasil, hidup menjadi berat.


Imam Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

لا تختَرْ من أمرك شيئًا

“Jangan merasa punya hak memilih.”


Ini bukan berarti tidak boleh memilih secara lahir. Kita tetap memilih, melamar pekerjaan, membuat keputusan. Tapi jangan merasa bahwa pilihan kita itulah penentu segalanya. 


Di sinilah muncul kaidah tasawuf yang dalam: Pilihlah untuk tidak memilih. Artinya: secara lahir kita memilih tapi secara batin kita sadar bahwa yang menentukan adalah Allah. 


Contohnya, melamar kerja. Tingkat syariat: Saya memilih melamar kerja di NU Online. Tingkat kedua: Saya diterima, tapi saya sadar bahwa ini bukan semata pilihan saya, ini pilihan Allah. Tingkat ketiga: Jangan sampai saya terpenjara oleh pilihan itu. Saya tidak boleh diperbudak oleh karier dan status. Tingkat keempat: Bahkan usaha untuk “lari” dari keterikatan pun dilepaskan. Inilah yang disebut: lari dari lari.


Semua ini berpuncak pada firman Allah:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Larilah kalian kepada Allah.” 

Dari dunia, menuju Allah. Menjauh dari sesuatu, untuk mendekat kepada-Nya.


Allah adalah Pengurus dari segala pengurus. Syekh Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

إن كان ولا بد من التدبير، فدبّر أن لا تدبّر

“Jika kamu memang harus berusaha, maka usahakanlah untuk tidak mengandalkan usahamu.”


Artinya: Kalau kamu terpaksa harus mengatur dan berusaha, maka iringi itu dengan kesadaran bahwa yang menggerakkan usahamu adalah Allah. Karena di balik usaha kita, ada yang sedang “mengusahakan” kita.


Ada dua orang sama-sama bekerja. Yang satu berkata: “Saya berhasil karena kerja keras saya.” Yang lain berkata: “Saya memang bekerja, tapi kemampuan bekerja ini dari Allah.” Secara lahir sama, tapi secara batin berbeda.


Inilah makna terdalam:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Tenangkan dirimu, karena ada Pengurus di balik semua usaha kita.



Bekasi, 11 Januari 2026

Minggu, 07 Desember 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (3): Cara Menembus Tembok Kokoh Takdir Tuhan

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam ke-3 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Desember 2025.


*****


Sawābiqul himami lā takhriqu aswāral aqdar

Ini hikmah yang sederhana. Tapi iman atau kualitas iman yang sampai pada hikmah seperti ini membutuhkan perjuangan hidup yang sangat panjang. Ini adalah kesimpulan dari pengalaman batin, pengalaman rohani yang luar biasa, sampai kemudian Ibn ‘Aṭhā’illāh mendapatkan ilham untuk menulis hikmah ketiga ini.

Sawābiqul himam: cita-cita yang berlari dengan sangat kencang.

Ini menggunakan ṣifat ‘ilal mausūl, jadi asalnya adalah al-himam as-sawābiq: cita-cita yang begitu kuat, saking kuatnya seperti seorang pelari sprint, bukan pelari maraton. Kencang sekali.

Himam atau cita-cita, tujuan, tekad yang begitu kuat—saking kuatnya sampai mirip seorang pelari kencang—lā takhriqu aswāral aqdar: tidak bisa menembus tembok takdir Allah yang begitu kokoh. Tembok itu begitu kuat sampai mustahil ditembus oleh tekad manusia.

Secara redaksi, maknanya sederhana: takdir Tuhan itu seperti tembok kokoh, tidak mungkin ditembus. Tetapi kalau kita baca syarah-nya Ibn ‘Ajībah, ini menjadi menarik sekali.

Menurut Ibn ‘Ajībah, memang takdir Allah itu seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Kalau Allah sudah mentakdirkan A, kehendak manusia tidak bisa mengubahnya. Tetapi orang-orang yang ‘ārif billāh, orang-orang yang mengenal Allah, orang-orang yang memiliki ma‘rifat—ketika mereka menghendaki sesuatu, kehendak itu beriringan atau selaras dengan kehendak Allah.

Maka orang yang sudah mencapai ma‘rifat, ketika dia menghendaki A, ya A itu terjadi. Tetapi terjadinya bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Analogi sederhananya begini: kita sudah sangat mengenal gerak-gerik, perangai, dan kebiasaan seorang sahabat. Kalau kita diajak ke warung oleh orang itu, kita sudah tahu pasti dia akan pesan rawon. Bahkan kalau ke restoran Jepang pun, ya tetap saja rawon. Karena kebiasaannya begitu. Jadi saya bisa “menerka” apa yang akan terjadi, bukan karena saya menentukan, tetapi karena saya tahu kebiasaannya.

Orang ‘ārif billāh itu seperti itu: mengenal kebiasaan Allah, mengenal gerak-geriknya, mengenal kehendaknya. Bukan berarti dia mengetahui rahasia takdir Allah, tetapi kualitas ma‘rifat membuat kehendaknya selaras dengan kehendak Allah. Maka ketika dia berkehendak, kehendaknya itu sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Maka para wali itu ketika mengatakan sesuatu seperti “kun”, seolah-olah terjadi. Ini bukan berarti mereka menentukan takdir. Tapi karena pada momen itu, kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Ada sebuah hadits qudsi yang dikutip Ibn ‘Ajībah: "Wahai hamba-Ku, Aku adalah Allah yang jika berkata kepada sesuatu “kun”, maka terjadilah. Taatlah kepada-Ku, maka Aku jadikan engkau—ketika engkau mengatakan “kun”—maka terjadi pula."

Namun ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu, dan terjadinya itu bukan karena kekuatan dirinya mengubah takdir, tetapi karena pada momen itu Allah memang menghendaki hal tersebut terjadi.

Kadang-kadang juga seorang mukmin biasa, meskipun bukan wali, pada momen tertentu—misalnya ketika ia dizalimi—doanya diijabah. “Du‘ā’ul maẓlūm mustajāb.” Artinya Allah menjadikan kehendaknya selaras dengan kehendak orang yang teraniaya. Maka sesuatu terjadi.

Jadi memang takdir Allah tidak bisa ditembus. Tetapi ada momen ketika kehendak Allah itu selaras dengan kehendak manusia tertentu.

Para ahli ilmu kalam membagi takdir: ada qaḍāmu‘allaq yang masih bisa berubah dengan sedekah, doa, dan amal baik; dan qaḍā’ mubram yang tidak mungkin berubah. Tapi pembagian seperti itu hanyalah pendekatan rasional, tidak selalu memuaskan dalam ilmu tasawuf.

Para sufi mengatakan: pokoknya takdir Allah itu pada akhirnya tidak bisa diubah. Kalau tampak seperti berubah, itu karena Allah menghendaki perubahan itu.

Qada pada akhirnya tidak bisa diubah. Ini semua sesuatu yang hanya bisa dipahami melalui pengalaman hidup. Ilmu tasawuf itu ilmu kehidupan.

Kalau seseorang sudah punya pengalaman hidup yang cukup panjang, belajar tasawuf menjadi enak, karena dia punya referensi batin. Kalau terlalu muda, membaca tasawuf bisa membingungkan, karena tasawuf itu banyak bertumpu pada intuisi batin.

Takdir itu bisa dikenali, bukan oleh teori, tetapi oleh pengalaman hidup. Orang itu intuisi. Tapi ini intuisi yang jujur dari batin, bukan intuisi karena nafsu.

Ini semua masih bagian dari pembahasan amal (dalam Kitab Al-Hikam). Hikmah pertama membahas bahwa amal tidak boleh dijadikan sandaran. Hikmah kedua tentang bertindak sesuai maqam. Hikmah ketiga tentang tindakan manusia tidak bisa serta merta menghasilkan sesuatu, karena tetap ada gramatika amal.

Kalau seseorang memahami tiga kaidah amal ini, hidupnya menjadi “well”—enak, marem, hasanah. Bukan berarti tidak ada masalah, tetapi batinnya tenang.

Sekarang di (dunia) Barat, banyak orang berpikir hidup itu hanya tentang mengubah segala hal menjadi sesuatu yang menguntungkan—profit, value added. Ini benar, tetapi kalau diekstremkan, menjadi cara pandang yang timpang. Mereka melihat hidup dengan “mata satu”. Tidak seimbang. Maka hidup jadi tidak enak.

Kita harus melihat hidup dengan dua mata: seimbang. Di situlah wellness.

Kita tidak mungkin menembus tembok takdir. Tapi bukan berarti manusia tidak menentukan nasib. Kata Karl Marx: “Manusia pencipta nasibnya sendiri.” Ini benar, tapi hanya separuh: benar dalam kerangka ikhtiar. Tetapi apakah ikhtiar menghasilkan? Tidak selalu, karena ada batas-batas takdir.

Tasawuf itu keseimbangan dua daun pintu. Kalau satu daun saja ditutup, tidak sempurna.

Ibn ‘Ajībah dalam pendahuluan Kitab Syarah Al-Hikam ini mengatakan, Qur’an itu punya ayat-ayat syariat dan ayat-ayat hakikat. Yang tampak bertentangan sebenarnya bukan bertentangan. Yang satu bicara syariat, yang satu bicara hakikat.

Contoh: "Udkhulul-jannata bimā kuntum ta‘malūn.” Artinya: Masuklah surga karena amal kalian.

Tapi ada hadits: "Lā yadkhulul-jannata aḥadun bi ‘amalih.” Artinya: Tidak ada yang masuk surga karena amalnya.

Secara rasional, ini bertentangan. Tapi dalam ilmu hakikat tidak. Ayat pertama adalah syariat: kamu harus beramal. Hadits kedua adalah hakikat: yang memasukkanmu ke surga adalah rahmat Allah.

Demikian juga ayat: "Lâ tudrikuhul-abshâru wa huwa yudrikul-abshâr, wa huwal-lathîful-khabîr." Artinya: Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Tetapi ayat lain: "Wujūhun yauma idhin nāḍirah ilā rabbihā nāẓirah." Artinya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri karena memandang Tuhannya.

Secara rasional tampak bertentangan. Tetapi pendekatannya berbeda: yang satu syariat, yang satu hakikat. Dua kamar, tidak kontradiksi.

Inilah gramatika kehidupan yang diajarkan dalam hikmah ketiga.