Minggu, 02 November 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (2): Memahami Maqam Diri, Tajrid atau Asbab?

 

Gus Ulil saat mengampu Kitab Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman Ngaji Kitab Al-Hikam bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 2 November 2025.

***

Wa iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbabi minas syahwatil khafiyyah. Wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah.

Salah satu ajaran penting di dalam tasawuf adalah bahwa Allah itu memiliki dua dimensi. Allah itu sendiri tunggal, tetapi dalam keterlihatan-Nya ada dua sisi: al-awwal wal-akhir, az-zahir wal-bathin— yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tidak tampak. Jadi selalu ada pasangan, dua.

Gambarannya seperti pintu yang terdiri dari dua daun. Ada daun pintu yang saling melengkapi. Itu adalah salah satu ajaran penting tasawuf. Karena itu, kalau kita membaca Al-Hikam, kita akan menemukan bahwa hikmahnya itu seperti dua daun pintu: ada satu sisi dan sisi pasangannya.

Bagian pertama: iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbab minas syahwatil khafiyyah—ini satu daun pintu.

Bagian kedua: wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah—ini daun pintu yang kedua.

Ajaran tasawuf selalu begitu: ada khauf dan ada raja', ada keseimbangan. Dalam hidup pun demikian: kalau satu pasangan hilang, hidup menjadi tidak seimbang.

Sekarang maknanya: iradatuka at-tajrid—keinginanmu untuk menyendiri, ‘uzlah, tidak melakukan apa-apa, padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam asbab, yaitu maqam bahwa kamu harus bergaul dengan masyarakat, bekerja, membangun dunia, menjadi dosen, pedagang, petani, atau apa pun. Kamu harus terlibat dalam kehidupan sosial. Itu namanya asbab.

Tiba-tiba kamu ingin menyendiri dan tidak berinteraksi, itu termasuk minas syahwatil khafiyyah atau syahwat yang tersembunyi. Pada dasarnya itu adalah kemalasan, tetapi dibungkus dengan bahasa sufi. Seolah-olah sedang beribadah, padahal lari dari tanggung jawab.

Misalnya orang yang seharusnya bekerja masuk kantor, tapi setiap hari i‘tikaf di masjid. I‘tikaf itu baik, tetapi kalau bukan maqam-nya, itu malah menjadi cara untuk lari dari tanggung jawab. Itu syahwat yang halus. Kadang alasan "ibadah" itu hanya pembungkus. Padahal intinya menghindar dari tanggung jawab.

Sesuatu yang bentuknya baik sekalipun, kalau dasarnya syahwat, tetap tidak baik. Ini ilmu batin. Bentuk boleh religius, tetapi jika motivasinya syahwat, tetap buruk.

Ini teori maqam. Mayoritas manusia berada pada maqam asbab, yaitu harus bekerja, membangun bumi (‘imaratul ardh). Jika orang pada maqam asbab memaksa diri masuk maqam tajrid, maka ia sedang lari dari tanggung jawab.

Sebaliknya, ada orang tertentu yang memang Allah tempatkan dalam maqam tajrid, yaitu menyendiri dan fokus pada ibadah batin. Itu maqam tinggi dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya. Kalau orang maqam tajrid justru ingin turun ke maqam asbab, itu berarti turun derajat.

Pertanyaanya: bagaimana kita tahu ukuran (size) maqam kita?

Dalam akidah, kita diajarkan iman kepada takdir. Allah sudah menetapkan ukuran (size) bagi setiap orang. Seperti pakaian: ada S, M, L, XL. Tubuh kita punya ukuran. Begitu pula batin kita punya ukuran. Kalau orang ukuran tubuhnya L tapi memaksakan memakai baju S supaya terlihat langsing, maka yang terjadi hanya kesempitan dan tidak nyaman. Begitu pula di batin: hidup tidak sesuai maqam itu seperti memakai ukuran yang bukan ukuran kita — tidak nyaman, tidak enak dilihat, dan menyiksa diri.

Ada orang yang sejak awal diberi anugerah untuk mengetahui ukuran dirinya. Tetapi ada juga yang perlu perjalanan panjang untuk mengenal maqamnya sendiri.

Ciri orang yang sudah mengenal ukuran dirinya: ia hidup dengan tenang, bahagia, dan tidak iri pada orang lain. Dia menjalani maqamnya dengan enak.

Karena itu doa kita:
"Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku, maqamku. Dan berikan kekuatan kepadaku untuk istiqamah menjalani maqam itu, tanpa iri kepada orang lain."

Kalau kita hidup sesuai dengan maqam kita, kita enak. Dan orang lain pun enak melihat kita.

Di sini kita sebetulnya temanya tentang tajrid. Tajrid itu artinya hidup yang murni hanya untuk Allah saja. Kita tidak menjalankan asbāb, tidak menjalankan sarana-sarana untuk mencapai sesuatu yang bersifat keduniaan.

Itu tajrid. Memang tajrid ini adalah maqām yang tinggi. Manusia yang beriman itu sebetulnya arah atau tujuan orientasi hidupnya itu harus tajrid.

Asbāb itu hanya wasīlah saja sebetulnya. Tapi intinya tajrid. Nah, tajrid itu ada tiga, kalau kita baca syarahnya:

Wa ammā ‘inda aṣ-ṣūfiyyati, tajrid itu fahuwa ‘alā fanā’ faḍl al-Islām.

Tajrīd az-ẓāhir faqaṭ. Tajrīd dalam tingkat zahir.
Aw al-bāṭin faqaṭ. Tajrīd
batin.
Aw humā ma‘an
, atau dua-duanya.

Tajrīd az-ẓāhir adalah tarkul asbāb ad-dunyāwiyyah wa kharḍul ‘awā’id al-jismāniyyah ‘alā al-jism.

Tajrid az-ẓāhir itu adalah meninggalkan sebab-sebab keduniaan. Kita tidak melakukan ikhtiar duniawi dan melawan kebiasaan-kebiasaan jasmani. Misalnya, mestinya kalau pagi sarapan, kita tidak sarapan. Itu namanya melawan hukum jasmani.

Kalau siang biasanya makan siang, kita tidak makan siang. Sore biasanya ada camilan, kita tidak makan camilan. Itu namanya melawan hukum badan atau hukum jasmani. Kalau malam jam sembilan harusnya sudah tidur, ini tidak tidur. Itu melawan hukum jasmani.

Kalau sampai melawan hukum jasmani itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Latihan rohani itu kadang memang mengharuskan adanya tajrīd az-ẓāhir.

Makanya tradisi orang Jawa, kalau mau punya gawe besar: mau mantu, mau nyunat anak, mau punya perhelatan apa saja, mau mengadakan haul, mau mengadakan pengajian besar, mau mengadakan reuni besar, mengadakan event besar—bahkan event biasa saja—itu sebelum acara biasanya puasa dulu. Itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Tajrīd az-ẓāhir ini diperlukan.

Kadang kalau kita menghadapi perhelatan atau tugas besar, kita harus puasa dulu. Tujuannya supaya hati kita terfokus, terkonsentrasi. Karena biasanya kalau badan kita di tajrid: dia ingin makan, kita tahan tidak makan. Ingin tidur, tidak tidur. Maka hati kita mengalami peningkatan kualitas. Orang kalau puasa itu rohaninya meningkat. Sinyal rohaninya tajam.

Pokoknya kalau menghadapi perkara besar, dianjurkan tajrīd az-ẓāhir.

Puasa, atau begadang malam (tirakat), itu ritual orang Jawa. Tapi tentu ini kalau tidak berlebihan, ada ukuran, ada manfaat rohaninya, bukan ekstrem.

Jadi itu tajrīd az-ẓāhir. Kebutuhan jasmani dikurangi.

Kemudian yang kedua tajrīd al-bāṭin. Tajrīd al-bāṭin yaitu meninggalkan keterikatan batin. Misalnya, kita terikat dengan hal-hal seperti kecanduan menonton film, kecanduan membaca status, bangun tidur langsung cek status. Itu keterikatan mental.

Sekarang ini, dalam era modern, kecanduan itu banyak sekali. Karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan. Rutinitas itu membosankan. Padahal hidup manusia tidak bisa tanpa rutinitas. Kalau tidak ada orang yang bekerja setiap hari jam 7 sampai jam 5, dunia tidak akan berjalan. Rutinitas itu penyangga kehidupan.

Tapi untuk mengatasi rasa bosan itu, manusia lalu mencari pelarian, dan muncullah kecanduan. Kecanduan itu bentuk keterikatan batin.

Satu-satunya keterikatan yang tidak membuat orang kecanduan adalah keterikatan kepada Allah. Makanya manusia modern ingin membunuh Allah dengan harapan bisa bebas. Tapi akibatnya justru muncul Tuhan-tuhan palsu: kecanduan-kecanduan itu.

Obat kecanduan yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh. Tahlil. Menghayati bahwa tidak ada Tuhan asli selain Allah. Kalau hati kita melekat ke situ, kita tidak akan kecanduan.

Kemudian ada juga al-awā’iq al-wahmiyyah yaitu hambatan-hambatan yang bersifat waham (khayalan mental), seperti kecemasan berlebih. Misalnya: nanti kalau begini bagaimana? Kalau begitu bagaimana? Kita terjebak kecemasan.

Tajrīd al-bāṭin adalah melepaskan adiksi-adiksi batin dan kecemasan-kecemasan yang tidak beralasan. Itu yang dalam psikologi modern disebut mental disorder. Sekarang ini memang banyak orang mengalami gangguan mental. Setelah kebutuhan material terpenuhi, dia butuh yang spiritual. Kalau tidak terpenuhi, muncul gangguan mental.

Obatnya adalah melepaskan kecanduan dan kecemasan itu.

Kalau kita bisa tajrīd az-ẓāhir dan tajrīd al-bāṭin, insyaallah hidup kita bahagia. Kuncinya hidup enak itu adalah tahu ukuran diri. Know your level, know yourself.

Sekarang kita masuk penjelasan tentang adab al-mutajarrid dan adab al-mutasabbib. Mutajarrid adalah orang yang makam hidupnya tajrid. Mutasabbib adalah orang yang makam hidupnya asbāb. Keduanya punya tata krama (etika) masing-masing.

Ada orang fakir yang mutajarrid. Ia harus:
1. Menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya.
2. Menyayangi orang yang lebih rendah darinya.
3. Mengetahui ukuran dirinya (‘arif bi maqāmihi).
4. Tidak memaksakan keinginan lalu mencari pembenaran atau justifikasi nafsu.

Kalau seseorang itu salah, ya akui salah. Jangan memvalidasi hawa nafsu.

Adapun orang fakir yang mutasabbib (yang menjalankan sebab, bekerja, punya harta), jika Allah memberikan kelebihan rezeki, maka:
1. Bersahabat dengan orang-orang yang baik.
2. Menjauhi orang-orang yang buruk.
3. Menjaga shalat berjamaah.
4. Membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Masing-masing punya aturan. Kalau kita menjalankan aturan itu, hidup akan harmonis dan membahagiakan.



Bekasi, 2 November 2025

Latest
Next Post

0 komentar: