Minggu, 05 Oktober 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (1): Jangan Bersandar pada Amal

 


Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam
Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman pengajian Ngaji Al-Hikam pertemuan ke-1 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 5 Oktober 2025.

***

Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu menggantungkan diri pada kemampuan dan usaha manusia semata. Padahal, manusia memiliki keterbatasan dalam mengontrol segala hal.

Ibn ‘Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menulis:

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja' (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."

Orang yang menggantungkan diri sepenuhnya pada pekerjaan atau usahanya, dan merasa hasil akhir sepenuhnya ditentukan oleh kerja kerasnya, akan mudah stres ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Contoh sederhana bisa kita lihat di negara-negara seperti Jepang atau Jerman. Di sana, semua sistem berjalan sangat rapi. Kereta terlambat satu menit saja sudah dianggap luar biasa. Gus Ulil pernah mengalami sendiri, kereta di Jepang terlambat tujuh menit. Sepanjang perjalanan, petugas berkali-kali meminta maaf. Itu karena keterlambatan seperti itu bisa merusak seluruh jadwal berikutnya.

Beda dengan di Indonesia. Kereta terlambat setengah jam pun dianggap hal biasa. Di Jepang dan Jerman, manusia berhasil menciptakan sistem yang sangat tertib dan efisien, sehingga mereka merasa bisa mengontrol semua variabel kehidupan. Namun, begitu ada sedikit gangguan, semuanya panik.

Itulah makna dari nuqsanurraja' yaitu orang yang terlalu percaya diri pada amal atau usahanya akan kehilangan keseimbangan begitu ada hal yang tidak sesuai rencana. Dalam bahasa sekarang, ini disebut stres atau bahkan “kiamat kecil” bagi dirinya.

Lalu muncul pertanyaan: kalau begitu, apakah amal tidak penting?

Ajaran tasawuf menjawab: amal penting, tapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Ajaran tasawuf itu seperti pintu dengan dua daun. Kalau hanya memegang satu sisi—misalnya hanya menekankan amal, tapi lupa pada hati—maka pintu itu bocor, tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya, kalau hanya bicara hati tanpa amal, hasilnya pincang.

Jadi, amal memang penting, tapi kita tidak boleh menggantungkan harapan sepenuhnya pada amal itu. Amal harus disertai kesadaran bahwa hasilnya bergantung pada kehendak Allah.

Hal ini sama seperti hubungan kita dengan dunia. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi kita juga tidak boleh terlalu melekat padanya. Kekayaan, misalnya, bukan sesuatu yang salah. Yang salah adalah ketika kekayaan menjadi tujuan utama hidup.

Ajaran tasawuf selalu menekankan keseimbangan. Karena pada hakikatnya, seluruh ciptaan Allah selalu berpasangan: siang dan malam, laki-laki dan perempuan, atas dan bawah. Segala sesuatu memiliki dua sisi yang saling melengkapi.

Manusia modern sering terjebak pada ilusi bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka bisa mengontrol segalanya. Dari keberhasilan itulah muncul kesombongan.

Sekarang manusia berusaha “menyelamatkan bumi” dengan slogan save the earth. Itu niat baik, tetapi kalau disertai rasa bahwa manusia mampu menyelamatkan bumi dengan kekuatannya sendiri, itu bentuk kesombongan. Padahal, yang memiliki kuasa penuh atas bumi hanyalah Allah.

Kemajuan teknologi seperti komputer dan quantum computing memungkinkan manusia membuat simulasi kehidupan. Dari situ, manusia bisa memprediksi masa depan, bahkan memprediksi kemungkinan penyakit yang akan diderita seseorang. Tapi semua itu tetap hanya simulasi, bukan kenyataan. Karena masa depan sepenuhnya ada dalam kehendak Allah.

Maka, Islam mengajarkan agar kita selalu berkata insyaallah ketika berencana melakukan sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 23-24:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ ، اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali (dengan mengatakan) ‘insyaallah’.”

Artinya, manusia wajib berusaha, tapi hasil akhirnya tetap dalam kuasa Allah.

Jadi, pemahaman tasawuf harus selalu dilihat dari dua sisi: amal dan kesadaran spiritual. Amal penting, tapi amal bukan satu-satunya sebab. Amal akan bermakna jika disertai kesadaran la haula wa la quwwata illa billah: tidak ada daya dan upaya kecuali karena Allah.

Dalam konteks spiritual, Ibn ‘Athaillah menjelaskan:

"Barangsiapa mencapai hakikat Islam, dia akan selalu beramal. Barangsiapa mencapai hakikat iman, dia sadar bahwa amalnya terjadi karena Allah. Dan barangsiapa mencapai hakikat ihsan, dia menyadari bahwa tiada sesuatu pun selain Allah.”

Jadi, semakin tinggi tingkat spiritual seseorang, semakin dalam kesadarannya bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah, bukan karena dirinya sendiri.


Jamaah perempuan Ngaji Al-Hikam



Bekasi, 5 Oktober 2025

Previous Post
Next Post

0 komentar: